Sebelum Semua Berakhir

One HeartSebelum semua berakhir, mari kita menghayati, mensyukuri, menyabari, membersamai, mensenyumi, memaknai.

“Betapa indahnya kebersamaan. Betapa menyenangkan persaudaraan. Betapa berharganya persahabatan. Betapa berartinya waktu dan kesempatan.”

***

Tidak terasa sepekan lagi, kita akan meninggalkan tahun 1438 Hijriyah. Berarti, tersisa beberapa hari lagi dalam tahun ini untuk kita jalani. Hari-hari yang tidak akan kita temui, setelah ia berlalu. Hari-hari yang semoga kita hiasi dengan amalan saleh membahagiakan jiwa, yaa. Hari-hari yang memberi kita pesan-pesan bermaknanya.

Hari-hari yang mempertemukan kita dengan pengalaman-pengalaman berharga tidak terlupa. Hari-hari yang memberi kita kesempatan bersama dengan orang-orang tidak terduga dan tidak pernah kita sangka. Hari-hari dengan aktivitas-aktivitas menyenangkan, berhias kesenduan, haru, bahagia, ada tawa dan juga canda serta tidak jarang berairmata.

Hari-hari dengan perjalanan di dalamnya. Ya, perjalanan. Bagaimana kita memaknai perjalanan sepanjang tahun ini? Tahun ini yang hampir sampai di penghujung.

Menjelang akhir tahun ini, aku bahagia karena kita masih bersama. Adakah engkau juga bahagia, teman? Kebahagiaan yang ku syukuri bersama senyuman. Senyuman yang kembali ku rangkai menjadi teman berikutnya. Sehingga, semakin banyak senyuman, semakin ramai yang membersamaiku. Walaupun aslinya, saat tersenyum dan merangkainya seperti ini, tiada keramaian di sini.

Senyuman yang sebagian ku bagikan padamu. Senyuman yang sebagian lainnya ku biarkan bertumbuh di ruang hati. Senyuman yang tidak dapat engkau perhatikan menebari wajahku, karena kita tidak bertatapan. Senyuman yang semoga engkau senyumi, saat ia sampai padamu. Ketika engkau mampir di sini, lagi. Semoga engkau dalam kondisi tersenyum, ini yang ku mau.

Terima kasih ku ucapkan padamu, yang menyemaikan juga benih-benih senyuman terbaikmu. Hingga ku memperhatinya, menyukainya, dan kemudian tersenyum bersamanya. Ini berarti bahwa, kita pun bersenyuman. Tetap ada, yaa. Walau tahun mendekati ujungnya. Semoga tidak denganmu. Semoga engkau masih ada, engkau yang juga melanjutkan perjalanan. Kita yang bersapa, untuk melanjutkan langkah-langkah bersama dalam tahun yang akan datang.

Senang bersapa denganmu, mensenyumimu, bahagia. Selamanya, engkau bersinar di ruang hati, selayak mentari menyinari alam. Engkau yang berseri-seri, membuatku terjaga lagi. Engkau yang membawa kebahagiaan, mengajakku gembira lagi. Meskipun sedetik sebelumnya, ku tidak dapat berekspresi sama sekali. Akan tetapi, kehadiranmu menjadi pewarna hari. Engkau membawa benih-benih senyuman yang engkau bagi. Untukku, lagi.

Lagi, lagi dan lagi, engkau tidak henti. Engkau tidak menyerah, meski tidak mendapatiku segera menanggapi. Engkau masih sudi dan rela, menanti sampaiku kembali. Ketika ternyata, tidak segera ku senyumi engkau yang mensenyumi. Tetap begini, yaa. Jangan pernah engkau berpikir, kalau ku tidak mempedulikan. Barangkali pada saat sama, aku sedang tidak di sini. Aku mungkin sedang melanjutkan langkah-langkahku di bumi. Sehingga tidak dapat mensenyumimu, ketika engkau hadir lagi.

Sebagaimana mentari yang berevolusi, ia terus bergerak dari Timur ke Barat, hari ini. Lalu esok, pagi-pagi sekali ia datang lagi. Begitu pula dengan kita, semoga yaa. Walau sempat terlelah payah oleh ujian dan coba mendekati diri, tepat ketika pagi datang, kita mau melangkah lagi. Kita masih mau bergiat dan senyumi hari. 

Kita masih bersedia meneruskan perjalanan, hingga akhirnya, jejak-jejak kita menjadi bukti. Bahwa, janji-Nya pasti. Hanya saja, sejauh apa kita mau melangkah lagi, ketika lelah menghampiri? Seteguh apa kita berdiri, saat lemah mendekati diri? Sesemangat apa kita bangkit lagi, setelah sempat rebah atau terjatuh? Itulah jawabannya.

