Senyuman Ibu

Bagaimana bisa Ibu?

***

Bermula dari sini, berawal dari pertanyaan, aku melanjutkan langkah-langkah lagi. Melangkahkan kaki-kaki ini di bumi, untuk menemukan jawaban dari pertanyaan. Melangkahkan jemari dari hari ke hari, untuk merangkai senyuman. Melangkahkan pikir yang maunya terbang melayang hingga jauh sekali, untuk berkunjung ke berbagai negeri yang ingin ia temui. Melangkahkan jiwa yang membersamai, untuk bahagia yang ku cari.

Yah, ini semua masih berlangsung. Keberlangsungan ini karena ku masih berada di bumi. Bumi yang ku jadikan tempat berpijak. Bumi ini milik Allah, begitupun diri ini. Apalagi semua yang ada di luar diriku, semua milik-Nya. Lalu, aku punya apa? Tiada, selain Dia.

Jauh-jauh hari sebelum ini, aku terpikir tentang satu hal saja dalam hidupku. Hidup yang ku jalani dari hari ke hari, tanpa senyuman. Ke mana-mana, wajahku tenang tanpa ekspresi. Apakah aku dalam kesedihan atau kebahagiaan? Semua sama. Tidak ada bedanya pada wajahku. Tiada yang tahu, kapan aku sedih, kapan aku bahagia. Sebab, ku berwajah tenang, selalu begitu. Bahkan sangat jarang ku bercermin, untuk melihat ekspresiku. Ekspresi ketika ku sedih bagaimana? Ekspresi ketika ku bahagia bagaimana? Jarang, sangat jarang. Kecuali sesekali saja, kalau lagi bedakan. Selebihnya, ku habiskan waktu-waktu ku tanpa mengetahui ekspresiku. Sebab hidupku sudah begitu, ya, begitu saja.

Hingga sampai pada suatu hari, aku sedang sedih, adanya. Kesedihan yang tidak dapat ku ungkapkan pada sesiapa. Karena ku tidak melihat sesiapa di sekitarku. Kesedihan yang hanya bisa ku rasa, tanpa bisa ku lihat. Kesedihan itu ada di dalam diriku, sangat dekat. Kesedihan yang membuatku sangat ingin berjarak dengannya, walau sedetik. Namun tidak bisa, karena aku sedang sedih, sediiiih, sangat. Sangaat sedih. Iya, sedih, gitu. Huhuhuuu, lalu, nangislah aku. Menangis lagi, lama, dan aku belum sadar-sadar juga.

Kesadaranku menjauh, saat ku sedih. Aku tidak menyadari, kalau bersedih dan menangis lama-lama, mataku memberat. Tatapanku pun buram, tanpa cahaya. Aku sudah tidak dapat melihat lagi, sempurna. Sempurna, sempurna sudah ku rasa.

Kesedihan yang membuatku tidak bisa lagi berkata-kata, kecuali menangis saja. Menangis tanpa suara, diam tanpa terisak. Ah! Semua berat ku jalani. Hingga ku hanya bisa menangis menghadapinya. Karena memang itu yang ku punya. Airmata. Aku berpikir hanya sejauh ini. Sejauh airmata yang sangat dekat di mata. Dekat sekali pikirku yang ku pikir jauh.

Aku belum terpikir untuk berpikir sempurna. Sehingga sungguh, bersama airmata saja ku menjalani masa. Ada yang membuat hatiku tersentuh, menangislah aku segera. Ada yang membuatku luluh, menangis juga ku menghadapinya. Ada yang tersenyum, aku pun menangis haru. Karena ku bahagia membersamai airmata. Ada yang menangis di depanku, aku menangis sejadi-jadinya. Walau tidak di depannya, namun beberapa saat kemudian setelah kami berjarak. Aku menangis untuknya. Untuk menangisi ketidakmampuanku mendata rasa. Perih, memang pedih rasanya, mengetahui orang-orang yang kita sayangi bersedih, bukan?

