Ai Miss You

Aku terkejut. Saat airmata langit jatuh lagi. Walau sebelumnya dan sejak lama ia memang sering menangis. Tetesan beningnya yang semakin ramai, ku perhati, dari bawah naungan atap. Sesekali ku berlari ke halaman, lalu hujan-hujanan.

Tapi kali ini, airmatanya jatuh senja hari menjelang malam. Walau aku suka memperhati rintik hingga derasnya, namun kini ku abaikan. Lalu ku simak derunya yang syahdu sampai di telingaku. Airmata langit yang akhirnya mereda.

Aku bahagia, karena bisa segera menelepon ibu, setelah hujan mereda. Karena beliau pernah berpesan untuk tidak menelepon kala hujan. Ibu juga sama, bilang lagi hujan dan memintaku mematikan telepon saat ku menghubungi beliau. Padahal ketika itu di tempat ku berada tidak hujan. Lalu ku matikan, kemudian menghubungi beliau saat ku perkirakan hujan di sana sudah reda.

Inilah dunia, di sana hujan, di sini cerah. Di sini mendung, di sana badai. Maka jangan mudah menerka dan mengira. Segera ingat, untuk mengingat, kita ada di dunia. Ngapain aja kita di dunia ini?

Setelah ku merangkai beberapa nomor yang ku hapal sangat, muncullah nama di layar hape biru mungilku. Hape yang bisa ku gunakan untuk telepon, kirim pesan, dan denger radio juga. Engga ada kameranya, karena tersembunyi. Hihii.

"Ai Miss You"

Lalu terhubunglah aku dengan beliau yang ku rindu. Mengapa namanya itu? Karena posisinya menjadi paling awal di layar hapeku. Hehe. 😀

***

Ku menelepon ibu sebelum merangkai catatan. Menanya kabar, menyapa ceria, menjemput berkah, menguntai senyuman, mengulur selendang yang beliau sambut dengan doa terindah.

"Lakukan yang terbaik, Nak. Tetap semangat," pesan ibu dalam kesempatan ini.

Kami berbincang mesra, heboh, riuh, dan ramai. Walau kami berdua saja. Hahaa. Lalu ku dapat inspirasi untuk merangkai senyuman lagi, setelahnya.

***

Airmata langit menderu berguguran. Dedaunan meliuk, menari, berteriak-teriak riang, ada juga yang gamang ketakutan, lalu turut menangis bersama hujan.

Apalagi gemerisik gemuruh bersahutan, meneriakinya bersamaan dengan kedipan kilat tak berkesudahan. Membuat dedaunan tidak mampu bertahan. Berlama-lama terayun-ayun di ketinggian? Sedangkan genggaman mereka pada tangkai-tangkainya tidak lagi saling menguatkan, namun gemetaran, kedinginan. Akibatnya, mereka pun berjatuhan satu persatu, melayang-layang di antara tetesan hujan yang menyakitkan baginya.

Selembar daun meringis, menggigit pilu, menatap sayu pada semua yang membuatnya tergugu. Tatapannya kosong dan hampa. Tatapan yang hanya dia dan Tuhan Yang Tahu maknanya. Karena nun jauh di dalam kalbu, ia sendu. Kesenduan yang bercampur menjadi satu dalam barisan serdadu bernama haru.

Ia terharu. Secepat itukah kesenangannya berlalu? Selama ini tiada yang mengganggu. Pikirnya begitu, sambil terus mencandai bayu.

Masih saja mereka berlirikan, sekalipun detik-detik berikutnya, sang bayu akan mengantarkannya semakin rendah, lalu terhempas ke tanah, hanyut terseret air yang kumuh bercampur limbah dan atau tersangkut di mana saja. Bisa di dahan-pohon tumbang yang menatapnya sayu, atau kembali ke pangkal pohonnya sendiri. Daun pun tidak tahu. Kecuali menerima akhir perjalanan bersama gigil yang membuatnya ngilu.

Sreg!

Sebelum benar-benar sampai di ujung takdirnya, sesuatu menggoresnya. Ia pun tidak tahu? Selembar dirinya yang tipis pun harus tidak sempurna lagi. Ia terluka.

Entah ke mana akan menemukan obatnya? Atas luka yang menyisakan bekas ini?

"Luka atas ajakan takdir," hiburnya pada diri sendiri.

Karena ia pun tidak menyangka, akan berakhir seperti ini. Bahkan sebelum tanah basah menelannya bulat-bulat. Atau aliran air limbah menyeretnya menjauh dari batangnya. Ia menerima.

Telah tertulis rapi sangat teliti, perjalanan dirinya sejak semula. Bahkan jauh sebelum ia menikmati kesenangan di lokasi tinggi menjangkau mentari. Bahkan sebelum ia berwarna hijau hingga menguning.

Sungguh, ada catatan tentang ujung perjalanannya. Apakah berakhir di muara atau di ranting-ranting yang mengering bersamanya atau di sudut pagar. Atau harus kembali menjadi tanah, setelah lama terhimpit dedaunan lain menjadi kompos. Atau yang lebih cepat lagi, menjadi abu setelah mengalami proses pembakaran setelah kering. Tidak, ia tidak tahu.

