Mentari Bersinar Bahagia

Mentari Bersinar Bahagia.jpgIni adalah ilmu yang ku pelajari sedikit demi sedikit. Ilmu tentang bahagia yang ku cari. Bahagia yang ku harap menjadi ujung dari perjalanan ini. Bahagia yang sempat hilang, pergi, berlalu, dan kemudian datang lagi di antara waktu ku meneruskan perjalanan. Bahagia yang tidak selalu menetap di dalam diri. Ya, selagi masih ada di dunia ini, memang begini ku mengenal bahagia.

Bahagia yang abadi, di jannah... Sedangkan selagi masih di dunia ini, kita bisa saling mengingatkan tentang bahagia. Kita bersua dengan orang-orang yang mau menitipkan bahagia ke dalam hati yang sebelumnya tidak bahagia. Hati yang kemudian bahagia juga, sama seperti yang ia alami. Sehingga, kebahagiaannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, sebab ia mau membagi sepenuh hati.

***

“Serius, kali, Kaak…?” begini ia menyapa, saat melintas di depanku. Melanjutkan langkah-langkahnya mengikuti temanku. Untuk beranjak ke ruangan lain. Ia yang sebelumnya sempat ku pandang sekilas, awal datang ke tempat kami. Setelah itu, aku melanjutkan aktivitas lagi. Aktivitas yang ternyata ia pandang, serius. Serius, iya, ini serius. Sangat serius. Makanya, aku serius, sampai terlihat olehnya juga.

Siapakah dia?

Seseorang yang menyapa dan membuatku segera tersenyum. Senyuman yang mungkin ia tidak mengetahui. Karena ia sudah berlalu dariku. Walau begitu, ku masih mau merangkai senyuman ini hingga berbaris rapi. Senyuman untuk diriku, khususnya. Untukmu juga teman Supaya ku ingat tersenyum, saat serius kembali menunjukkan diri. Apalagi saat mampir di sini. Aku bisa dan mau tersenyum lagi. Walaupun sebelumnya tiada senyuman yang ku bawa.

Sebelum datang ke sini, aku memang sedang serius dan biasanya begitu. Menjalani hidup ini terkadang harus serius, bukankah begitu, ya?

Aku yang memang lagi serius, ceritanya. Karena ini menyangkut masa depan. Dan aku sedang berpikir tentang ini. Iyah, ini tentang bahagia yang selama ini ku cari. Bahagia yang ku cari, sejak lama. Bahagia yang ingin ku bersamai, saat jauh darinya. Bahagia yang membuatku berbahagia saat membersamainya (bahagia).

***

“Awal dari ilmu adalah diam, mendengarkan, memahami, menghapal dan menyampaikannya,” begini beliau menguraikan melalui suara, yang ku simak. Ketika itu aku sedang menerima ilmu.

Ini ilmu tentang bahagia. Berikutnya, ku asyik menyimak. Sesekali menggoreskan catatan pada lembaran kertas putih yang tersedia di depanku. Karena, pasti saja ada hal-hal penting yang dapat ku lupa, kalau tidak segera menuliskannya. Lagi pula, aku memang ingin mengetahui lebih banyak tentang bahagia. Nah, pada saat beliau sedang mengupas tema bahagia, aku bahagia sungguh senang sekali. Aku suka tema ini. Tentang bahagia.

Yap! Kali ini, catatanku pun tentang bahagia, teman. Bahagia yang ingin ku ingat lagi, kelak pada suatu hari. Bila-bila masa ku merasa sedang tidak bahagia. Saat bahagiaku rasa menjauh dari diri. Ketika bahagia tidak membersamai. Ingin sekali lagi ku mempelajarinya, saat kembali ke sini. Untuk mengintip bahagia, barangkali terlihat dan membuatku bahagia saat mengetahuinya ada. Lalu ku bawa lagi, menemani diri. Sehingga bahagia ku menjalani waktu dalam hari-hari.

“Menurut Anda, apakah bahagia?” beliau lanjut mengajukan pertanyaan pada jamaah yang ada di sekitar. Yah, ketika itu aku sedang menyimak kajian via radio, lagi. Karena ku tidak dapat pergi-pergi langsung mengunjungi sumber ilmu, untuk menjemputnya. Maka, dari jauh seperti ini, meski menyimak via suara, aku sudi. Walau baca-baca juga ku rela. Tidak berapa lama setelah beliau menanya, mulai ada suara lain terdengar olehku. Setelah beliau mempersilakan seorang demi seorang menyampaikan bahagia versinya.

Berikut definisi bahagia menurut beberapa orang  yang ku simak dengan baik:
– Orang yang dapat menggapai cita-citanya
– Orang yang sehat
– Orang yang bisa melakukan amal shaleh dan taat kepada Allah
– Orang yang apabila berdosa segera istighfar
– Orang yang segala kebutuhannya tercukupi
– Orang yang selalu terhibur dan senang hatinya
– Orang yang bisa bersyukur
– Orang yang merasakan nikmat Islam dan iman

Ternyata banyak definisi bahagia menurut cara pandang masing-masing orang. Berbeda orang, berbeda juga cara mendefinisikan bahagianya. Lalu definisi bahagia yang sebenarnya, apa sich?

Beliau melanjutkan :
Menurut bahasa arab, bahagia adalah as sa’adah.
Menurut KBBI, bahagia adalah : “… ketenteraman, kedamaian di hati, keadaan atau perasaan senang dan tenang, bebas dari segala yang menyus-ahkan.”

