Perjalanan ke Luar Diri

Hari ini, Jum’at berseri. Ku sedang duduk-duduk cantik, di sini. Ragaku, duduk-duduk manis. Tapi, ku masih ingin meneruskan perjalanan. Hai, mau ke mana lagi, dear me?

Ku ingin meneruskan perjalanan ke luar diri. Perjalanan yang mungkin sudah ku mulai sejak lama, terhenti sejenak, atau sempat ku terlupa melakukannya? Hingga ada yang mengingatkanku, tentang hal ini. Ingatan yang akan teringat-ingat terbawa-bawa, membuatku terpikir-pikir jadinya. Namun, setelah menepikan di sini, ku bisa melangkah dengan senyuman. Tanpa perlu terpikir-pikir saja, namun memulainya, bila ku sempat terhenti.

***

Ada waktu di dalam hari-harimu, teman. Ketika engkau mesti melakukan perjalanan ke luar diri. Perjalanan ini, bukan melangkah di bumi. Bukan perjalanan menuju sebuah lokasi. Bukan perjalanan dengan kendaraan yang bisa engkau tumpangi. Bukan juga perjalanan dengan kaki-kakimu yang melangkah.

Perjalanan ini adalah perjalanan sekeping hati. Sekeping hati yang ada di dalam dirimu. Tentang hati yang engkau bersamai selama ini. Sekeping hati yang engkau pedulikan. Sekeping hati yang mau peduli. Kalau engkau mengajaknya peduli. Peduli untuk melakukan perjalanan ke luar dirinya.

Yah, langkahkanlah sekeping hati yang ada bersamamu. Beri ia waktu untuk melangkah ke luar dari dirimu. Melangkahnya untuk belajar mengerti. Melangkahnya untuk berempati. Melangkahnya untuk benar-benar menghayati hidup ini. Hidupnya dan hidupmu yang masih berlangsung hingga detik ini. Melangkahnya, untuk belajar tenggang rasa. Melangkahnya untuk turut merasakan yang orang lain rasakan. Melangkahnya, untuk menyapa hati-hati di sana, yang ‘barangkali’ mengharapkan kehadiranmu.

Ya, biarkan ia melangkah, untuk menyapa mereka di sana. Melangkah untuk menghadirkan dirimu pada mereka yang mengenalmu. Bukan, bukan, bukan untuk menggantungkan harapannya pada mereka. Namun, untuk menjawab sapa mereka. Untuk mengunjungi mereka. Karena sudah tiba pada waktunya, engkau menjadi berarti bagi mereka.

Siapakah mereka? Berapa orang jumlahnya? Di mana mereka berada? Bagaimana rupanya? Mengapa engkau menemuinya?

Mereka adalah orang-orang yang bersedia mengajak sekeping hatimu melangkah keluar dirimu. Mereka adalah para sahabat sejati. Sahabat yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Sekalipun ia tahu, sisi kurangmu di mana? Setelah sekeping hatimu sampai padanya, menemui dan menyapanya. Sahabat yang menyadari, ada banyak kelebihanmu untuk mereka gali.

Kebersamaan sekepinghatimu dengan mereka dari waktu ke waktu, mengubah hari-harimu menjadi semakin berarti. Bersama mereka, hidupmu menjadi lebih hidup lagi. Bersama mereka, engkau benar-benar merasakan. Bahwa engkau ada di dunia ini untuk bermakna, bagi semua. Tidak hanya untuk satu orang, namun sesiapa saja yang menerimamu sebagai bagian dari kepingan hatinya juga. Mereka adalah sahabat-sahabatmu.

Yah, akhirnya… Menemukan sahabat seperti mereka, patut engkau syukuri. Jaga ia, temani, bersamai, perhatikan, pedulikan, sayangi, kasihi, cintai sepenuh hati. Karena ia adalah sahabat berbagi suka dan duka. Ia ada untukmu. Ia adalah titipan terindah dari-Nya. Ia adalah hadiah yang tidak terbeli.