Iya, kesedihan ini yang ku rasakan. Sedih saja, bila cerita yang kita terima tentang lukanya yang ia rasa. Menangislah aku…

***

Esok harinya, setelah satu hari berlalu, ada lagi yang membuatku menangis. Maka, aku menangis lagi. Menangis untuk meredakan dukaku, meluahkan rasa yang ada, atau memberaikan bahagia dengan menangis. Menangis saja, yang ku bisa. Ah, sempurna sudah semuanya, aku sungguh bahagia. Karena setelah menangis, dan menangis lagi esoknya, airmataku masih bisa mengeluarkan diri dari cangkangnya. Karena stoknya cukup banyak dan tersedia kapan saja ku ingin menangis. Persediaannya sangat banyak, walau tidak terlihat.

Airmata yang ada padaku, ini juga titipan dari-Nya. Maka, setiap tetes airmataku berjatuhan, aku mulai berpikir. Pernah pada suatu hari, dalam kondisi menangis dan belum henti-henti, ku jatuhkan ia di atas telapak tangan, lalu ku kumpulkan. Ku pandang-pandangi bening permata kehidupan yang membasahi jemariku. Ku perhatikan di antara buramnya tatapanku. Ku lihat lagi dan lagi. Airmata ini, bagaimana bisa ada lagi dan lagi? Aku kemarin menangis, hari ini juga. Airmata ini, adalah jalan kembalikan ingatanku kepada-Nya, Pemilik sesungguhnya. Sedangkan aku yang menerima titipan, bagaimana menjaganya?

Sejak itu, ku mulai berpikir. Airmata ini berharga. Tidak akan ku buang dengan percuma. Akan ku jaga ia, untuk mengalir pada waktunya. Akan ku jadikan peneman diri, saat ku ingat kepada-Nya. Lalu, ku bisa menangis lagi, membersamainya kapan lagi? Kapan-kapan ku rindu, aku menangis. Tidak lagi ketika ada yang membuatku terluka. Tidak lagi, ketika seseorang mencolek ruang hatiku, untuk ia intip-intip suasananya. Tidak juga, ketika ada yang berusaha menjatuhkanku atau melukaiku. Tidak. Aku hanya akan menangis dalam masa yang tepat dan memang seharusnya begitu. Karena, menangis terus-terusan tanpa kenal waktu dan situasi, tentu menyulitkanku. Huhuuu, seperti di tempat aktivitas, misalnya. Keadaan yang semestinya ku jalani dengan profesional, aku tidak. Malah nangis sendiri, membelakangi kolega-kolegaku yang akhirnya bertanya, “Uni, kenapa? Ada apa?” Nah, pada saat itu aku membuat mereka bertanya-tanya, karena menangisku bukan pada tempatnya. Ini dulu.

Sekarang aku tersenyum. Senyuman bahagia yang ku bagikan sebagai bagian dari hari iniku. Senyuman yang ku rangkai, bukan hanya untukku. Namun agar sesiapa saja yang ku bersamai dan membersamaiku hari ini, turut tersenyum bersamaku.

Esok, lusa, nanti dan selanjutnya,

Aku mulai menangis lagi, kalau ku lupa dosa-dosaku sudah menumpuk banyak, tanpa ku ingat menguranginya namun menambah. Maka, menangislah aku…
Aku segera menangis lagi, saat teringat orang-orang yang ku rindu, sangat. Saat mereka jauh dariku, namun tidak dapat ku tatap dua bola matanya yang biasanya memperhatiku penuh cinta, menegur kesalahanku penuh kasih sayang, menangislah aku…
Aku sedang menangis, kalau airmataku mengalir dari sudut mata…

***

Menangis yang ku alami dari hari ke hari, memberiku pengalaman. Pengalaman yang membuatku berpikir ulang, sebelum menangis sering-sering. Termasuk saat ini, dan hari-hari berikutnya. Aku ingin menangis, masih. Karena menangis adalah munculnya airmata dari sudutnya, mengalir di lembaran pipi, lalu jatuh di pangkuan. Atau, hanya muncul di sudut mata, tidak jadi mengalir, tapi membuat mata berkaca-kaca. Haru.

