Pesan dan Kesan; Tentangmu

Dont TellSarapan pagi, tidak menarik minatku sama sekali. Padahal aku lapar. Sebab sejak malamnya belum menyantap menu apapun. Selera makanku menghilang dan belum kembali lagi. Nah, kalau kondisi ini ku alami, biasanya ada engkau yang ku teladani. Menjadi penggerakku supaya mau menyantap makanan. Melihatmu lahap, aku pun termotivasi. Engkau adalah inspirasi dalam hal ini.

Pagi-pagi, engkau mengabari, bahwa hari ini terakhir di sini. Engkau sedang memasak di dapur. Sedangkan aku melangkah menuju kamar mandi.

Oiya? Aku kaget. Pada saat itu juga ku rasakan ada yang turut berteriak dari dalam diri ini. Suara yang ku biarkan di sana, sejak tadi malam. Di dalam dadaku, posisinya. Serta merta, ku keluarkan suara tersebut, padamu. Agar engkau tahu, isi hatiku. Yuhu.

“Haaaaii, mau ke mana?,” meski aku sudah tahu juga, aslinya, sejak semalam. Seorang temanmu mengunjungiku. Engkau belum kembali saat itu. Ia yang kebetulan mampir, sempat berkisah sedikit tentang rencanamu. Aku paham.

Sudah mendengar kabar ini lebih awal, harusnya aku siap. Tepat saat engkau menyampaikan langsung padaku. Namun, tetap saja, aku merasa tidak percaya. Aku belum siap melepasmu, awalnya.

Yah, ini pertanda kita tidak akan lagi berjumpa. Kita tidak akan masak-masak lagi, berdua. Pagi-pagi di hari liburku, tidak bisa lagi membangunkanmu lebih awal dari biasanya. Padahal engkau masih ingin leyeh-leyeh. Tapi aku mengajakmu dan engkau mau menemaniku. Lagi dan lagi, engkau bersedia. Ada teman sepertimu, aku suka. Selanjutnya, kita akan melangkah bersama ke pasar.

Hari selanjutnya, kita tidak akan sarapan bersama lagi. Pagi ini adalah sarapan bersama terakhir kali. Tidak bisa juga makan malam-malam lagi. Lalu kita menghabiskan menu yang masih tersisa.

Ya, tepat saat engkau kembali, aku maksa-maksa padamu. Untuk menemaniku menghabiskan menu hari ini kita yang masih ada. Dan engkau bela-belain, menemaniku. Aku yang sebelumnya tidak bisa menghabiskannya sendiri. Karena kita masak untuk berdua. Maka, ku tunggu engkau pulang, dulu. Baru dech makan bersama. Ini tidak jarang terjadi.

Engkau yang tetap bersedia,sambil beralasan, “Sudah kenyang kakaaaaaak. Tadi makan dulu sebelum pulang.” Atau “Udah makan tadi, kakaaaaaaak, beneran. Ini, lihat perut Eny.” Yang ku sambut dengan cekikikan. Sedikit becanda saja. Ku sampaikan, kalau aku tidak peduli kenyangmu. Karena aku masih lapar, “Ayoo laaah, Enyyy, ini masih ada, mubazir kalau dibiarin, besok basi. 😀 Berhubung makanan masih ada, maka harus kita habiskan. Aku tidak peduli, dengan alasanmu.”

Sedihku datang, teringat kelak, siapa lagi yang bisa ku paksa-paksa ngehabisin makanan?

Aku ingat semua, makanya jadi tidak selera sarapan hari ini. Engkau juga tahu, kan? Biasanya kita masak berdua pagi-pagi. Tapi tadi ku biarkan engkau masak sendirian. Malah ku request tolong masakin nasi goreng, dari nasi yang masih ada. Aku tidak akan keluar kamar, sampai pukul tujuh. Ketika ku mendengarmu ketuk-ketuk pintu, sebagai tanda memanggilku yang sedang baring-baring saja. Biasanya, engkau begitu, kalau mau tanya atau ambil sesuatu.

