Melangkah Lagi

Pada bentangan jalan ke mana saja, di mana saja, ku melangkah. Pada lembaran dedaunan mengering, ku belajar. Pada reranting pohon mengering, ku melihat. Pada luas cakrawala yang lapang, ku berkaca diri. Pada setitik embun di ujung kelopak melati, ku menyapa. Pada selangkah kaki mengayun, ku menyapa. Pada sebutir pasir di jalanan, ku memperhati. Pada semua, ku lanjut berpikir, merenung, hingga akhirnya, senyuman pun hadir.

***

Melangkah

Aku melangkah di jalan beraspal. Aspal datar bertabur kerikil-kerikil kecil tidak terlihat. Karena sangat kecilnya, begitu halusnya.

Kecilnya yang saat ku perhati lebih teliti, rupanya ramai sekali. Kecil-kecil sangat. Namanya pasir.

Pasir halus tersebut, sangat berarti. Dapat menyakitkan juga, bila mampir di pelupuk mata. Sangat perih, bila terselip di tengah luka. Sangat perih, kalau menempel di balik kuku. Tapi, semua tidak terjadi. Karena ku melangkah dengan sepatu.

Melangkahnya bergantian. Saat kaki kiri di belakang, kaki kanan di depan. Satu sama lain saling mengalah. Maka harmonislah adanya. Senang saja memperhatikan mereka dan suka membersamai. Melangkahnya tidak pelan bukan juga berlari, namun menikmati ayunan kaki, selangkah demi selangkah.

“Selangkah lagi, melangkahlah,” bisikku padanya.

~Pelajaran penting selama melangkah~

Sepatu cantik bergaris-garis. Ada merah, krem. hitam dan cokelat muda. Aha! Sepatu ini ku bersamai beberapa hari menjelang hari raya tiba. Sepatu semirip dengan yang sebelumnya pernah ku bersamai juga. Sepatu unik yang ku suka. Makanya, ku membelinya. Walau ada banyak jenis sepatu pada saat sama, namun ku sudah menentukan pilihan. Iya, model begini aku suka. Lagi pula, sangat praktis memakainya. Ditambah lagi dengan jendela-jendelanya. Sehingga, saat memakai sepatu tersebut, kaki-kakiku masih dapat menyaksikan sinar mentari di atas sana, ketika mereka melangkah siang hari. Walaupun dari balik kaus kaki hitam. Di dalamnya, jemari saling berbaris rapi. Tidak ada lagi yang mau menampakkan diri. Tidak juga ada yang ingin lebih dahulu berlari. Namun, semua saling bersinergi, menguatkan kaki di setiap pijakannya. Kaki yang menjadi rumah baginya. Sehingga, jemari kaki tidak perlu berbangga diri atas perannya. Sebab mampukah ia melangkah sendiri? Apakah yang dunia artikan tentangnya, bila ia memisahkan diri? Maka, ia rela berada di tempat tersembunyi saat ku berjalan, walau tiada yang memperhati. Namun jemari senang sekali, membantu tumit melangkah lagi. Untuk keseimbangan ketika berjalan, mereka saling bersinergi.

Jauh, jauh lagi di dalam jemari, ada nadi-nadi yang terlihat meski tidak jelas. Ada kulit melindunginya, sehingga nadi masih terjaga. Ada daging tipis membalutnya, sehingga ia tidak langsung menempel pada tulang. Sungguh, bahagianya mereka semua.

Lebih jauh lagi, di dalam tulang, sumsum sedang berlinang-linang. Ia terharu ada di sana, menjalankan baktinya untuk semua. Ia bahagia menjadi berguna, menjadi bagian dari semua. Ia bersua dengan raga, rasa dan suara, tapi tidak dapat melihatnya.

Walau begitu, bercengkerama mereka menjalani masa. Karena yakinnya ia bermakna. Meski tidak terlihat, walau tidak terjabat, sekalipun banyak sekat menjadi pembatas pertemuannya dengan sesiapapun. Termasuk dengan sebutir pasir halus di luar sana. Walaupun dengan hangatnya sinar mentari. Sekalipun tidak dapat menyaksikan gemulai dedaunan oleh semilir angin. Apalagi melihat senyuman di wajah ini, ia tidak kuasa. Namun sebagai bagian dari raga, ia rela tetap di sana, tanpa rupa namun berjasa.