“Bahagia berbeda dengan sukses. Seseorang bisa disebut sukses, kalau mencapai tujuan dan cita-citanya, seperti mempunyai rumah megah, mobil mewah dan kelimpahan materi sebagaimana yang ia impikan. Namun, belum tentu bahagia, bukan? Karena bahagia bukan terletak pada semua itu. Kebahagiaan tidak bisa dibeli. Kebahagiaan tidak disimpan di dalam brangkas tertutup rapi. Tidak juga ada pada kemewahan duniawi. Namun bahagia ada di dalam hati, pada iman di dalam dada. Kebahagiaan adalah kedamaian hati dan ketenteraman jiwa dalam menjalani hidup ini. Orang yang paling bahagia adalah yang paling dekat dengan Allah subhanahu wa Ta’ala, Sang Pemilik hati. Semakin tinggi tingkat rasa takutnya kepada Allah, maka semakin bahagialah ia. Di mana pun berada, kebahagiaan menyertainya. Karena bahagia ada di dalam hati. Sedangkan hati ini ada di dalam genggaman-Nya,” lengkap beliau memaparkan lebih lanjut, tentang bahagia.

Selanjutnya, beliau bagi-bagi tips bahagia, berikut :

1. Anda bertanggung jawab atas diri Anda sendiri

Anda ingin bahagia? Jangan gemar menya-lahkan orang lain atas keadaan yang Anda alami. Temukanlah jalan bahagia Anda.
Anda ingin sembuh? Carilah apa penyakit Anda. Karena Anda yang tahu penyakit dari dalam diri Anda. Penyakit yang bisa saja menjadi alasan Anda tidak bahagia. Yah, obatnya ada pada diri Anda sendiri. Cek-cek lebih sering.
Anda ingin berhasil? Carilah jalan keberhasilan Anda. Jangan pernah merasa kecil, aku engga bisa bahagia. Karena aku belum berhasil. Bagaimana caranya? Carilah kekurangan diri sendiri, misalnya : Aku pena-kut – pemalu – tidak mungkin berhasil. Nah Inilah kuncinya. Beranilah, beranilah, sehingga Anda pun berhasil. Dengan mengoptimalkan kelebihan, menemukan kekurangan yang Anda polesi menjadi pendukung dalam keberhasilan yang membahagiakan.

2. Bergurulah pada masa lalu. Semangatlah pada hari ini. Optimislah pada masa yang akan datang

Jadikan kepahitan, keterlukaan, kejeng-kelan, kese-belan, masa lalu, sebagai guru yang baik. Jangan hidup pada masa lalu. Karena akan memutuskan semangat Anda menjalani hidup.

3. Berimanlah dengan takdir Allah

Bahwa kita di sini, bertemu juga bagian dari takdir. Begitu juga dengan sesiapa saja yang kita temui, serta keadaan yang kita alami. Adalah beriman dengan takdir, tidak membuat kita menyesali yang terjadi, namun menjadi jalan untuk mengembalikan ingatan kepada pemilik takdir diri. Jangan berandai-andai (jikakutidakesini,makakutidakbegini… -kalauakudisanamakaakutiadadisini)

“Iya sich, Kak, suliiit juga rasanya untuk tidak mengeluh dalam hidup ini,” curhat temanku pagi ini.  Teman yang ku bersamai menempuh hari, akhir-akhir ini. Teman yang ke mana-mana ku ajak menemani, mau. Teman yang ku syukuri menjadi bagian dari perjalanan ini. Teman yang bilang, sesekali ia bahagia, terkadang juga tidak bahagia.

4. Jangan pernah ‘merasa’ menjadi orang paling susssyeh, sedunia

Karena atas kes-us-a-han yang kita rasakan, ada yang lebiih lagi su-sahnya. Maka, nikmatilah semua dan berbahagialah saat ini juga. Melihatlah, mendengarlah, memperhatikanlah, ada lagi yang kondisinya bahkan lebih suss-sah, di luar sana. Ingatlah keadaan demi keadaan dalam hidup ini, ujian demi ujiannya, akan membuat seseorang menyadari dirinya.

5. Jangan suka marah, juga menyimpan dendam

Orang-orang yang suka marah, adalah orang yang paling se-ng-sara di dunia ini. Bila seseorang marah, perhatikanlah bagaimana parasnya? Suurram kan? Kelaam, te-maram, gelapp dan mendung-mencek-amlah wajahnya. Horoor! Makanya, kalau seseorang sedang marah, diamlah menghadapinya. Lama-lama marahnya juga reda, semarak lagi wajahnya berseri-seri. Aku suka. Seperti mentari yang bersinar bahagia, begitulah wajah berseri ku perhati.

6. Jangan hasad, dengki, iri

Karena sifat-sifat ini dapat membawa pergi kebahagiaan menjauhi diri. Lalu, mereka menggerogoti hati.

7. Jangan melihat ke atas, dalam urusan dunia

Supaya tumbuh syukur dengan yang ada. Namun melihatlah ke atas, dalam urusan akhirat. Supaya bertumbuh tambah semangat beramal dan menebar manfaat bagi sekitar.

***

“Awal dari keberhasilan, awal dari kesuksesan, awal dari kesejahteraan, awal dari kebahagiaan adalah akhir dari keseng-sara-an. Mau berhasil? Mau sukses? Mau sejahtera? Mau bahagia? Jangan lupa bertawakkal kepada Allah karena Allah Maha Pencipta, Allah Maha Pengasiih…” pesan beliau yang lain, hari ini tentang bahagia.

Mari bahagia teman, mari… belajar lagi.

🙂 🙂 🙂