Mentari Pun Tersenyum (34)

Tanda mata.pngMau tidak mau, aku masih ingin mencerah senyuman lagi. Ya, senyum saja, menanggapi segala yang ku jalani. Bila tidak lagi bisa ku tangisi. Saat tidak bisa lagi ku tertawai. Maka tersenyum menghadapinya adalah langkah pertengahan. Mengapa?

Iya, lagi dan lagi, aku hadir. Kehadiranku untuk menitipkan sekelumit ingatan. Ingatan padamu, yang aku takutkan. Engkau takut, makanya aku juga. Ketakutan yang mesti kita sikapi dengan lebih bijaksana dan penuh keyakinan. Yes! Hehee.

Kalau tidak begini, kita tidak akan bisa tenang menjalani hari. Kita tidak akan bisa damai meneruskan langkah. Kita tidak akan enjoy dengan waktu-waktu kita. Karena terpikir-pikir, lalu terbayang-bayang.

“Ia yang tersayang, sungguh penuh tawakkalnya. Meski ada yang ia takutkan juga. Namun ia menggenggam ingatan lebih baik. Ia yakin, engkau baik-baik di sana. Engkau terjaga, jika engkau menjaga. Begitu juga dengannya.”

Ibunda sering mengingatkanku. Rezeki kita tidak akan ke mana. Engkau percaya, bukan? Tentang takdir kita melangkah, bertemu dan berpisah? Engkau masih ingat, teman? Tentang peran kita yang menjalani skenario-Nya? Skenario terindah yang telah kita jalani jauh-jauh hari sebelum hari ini. Hari-hari yang kita lalui, tanpa kita sadari atau menyadari. Hari demi hari yang ternyata, sudah berlalu.

Nah, kalau kita telah sedikit berjuang mengabadikannya dalam ingatan, maka kita akan terharu. Kita akan tergemuruhkan rasa. Kita akan menitik airmata. Kita akan tidak mempercayai semua. Mengetahui sangat banyak kenyataan-kenyataan di luar duga, yang kita lalui. Saat kita memperhati, sekilas berpaling ke belakang. Sungguh sangat indah perjalanan-perjalanan itu. Perjalanan di luar rencana, yang mendecak kagumkan diri. Perjalanan yang sempat kita ukir bersama jemari. Kita bersinergi untuk menuliskannya dalam hari-hari. Setelah membaca lagi, indahnya sungguh tidak terkatakan. Hanya bisa diam, mentafakuri.

Saat kita tidak tahu lagi mau ngapain? Masih bisa segera mengembalikan ingatan lagi kepada-Nya. Ada Allah Yang Maha Menyayangi, saat ucap sayang kita belum sampai pada orang-orang tersayang. Sungguh, Ada Allah Maha Cinta, yang senantiasa memperhati. Saat ucap cinta kita belum terlantun pada orang-orang tercinta. Karena jauh di mata, tidak dapat bertukar suara. Karena jauh di mata, belum dapat bertemu pandang. Maka, doalah pelebur segala. Doalah yang menenteramkan jiwa. Supaya kita tidak terlena dengan yang belum semestinya. Agar kita masih bisa menjaga dan terjaga. Sehingga tidak bersapa untuk beberapa lama? Aha! Ini bisa menjadi ide luar biasa. Aku pun pernah terpikir tentang hal ini, semusim yang lalu. Daaaaaaaan, saat ini adalah realisasinya, yakiiin? Hehee.

Biarlah, engkau diambil orang, ketika kita belum sempat berkenalan. Biarlah engkau diambil orang, ketika kita belum bisa bergenggaman tangan. Biarlah engkau diambil orang, ketika ternyata kita tidak dapat menjadi teman dalam perjalanan. Biarlah engkau diambil orang, ketika kita ternyata tidak bisa berjumpa di dalam kenyataan hidup ini. Biarlah engkau diambil orang, yang terbaik untukmu. Lalu ku tersenyum, mendengar kabar bahagia pertemuanmu dengannya. Sedangkan aku? Merelakan ceritanya. ๐Ÿ˜€

“Ah, pasrah sekali, janganlah begitu,” lagi dan lagi engkau mengingatkan. Supaya ku memperhati tentang hal ini. Agar ku juga berusaha, untuk memperjuangkan cinta ini. Agar ku juga berusaha untuk mengokohkan sayang ini. Supaya ku tidak segera putus asa, saat bertemu dengan kendala. Agar ku masih bisa menjaga harapan yang barangkali pernah ada.

“Hai? Adakah harapanmu padaku? Berapa persen?,” tanyamu. Tanya yang ku senyumi, tidak bisa bersuara lagi. Sambil tersenyum, ku pandangi wajahmu yang terlukis rapi. Ku perhati raut wajahmu yang berseri-seri. Lesung pipit di pipi kiri menambah pesonamu yang ku perhati. Sedangkan senyuman, masih saja engkau tebarkan. Bukan untukku, kali ini. Karena engkau segera berpaling. Tepat setelah menanyaku.