Ia adalah ‘kehadiran’ untuk membersamaimu. Ia adalah ‘ingatan’ dari kelupaanmu. Ia adalah bola-bola yang perlu engkau jemput. Tidak hanya menunggu. Bila tidak ada di depanmu, saat ini. Ia adalah genggaman erat yang perlu engkau perkuat lagi. Bila sudah ada bersamamu, saat ini. Ia adalah janjimu pada diri sendiri, untuk engkau tepati. Ia adalah dirimu yang lainnya. Ia yang bersedia menjadi bagian dari hidupmu.

Ia adalah sinar mentari yang tidak akan pernah redup di hatimu. Meskipun malam mulai menyapa. Sekalipun senja datang tergesa. Namun ia, datang pada waktunya. Ia tidak terlambat, apatah lagi terburu-buru. Ia adalah jawaban dari tanyamu. Ia adalah wujud dari asamu. Ia adalah harapan yang menjadi nyata. Maka, percayalah. Tersenyumlah. Bahagialah. Bersamanya.

Alangkah indah, bersamanya. Membuat hari-harimu tidak kelam lagi, tidak juga bermendung selalu. Namun, merasakan kehadirannya setiap waktu, engkau menjadi tercerahi.

Terima kasih pada semesta, mesti engkau ucapkan. Semesta yang bersedia meluangkan pinta kepada-Nya, untuk mendoakan citamu. Sehingga, engkau pun bersama, seperti ini. Untuk melanjutkan langkah, bersinergi, di sepanjang perjalanan.

Sedapat mungkin, cubit-cubitlah dirimu sendiri. Sebelum engkau mencubit orang lain. Sebisamu, goreskan luka pada dirimu lebih awal, sebelum melukai orang lain. Segera, sapa-sapa dirimu lebih awal, sebelum menyapa sesiapa di sana. Karena perjalanan keluar diri, tidak dapat engkau lakukan tanpa memahami dirimu lebih dahulu. Tanpa melakukan introspeksi, untuk kebaikanmu. Karena jalan-jalan di sana, di luar dirimu, bukan satu lagi. Bukan juga sepanjang dirimu yang hanya seratusan senti itu.

Jalan yang engkau tempuh, selamanya. Ya, sepanjang waktu hidupmu. Selama dirimu masih bergerak, engkau akan melangkah di jalan ini. Jalan yang memberimu kesempatan untuk lebih berarti. Bersama jalan-jalan yang membentang indah di luar dirimu.

Bersyukurlah, ada jalan yang sedang membentang di depanmu. Berikutnya, dalam hari-harimu, tetaplah melangkah anggun nan indah. Tidak lupa mengucap syukur, menyabari, mengajak sesiapa untuk tetap meneruskan perjalanan. Sekalipun lelah dan cuaca silih berganti. Walaupun penat di antara musim yang terus bertukar. Tetap melangkah, hingga sampai di jannah yang menanti.

Dalam perjalananmu, sering-seringlah memperhati sekitar. Sediakan waktumu untuk mengenali yang terdekat denganmu. Suarakan langkah-langkahmu, tidak hanya berdiam diri. Sampaikan nada-nada yang mampu engkau keluarkan dari dalam dirimu. Supaya engkau tidak terlihat hanya membisu, dalam diammu. Padahal engkau juga bersinergi dengan dirimu sendiri, untuk introspeksi. Bergeraklah, lagi.

Saat ada yang bersedia mengenalimu dan memberikan waktunya untukmu, maka berikanlah juga waktumu untuknya.

Sesekali, di antara detik waktumu melanjutkan perjalanan, luangkanlah untuk tetap menebar senyuman. Senyuman untuk mendeteksi suasana hati. Ketika ia sedang bersedih, tersenyumlah. Ketika engkau berbahagia, tersenyumlah. Jangan tertawa berlebihan dalam bahagiamu. Karena di sana, ada yang dalam kesedihan. Jangan juga menangis sesenggukan, terlarut, menghilang dari kenyataan, dalam sedihmu. Namun terharulah menyampai puji.

