Perjalanan Tentang?

​​

“Selagi jalan masih membentang, melangkahlah. Miliki perasaan sehat dan bahagia, mempunyai sikap dan pikiran positif terhadap orang lain. Sehingga mampu menghilangkan rasa marah, takut, kecewa, rendah diri, iri… dalam perjalanan. Ya, melangkahlah dengan jiwa yang sehat.”

Potongan kalimat di atas, ku simak dari suara jernih di seberang sana. Suara yang sampai padaku. Saat ku baru saja terhubung dengannya. Suara yang mengajakku tersenyum membersamainya. Kemudian bergegas merangkainya menjadi ada. Supaya teringat lagi. Agar menjadi bahan ingatan, untuk diri ini suatu hari nanti. 

Berhubung hari ini akan ku tinggalkan dan ia pun berlalu. Sebelum ia berlalu, aku mau menjalaninya bersama senyuman, lagi. Maka segera mengikatnya saat ini adalah pilihan. Karena mengingat saja, tidak bisa selamanya. Ingatan tidak selamanya awet seiring hadirnya tema-tema lain dalam pikiran. Sehari ini saja, banyak sekali yang ku pikirkan. Apalagi esok, lusa dan selanjutnya?

Oke, mari kita melangkah lagi, yuuuk. Melangkah dalam perjalanan yang masih berlangsung ini. Melangkah di jalan syukur yang kita cengkeramai dalam hari-hari. Melangkah di jalan sabar yang kita lazimi menemani. Melangkah, di tempat kita berada kini. 

Apakah sedang berada di angkasa atau di bumi? Apakah di lorong-lorong bawah bumi? Engkau lagi di mana, teman? Kalau aku, sempat menapak, melangkah, menjejakkan kaki, sebelum ini. Sedangkan sekarang, masih melangkah lagi. Melangkahkan jemari, untuk meneruskan perjalanan lagi. Perjalanan berkisar di antara huruf-huruf, tanda dan angka. Entah di mana ujungnya, aku pun menanyai. Barangkali titik? Ternyata bukan. Karena, saat satu titik tercipta, ada lagi lanjutannya. Oh, bukan berujung titik, ternyata.

Perjalanan ini, semoga memang tidak berujung. Apakah setelah ku tiada, atau masih di bumi. Apakah ku masih menggerakkan jemari, atau tidak bisa lagi. Karena ku mau, jejak perjalanan ini dapat sampai ke mana-mana, pada siapa saja, di sana. 

Di mana pun, semakin jauh, semakin ku suka. Makanya, ku masih berusaha, di detik ini. Sebelum detik-detik yang menentukan itu, ku temui. Detik-detik yang tidak ada lagi kesempatan melangkahkan jemari. Bahkan menggerakkannya, huuwwaaaa…. Aku sendu mengingati, perjalanan berikutnya?

Hai, mengapa pula kalimat di ujung paragraf di atas mampir di sini? Ini karena ku mendengar kabar lagi. Kabar tentang berpulangnya salah seorang dari keluarga kami, tepatnya kemarin. Keluarga yang menjadi bagian dari diri. Keluarga dekat, yang kini telah kembali, Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun. Dari Allah kita berasal, kepada-Nya juga kita kembali. Semoga, segala amal shaleh beliau tetap setia menemani, dalam perjalanan selanjutnya. Perjalanan yang masih berlanjut, tapi tidak akan kembali lagi, ke bumi.

Maka, bagi kita-kita ini, yang saat ini masih ada kesempatan melangkah di bumi, apakah yang kita laksana? Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk perjalanan tersebut? Bagaimana kita masih bisa menyemangati diri supaya ia kembali bangkit? Setelah tertemu sebuah uji, sepotong nasihat, sekantong ingatan yang sampai pada diri? Masihkah belum mau mengerti? Bagaimana menghadapi? Bagaimana menghargai? Bagaimana ia menjalani? Mudahkan ia memahami?

***

Barisan kalimat terus mengalir, berisi nasihat untukku lagi. Nasihat tentang diri. Nasihat yang hadir, membuatku kembali berpikir, mengenali, menyandarkan diri, pada sumber pemilik sesungguhnya. Sedangkan yang mengalirkan nasihat, adalah sebagai jalan. Kehadirannya, untuk mengembalikan ingatanku, pada Penciptanya. Begini lebih baik, bagiku. Supaya ku bisa tenang, menerimanya. Menerima dengan senyuman, untuk bersyukur dan bersabar. Sampai akhirnya nasihat berwujud menjadi kalimat.

