Engkau, Aku dan Dirinya

“Rencanamu boleh indah, tapi rencana Allah dan ketetapan Allah-lah yang lebih indah. Semoga dari waktu ke waktu engkau semakin yakin dengan ketentuan-Nya untuk engkau jalani. Seraya mengambil hikmah dan kemudian melanjutkan perjalanan.” –Suara Dari Radio

***

Tentang hal ini, ingin ku bagi menjadi catatan. Untuk ku senyumi juga. Catatan tentang aku, engkau dan dirinya. Aku yang sedang duduk, engkau juga. Sedangkan dirinya, entah siapa, di mana, mengapa, bersama siapa dan bagaimana parasnya?

Dirinya yang langsung engkau ingat. Beberapa saat setelah kita bertukar suara. Ya, engkau segera ingat padanya saat kita bertemu. Dirinya yang engkau kenali. Karena pernah berkomunikasi denganmu. Dan sempat menitip sapa serta ingatan darinya, pada sesiapa saja yang engkau temui. Apakah orang-orang yang engkau kenal baik, atau baru saja engkau jumpai. Titipan yang akhirnya menjadi bagian dari ingatanmu. Ingatan yang engkau bawa, sepanjang perjalanan hidupmu. Untuk menyampaikan sapa dan ingatan darinya.

Sudah sejauh apakah engkau mengenalnya? Siapakah dirinya sebenarnya? Aku yang baru saja mengenalmu dan engkau teringat mengenalkanku dengan dirinya? Ini bukan sebuah kebetulan, bukan?

***

Saat kita berjumpa, engkau dan aku duduk di bangku panjang berbeda, dengan meja sama. Engkau di sana, sedangkan aku di sini. Sehingga, kita bisa sedikit berhadapan. Walau tidak sepenuhnya. Karena engkau duduk miring, dengan seorang bayi di gendonganmu.

Di sebelahmu duduk anak pertama, perempuan. Usianya empat tahun, jawabmu. Ketika ku bertanya, berapa usia kakak? Sedangkan adik yang ada di gendonganmu, berusia sembilan bulan. Adik belum bisa berdiri, apalagi berjalan. Namun sudah bisa merangkak dan duduk. Ketika ku bertanya, adik kecil sudah bisa apa?

“Masing-masing anak ada masa pertumbuhannya. Ada waktunya hanya bisa nangis, mulai belajar tersenyum, memiringkan dan membalikkan badan, hingga tahap mengangkat kepala, merayap di lantai, merangkak, berusaha duduk, kemudian menjangkau apapun yang bisa ia jangkau. Selanjutnya bisa berdiri, walau harus berpegangan pada apapun terlebih dahulu. Melangkah, selangkah-demi-selangkah, dan terjatuh berulang kali, sebelum bisa berlari. Dan akhirnya bisa berlarian sambil tertawa riang meneruskan perjalanan,” engkau memaparkan. Seakan membaca tanya demi tanya yang masih berseliweran di pikiranku. Walau tidak ku tanyakan rinci, proses perkembangan dari seorang bayi.

Ku sambut semua jawabanmu dengan senyuman. Sambil terus memperhati si kecil, yang ku coba ajak tersenyum. Namun ekspresinya datar. Ia hanya memandangku dengan dua bola matanya yang bening. Ku memperhati bola mata kecilnya, sembari terus menyuap sendok demi sendok mie ayam, yang lama habisnya. Karena aku terlalu banyak menuangkan cabe, jadinya kepedesan. Huwah, dech. Walau begitu, masih ku icip-icip lembaran mie dan menepikan kuahnya. Hingga akhirnya, semua habis juga, alhamdulillah.

Sebelum mie ayamku habis dan tersisa kuah, baso yang ada di mangkokmu sudah habis semua. Karena engkau bagi dengan kakak yang menikmati dengan bahagia. Sesekali ku lirik kakak, dan mengajaknya tersenyum. Tapi ia sibuk menghabiskan lembaran mie hingga habis juga.

***

Sebelum pamitan lebih dahulu, tampaknya, engkau membaca suasana hatiku. Engkau pun penasaran denganku. Engkau bertanya sedikit tentangku, yang ku jawab bersama senyuman. Hehehee, gitu. Lalu, engkau pun menawarkan kebaikan untukku.

Engkau bilang, “Mau engga, ku kenalkan dengan dirinya? Dia begini, begini, begini, lho. Berpesan sama Kakak, “Lagi mencari calon pendamping hidup rumah tangga yang shaleha untuk bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah dan untuk menunjang kebahagiaan di akhirat.”

Dalam hati ku mengaminkan, “Semoga beliau bertemu dengan yang dicari pada waktunya, mudah prosesnya dan berkah. Insya Allah, kalau niat baik, ada jalannya, ya.” Sambil ku pandangi engkau yang terlihat bahagia, melanjut bercerita prosesmu berjumpa pasangan jiwa.