Engkau mengalami semua itu, untuk kembali mengingati. Bahwa engkau tidak pernah sendiri lagi. Selagi engkau peduli, selama engkau mau mengerti. Sepanjang belajar memahami, engkau dapat lebih baik. Lebih baik dari dirimu sendiri. Dirimu yang sebelum ini.

“Jadikan dirimu sebagai saingan terhebat di dunia ini. Bukan dia, atau sesiapa yang engkau temukan di luar dirimu. Bersama mereka, engkau tidak bersaing, namun saling melengkapi.”

Ketika engkau mencapai satu impian, jangan henti. Miliki impian lagi. Untuk apa? Bukankah impian sudah tercapai? Apakah ini namanya berambisi? Bukan, ini bukan menanjaktinggikan ambisi. Menambahnya lagi. Namun supaya engkau bisa bangun lebih pagi, sejak dini hari, terjaga dan bangkit berdiri. Supaya hari-hari siangmu dapat engkau jalani lebih semangat lagi. Tidak lantas terbuai lama bersama mimpi-mimpi malam hari. Mimpi yang sudah menjadi kenyataan. Namun, tetap bersinergi dengan seluruhnya yang ada di alam ini. Agar engkau semakin yakin dan percaya, adalah izin-Nya yang mengajakmu kembali meneruskan perjalanan ke luar diri.

Perjalanan keluar diri adalah perjalanan tentang kesediaan memberi maaf, atas permohonan yang kita terima. Bersuka ria menerima maaf, atas kesalahan yang orang lain lakukan pada kita. Meminta maaf, atas kesalahan diri. Mengusahakan untuk menempatkan diri pada diri orang lain, ini sungguh meneduhkan.

Bila kita tidak ingin dizalimi, jangan menzalimi. Bila kita tidak ingin diabaikan, jangan mengabaikan. Bila kita ingin menerima perlakukan dari orang lain, maka perlakukan orang lain seperti itu. Karena perjalanan keluar diri adalah perjalanan bersama orang-orang yang kita temui, kita sapa dan bersamai. Dengan begini, damai terasa menempuh perjalanan lagi.

Sehingga kita tidak langsung mencari-cari kekurangan pada selain diri, bila kita pun sadar bahwa diri tak selalu benar. Sering-sering berprasangka pada diri dengan introspeksi, daripada berprasangka pada orang lain. Bertanya pada diri, ada apa yang salah dengannya, bila keadaan tidak sesuai yang kita harapkan. Berusaha memperbaiki, atas kesalahan yang kita sadari. Berusaha menemukan orang-orang yang tepat, yang mau dan mampu menginformasikan kesalahan kita, tidak melulu memuji-muji. Inilah indahnya perjalanan keluar diri. Sehingga kita mengerti, tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini.

Kita hanya diri-diri yang sedang berbenah dan mengenalnya, bukan? Sehingga kita menjadi tahu diri, mestinya begini bukan begitu. Dengan ada yang mengingatkan. Agar tidak salah-salah lagi. Supaya tidak membantah lagi, namun menerima kebenaran yang sampai pada diri. Demi kebaikan dan keselamatan sesama pejalan yang melanjutkan langkah-langkahnya juga.

Melakukan perjalanan ke luar diri, kita akan lebih sering teringatkan lagi, dengan adanya orang-orang mengelilingi. Sungguh, indahnya hidup kita rasakan, tenang, adem, tenteram. Sehingga surga di dunia kita alami. Surga yang Allah dekatkan. Aamiin ya Allah…

***

Baitii jannatii, rumahku surgaku. Dari rumah semua bermula. Dari rumah segalanya berawal. Maka, penghuni rumah turut berkontribusi dalam hal ini. Apakah sebagai ayah, ibu, atau anak-anak.

Setiap kita mempunyai fungsi dan peran. Berperan dalam mewujudkan baitii jannatii. Sebagai bagian dari anggota keluarga, kita melakukan perjalanan keluar diri. Perjalanan untuk mengetahui, ada orang-orang di bawah kita untuk kita ayomi dan sayangi. Ada orang-orang di atas kita untuk kita teladani dan jadikan penggerak diri lagi.

