Airmata Berujung Senyuman

"Hari-hari adalah merangkai senyuman lagi. Setelah airmata menetes dan tidak berkelanjutan, lalu bersama senyuman menjalani waktu-waktu berikutnya."

***

Begini awalnya…

Airmata mulai terbit, menetes lalu membanjir hingga ke pundakku.
Airmata menderas menjadi-jadi, tiada henti.
Airmata yang terbit lagi di sudut mata, mengalir, seakan mengejar rekan-rekannya yang sudah lebih dulu keluar berlarian.
Airmata yang ku hayati benar-benar, sukses mengajaknya semakin ramai menemani.
Airmata yang mudah kompromi, untuk menyorakiku yang tersedu sendiri.
Airmata hangat, melembabkan wajahku, beberapa menit kemudian.
Airmata yang terus saja mengalir, dan aku menyukainya.
Airmata yang bermuara pada ingatan. Ingatan demi ingatan yang membuatnya luruh tanpa jeda.
Airmata yang merembes pelan dan pasti, membuat mendung terasa di seluruh wajahku. Mendung yang memberat dan tumpah lagi bersama airmata. Mendung yang membuatku ingin menyaksikannya. Apakah benar ia ada?

Aku bangkit dari rebahan, lalu bercermin. Ternyata, bola mataku sudah memerah. Sedangkan airmata masih saja mengalir tanpa henti. Karena ada lagi dan lagi, sambil masih ku nikmati. Selanjutnya, ku senyumi diri sebentar, dan menyahut, sambil menempelkan telapak tangan di pipi lalu ke sudut mata, "Iyaaaa, sebentaaar, siapa yaa?"

***

Aaaaa… ha! Nangisku harus terhenti sampai di sini. Kesyahduanku mesti ku akhiri, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu yang terkunci. Kemudian melangkah ke pintu besi tidak jauh dari pintu pertama. Pintu besi yang juga dalam kondisi terkunci.

Masih ada airmata di pipi saat ku menyambutnya. Seorang ibu muda yang memanggilku tadi. Beliau datang saat ku sedang bersamai airmata di pipi. Airmata yang ternyata belum selesai mengalir, bahkan saat ku sudah di depan beliau. Airmata yang tiba-tiba menetes lagi. Hingga beliau tahu, kondisi yang ku alami.

"Yani, menangis? Apa masalaah?" tanya beliau meneliti.

"Hiks! Iya, Bu, ini, lagi panas badan, jadi nangis. Memang gini, kalau panas, nangis dech, airmata mudah mengaliri pipi," jawabku mensenyumi beliau dan mempersilakan masuk. Setelah mengetahui maksud kedatangan beliau, senja hari.

"OooOo…, Ibu juga, panas dingin, kurang enak badan," beliau menimpali.

Percakapan kami berlanjut dengan kondisi airmataku tidak menetes lagi. Tidak lama kami berbincang, beliau bersiap kembali. Rencananya aku akan lanjut nangis lagi, karena asli belum usai rasanya. Masih ada yang nyangkut di hati untuk ku keluarkan melalui airmata. Namun sebuah harus tidak terjadi, mengapa?

Tepat setelah ibu muda tadi berangkat, seorang bocah imut muncul dari balik pintu besi. Wajah ayunya nan mungil, membuat suaraku segera menyapanya, "Hai Cacaaa… Sama siapa ke sini?"

Pertanyaanku yang ia jawab sambil menampakkan gigi-gigi serinya yang rapi, "Endili, Caca main cini."

Iiiiich, gemes dech. Lalu ku menghampirinya dan mengajak masuk. Sedangkan ibu muda tadi sempat menanya,"Bisa ke sini sendiri? Berani?" sebelum beliau berlalu menuruni anak-anak tangga.

"Iya Bu, Caca sudah biasa datang sendiri, dan main sama kami di sini, iya kan Cacaa?" ku jelaskan pada beliau agar tidak mencemasi kami.

"Ooo, baiklah, ibu pulang yaa, hati-hati di sini," beliau pamitan.