Termasuk saat ini. Dirinya yang tergores, setelah terbang melayang di udara bersama hujan. Ke mana ia akan terdampar? Dengan luka yang menemani. Bersama sisa-sisa airmata yang mulai kering. Berteman pilu, sendu, ia pun terduduk. Raganya sungguh sangat letih. Dan kemudian rebah. Ia pingsan. Belum siuman lagi sampai akhirnya mentari menerangi alam.

Ia adalah bagian dari lembaran daun yang harus lepas dari tangkainya. Daun yang sudah memeluk bumi, mencandai tanah basah, mengenali semut-semut merah dan sempat rebah di antara rasa bersalah.

Yah! Ia merasa bersalah, karena berpikir, tidak berpegangan erat pada tangkainya. Ia merasa bersalah karena membiarkan bayu menarik tubuhnya semau-maunya hingga ia sayu, kuyu, hingga membiru kedinginan.

"Engkau memang salah, dan sepenuhnya semua yang engkau alami, sudah tertakdir untukmu," mentari menghibur daun yang bersimbah airmata. Setelah mentari menemukan benang merah atas masalah. Ia lelah. Ia pasrah. Tidak menyalahkan sesiapa, hanya menemukan solusi agar daun tabah.

Ah! Sempurna sudah. Aku pun sumringah. Melihat mereka menemukan solusi dari masalah, dengan indah. Kembalikan semua kepada Allah. Insya Allah, ada hikmah.

Daun yang duduk masih hening. Ia diam, tenang, raganya. Tidak ada jerit kesakitan yang terdengar dari bibirnya. Begitu pun airmata yang mengalir atas kondisinya. Seakan semua hanya canda.

Ai! Kini, ia sudah bisa beraktivitas lagi. Kembali menjadi dirinya, walau sudah tak utuh. Kembali meneruskan hidupnya, walau tak akan pernah sembuh. Kembali merenda harinya, walau tidak tahu akan berapa lama lagi. Kembali merasa utuh, padahal sudah tidak bisa. Sebab ia sudah jatuh dari tangkai yang selama ini menggenggamnya. Tangkai yang ia bersamai menjalani hari, telah berpisah dengannya.

Kini, daun hanyalah daun yang telah runtuh. Bukan lagi daun yang hijau dan muda terlihat dari kejauhan. Atau daun yang berwarna keemasan tersinari mentari siang hari.

Bulan pun tidak sudi lagi menyisirinya dalam temaram malam. Karena kini, ia sudah jatuh, mendekap diri sendiri yang lemah. Apalagi bebintang di atas sana, mereka saling menanya karena tidak tahu menahu yang daun alami.

Daun, ia memang lemah. Akan tetapi masih ada kekuatan yang ia harapkan. Harapannya kembali. Harapan yang menguatkannya sebelum hilang dari bumi. Harapan untuk masih berarti, meskipun tiada buah-buahan yang dapat ia senyumi menjelang musim panen. Harapan untuk masih bertahan, sekalipun wangi bebungaan di atas sana tidak lagi dapat ia hirupi. Kecuali lembaran kelopak yang juga sudah jatuh bersamanya. Kelopak-kelopak layu sampai di tanah. Bukan lagi kelopak segar yang membuatnya sumringah. Ah! Sudahlah. Tampuknya tidak akan dapat lagi kembali ke atas sana.

"Ya Allah…
Masih ada Engkau ku kembali,
Masih karena Engkau ku di sini,
Bagaimana ku menempuh waktu-waktu lagi?
Aku ingin kembali, aku kembali, membawa hati, jiwa dan raga ini", ia berdoa, menengadah jemari. Menangis. Tersedu.

Iyah. Kini daun menyusuri sudut-sudut waktu, lagi. Menggenggam jemari erat, menautkannya lekat. Memantabkan niat untuk bermanfaat. Walau waktu tersisa semakin singkat. Meskipun akhir sudah dekat. Namun ia masih ingin taat, membawa tekad, membulatkan niat.

Bismillah…
Kembalinya untuk menitipkan pesan-pesan berharga, di sisa-sisa usianya. Setelah beberapa masa kemudian, toh ia akan tiada. Apakah menjadi abu atau kompos. Aku pun tak tahu.

Ia kembali, agar tidak sekarat lebih cepat. Padahal raganya masih ada.

Ia kembali, melihat dunia. Setelah sempat koma sesaat.

Ia masih muda, jiwanya, kecintaannya pada harta semakin-semakin, masih punya angan-angan Walaupun raganya merapuh.