Supaya kita semakin yakin, tiada yang dapat kita lakukan, tanpa izin-Nya. Tidak ada satupun yang bisa kita elakkan, bila memang Allah berkehendak. Sebentar saja, mari. Mari kita ingat-ingat lagi. Sedikit di antara jejak-jejak perjalanan diri. Sehari terakhir, sepekan belakangan, sebulan ini. Apakah ada diantaranya yang membuat kita semakin yakin? Bahwa ada yang berada di luar kuasa kita. Tetiba sudah menjalani. Padahal kita tidak merencana? Siapakah yang memiliki andil, merencana dan menata langkah hidup kita? Semoga, kita kembali menyadari, tiada daya dan upaya, kecuali dengan pertolongan Allah. Semoga, ya. Makanya kita mau tersenyum lagi, hari ini. 

Senyuman haru, senyuman syukur. Senyuman, meski airmata berlinang, lalu jatuh di pipi. Tersenyumlah untuk mensyukuri yang kita peroleh, dan kita sukai. Tersenyumlah untuk menyabari, yang kita terima dan tidak kita sukai. Karena jelas, ada hikmah di dalamnya. Semoga kita mengerti, memahami.

Lalu…

Menjelang tahun ini berlalu. Bagaimanakah kita mempersiapkan diri menyambut awal tahun nanti? Apakah kita sudah merencanakan target-target diri selanjutnya? Sudahkah kita menyusun resolusi untuk setahun yang akan datang? Merencana, untuk memperbaiki diri, sikap dan lelaku. Merencana, sebagai salah satu usaha yang dapat kita upaya. Merencana, menyusun strategi untuk kita realisasikan. 

Menyusun harapan, impian, lagi. Supaya kita dapat menghadapi hari-hari berikutnya bersama senyuman, lagi. Yuuup! Bersama harapan, hidup menjadi lebih hidup. Sekalipun harapan masih jauh di sana, tinggi sekali. Biarlah saja. Selagi kita masih bergerak, melangkah, berusaha, hasil akhir adalah ketentuan Ilahi. Bertawakkallah, agar senyuman menebar lagi.

Hingga saat ini, apakah yang sudah berubah dengan kita, dibandingkan tahun-tahun yang lalu? Apakah yang kita rencanakan untuk perbaikan diri di tahun-tahun yang akan datang?

Barangkali ada di antara kita yang membuat resolusi untuk mulai menghapal al Quran? Kalau kita mengetahui banyaknya manfaat dari menghapal al Quran, maka kita akan tersemangatkan. Sebagai ingatan, berikut beberapa tips agar dapat menghapal al Quran yang ku kutip dari mendengarkan radio Al Hamra pada siang menjelang sore hari ini :

1. Niat
Segala sesuatu dihitung berdasarkan niatnya. Ingin mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala, insya Allah akan dipermudah. Bukan berniat ingin mendapat pujian orang atau menyombongkan diri, riya dan pamer. Cukup Allah saja yang tahu, niat yang ada di dalam hati dan membalasnya. Apakah untuk menjadi anak shaleh, dan membantu orang tua, menjadi tabungan pahala untuk beliau di akhirat nanti. Perbaiki dulu niat, karena Allah subhanahu wa ta’ala.

2. Bukan untuk diburu-buru atau ditunda-tunda
Allah memberi kemampuan berbeda-beda untuk mengingat pada masing-masing orang. Target menghapal kita bukan ujung ayat, namun durasi waktu yang kita gunakan untuk menghafal. Misalnya, dalam sehari tidak menargetkan sepuluh sampai dua puluh ayat. Namun benar-benar memanfaatkan waktu selama misalnya satu jam, untuk menghafal al Quran. Sehingga tidak perlu memberatkan diri, namun mengenal kemampuan. Manfaatkan waktu yang kita agendakan untuk menghafal, tidak peduli berapa banyak yang kita hafal. Namun berusaha menghafal sebanyak-banyaknya, dalam waktu yang kita agendakan.

Tidak terburu-buru melanjutkan hafalan ke ayat berikutnya, bila belum benar-benar menghafal ayat sebelumnya. Namun, menghayati waktu-waktu yang kita sediakan untuk menghafal dengan maksimal. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala, memberikan kemudahan bagi kita, dalam menghafal al Quran.

3. Menghafal untuk setia bersama al Quran. Tidak perlu menargetkan jumlah hafalan dan kapan khatamnya. Yang penting, jalani saja. Targetkan setiap hari, menghafal jam berapa saja, konsisten. Jalani dari hari ke hari, berangsur-angsur. Seayat demi seayat.

4. Memiliki perasaan dirindukan oleh ayat-ayat al Quran yang ternyata lupa lagi setelah kita hapal. Sehingga kita tergerak lagi untuk membaca ulang, dan menghafal lagi dengan senang hati. Bacalah lagi, al Quran berulang kali, dari huruf ke hurufnya, sepenuh hati. Hingga benar-benar hapal. Dekat di dalam hati, tidak lupa-lupa lagi. Sehingga kita menjadi lebih akrab dengan ayat-ayat-Nya.

5. Menghafalnya bertahap. Menghafal adalah sesuai dengan kemampuan kita untuk memahaminya. Jika ayat terlalu panjang, mulai sedikit demi sedikit. InsyaAllah, setelah terbiasa, dapat menambah porsinya. Kalau masih awal, kenali kemampuan. Semoga istiqamah.[]

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s