Senyum Bahagia Bersamamu

Ingin saja menitip lirik-lirik ini di sini. Karena aku suka. Semoga engkau juga suka, yaa.

Maidany – Mengukir Cinta di Belahan jiwa, sempat mengalun via radio, saat ku merangkai catatan ini dan aku suka. 🙂

Bila yang tertulis oleh-Nya engkau yang terpilih untukku

Telah terbuka hati ini menyambut cintamu

Di sini segalanya kan kita mula

Mengukir buaian rindu yang tersimpan dulu

`Tuk menjadi nyata dalam hidup bersama

Selamat datang di separuh nafasku

Selamat datang di pertapaan hatiku

Izinkan aku `tuk mencitaimu

Menjadi belahan di dalam jiwaku

Ya Allah jadikanlah ia pengantin sejati

Di dalam hidupku (izinkan aku)

Wahai yang dicinta telah kurela

Hadirmu temani relung hatiku

Simpanlah jiwaku dalam doamu

Kan kujaga cintamu

Wahai yang dicinta telah kurela

Hadirmu temani relung hatiku

Simpanlah nafasku dalam hidupmu

Kan kujaga setiamu

Apapun adanya dirimu

Ku `kan coba tuk tetap setia

Begitu pula pada diriku

Terimalah dengan apa adanya

***

Hijau Daun-Sesuatu Yang Sempurna, pernah ku dengarkan, ku simak dan aku suka. 😉

Pertama ini aku merasa

Cinta sekuat ini

Aku tak berdaya

Menekan gejolak rasa Oooo

Hari-hari waktuku sayang

Slalu teringat kamu sayang

Engkaulah belahan jiwa

Sejuta katapun tak akan mampu

Katakan katakan kekagumanku

Dirimu benar-benar sempurna

Kau luar biasa

Dalam nafasku hati bilang sayang

Detak-detak jantungku bilang sayang

Kau sesuatu yang sempurna

Aku teramat cinta

Pertama ini aku merasa

Cinta sekuat ini

Aku tak berdaya

Menekan gejolak rasa Oooo

Hari-hari waktuku sayang

Slalu teringat kamu sayang

Engkaulah belahan jiwa

Sejuta katapun tak akan mampu

Katakan katakan kekagumanku

Dirimu benar-benar sempurna

Kau luar biasa

Dalam nafasku hati bilang sayang

Detak-detak jangtungku bilang sayang

Kau Sesuatu yang sempurna

Aku teramat cinta

Sejuta katapun tak akan mampu

Katakan katakan kekagumanku

Dirimu benar-benar sempurna

Kau luar biasa

Dalam nafasku hati bilang sayang

Detak-detak jangtungku bilang sayang

Kau sesuatu yang sempurna

Aku teramat cinta

Aku teramat cinta

***​

Dalam rangka meneruskan perjalanan hidup ini. Menepikan lembar demi lembarnya menjadi ingatan untuk diri. Supaya ia mengerti dan menyadari, ada yang Maha Menentukan segalanya.

Ya, segalanya, semuanya, seluruhnya, sudah teratur rapi. Sangat teliti, sungguh. Supaya ia mau tersenyum lagi, melanjutkan kehidupan dengan sepenuh hati. Semoga, ia semakin yakin, bersyukur lagi dan tidak lupa menyabari keadaan di luar kendali.

Ini tentang pesan yang ia petik dalam sehari. Sehari saja, yang lamanya hanya dua belas jam. Sehari saja, bukan sehari semalam. Ini baru sehari, yaa. Dalam jam-jam yang terus bergulir, berganti dari angka ke angka. Hari ini adalah kemarin.

Yah, angka-angka jam yang hanya dua belas jam itu, membuatnya harus sudi. Sudi menempuhnya lagi. Bila ada diantara rencana yang tidak tercapai, ia menyampaikan pada diri, ayo bangkit lagi. Berusaha lagi. Berjuang lagi. Tersenyum lagi. Tidak hanya bisa nangis-nangis aja. Kalau memang ia bersedih.

“Belajar lagi, yaa,” bisikku padanya. Seorang pribadi yang ku bersamai dari hari ke hari. Hingga saat ini, kami masih bersama. Bersama menempuh masa. Masa kini yang menjadi anugerah Ilahi. Masa kini yang menjadi kenangan, nanti. Masa kini yang ia tepikan lagi, menjadi jejak perjalanan ini. Perjalanan di dunia yang sementara, adanya.

Dalam perjalanan ini. Sesekali, ia memperhati langit. Sesekali ia menantap jalan yang ia tempuh. Sesekali ia mengedarkan pandang ke sekeliling. Sesekali ia berhenti sejenak. Untuk menghayati keadaan. Sesekali, ia rehat sejenak dari langkah-langkah. Selanjutnya, bersiap melanjutkan langkah dengan persediaan energi yang sudah terisi.