“Melihatlah ke atas, untuk urusan akhirat. Agar timbul semangat beramal lebih giat.
Melihatlah ke bawah, untuk urusan dunia. Agar terbit syukur atas segala yang kita peroleh.”

Bermula dari rumah, dari sebuah keluarga, kita melakukan perjalanan keluar diri. Seiring waktu, kita mengenal orang lain. Selain anggota keluarga yang sudah lama kita bersamai. Kita bergaul, bersosialisasi, saling membantu, senang meringankan beban satu sama lain. Kita belajar berinteraksi, kita senang bertemu dengan mereka, padahal hanya bertemu di perjalanan. Akan tetapi, di balik pertemuan, tentu ada hikmah dan makna.

Dari pertemuan ke pertemuan berikutnya, kita belajar mengenal diri, lagi. Pertemuan dengan aneka jenis karakter insan di dunia, memberi kita kesempatan untuk belajar lagi. Kita belajar bersama mereka, belajar bahasa yang mereka gunakan. Karena kita terlahir, untuk saling kenal mengenal. Perkenalan yang membuat keyakinan kita semakin bertambah. Bahwa ternyata, banyak sekali ciptaan-Nya selain kita. Dari kebanyakan tersebut, ada di antaranya yang benar-benar kita kenali sebagai diri kita yang lain. Yang kita lihat dan pandang sebagai cerminan diri. Yang juga bercermin pada kita. Makanya keakraban pun tercipta.

Sering kita melakukan perjalanan keluar diri, semakin sering kita mengenali diri. Semakin jauh kita melangkah keluar diri, semakin ramai warna-warni pribadi yang kita temui. Semakin sering berinteraksi, ada yang ia selipkan di relung hati. Walau tidak semuanya mengerti yang kita rasakan, saat membersamainya. Dengan begitu kita belajar mengerti mereka. Kita belajar memahami yang mereka rasakan. Tentang rindu, cinta, suka, bahagia, duka, dan rasa-rasa lainnya yang kita rasa. Mereka juga merasakan.

Selamat melanjutkan perjalanan ke luar diri, teman. Semoga kita pun bertemuan, dalam perjalanan. Untuk saling menguatkan dalam kelemahan. Bersenyuman dalam berbagai keadaan. Agar terasa indahnya persahabatan, keakraban, dan kebersamaan. Tidak hanya di dunia yang sementara, namun sampai negeri akhir, dalam keabadian. Aamiin ya Allah…

Semoga waktu demi waktu yang kita tempuh kemudian, dalam kebaikan, berhias ketaatan, dengan sepenuh kesadaran. Caranya, membiasakan diri dengan berproses bersama waktu. Bukankah bisa karena biasa?

Tentang suatu hal tertentu, peduliku masih seujung kuku pun belum sekali. Mungkinkah karena terlalu sibuk tentang pergulatan hati dan memperhatikan diri yang sering ku introspeksi? Maka, ku ingin menjadikan nada-nada berikut, sebagai backsound catatan kali ini. Dengarkanlah, meski tak bernada. Semoga, suaranya sampai padamu, teman.

Bacskound (Maidany: Bahasa Jiwa)
Tidak semua manusia mengerti segala perasaan yang ada di hati kita
Tidak pula dapat selalu memahami gejolak jiwa yang ada di dalam diri kita

Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaanmu
walaupun dia adalah sahabat karibmu sendiri

Karena perasaan adalah bahasa hati yang dapat berubah di setiap waktu
Hari ini ia adalah orang yang sangat mengerti akan perasaan hatimu
Mungkin esok ia adalah orang yang paling tidak memahamimu
Janganlah memaksa karena saudaramu juga hanyalah seorang manusia biasa

Cukuplah hanya Allah tempat mencurahkan segala isi yang ada di hati kita dan menumpahkan segala perasaan yang ada di jiwa
Tidak semua manusia mengerti segala perasaan yang ada di hati kita

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s