Haru. Kali ini tentang haru. Aku terharu, tidak sampai menangis. Karena, aku bahagia. Bahagia, bertemu denganmu teman. Engkau yang mengingatkanku tentang perjalanan hidup ini. Perjalanan yang masih berlangsung, ada engkau dan aku. Engkau yang menjadi bagian dari kehidupanku. Engkau yang ku jaga, menemani diri, dalam ingatan, kalau kita berjauhan. Engkau yang ku jaga, mengingatkan diri, dalam senyuman, kalau kita berdekatan. Engkau yang ku bersamai, adalah jalan hadirnya senyuman.

Senyuman yang ku rangkai lagi hari ini, untukmu. Engkau yang menitipku sekelumit kisah dan cerita dalam perjalanan hidupmu. Engkau mengingatkanku untuk menjadikannya sebagai pengalaman, dari pengalaman yang engkau bagi. Sungguh, ku bersyukur mengenalmu, membersamaimu, bahagia.

Terima kasih yaa, untuk semua. Ku bahagia membersamai senyuman ini. Senyuman untukmu, yang berrela hati menjadi bagian kembalikan ingatanku kepada-Nya.

“Sekarang, kita kembalikan semua kepada-Nya. Karena jauh hari sebelum kita ada, sudah terdata di dalam catatan-Nya, jalur hidup kita. Inilah kesempurnaan sabar dan ikhlas menjalani hidup. Saat ini dan selanjutnya, kita berbenah mendata diri. Untuk menjalani hari ini dengan senyuman berseri, menjaga hubungan yang baik dengan Allah subhanahu wa Ta’ala. Dia Yang Memberi kita hidup, bagaimana bisa lupa dan melupakan-Nya? Hubunganmu dengan sesama baik, dengan orang tua sangat baik, namun dengan-Nya? Sebaliknya. Engkau, ingatlah, ini menjadi teguran sayang dari-Nya untukmu. Supaya engkau kembali, kepada-Nya. Menangislah… Karena Dia. Berubahlah… Karena Allah,” begini ku menguatkannya. Sahabat baikku yang sedang menghadapi cobaan terberat dalam hidupnya, beraimu di depanku sambil berurai airmata.

Aku mau nangis, tapi airmata tetap di cangkangnya. Saat ku rengkuh erat pundakmu dan memperhati tetesan bulir bening permata kehidupan yang berguguran, untuk menguatkan. Engkau yang juga terpukul, hebat.

Aku sedih, kalau engkau menangis. Tapi, dalam kondisi begini, aku tidak menitikkan airmata bersamamu, namun menguatkanmu dengan caraku. Walau selanjutnya, setelah kita berjarak, aku juga nangis, lho.  —-Paragraf ini adalah catatan yang ku tulis atas pengalaman kemarin, namun baru bisa ku rangkai sekarang.

***

Hari ini, ibu tersenyum. Tersenyum dari sana dalam kesempatan kami bertukar suara lagi. Senyuman yang ku dengarkan melalui nada-nada suara beliau, bahagia. Kebahagiaan beliau yang merebak padaku, lalu aku pun tersenyum. Tersenyum bersama beliau, meski dari kejauhan. Tersenyum sambil melanjutkan langkah-langkahku. Karena ku belum sampai di tujuan. Masih melangkah… Sampai pada paragraf ini, aku terhenti sejenak dan mendengarkan lirik-lirik berikut nan mengalun syahdu, Maidany – Dua Wajah.

Kawan mungkin engkau lihat ia selalu
Tersenyum padamu
Namun dibalik senyumnya
Ternyata ia menyimpan duka yang pilu

Kawan mungkin engkau lihat ia selalu
Bercanda padamu
Namun di balik riangnya
Ternyata ia menyimpan air mata sayu

Kita terkadang menyembunyikan perasaan kita
Ooo…yang sebenarnya pada manusia
Untuk menyimpan wajah hati kita yang sesungguhnya
Ooo…seperti dua wajah pada satu tubuh

Lihatlah lebih dekat saudara kita
Agar tidak menerka isi hatinya
Bila tiada dapat mennjadi teman baiknya
Jadilah saudara yang selalu mendoakannya

Setiap kita punya kisah
Setiap kita punya cerita
Setiap jiwa punya rahasia
Di mana hanya Allah yang tahu
Kita tiada tahu…..

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s