Hari Pertama

Anniversary

Hari ini lima tahun lalu, ternyata hari pertama ku berada di sini. Tepatnya, menggunakan id blog ini. Hohoo. 😀

Buktinya, ada notifikasi dengan sebaris kalimat, “Happy Anniversary with WordPress.com! Untuk tahun ke lima.” Kalimat tersebut ku baca saat berkunjung lagi ke sini, hari ini. Hihii. 😀

Lalu ku senyumi sepenuh hati. Seraya mengembalikan terima kasih padanya. Ia yang rela ku oreti segala yang ku mau. Apakah suara-suara sumbang yang hadir dan ku alirkan ke dunia maya ini? Apakah jejak-jejak saat ku kebing-ungan dalam perjalanan? Apakah kata-kata usang yang ku coba memperbaruinya dalam kesempatan terbaik?Apakah tatapan-tatapan tanpa makna yang ku layangkan dalam kebersamaan kami?

Yah, pada saat ku sedang bimb-ang, pandanganku akan kosong padanya. Meski masih ku sapa ia, untuk menanya tentang kebimba-nganku. Ia mau saja membersamaiku. Huhuu. 😀

Nah, begitu juga kalau ku sedang bahagia. Ia sangat, super, open padaku, ternyata. Ia menerima ekspresiku yang berbunga-bunga, hahaha. 😀

Sedangkan ketika ku sedang terdiam dalam syahdunya hatiku, ia juga tidak memintaku berlalu darinya, namun sudi menyimak curh-atanku. Curhata-n tentang hatiku yang pilu bersama cuaca bermendung tanpa mentari, seperti siang ini.

Lalu, ku mampir ke sini, menyapanya. Tadinya mau tersenyum padanya. Namun saat membaca catatan yang hadir, yang ada malah tentang hati yang kelabu. Walau begitu, ia bilang padaku, “Mari-mari ke sini, lagi dan lagi nanti yaa? Bila ada yang bisa ku bantu. Setidaknya membuatmu dapat menikmati waktu lagi. Atau untuk berbagi sekelumit kisah tentang keadaanmu terbaru. Atau, bisa juga berisi harapan demi harapan yang engkau selipkan padaku. Aku bersedia? Hehehee,” ia tersenyum meriah.

“Oke dear. Kini, aku mau jalan-jalan sebentar. Dengan harapan, setelah dari sini, ku akan tersenyum lagi. Membawa senyuman yang engkau titipkan. Walaupun sebelum kita berjumpa lagi hari ini, ku bawa lembar hati yang bermendung. Selayak mendung di luar sana yang sudah menderas, kini. Hatiku merasakan sejuk, berulang kali. Kesejukkan yang ku perhati, karena ku ingat seseorang di sana. Seseorang yang memang sukanya membuatku tergugu, bahkan sampai terharu. Yuuuups!”

“Hai? Engkau selalu begitu. Datang-datang padaku membawa ekspresi yang tidak ku tahu. Mengapa? Ada apa lagi? Sebenarnya engkau lagi sedih atau bahagia, siich,” serga-hnya padaku.

“Nah, karena itu aku mencoba merangkai suara lagi. Untuk ku ketahui ekspresi terbaruku. Apakah aku sedang sedih, bahagia, atau malah tanpa ekspresi sama sekali? Untuk ku ketahui, bagaimana semua ku jalani. Atas keharuan yang menyelimuti, atas kebahagiaan yang mendekati, ku berbisik padanya.

Tapi, ia malah bilang dengan suara keras, “Aapppaaaa…? Engkau tidak mengetahui suasana yang engkau alami kini? Engkau kenapa, siih?”

“Entahlah, engga tahu juga,” ku pandang ia dengan tatapan teduh.

“Ih, aneh, dech!” jawabmu.

***

Iya, terkadang ada keanehan yang ku alami. Keanehan demi keanehan yang membuatku mau merangkainya menjadi susunan kata untuk ku perhati. Keanehan yang tidak pernah ku bayangkan, ternyata ku alami. Keanehan yang datang sesekali, atau sering-sering. Silih berganti, membuatku tidak habis pikir. Ada apa denganku? Dengan semua keanehan ini?