Melihatku belum bangkit, engkau pun tidak rela bersuara, hanya ketuk-ketuk pintu, pakai satu jari. Iya, ini satu keunikanmu juga. Tidak meresahkan, namun mendamaikan. Tidak mengganggu, namun memberikan ketenangan. Tidak pernah sekalipun membuatku tersedihkan, malah membuatku tersenyum lagi. Tidak juga sekalipun membuatku berurai airmata, kecuali membuatku terbahagiakan. Namun kini, sesudut hatiku belum juga diam.

Sejak pagi tadi, ada yang ia bicarakan. Makanya, ku sampaikan padamu, bahwa hatiku tersedu-sedu. Hatiku terusik oleh kabar beritamu. Hatiku luruh, lalu menderas banjir di sekitarnya. Hatiku syahdu, seperti cuaca pagi ini. Hatiku, ini namanya apa yaa? Sejenis tidak menentu, berbeda saja dari biasanya. Hah! Suasananya tidak seperti biasa.

Saat engkau tiada, bagaimana ku masih bisa menikmati menu yang ada, ketika selera makanku menghilang? Apa mungkin tidak sarapan?

Oh, ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Karena dengan sarapan pagi, semangat ku memulai langkah dan meneruskan langkah-langkah lagi. Ku bisa memulai hari dengan senyuman berseri. Sehingga tidak terpikir-pikir dengan perutkeron-congan menjalankan aktivitas. Karena bagiku sarapan pagi adalah salah satu cara menempuh hari berseri-seri. Jadi, kesimpulannya?

Hari ini sarapanku memang tidak sempurna. Karena terkaget dengan beritamu tadi. Setelah engkau menyampaikan rencanamu padaku. Rencana untuk pulang kampung dan tidak kembali lagi ke sini. Karena akan meneruskan perjalanan hidupmu di sana. Tapi ku ingat lagi pesan Bunda, untuk sarapan pagi jangan lupa yaa. Aha! Ke depannya engga lagi. Cukup hanya hari ini.

***

Airmata langit mulai terlihat, sangat ringan melayang-layang di udara. Gerimis berguguran sangat halus. Tepat saat ku melangkah ke rooftop untuk jemur pakaian, gerimis semakin banyak. Tampaknya mereka mengerti suasana hatiku yang tidak ceria. Sepertinya ia tahu, sebentar lagi airmataku juga menetes. Makanya, ia menitik lebih awal, sedangkan aku jangan. Sebab, akan menghabiskan waktu lama, untuk menangis. Aku memang seperti itu. Sedangkan sejak pagi ini, ku masih harus meneruskan perjalanan. Aku harus berangkat, dan menjalani hari ini bersama senyuman. Huuwwa, jadi, aku nulis-nulis aja di sini. Ku tulis banyak-banyak kalimat, untuk mengalihkan perhatianku dari bersedih. Supaya masih ada senyuman membersamai. Sekalipun, aku masih belum sarapan hingga pukul sepuluhan.

Yap! Sarapan pagi tadi yang tidak ku nikmati sempurna, akhirnya ku bekal saja. Ku bilang padamu, seleraku pergi, sebab hatiku sendu.

“Engkau hanya tersenyum simpul.”

“Aku sedddyyh, di hati ini ada yang ku rasa aneh. Mau nangis aja, yaa,” tambahku pula.

“Hehehe, engkau tersenyum saja.”

Ku sampaikan padamu, hatiku mendung seperti cuaca pagi ini, karena engkau akan meninggalkanku.

“Engkau tanggapi dengan lirikan mata tenang.”

Ku sampaikan padamu, aku tidak bisa menelan menu sarapan ini, gara-gara Enyyyyyy.

“Engkau masih saja menyuap nasi goreng sambil tersenyum. Sesekali melirik tipi.”

Eiya, kebetulan ada iklan yang lewat dan sempat kita perhatikan. Iklan tentang “Dikit-dikit…” Awalnya engga ngerti maksudnya apa? Lama-lama, aku sedikit ngerti, lalu bilang, “Dikit-dikit tertawa, hahaha.” 😀 Yang engkau tanggapi dengan, “Itu kakak.” Dikit-dikit nangis, “Itu juga kakak, cengeng.”