"Iya, baik Bu, pintunya kami kunci lagi, ya Bu," lalu aku dan Caca segera ke ruang tengah dan lesehan di lantai. Kemudian menawarinya beberapa cemilan yang ia rasa-rasai, minuman yang ia icip-icipi. Tidak henti ia bergerak ke sana kemari, menanyai yang ia perhati, lalu sesekali duduk dan berjalan lagi.

"Ni pa, Nte?" tanyanya sambil menempelkan telunjuk di ujung piring. Piring berisi nasi goreng yang belum selesai ku habiskan, tadi. Namun sudah ku tinggalkan karena menetesnya airmata di pipi.

"Nasi goreng, Caca mauuu…?" aku menawarinya yang terlihat berminat.

"Caca mau, Nte," lalu ku suapi karena yakin ia suka, lagian engga pedas koq. Dan benar suka, tapi ia makan sesendok saja. Kemudian lanjut minum. Lalu aku? Aku juga mulai minat lagi dan menyuap beberapa sendok. Sedangkan Caca lanjut nyemil cemilan si-ngkong keju yang sebelumnya juga ia tanya, "Ni pa, Nte?"

Pas lihat sesuatu, tanya lagi dan tanya terus.

Hehee, tidak henti, ia tanya-tanya apa saja, hingga aku pun terlupa dengan airmata. Ku bersamai Caca sambil nonton Tivi di ruang tengah. Sesekali ia duduk di sampingku, tapi seringnya jalan-jalan bolak balik ke kamar, ke depan pintu, hingga pengen pi2s. Hihi, 😀

"Nteee, Caca Pi2s," lapornya sambil siap-siap ke belakang.

"Beneraaan? Bisa sendiri kann?" ku memastikan ia bisa, karena memang ia sudah biasa dan bisa.

Begitulah, kebersamaanku beberapa puluh menit saja dengan Caca yang ujung-ujungnya mengalihkan perhatianku dari airmata.

***

Caca adalah salah seorang anak dari tetangga kami. Rumahnya di bawah. Depan rumahnya adalah jalan yang biasa kami lewati saat datang dan pergi. Makanya, ia menjadi akrab dan dekat dengan kami, para Antenya di kostan ini. Tapi aku ga mau ia memanggilku Ante, maunya Kakak aja. Mengetahui tentang ini, teman sebayaku enggaa rela. Alasannya, mama Caca bahkan lebih kecil usianya dariku. Dan ia memintaku untuk ingatumur. Saat ku bilang, "Haaii, aku mau jadi kakak Caca ajaa, bukan Ante (aku tidak setuju, tetap #becandajasihtapikurangtepatbagitemansebayakuuh).

Sungguh, aku senang dan bisa tersenyum lagi, kadang-kadang Caca atau anak-anak sebayanya memanggilku, "Kakak" kalau merekalupa dan harusnya manggilku ya, "Nte."

Ya.

Kostan kami terletak di lantai dua dan biasa Caca kunjungi. Ia menaiki tangga dengan merangkak, dan ngesot-ngesot kalau turun. Sungguh, selama ini ia sangat berani turun naik tangga, kalau mau main di tempat kami. Dan kehadirannya membawa nuansa berbeda pada kami. Kelucuan anak-anak berusia tiga tahun, selalu bisa membuat kami tersenyum.

Ia sangat aktif dan tidak henti tanya-tanya apa saja yang ia ingin ketahui. Ia mudah mensenyumi kami dengan menampakkan gigi-gigi kecilnya yang rapi. Rambut ikalnya yang terkucir rapi, menambah pesonanya di mata kami.

Pernah pada suatu hari, Caca anak manis, pintar dan lucu, cantik nan shalehah, sudah berdiri di balik pintu besi yang dalam kondisi tertutup. Tapi engga bersuara kalau ia sudah di sana.

Eits, aku dan seorang teman yang saat itu mau keluar, terkagetlah sudah. Menyadari keberadaannya tanpa suara.

… Inilah akhirnya, senyuman.

***

"Keesokkan paginya, mentari bersinar cerah dari ufuk Timur. Aku menyambutnya dan menjalani hari yang cemerlang dengan senyuman berseri."[]

🙂 🙂 🙂