Sungguh, ini adalah bagian dari syukurku. Masih bisa membersamai penasihat-penasihat ulung yang hadir dalam hariku. Demi kebaikanku, pemberi nasihat memikirkanku. Sedangkan aku? Apa lagi yang ku pikirkan? Apa lagi yang ku cari?

Ayolah…. Semangat, semangat. Ayo bangkit lagi. Tentang hal ini, aku tidak dapat lagi bermimpi-mimpi. Karena ini bukan mimpi, sayang… (ku sampaikan pada diri, tentang hal ini). Saat menghadapi mereka yang sangat perhatian padaku.

Dengan stok kesabaran yang tidak terukur itu, melaluinya masih mengalir rangkaian nasihat berikutnya. Melalui bibir yang bersuara, untukku. Menanggapinya ku sempat bilang, “Biasanya ku mengetahui tentang hal ini hanya melalui bacaan demi bacaan atau pengalaman teman-teman yang ku simak kisahnya. Tapi kini, sungguh ku masih bisa bilang, kalau ini mimpi khan? Tolong pahami, yaa. Dan jangan lagi beranggapan tak semestinya tentangku. Hatiku tenang-tenang saja, pikirku juga sama. Tidak banyak yang mengerumuninya.”

Selanjutnya penasihat bilang, “Ini belum pernah terjadi, sebelumnya. Baru pertama ku alami dan temui orang kaya gini. Dan itu adalah engkau. Kok bisa seperti ini? Ada apa denganmu? Apa lagi yang engkau pikirkan?”

Lagi dan lagi, pertanyaan tersebut membuatku hening. Lanjut dengan berpikir lagi. Tentang hikmahnya yang dapat ku petik. Makanya, menepi sejenak ke sini, lagi. Hihii. 😀 Apakah hikmahnya yang ku peroleh?

***

Dari waktu ke waktu, aku hanya ingin merapikannya. Merapikan segala yang ku jumpa, ku alami dan ku rasa. Merapikannya menjadi susunan kata, ku sebut merangkai senyuman. Senyuman yang terkadang miring, terkadang terlalu lebar, terkadang sempat tidak teratur, terkadang ku tidak bisa mengerti, ini senyuman atau bukan?

Yah, bersesuaian dengan kondisi tertentu, aku terus berjuang. Berjuang mengeluarkan yang ada dari dalam diriku, saat ku mendengarkan sekelumit suara. Berjuang untuk menghayati yang ada di luar diriku, saat ku mendengarkan sebaris pesan. Berikutnya, ku senyumi, semampuku.

Sehingga ada lagi yang dapat ku alirkan di sini. Aliran yang bisa saja ku pandang sekilas, lalu berangkat meninggalkannya. Aliran yang masih menjadi bagian dari perjalananku, saat ku melangkah di sisinya. Aliran yang bisa saja ku rasakan sejuknya, saat ku henti sejenak dari perjalanan. Aliran bahagia, aliran kesedihan, aliran yang tidak bisa ku sebut entah apa namanya, ku sebut saja hampa, yaa.

***

Ini tentang rangkaian perjalanan. Yang benar-benar ku alami, atau yang ku dambakan dalam ingatan. Yang teringat setelah berlalu, namun baru sempat ku rangkai menjadi catatan. Yang belum terjadi dan teringat, maka ku ikat menjadi kata hingga kalimat. Yang berseliweran dalam pikiran, tepat saat ku tidak menginginkannya ada. Atau yang mengungkit kesadaran, tepat saat ku tidak menyangka, tetiba ia sudah ada.

Semua tentang kondisi-kondisi yang terkadang tidak mudah ku percaya. Seperti, saat bertemu sesiapa saja yang langsung-langsung saja menyuarakan rasanya. Ada yang mudah-mudah saja memberaikan pikirnya. Sedangkan aku? Masih ku bertanya dan bertanya. Aku tidak seperti itu. Ku pikir-pikir dulu, ku rasa-rasa dulu, ku endapkan dulu, untuk beberapa lama. Hingga, lama-lama menempel jadi ingatan. Selanjutnya, baru dech ku eksekusi. Tanpa ingat, ternyata buang-buang waktu. Tanpa ku mengerti, ternyata menyiakan masa. Tanpa ku tahu, efek dan akibatnya padaku. Tanpa semua itu, aku mungkin tidak dapat tersenyum hingga saat ini. Karena, selain sisi belum tepat dari caraku menyikapi, ada sisi manfaat yang ku pelajari. Inilah titik temu.

