Nasihat dalam Perjalanan

Cepat atau lambat, pada akhirnya kita akan menempuhnya juga; saat ini kita sedang melangkah mendekatinya; kita juga akan pergi bersamanya; kematian. Pasti, kita pasti mengalaminya. Namun menjadi rahasia yang tidak kita ketahui dan tidak diberi tahu pada kita. Tentang waktunya, tempatnya, dan dengan cara bagaimana? Akankah berujung baik atau sebaliknya? Wallahu a’lam. Walau begitu, kita masih bisa saling mengingatkan, untuk melakukan yang seharusnya dan benar bagaimana. Selagi masih bersama dalam kehidupan. Sebelum kematian menjadi teman selanjutnya.

***

Aku sedang melangkah di jembatan penyeberangan, lalu memandang jauh ke ujung jalan, di sana. Hingga jauuuh sekali. Menelusuri jalan lurus membentang di bawah sana. Jalan yang penuh oleh kendaraan melaju saling berkejaran. Pemandangan pagi yang ku saksikan bersama senyuman, setiap kali melintas di atas jembatan tersebut. Begitu pun pagi ini. Ku melangkah tenang, menyimak setiap langkah yang terayun. Sambil memandang lantai yang ku pijak, barangkali ada lobang. Ai!

Kendaraan melintas dengan kecepatan demi kecepatan yang mereka pertontonkan padaku. Aku yang sibuk memperhati, suka sekali melihat motor-motor menyalip, lalu ku senyumi. Saat mereka sukses berada di depan, mendahului sebuah mobil, misalnya. Atau, sebuah mobil melaju kencang, dan kemudian pelan-memelan, saat di depan sana ada yang siap menyeberang jalan. Pemandangan yang meriah, bagiku. Aku suka. Ini menjadi sejenis hiburan ketika ku melangkah di jalanan ramai. Yah, sesekali, ku jadikan mereka bahan tontonan.

Aku masih melangkah, di jembatan panjang. Sebelum ku benar-benar sampai di ujung jembatan penyeberangan, selayang pandang, ku menoleh lagi. Ke kiri, dan juga ke kanan, serta ke bawah sana. Nah, saat melirik ke bawah, aku sempat bertanya, mengapa satu sisi jalan ini jadi sepi? Padahal sisi yang satunya masih seperti biasa, ramai.

Aku bertanya, sendiri. Karena, aneh saja. Tidak biasa. Jalan menjadi lengang, tiada yang melintas. Walau benar, masing-masing jalan untuk satu arah mestinya mereka ada yang masih melaju. Karena penasaran, ku meluruskan pandangan ke ujung jalan tersebut, hingga jauuuh lagi. Dan benar saja, di ujung sana, kendaraan sedang berkumpul. Semua berhenti. Tiada satupun yang berusaha melintas. Ada apa, ya? Ku perjelas tatapan mata, yang terkena silau mentari. Kebetulan ku sedang mengarahkan pandang ke sisi timur yang masih bermentari, cerah. Masih belum percaya, ku dekatkan telapak tangan ke arah alis. Sehingga tatapanku benar-benar sejuk.

Di sana, terlihat orang-orang berkumpul. Di antara aneka jenis kendaraan yang terlihat olehku, ada mobil dan sepeda motor. Saat ku perhatikan lebih jelas, seorang laki-laki terlihat sedang mengangkat sebuah sepeda motor yang sebelumnya rebah. Ah! Pasti ada kecelakaan, gumamku. Pasti ini. Aku mulai berpikir, menerawang jauh ke ujung jalan. Aku belum bisa melanjutkan langkah, namun berhenti sejenak, menyaksikan selanjutnya yang terjadi. Dari jauuuh, meski semua tampak kecil.

Detik berikutnya, ku siap melangkah lagi. Meneruskan langkah hingga ujung jembatan penyeberangan. Lalu menuruni tangga pelan-pelan. Setelah sampai lagi di bumi, ku melangkah lagi. Melipir di pinggir jalan yang sepi. Arah langkah ku menuju tempat kejadian. Karena lokasi tersebut, memang arah yang ku jelang.

Tidak lama berjalan, sebelum sampai di lokasi, ku melihat sebuah mobil mulai bergerak. Sedangkan yang lainnya, belum jalan. Maka, ini mencuri perhatianku. Saat mobil benar-benar sejajar denganku, ku palingkan pandang, sekelebat, padanya. Di belakang mobil dengan bak terbuka tanpa atap tersebut, ada seorang insan yang segera dilarikan ke rumah sakit. Untuk mengetahui kondisinya. Beliau ku ketahui akhirnya, adalah korban. Korban kecelakaan yang terjadi pagi ini. Beliau telah tiada… Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

Ku melangkah lagi, mendekat dan lebih dekat dengan lokasi kejadian. Lokasi yang sedikit berjarak, di depan ruang sukses yang ku tuju. Ku sempat memperhati masih tersisa ceceran darah. saat memberanikan diri mengintip dari balik jemari. Melihatnya membuat hatiku tertarik cepat, pilu, sedih dan terdiam cukup lama, tidak bicara apa-apa. Hampa. Kosong.

Seorang temanku yang melihat jelas kejadian dari dekat, menceritai kronologinya. Ketika kami berjumpa lagi, lalu menyapa dan ceritanya bembuatku terhening, terpaku saat menyimak. Ia beraikan semua, membuatku terbayang beliau. Beliau yang sudah berpisah dari kehidupan, membersamai kematian.

Waktunya cepat saja, sekelebat. Secepat ku memalingkan wajah, ke sisi jalan lain, setelah ku mengedarkan pandang ke sisi jalan yang ternyata, detik-detik berikutnya malaikat maut ada di sana. Ya, dekat di lokasi ini, ia berada. Membuatku ingin mengingatkan diri sendiri lagi dan lagi, tentangnya bagaimana? Karena kematian adalah rahasia.

Rahasia yang tidak sedikitpun ku mengetahui, kapan ia menyapaku juga. Semoga akhir kehidupan kita di dunia ini, indah dan baik, begini ku mengharap sambil meneruskan langkah-langkah menujunya. Langkah-langkah yang ku perhati, ke mana ia hari ini?

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,” (Q.S Al Waqi’ah : 60)

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s