Aku suka, melihat senyumanmu yang berbunga-bunga. Sedangkan si kecil yang ada dalam gendongan, terlihat tenang, ia tidak merengek sepanjang kebersamaan kita. Sehingga engkau bisa berbicara leluasa, tanpa tersibukkan menenangkan si kecil. Adik pintar, bertumbuh shaleh yaa. Kelak usiamu meningkat, menjadilah buah hati yang membahagiakan ibunda. Ibundamu orang yang baik.

***

Kedatanganmu pertama kali aku tidak terlalu memperhatikan. Karena ku sedang baca-baca. Engkau yang baru datang, langsung memesan menu, semangkok baso, saja.

Tidak berapa lama kemudian, pesanan kita pun datang bersamaan. Untuk menghayati suasana, ku tepikan bacaan, lalu mengaduk mie ayam yang tidak ada basonya, ternyata. Karena kehabisan, bertepatan engkau pun datang, dan memesan baso.  Itulah baso terakhir yang tersisa, hanya untukmu. Sedangkan aku, cukup mie ayam saja. Pa De bilang, ini porsi terakhir, ketika menghidangkan padamu semangkok baso. Aku pun menikmati menu mie ayam.

Bangku yang ku tempati di depanmu dan duduk di sana, juga ku tempati pertama kali datang ke sini. Iyah, karena aku suka. Sebab ku bisa melihat kendaraan yang lewat, di jalan depan ku. Termasuk orang-orang yang berjalan kaki. Sehingga, ku masih bisa mengajak pikir bergerak. Walaupun ragaku sedang duduk menanti pesanan. Agar mataku masih bisa memperhati, meskipun tidak bisa jauh lagi. Supaya ku masih mau melangkah lagi setelah duduk di sini. Karena ku ingat, masih ada jalan untuk ku tapaki, di depan sana. Makanya ku menghadap ke arah jalan.

Tentang pertemuan kita, aku sempat terdiam. Sedangkan di dalam hati sempat bertanya-tanya. Apakah semua ini tanpa hikmah untuk ku data? Apakah semua ini hanya terjadi begitu saja, tanpa ku petik sebuah makna? Apakah semua ini terjadi begitu saja, tanpa pesan untuk ku bawa? Apakah pertemuan engkau dan aku, di tempat yang tidak kita rencana, terjadi tiba-tiba?

Pertemuan yang memberi kita kesempatan bertukar suara, bersenyuman, sambil terus ku perhati si kecil yang ada di gendonganmu. Engkau membuatku tersenyum, pada waktu-waktu kebersamaan kita berikutnya. Hingga ujung pertemuan kita, engkau membawa senyumanku juga. Sedangkan senyumanmu, engkau tinggalkan sebagian, untuk memeriahkan senyumanku. Senyuman yang masih ku jaga, sampai saat ini. Ketika ku teringat padamu.

***

Saat kita bertemu, adalah mampirku untuk ke tiga kalinya di tempat Pa De. Kali ke tiga yang memberi kita kesempatan berjumpa. Aku datang lebih awal. Kemudian, engkau berikutnya. Engkau terlihat sudah akrab dengan Pa De.

Dari informasi yang engkau sampaikan dalam waktu-waktu kita bertukar suara, engkau sudah langganan dengan Pa De, bahkan sejak dahulu kala masih muda-muda. Hingga kini sudah berkeluarga, masih setia. Sedangkan aku, siapalah. Bukan pelanggan tetap Pa De. Namun hanya seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat. Lalu mampir untuk menepis penat. Walaupun perutku tidak lapar-lapar amat, ketika itu.

Ya, ini adalah mampirku untuk ke tiga kalinya, di warung baso Pa De. Setelah sebelumnya, pernah sekali, lalu sekali lagi. Sendiri saja, menepi sejenak, sebelum pulang. Sendiri saja, mengikuti kata hati, setelah menyelesaikan keperluanku di lokasi terdekat, di sana. Sendiri saja, melanjutkan langkah-langkahku, dan kemudian duduk manis.

Kunjungan pertama,

Setelah memesan, semangkok baso. Aku pun duduk. Sambil menunggu Pa De menyiapkan pesananku, ku hiasi waktu dengan sesekali memperhatikan sekitar. Ku melihat dan memperhati, siapa saja yang ada di dekatku.

Kursi panjang yang ada di depanku, masih kosong. Di atas meja ada pernak pernik menu pelezat baso seperti saos sambal, kecap, cuka, cabe rawit sangat halus warna hijau di dalam mangkok kecil, serta sebuah kotak yang penuh dengan garpu dan sendok. Serta lembaran serbet warna pink.

Di sekitar meja tersebut, hanya ada aku. Tampaknya, dan benar, pelanggan Pa De sedang sepi. Makanya, aku mampir. Sehingga, duduklah aku di bangku panjang tersebut. Bangku yang sangat longgar untuk ku duduki.

Setelah duduk, ku menyimpan perlengkapan bawaanku di meja. Karena tidak akan menghalangi sesiapa. Sebab, hanya ada aku di meja yang seluas itu. Aku juga bisa duduk geser-geser dari ujung ke ujung bangku yang panjang, kalau ku mau. Atau pindah ke bangku depan, yang juga kosong, bila perlu. Namun, ku tidak melakukannya. Karena aku ingin menikmati pemandangan, di depanku. Lalu duduk manis di tempat semula.