Kebersamaan yang kami jadikan alasan, tersenyum lagi. Karena kami masih bersama. Walau sempat tersedu, di antara ingatan-ingatan yang hadir. Tidak jarang menderukan gemuruh di dada, di antara harapan-harapan yang datang. Bahkan sangat sering dalam waktu-waktu tertentu.

Apakah sebelum pagi, siang, sore, senja atau di ujung malam yang kelam itu. Yuhu. Kami yang berjibaku dengan waktu. Ini yang bisa kami bagi. Segala yang kami jalani.

Suatu waktu, ia ingat. Mentari hadir menjadi alarm. Mentari yang tersenyum, ia lihat lagi. Ia perhati, sepenuh hati. Ketika pagi-pagi ia ingin bersedih, ia mulai berpikir. Apakah kesedihan ini penting? Sepenting itukah menyedihi hal-hal yang ia tidak dapat menguasainya? Maka, sedapat mungkin, ia mencari-cari cara supaya bisa tersenyum sejak pagi.

Seiring meningginya mentari, ia beraikan segala harapan. Ia sampaikan pada angin, “Aku masih mempunyai semangat hidup.”

Ia bisikkan pada gemulai dedaunan, “Memandangmu, terbitkan asa. Tidak lantas menyudahi bila usaha belum berhasil. Namun, bersinergi dengan seluruh alam. Untuk turut mengaminkan segala pinta dan harapan. Untuk memainkan peran, mengambil bagian, agar citanya menjadi kenyataan. Supaya ia benar-benar hidup.”

Pagi-pagi, teringat alasan kembalinya lagi. Alasan ia masih berdiri. Alasan ia ada di sini. Alasan ia masih mau berlari. Walaupun tersandung kaki-kakinya sesekali, terasa perih melukainya. Segera, ia bersihkan dan obati. Kemudian melangkah lagi, lebih hati-hati. Tidak pelan, juga melambat, namun mengkondisikan. Menyesuaikan dengan keadaan, mengatur ritme sesuai kemampuan. Tidak gegas dan tergesa. Tidak juga ingin cepat sampai di tujuan.

***

Pagi-pagi, ia sapa beliau di sana. Ibunda sahaja yang sering mendoakannya. Untuk segala yang akan ia laksana. Terkait masa depan dan penting adanya. Terkait aktivitas baru baginya. Terkait rencana demi rencana. Terus ia memintal ridha melalui benang-benang suara yang beliau alirkan untuknya.

Senantiasa, begini selalu. Tidak pernah lupa. Semenjak ia menyadari. Kemampuannya sendiri tidak dapat ia andalkan. Tepat saat ia mengingat, ia tidak pernah sendiri. Namun, ada orang-orang istimewa dalam kehidupannya. Makanya ia tersenyum lagi. Keistimewaan yang tidak ia deteksi langsung. Tapi dari hari ke hari, ia menemui. Setelah mereka sering bersama, saat masih bersama, atau tidak berjumpa lagi. Ia mengingati semua. Termasuk doa ibunda. Ini penting sekali. Apalagi saat jauh dari beliau.

Menyapa ibu, menempuh jalan menuju benderang. Membersamai beliau dengan senang hati dalam jarak, mengunduh jalan kembali. Mengingat ibu, menuai berkah menempuh hari. Menyimak nasihat demi nasihat beliau, membuka pikiran, pencerah wajah, peneguh hati, pendorong diri.

Selanjutnya, ia tidak duduk lama-lama, namun berdiri dan berjalan. Lalu terus melangkah. Menyediakan waktu untuk ibu, memberimu alasan tersenyum. Dalam kalut, sekalipun. Apalagi dalam bahagia. Berbagilah juga, bercerita. Iya, ruangkan waktu untuk beliau. Saat beliau masih ada di dunia. Karena tidak merugikannya, namun menjadi jalan bahagia.

Ibu, selalu membuka pintu. Saat ia mengetuk. Kemudian menyampaikan segalanya hingga ke ruang hati beliau. Tentang harapan dan cita, pinta dan asa. Bagaimana baiknya? Ibu bilang, “Boleh, Nak. Silakan. Namanya juga usaha.”

“Iya, baiklah, siap Bunda,” lalu kami tersenyum bersama, berbahagia, tertawa, saja. Menertawai keadaan, menertawai kehidupan, menertawai saja, untuk menjemput ceria. Hahaa. 😀 Selanjutnya, pikirannya lebih ringan, hatiku ikut tenang. Ku siap untuk sebuah pertemuan. Pertemuan dengan siapa? Siapa saja, di sana. Entah siapa.