Kita, juga. Semakin usia bertambah, semakin kita cinta, tamak dengan dunia dan bertambah kesenangan pada harta. Mari kita kembali, sejak masih muda. Sebelum kebiasaan masa muda terhadap dunia yang mengendalikan kita, berlanjut hingga usia menua. Sebelum mendarah daging di dalam hati, yuu kembali. Sedini mungkin, tidak menunggu usia 50 dulu, menunggu pensiun setelah tidak bekerja lagi? Hai, saat itu kita sudah engga cantik lagi raga ini. Saat itu tidak sempurna lagi, pikiran kita. Kecuali jiwa memang masih muda.

Saat ini kesempatan, kita masih berjaya, mampu berkarya, jangan nikmati masa muda foyafoya dan berharap meninggalnya masuk surga-. Paksakan diri, walau sulit. Sabarlah, walau berat. Syukurlah, walau pahit karena yang namanya obat harus pahit! Janji? Janjilah pada diri sendiri. Kalau masih mainperempuan, berhentilah, untuk kebaikanmu juga. Ini hikmah dan pesan yang ku petik dari mendengarkan lebih baik.

Sebagaimana ia yang kembali, ku sapa diri. Menjadi pelajaran dan pengalaman untuknya. Karena baginya, semua berarti. Siapapun yang ia temui dan bersamai, menyimak dan memperhati, menjadi ilmu dari pengalaman yang sesiapapun bagi. Menjadi pengalaman untuk berbagi. Pesan ini untuk kebaikanku, engkau, dan kita semua.

Harus ada waktu untuk belajar. Belajar dari yang ada. Membaca petunjuk hidup yang tersurat dan tersirat. Karena membaca, memperluas ilmu. Ilmu sebagai landasan beramal. Bergaul dengan lingkungan dan komunitas yang berpengaruh baik pada kita. Huuuwwa, terharu menjumpamu, teman. Terimakasih untuk masih dan tetap ada untukku.

Teman-teman yang menjadi jalan mengingatkan semakin banyak pada akhirat, meski kita masih muda, walau jauh dari mata, engkau berharga. Meski tidak tertulis nama, ku kenang sebagai reminder. Karena kita pernah bersapa walau melalui susunan kata.

Engkau menulis, aku membaca. Bacaan yang ku renungi, ku selami, ku teliti, ku senyumi, lalu bilang, "Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk menjaga beliau di sana."

Sebutir benih kata bernas dan bermakna, ku semai dalam ingatan awalnya. Namun aku tidak selamanya ingat, ku menyadarinya. Maka, menuliskan juga menjadi sarana. Semoga, kita pun dapat berjumpa.

Ia bukan engkau. Bukan.

Ia kembali, meneruskan kisah hidupnya yang ku pahami, masih ada cinta, kepedulian, kasih sayang tulus nan suci, pengertian dan penerimaan, penjagaan dan pemaafan, permohonan untuk kebaikannya hingga ujung waktu. Dari semua yang menjadi bagian dalam kehidupannya.

Aku terharu, memandangnya dari kejauhan. Hatiku tersentuh, menatapnya walau ia tak tersentuh.

Ia adalah daun yang teguh. Ia adalah selembar jiwa yang mengharap ampunan sepenuh kalbu atas rasa bersalahnya.

Wahai. Semua kita juga punya salah. Tidak ada yang bisa berkilah.

Ia adalah juga hamba yang tercipta. Untuk memohon memelas kebaikan dari Sang Pencipta. Ia juga memohon doa dan kerelaan serta kesudian menguntai pinta sepenuh cinta kepada-Nya di antara waktu-waktu terbaik kita, untuknya.

Walau ia tidak mengetahui, sekalipun kita tidak saling kenal. Namun Allah Maha Mengetahui, sebersit niat yang engkau lantunkan melalui lirih doa-doamu. Semoga beliau memperoleh ampunan atas segala kesalahan dan juga rasa bersalahnya.

Menempuh sisa-sisa waktu raga, hati dan pikir di bumi dengan ikhlas. Melanjutkan takdir yang telah tertulis sebelum ia ada. Doa yang menjadi kebaikan untuknya, membuka gerbang keampunan-Nya. Sebagai hadiah tanpa wujud, namun menjadi kejutan untuknya. Seikhlasnya, engkau teman, please. 🙂

#Aku tidak bisa mengurai jelas, namun intinya, titip doa, yaa, buat selembar daun di sana. Dengan sepenuh cinta dan kasih sayang dari dalam hatimu buatnya, karena-Nya. Untuk berangkulan kelak di sana, di sana… ketika dengan mudah kita saling mengenali, akhirnya. Walau di dunia aku, engkau dan dia belum pernah bersua, baik di dunia maya atau nyata. Namun saudara beriman membawa kejutan untuk saudaranya, melalui doa-doa yang ia lantunkan sepanjang tidak bersama di dunia. Untuk ia rengkuh lagi mendekati dan membersamainya, saat saudaranya jauh di sana.

"Mari ke sini, kita merapat untuk saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran," ajakmu.

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (Q.S Al A’shr : 1-3)

***

Untuk bahagia pun lebih bahagianya bersama-sama, bukan? Bahagianya aku mengenalmu, melebihi ramainya airmata yang menetes dalam haruku. Terima kasih, yaa.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s