Aku menghadap ke arah jalan, membelakangi sebuah pagar. Bisa engkau kenali, di mana aku berada ketika itu? Yah, dekat ke pinggir jalan. Di dekatnya ada sebuah mal. Di belakangku parkirannya. Sudah terbaca lokasiku? Yah, di sekitar Matahari, tepatnya. Sesuai informasi dari teman-temanku. Di sekitar sana, ada penjual baso yang biasa mereka datangi dalam kesempatan terbaik mengidam baso.

Hari itu, aku tiba-tiba pengen nge-baso. Aku tiba-tiba ingin duduk sejenak. Aku tiba-tiba ingin saja mendekati Pa De, yang pernah ku hampiri juga. Untuk mencicipi semangkok baso, rekomendasi teman-temanku. Mereka bilang, kalau mau beli baso di Pa De aja. Ada di sekitar Matahari, di kaki lima-nya.

“Kami suka beli di sana. Enak, murah meriah, dan Pa De nya baik, tersenyum saat melayani pembeli dan kalau mau tambah apa-apa tinggal request lagi,” lebih kurang begini inti dari rekomendasi teman-teman untukku.

Aku memang belum pernah berangkat bersama teman-temanku, ke tempat Pa De. Namun, ketika ku melintas di depan Pa De jualan, tetiba aku ingin mampir, saja. Karena ingin membuktikan rekomendasi teman-temanku. Dan ternyata, sukses membuatku mau mampir lagi, setelah pernah menepi.

Sebelumnya, aku tidak mengetahui lokasinya. Namun karena penasaran, ku coba memantau. Apakah betul yang temanku sampaikan? Betul saja, temanku bilang yang sebenarnya. Terima kasih teman-teman, untuk membagikan rekomendasi berkesan. Sehingga, aku pun bisa menyantap semangkok baso lumayan enak, di sana. Harganya cukup untuk menutupi rasa penasaranku yang tidak terlalu tinggi. Menunya sederhana, namun lezat. Kesan pertama ku mampir di tempat Pa De, aku suka. Entah kapan lagi ku datang ke sana, aku tidak merencana.

Kunjungan ke-2,

Hingga tibalah masanya, aku ternyata sudah duduk lagi di sana. Lalu memesan semangkok baso. Aku mampir sekejap, berkebetulan ku melintas di jalan sama. Setelah menyelesaikan keperluan juga. Karena ada yang ku cari, sebelumnya. Makanya, ku datang lagi. Ini tentang kali ke dua menyapa Pa De, merehat sejenak, setelah berjalan lama. Mengobati ingin untuk makan baso, saja.

Kunjungan ke-3,

Kali ke tiga, adalah kemarin lusa. Aku tetiba sudah mampir lagi di sana. Mampir saja, sebab ku melintas di depan Pa De yang sedang jualan. Aku ingin menu pesanan berbeda, kali ini. Karena selain jualan baso, Pa De juga menjual mie ayam.

Wah, aku belum pernah coba, maka ku pesan semangkok mie ayam saja, ach. Lalu, bilang sama Pa De, “Pesan mie ayamnya satu, yaa, Pa De”.

Seperti sudah lama bertemu, ku akrabi beliau. Padahal, aku bukan pelanggan tetap Pa De. Namun, sekalian lewat, aku mampir. Kebetulan, saat itu tidak banyak pembeli.

Saat ku baru datang, seorang pembeli sedang menyantap semangkok baso. Sedangkan di dekat Pa De, sedang berdiri seorang pembeli juga. Ia sudah selesai dan mau bayar.

Beberapa saat setelah ku datang, engkau pun datang. Bersama dua orang bocah yang mengingatkanku pada duo ponakan lucuku. Tampaknya, perbedaan usia mereka sama. Ketika kakak berusia empat tahun, usia adik sudah sembilan bulan. Hehee.

​Hingga kelak, catatan-catatan perjalanan menjadi alasan ku tersenyum. Sebab, semua terjadi, tidak begitu saja. Karena sudah Ada Yang Mengaturnya, sangat teliti.

***

Di ujung catatan ini, Tulus bersenandung. Membuatku ingin juga menepikannya liriknya di sini :

“Manusia Kuat”

Kau bisa patahkan kakiku
Tapi tidak mimpi-mimpiku
Kau bisa lumpuhkan tanganku
Tapi tidak mimpi-mimpiku

Kau bisa merebut senyumku
Tapi sungguh tak akan lama
Kau bisa merobek hatiku
Tapi aku tahu obatnya

Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita

Kau bisa hitamkan putihku
Kau takkan gelapkan apapun
Kau bisa runtuhkan jalanku
Kan ku temukan jalan yang lain

Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita

Bila bukan kehendakNya huuu
Tidak satu pun culasmu akan bawa bahagia

Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita

Kau bisa patahkan kakiku, patah tanganku rebut senyumku
Hitamkan putihnya hatiku, tapi tidak mimpi-mimpiku

🙂 ~Terima kasih~ 🙂

5 thoughts on “Engkau, Aku dan Dirinya

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s