Senyumanmu kali ini pada dinding-dinding yang sudah kusam catnya. Senyumanmu engkau tepikan pada lantai tembok berdebu. Senyumanmu engkau titipkan pada apa saja yang engkau perhati. Senyuman yang engkau jadikan sebagai penggugah diri, agar ia bangkit lagi. Tepat saat tidak ada jawaban yang ku beri. Karena ku hanya bisa diam, membisu, tidak berkata-kata lagi. Sebab, ku telah terlalu sibuk, detik-detik berikutnya. Sibuk menata hati. Sibuk mengelola emosi. Sibuk menepikan ingatan yang berseliweran di kepala. Sibuk saja ku sendiri, dengan pikiran-pikiranku.

Sedangkan engkau yang biasanya bisa membaca isi hati dan pikiranku, segera ambil alih. Engkau tidak berdiam, sepertiku. Engkau masih bisa mencandai, lalu melangkah. Engkau bergerak mengitariku. Aku semakin tidak berkutik.

Detik-detik berlalu, aku masih terdiam, dan tersenyum. Senyuman yang ku layangkan pada sinar mentari. Sinarnya terlihat sangat jernih siang ini. Saat engkau kembali menepi dalam hariku, untuk menitip ingatan. Sinar yang tidak dapat ku lihat langsung dari sumbernya. Karena ku sedang berada di dalam ruangan, membersamaimu yang tidak henti menanya-nanya. Termasuk menyelipkan nasihat demi nasihat tentang diri. Engkau dan aku berlindung di bawah atap menaungi, meski hanya dalam ingatan.

Aku tersenyum lagi, tepat saat menyadari, diriku sedang menarikan jemari, di sini. Jemari yang terlihat lesu, tidak semangat lagi. Mengapa? Apakah karena ini akhir pekan? Salah satunya begitu. Ini tandanya, ia memerlukan pencerah lagi. Supaya akhir pekan dapat ia jalani dengan bahagia. Sebahagia apa? Sebahagia dalam kebersamaan. Maka, bersamamu di sini teman, ia mau tersenyum lagi. Senyum saja, menyadari diri. Senyum saja, memperhati aneka ekspresi melalui rangkaian kalimat. Senyum aja, pada diri sendiri. Semoga senyuman ini pun menepi di pipimu. Engkau pun tersenyum, mengetahui, sungguh kasihan sekali diri ini bila masih saja mencari-cari penilaian dan pengakuan sesiapa. Padahal, tidak selamanya ada yang mengetahui isi pikirannya, perasaannya, meski ada juga yang mencoba menerka-nerka.

“Sebenarnya engkau kenapa lagi, siiih,” engkau bertanya lantang. Seakan tidak terima mengetahui kondisiku seperti ini.

***

Kali ini ku hanya ingin menitipkan pesan, begini,ย “Lakukan sesuatu untuk dirimu, karena engkau benar-benar ingin melakukannya. Sebab engkau menyukai, menyenangi. Sehingga, tidak ada lagi beralasan untuk tidak menjalani. Kecuali, sudah engkau yakinkan pada diri, ia ada di sini untuk ini, seperti ini, tujuannya begini. Sehingga apapun tantangannya, hadapi, hayati, senyumi.”

Berhadapan denganmu lagi, seperti ini, meski engkau mentari, aku tidak kepanasan oleh sinarmu. Karena ku sedang duduk manis di sini, melanjutkan aktivitasku. Sedangkan mentari, biarlah di sana, menebar bukti memberi penerangan, pada seluruh alam, pada sesiapa. Ini tentang siang tadi. Sedangkan saat ini, sudah sore. Aku sedang melangkah untuk mengantarnya, pergi.

Aku tidak takut ia diambil orang, hanya karena ku tidak memperhati sinar teriknya. Aku tidak takut mentari berpaling ke lain hati, karena ku yakin, ia tidak begitu. Aku percaya, mentari tidak ingkar janji. Aku tahu siapa ia sesungguhnya. Sebab pada dirinya sendiri ia berjanji, untuk tersenyum, memang bukan padaku seorang. Jauh-jauh hari ia sudah mewanti-wanti, tentang hal ini. Hingga tepat hari ini, masih sama. Mentari, bersinar hari ini, memang bukan padaku seorang. Buktinya, setelah sore hadir, ia tidak bersamaku lagi. Jadi, pilihanku apakah masih berdiri, atau melanjutkan perjalanan ini?

Mentari, engkau di sana, tersenyumlah dengan sempurna. Tetap mengingati, pertemuan kita sejak awal jumpa adalah karena rencana-Nya. Kita yang menjalani. Maka, sebelum engkau berpaling ke lain hati, ingat lagi tentang hal ini. Ingat lagi, betapa tidak mudahnya berteguh tetap tersenyum, menyadari ketentuan-Nya yang di luar kendali. Ingatlah, aku di sini masih di sini, tidak ke mana-mana. Hanya ingatan dan pikiran yang berkelana. Ia membersamai perjalananmu. Sehingga, kita selalu bersama, untuk tetap terjaga dan saling menjaga.[]

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

16 thoughts on “Mentari Pun Tersenyum (34)

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s