***

Singkat cerita, rencana-Nya juga yang berkuasa. Kita hanya menjalani. Sedangkan tawakal sungguh indahnya. Keindahan yang menerbitkan senyuman berulang kali, pada wajah. Kami bercerita, saling menebar ingatan. Semua tentu berhikmah, yaa, Tyaa.

Tya, seorang sahabat yang ada di sisi, sesekali melirik. Ia mencolek pikiran yang barangkali masih penasaran.

“Tidak, tidak lagi,” bisikku padanya. Ini sudah terdata. Kita bisa merencana. Kenyataan adalah yang kita laksana. Buktinya, kini kita bisa mengembara, bergembira. Kita juga turut bahagia, di hari bahagia sepasang insan.

Beliau yang sudah bersama di pelaminan. Seorang adik dari kakak. Memang demikian nyatanya, adik yang mendahuluinya. Adik dari temannya temanku yang menyambut kami bahagia, di pesta adiknya. Bukankah ini menjadi jalan hadirkan ingatan kepada Pemilik dan Penggenggam pertemuan?

“Kita, aku, memang belum bertemuan hari ini. Tentu, berhikmah. Hikmah yang dapat kita jadikan alasan untuk tersenyum. Tersenyumlah, ya, tersenyum, teman. Mungkin pertemuan belum saatnya. Barangkali belum waktunya, dan ini pasti. Karena telah terjadi, hari ini. Dengan saling bermaafan, kita berseri-seri lagi. Bukan aku yang salah, atau engkau yang tidak menepati janji. Bukan. Tentang hal ini, juga ada dalam rencana-Nya. Adakah engkau mengingat-Nya? Shalatlah, bila gundah tak juga meninggalkan diri.”

***

Detik-detik berikutnya, aku dan Tya mengelilingi kota untuk menghiasi waktu, sekaligus mengobati rasa penasaran kami pada sebuah nama. Nama yang menjadi kunci, dan itu engkau. Nama yang bagi kami masih misteri, sebelum menemukan. Nama yang membuat kami tidak menyerah, namun terus berbenah.

Bisa jadi, jalan kami masih jauh dari yang engkau tapaki selama ini. Makanya, kita belum bisa bertemuan. Bisa jadi, engkau sudah terlalu jauh di sana, sedangkan kami masih di sini. Mungkin juga, langkah-langkahmu lebih cepat dari kami, sedangkan kami masih belajar melangkah. Inilah hikmah yang kami petik. Sembari meneruskan perjalanan hidup ini.

😀 Turut bahagia itu membahagiakan. Sayang, engkau tiada di sini. Belum, untuk hari ini. 😀

“Teman-teman, mohon doakan kami yaa. Semoga dapat menyusul beliau berdua. Itu, lho, yang tersenyum manis di pelaminan. Eiya, doakan juga teman kami, teman yang belum berjumpa pasangan jiwanya. Sesiapa saja, di mana-mana. Boleh, yaa. Terima kasih, untuk kebaikannya. Mendoakan meski kita tak saling kenal, sekalipun. Walau kami tidak mendengar, sesuarapun darimu. Walaupun kami tidak tahu, engkau siapa. Tidak mengapa. Semoga doa yang sama kembali padamu, juga. InsyaAllah.”

Kebahagiaannya berpindah pada kami yang baru datang. Kedatangan kami yang tidak terlalu jauh dari lokasi. Kami bersalaman. Aku berkenalan, sedangkan Tya, sudah mengenalnya sebagai teman esDe. Perkenalan singkat, lalu kami menikmati sajian yang ada.

Turut bahagia seperti ini, kami suka. Suka menunya, menikmati dan kami pun kenyang. Lebih gembira lagi, saat sempat bersenyuman dengan pengantin. Walau aku baru menemuinya, saat itu. Tapi, kebahagiaannya melimpah juga padaku. Sedangkan Tya, tersenyum juga. Senyumannya hadir, karena bisa reuni dengan sahabat lamanya.

Sukses berjumpa teman senasib, kami lebih bahagia. Ehiya, aku yang lebih bahagia. Sahabatku juga, semoga. Terlihat kebahagiaan pada sorot matanya yang berseri-seri dan wajah yang tidak henti tersenyum.

Kebahagiaan ini seperti berjumpa hadiah yang tertuju untukku. Dan dia adalah hadiah itu. Sahabat berikutnya yang juga tersenyum. Kami masih bisa bersama saat ini, menikmati waktu untuk membagi bahagia. Lalu menyampaikan, pada yang sedang berbahagia, “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair.”

Kondangan yang tidak ku prediksi sebelumnya, akhirnya ku hadiri. Demi menemani teman sejati. Agar ia bahagia, tidak datang sendiri. Namun kami datang bersama. Dalam hal ini, pertemuanku dengan orang yang baru ku temui hari ini, adalah rencana-Nya yang berlaku untukku jalani. Ku bersamai sahabat untuk hari ini, hingga ujung hari.