Meski ia berada di bawah menopang raga, kaki senantiasa siaga, kapan pun ku mau mengajaknya. Untuk menjadi sarana sampaikan ku, di sana. Dia melangkah lagi, memperhati dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, maju. Sehingga tidak terasa, sudah sampai di lokasi yang ku tuju, bersama senyuman, masih menemani. Sedangkan kaki-kakiku, istirahat sejenak.

“Selamat rehat, teman,” bisikku padanya yang menjuntai menikmati waktu bersantai.

Ku sapa teman yang ku temui lagi hari ini, “Hai, teman. Senang bertemu kembali di sini, di ruang tempat kita berbagi. Berbagi pikir yang terhadirkan, berbagi pengalaman yang terpetiki. Salam pertemuan kembali dariku untukmu. Engkau yang hari ini masih ada, setia menjadi bagian dari hari iniku. Lagi dan lagi, hari ini. Sedangkan esok belum tentu. Makanya, yuu’ mari kita menempuh waktu dengan sepenuh hati, seluas syukur yang kita lazimi, seringan sabar yang kita sayangi. Supaya bila rerasa tidak menyamankan hati menyapa, kita bisa mengajaknya tersenyumi menjalani. Supaya senyuman demi senyuman dapat kita lihat dan perhati, darinya.”

Meranggas
Akhir pekan ini, langitnya kelabu. Namun, tidak dengan hatiku. Karena ia tersenyum menempuh waktu  😉

Waktu demi waktu berlalu. Menjalaninya menyenangkan sekali. Dalam nuansa penuh ketenangan dan bahagia melewatinya. Sedangkan saat ini, kita masih harus berjibaku dengan waktu, juga diri kita sendiri.

Supaya ia mau berangsur-angsur bergerak, walau pelan. Agar ia bersedia bangkit, meskipun lambat. Supaya ada yang ia senyumi, atas gerakan yang ia upaya, saat ini dalam hari ini. Karena perjuangan masih berlangsung. Sebab kita tidak mengetahui, sedetik lagi bagaimana, bukan? Maka, menjaga gerak sebelum ia melangkah jauh, adalah penting. Supaya ingat apakah berfaedah atau tidak adalah perlu.

Makanya, hiasilah saat ini dengan melangkah lagi. Langkah-langkah yang damai dan mendamaikan, tenang dan menenangkan. Langkah-langkah yang tidak selalu sukses, memang. Namun ada kegagalan di antaranya. Bisa saja masuk selokan, bila tidak hati-hati melangkah dan memperhati langkah. Bertemu genangan air di tengah jalan, mesti menghindar kalau tidak mau kebasahan. Jadi, yaa, memilih jalan yang sesuai dan tepat. Kalau pun sempat terjatuh, terpuruk, terjerembab, bangkitlah lagi. Walau goresan luka memperlihatkan diri, bangkitlah menahan sakit. Melangkahlah merasai perih. Sembari menemukan obatnya.

Nikmati rasa yang ada, proses penyembuhan luka, dan terus menghayati langkah-langkah lagi, tetap berusaha dan berdoa. Semoga, sebelum sampai di ujung perjalanan, sakit sudah sembuh.

Nikmati perjalanan berikutnya, berpengalamankan kegagalan hari-hari lalu. Melangkahlah hari ini untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya yang lalu. Menjadikan hari ini sebagai jalan terindah untuk berubah, berbenah, menjadi seperti harapan. Kalau pun belum tercapai harapan sesegeranya, bertawakkal menjadi pilihan. Selanjutnya, senyum lagi, melangkah lagi, berusaha dan tetap berdoa. Temukan hikmahnya, dengan kejelian, memperhati, memetiknya, sebagai bagian dari perjalanan diri. Semoga indah di dalam hati, mencerahi pikiran, menebar sumringah di lembaran pipi, …yyaah. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

5 thoughts on “Melangkah Lagi

    1. Hehe. Tulisan-tulisanmu juga kuq, trims brother, ya 😀

      Like

      1. Terimakasih kembali,, hehe

        Like

  1. wah menyentuh mbak.. hehe

    Like

    1. hehe, alhamdulillah, tengkyu brother 🙂

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close