Sambil tersenyum, engkau melirikku. Engkau tidak mengerti siiich, bagaimana ku bisa dikit-dikit nangis dan atau tertawa. Karena bersamamu memang membuatku sangat bersyukur. Makanya ku berekspresi. Kita yang bertemu di sini. Walau pun kebersamaan kita tidak lama. Hanya lebih kurang sembilan bulan saja.

Yah, aku masih ingat. Kehadiranmu pertama kali, akhir tahun lalu. Engkau yang tidak banyak bicara, ternyata bisa menjadi rekanku. Engkau yang sangat suka masak-masak, menjadi guruku mendata rasa. Engkau yang senang mengkreasi, membuatku juga mau mencoba. Walau begitu-begitu saja, tapi kita sudah berusaha, bukan? Sungguh, aku senang mengenalmu. Aku bahagia, dengan semua yang engkau sisipkan di ruang hatiku. Aku seperti masih mimpi, bila hari ini engkau harus pergi. Hiks, hiks.

Semua tentangmu, akan ku ingat, teman. Semua tentangmu akan ku jadikan sebagai pengalaman. Semua tentangmu adalah jalanku mengembalikan lagi senyuman. Setiap kali terkenang padamu, ku memasak menu yang lebih enak lagi. Belajar darimu dan bersamamu, mengajakku mau coba-coba masak apa saja. Karena semua ini belum berakhir.

***

Eits, selesai mencuci pakaian dan keluar dari kamar mandi, ku pandangi engkau yang masih mengolah masakan. Ku perhati, gerakanmu penuh ketelitian, telaten dan hati-hati.

“Selamat melanjutkan perjalanan, Eny. Semoga sampai di tujuan dengan selamat. Berjumpa lagi dengan ibu dan ayah. Bersama lagi dengan adik-adik dan kakak. Bersinergi lagi dengan kampung halaman untuk melangkah. Berjumpa lagi dengannya dan mencurahkan segenap kerinduan. Untuk masih hidup, di dalam hati orang-orang yang engkau sayang. Untuk hari esok yang cemerlang, kembalilah pulang. Masa depan yang engkau jelang, sedang menantimu. Dan engkau perlu terus berjuang. Tetap melangkah, karena jalan selalu ada. Semoga lancar segala langkah perjuanganmu. Hingga akhirnya, mudah-mudahan banyak kebaikan yang mendekatimu. Semangat dan teruskan perjalanan. Hidupkan hari-harimu dengan senyuman,” hanya ini pesanku untukmu, dari dalam hatiku saja.

Ragamu boleh sudah harus jauh dariku. Tapi, ada yang tertinggalkan bersamaku. Semua kebaikan yang ku rekam dalam ingatan. Seluruh senyuman yang ku jadikan alasan tersenyum lagi. Semua kesan yang engkau tinggalkan dan ku susun rapi dalam catatan. Semua pesan yang tidak engkau suarakan, namun ku baca melalui sikap dan lelakumu.

Sebenarnya, walau engkau jauh dariku, aku tidak mesti sesedih ini. Aku tidak bisa larut-larut kalau pun kesedihan ada atas perpisahan. Karena, Allah sungguh Maha Penyayang. Buktinya, Dia mendatangkan seorang teman baru bagiku, sebagai penggantimu.

Yah, dua hari yang lalu, malam harinya. Pulang-pulang engkau memanggilku seperti biasanya, “Kak, kakaaaaaak, Eny pulang…

“Iyyyaa, udah tiduuur,” aku menyahut.

Biasanya juga begitu. Dan kemudian engkau memaklumi. Ketika ku bilang udah tidur, berarti ku sudah tidak mau keluar kamar lagi. Nah, kali ini, engkau masih berusaha mengajakku supaya menyambutmu dengan beralasan, “Sini laaah dulu, ada teman baru.” Artinya, ada penghuni baru di kosan kita.