Supaya, tidak menggegaskan segala yang memang belum waktunya, namun masih mengingat. Agar tidak terburu-buru, namun tetap menjaga niat. Supaya engkau bisa menyusun lebih banyak lagi kalimat? Ada sebaris tanya yang mendekat, tiba-tiba.

“Hu um,” ku pikir memang begitu. Karena, ku masih mau melangkah dalam perjalanan ini. Melangkah saja, dan maunya ini bukanlah membuang-buang waktu, seperti yang ia sampaikan padaku. Bukan pula menyiakan masa, sebagaimana yang ia ungkapkan. Ungkapan yang membuatku terpikir sedikit demi sedikit dan berlanjut jadi perhatian.

“Ada dari dirimu yang tidak engkau tahu, dan orang lain mengetahui. Tapi, tidak selalu semua yang orang sampaikan padamu, memang begitu adanya engkau, bukan?”

Semua, tiada yang terpercuma. Semua, tentu ada makna. Semua, berhikmah. Semua mengandung pelajaran. Semua ada, agar menjadi jalan yang dapat mengembalikan ingatan, pada cita, harapan dan tujuan. Tentang proses ini, tentang jalan-jalan yang ku tempuh, tentang segala keadaan yang ku temui, tentang ruang-ruang yang ku tempati untuk sementara, tentang naungan yang membuatku teduh saat ku merehat, tentang sesiapa saja yang berpapasan, dapat menjadi cermin bagiku. 

Untuk mengaca diri, lagi. Apakah betul ia begitu, ketika sebuah sangka sampai padanya? Apakah benar ia demikian, ketika tenang-tenang saja atas sebuah penilaian? Atau ada yang tidak ia akui, saat menerima dan mengetahui pandangan berbeda terhadapnya?

Saat ada yang ku ingat dan sangat ingin ku ceritakan. Maka menjadi bagian dari perjalananku juga. Ingatan yang sungguh akan terus membayangi, bila ku tidak lepaskan menjadi kata. Karena, ini adalah inspirasi, lagi. Inspirasi yang ku peroleh, saat ku tidak mencarinya. Inspirasi yang mencariku, saat ku sedang terlelap. Inspirasi yang menerangi, ketika ku di tengah gelap.

Ia datang, menyelinap, ketika ku sedang rehat. Eits! Tentang hal ini, perlu ku ingat, memang. Tapi, tidak dapat ku ceritakan, saat ini. Karena ku masih ingin merenungkannya. Ku timang-timang dalam memori, ku jadikan alasan tersenyum lagi. Dan senyuman ini adalah untuknya, sebait inspirasi yang ku hargai. Meski tidak berwujud senyuman kali ini, semoga masih terukir dalam memori. Memori yang tidak hilang, sebelum ku ikat, kelak.

Untuk hal tertentu yang belum ku rangkai menjadi senyuman dan catatan, berarti ku sedang menjalankannya, menyelami, mengingat-ingat, hingga memenuhi ruang ingat. Hal-hal yang perlu menjadi perhatianku. Hal-hal yang harus dan benar-benar ku dekatkan dengan diri. Sedekat hati. Hati yang mesti ikut serta saat ku menjalankannya, menyelami, dan mengingat-ingat. Berikutnya, menjalani, sepenuh hati. Ini inti pesan yang ku peroleh darinya, teman yang membersamaiku beberapa puluh menit saja.

“Aku, memang begini,” ungkapnya.

“Bagaimana caranya?” aku bertanya.

“Dengan pembiasaan, dengan teladan, dengan perjuangan, kerja keras dan tidak mudah menyerah. Yah, aku orangnya suka mencoba, senang menghadapi tantangan. Maka, saat bertemu sebuah tantangan, aku jalani, dan bilang bisa saja, dulu. Selanjutnya, mengusahakan. Akhirnya, benar-benar bisa,” seiring tawa yang mengembang di wajahnya, aku pun tersenyum padanya. Ia berbagi tentang perjalanannya yang  masih berlanjut saat ini.[]

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close