Persahabatan yang kami jaga dari hari ke hari. Semoga, teman, kelak kita mengerti. Persahabatan kita juga bukan tanpa makna. Namun ada hikmah yang dapat kita petik. Apakah kelak engkau pun berjumpa sahabat baru, semoga kita masih saling mengingat, yaa. Sekalipun nanti ku bersama sahabat setia, engkau masih ku jaga ada. Hai, semoga kita bisa melanjutkan berbagi cerita dan bersenyuman sebahagia hari ini. 

Selalu bersangka baik kepada Allah, yaa. Kelak kita pun bertemuan, dengan jiwa lain di sana. Seperti yang engkau sampaikan. Engkau yang juga mendamba.

“Samma,” jawabku. Lalu kita tersenyum, menghiasi waktu-waktu berikutnya. Selanjutnya, kuliner lagi, mencoba menu baru, duduk-duduk di taman, dan kemudian engkau mengantarku pulang. Setelah hari sampai di ujungnya.

Terima kasih untuk segala kebaikan, termasuk kebersamaan yang indah ini. Ku ukir namamu di dalam perjalanan hari iniku. Sebagai catatan untuk ku ingat lagi. Bahwa aku tidak benar-benar sendiri, bukan? Engkau juga. Maka, bersemangatlah! Alhamdulillah. Masih ada senyuman yang tersisa, kita bagi hari ini. Senyuman yang ingin ku senyumi, kelak kita mungkin tidak lagi bersama, seakrab ini.

Semoga, langkah-langkahmu masih terayun indah, teman. Simpanlah segala penasaran dan rasa ingin tahu yang belum pada saatnya ini. Teruslah belajar, mempersiapkan diri. Kelak engkau mengerti, bahwa ku juga memiliki rasa ingin bertemu. Sepertimu.

Kita tersenyum seperti mereka yang berbahagia, saat ini. Hingga pada waktunya, jaga senyuman tetap ada. Maka, bersabarlah sedikit lagi, bersabarlah sebenar-benarnya. Supaya tenang hati melanjutkan langkah.

***

Begitulah. Perjalanan akhir pekan kami yang tidak terduga, ku tidak menyangka. Tetiba ada di antara mereka. Sungguh, rencana-Nya luar biasa. Maka, masihkah ku belum mau bersyukur? Meski hari ini kita belum bertemu? Maukah engkau masih bersabar? Esok, lusa dan kapan-kapan kita berjumpa, juga.

Iya, berdoalah, berusahalah, bersinergilah dengan alam semesta untuk turut mendukungmu. Supaya engkau tetap berjalan, melangkah, bersama-Nya. Meski saat ini engkau sendiri. Walaupun teman tiada di sisi.

Sekalipun hati sering bertanya, apa kabarnya belahan jiwa? Siapa dia, bagaimana rupanya? Sabarkanlah hati, ajak ia bicara, ketika ia bersuara. Hai, ini adalah aktivitas yang dapat menjadi jalan hadirnya senyuman juga. Sehingga engkau tidak melulu berduka dan tersiksa. Karena dia belahan jiwamu juga sama. Ia akan merasakan sebagaimana yang engkau alami. So, inginkah engkau agar ia bahagia? Makanya, berbahagialah dengan dirimu, terlebih dahulu. Persahabati dirimu, lebih awal. Agar ia dapat menjadi sahabat juga bagi dirinya, entah siapa.

Sebelum menjumpanya, jaga bahagia, tatalah jiwa. Kelak hingga bersua, bersama, atau sudah harus berjarak raga.

Ah, semua adalah tentang rencana-Nya. Sedangkan kita hamba. Hamba yang harus dan perlu serta mesti sering-sering merayu-Nya. Merayu di dalam berbagai waktu-waktu terbaik. Sehingga tidak mencemaskan lagi, apakah pasangan jiwa akan dirayu oleh sesiapa. Karena ia tahu, hatinya milik siapa.

***

Oiya, pesan lagi yang ku terima, untuk meluaskan pertemanan. Barangkali pasangan jiwa kita adalah salah seorang di antara teman yang ada. Siapa yang menyangka? Siapa yang mengetahuinya? Wah! Teman, mana temaaaan? 😀 

Cobalah tanya pada orang-orang yang telah bertemu pasangan jiwa. Bagaimana? Apakah mereka merencana jauh-jauh hari? Atau, mereka juga menjalani kehendak-Nya. Mereka yang menempuh waktu sesuai aturan-Nya. Hingga kisah, berjalan begitu saja, tanpa kendala. Sampai mereka terkesima, juga tidak percaya. Ternyata, … dialah belahan jiwaku.[]

🙂 🙂 🙂

3 thoughts on “Senyum Bahagia Bersamamu

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s