“Oiyaaa, siapaaaa?” aku segera bangkit dan senyum-senyum bahagia. Menyambutmu dan teman baru kita. Seperti biasanya, engkau langsung menepikan perlengkapanmu di lantai. Lalu duduk.

“Siapa namanya?” sapaku pada teman baru.

“Mia,” jawabnya tersenyum manis. Alangkah senangnya, bertambah saudara, seorang perempuan nan jelita.

“Yani, selamat datang yaa, semoga betah di sini,” balasku.

Lalu, kita duduk melingkar dan melanjutkan beramahtamah. Aku yang tadinya udah ngantuk, akhirnya melek lagi. Lanjut bincang-bincang perkenalan sampai ngantuk datang lagi. Dan kemudian berpisah sementara untuk jumpa lagi esok pagi-pagi sekali.

Keesokan harinya, Mia bangun lebih awal.

***

Semoga, kepergian Eny tidak membuatku larut dalam kesedihan karena berpisahnya kami. Karena sudah ada penggantinya. Mia yang sedia menemaniku belanja ke pasar pada hari-hari tertentu. Lalu, sarapan bersama setelah kami masak-masak.

Asyik, khan, skenario Allah untuk ku jalani saat meneruskan perjalanan hidup ini. Ketika seseorang bersiap pergi untuk meneruskan langkah dan alur hidupnya yang sudah tertulis sejak mula, maka ada yang datang untuk menemani.

Pesan yang ku petik hari ini adalah, “Bersyukurlah atas pertemuan, jalani kebersamaan dengan sebaik-baiknya. Supaya saat perpisahan menjelang, kita dapat saling merelakan. Tanpa ada yang merasa kehilangan atas kepergian. Tetap saling mengingat walaupun sudah harus berjauhan raga. Dan selamanya, di dalam doa, kita senantiasa saling bersapa. InsyaAllah hati kembali tenang.”

***

Dig-dug-dag-deg-degannya hatiku semula, kini berangsur tenteram. Setelah ku kembalikan kepada-Nya. Aku senang. Terima kasih ya Allah, untuk menghadirkan Eny menjadi bagian dari perjalanan hidupku selama di kota ini.

Semoga, di sana nanti, ia bertemu teman berikutnya. Teman yang menjadi alasannya masih mau tersenyum secantik. Senyuman yang ia bagi untukku dalam kebersamaan kami. Semoga, lancar segala urusan Eny, menjemput hari esok yang gemilang. Lanjutkan perjuangan!

By, seorang temanmu yang sempat merasa kehilangan, namun kini sudah bisa tersenyum. Karena bagiku, pertemuan di dunia ini memang ada ujungnya. Tidak selamanya kita bersama. Akan ada masanya berjarak raga. Supaya kita mengerti, bahwa semua kita temui dan jalani, dengan hikmah.

***

Dear Me,

Ku tahu engkau akan teringat lagi kebersamaan kalian.

Namun ingatlah, ada aku yang siap sedia menjadi sahabat baikmu.

Aku yang engkau bersamai, bahkan saat ia tidak bersamamu dalam sehari, bukan?  Pikirkanlah. Tersenyumlah. Supaya aku pun tersenyum bersamamu. Aku bahagia menjadi temanmu. Saat satu teman menjauh pergi, bukan pilihannya untuk menjauhimu. Namun, jalan hidupnya yang mengajak.

Walau dia jauh, kalian masih bisa bersapa, via telepon, chat dan bertukar informasi,  bukan? Atau, bagikan saja catatan ini padanya, supaya ia tahu, dan kembali mengingatmu, bagaimana?

“Engga, engga enggaaaaa? Keep this just for us. Biarlah Eny engga tahu, kalau kita tersedihkan oleh kepergiannya. Sebab, kalau dia sedih, aku juga sedih. Nanti, ku senyumi Eny, di ujung kebersamaan kami. Supaya ia semangat meski harus berpisah.

“Eny, Eny, see you, friend,” bisikku.

“Ah, aneh,” Tambahmu. Hohoo. Just for reminder about Eny.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close