Nah, lain waktu, ku menemukan keanehan juga pada seseorang yang ku bersamai. Aku pikir aneh aja. Betapa tidak? Ia rela-rela memberikan semua cokelat yang tadinya kami beli saat bepergian, padaku? Demi bisa ku bagi dengan teman-temanku di sini. Lalu, ia pun berlalu, setelah bilang, “Bagi dengan teman-teman ya, Bun.”

***

Ku pandangi dua bola matanya, meski dalam kelam. Bola mata yang memancarkan ketulusan, bola mata yang lembut dan meneduhkan, bola mata yang sering ku perhati setiap kali kami bertukar suara saat ia berbagi denganku. Bola mata yang ku perhati, karena ku tidak tahu suasana di dalam hatinya. Namun, seketika itu, aku jadi terharu. Ia begitu baiiiiik, sejak dulu, bahkan kini. Kebaikannya tidak hanya padaku, tapi pada teman-temanku juga, ia pikirkan. Huuwwwaaa, aku ingin nangis seketika itu, jika saja tidak ada seorang pun yang ku temui sesaat setelah ku membuka pintu dan memasuki ruangan.

Iya, untung saja ada seorang temanku yang sudah kembali lebih awal, dari kedatanganku. Lalu, ku sapa ia dengan senang hati (padahal aku masih terharu), “Haaiii, adiiik, ada rezeki, titipan dari temen kakak. Mariii, mau yuuk.” Ku dekati ia, adik terkecil di sini. Adik yang menyambutku dengan senyuman, keramahannya, juga tatapan mata senang. Karena ku bawa oleh-oleh kalau jalan-jalan.

***

Buat temanku yang ku tatap matanya untuk mengetahui ketulusannya, ingin ku ingat dan selamanya terkenang. Hiks dech. Karena lagi dan lagi, ia membuatku ingin nangis jadinya atas kebaikan demi kebaikannya yang tidak henti padaku. Semoga kebaikan-kebaikanmu berbalas indah hingga ujungnya, teman.  😉

“Buat mama, titip senyuman dan salam hangat yaa,” ucapku padanya, sebelum ia berlalu untuk kembali pulang, setelah mengantarku hingga gerbang.

Mama yang hari ini, tanggal delapan Agustus beberapa puluh tahun yang lalu, pertama hadir ke dunia. Mama yang menjaganya, mendidik dan meneladankan padanya tentang kebaikan, sejak lama. Hingga, sampai hari ini, aku berteman dengannya, ia selaluuuuu saja membaikiki. Kebaikan yang membuatku terharu sering-sering, mengingatnya. Kebaikan yang tidak hanya tentang bagi-bagi makanan dan cemilan saja, tapi, berbagi kisah hidupnya juga serta uneg-uneg tentang dunianya. Kebaikan berbagi pengalaman dan pengetahuan. Kebaikan yang terus mengalir, dari waktu ke waktu. Kebaikan yang menjadi catatan penting dalam kehidupanku. Meski ia tidak tahu, aku sungguh sangat bahagia menjadi sahabatnya, menjadi kakak beberapa bulan setelah kami berkenalan, yang ia anggap kakak sendiri-karena tiada kakak perempuan dalam kehidupannya), sehingga ia bisa bercerita-berbagisuarahati tanpa sungkan. Lalu aku, apa yang ku lakukan untuknya? Untuk membahagiakannya, dalam kesedihannya? Apa yang ku berikan padanya?

“Berdoa saja untuk kebaikan terbaikmu, teman. Semoga tercapai segala cita dan impian pentingmu, terpenuhi segala harapan dan kebutuhanmu. Menjadi putri manis yang membahagiakan orangtua-masih sama dan selalu. Meski bagaimana pun beratnya menjadi ikhlas (engkau bilang padaku-ini sulit), seiring waktu kita bisa pelajari, dear sister Tyaaa...”

“Iya, untuk tetap berpikir baik dan membaiki orang-orang yang mencari-cari kejelekkan kita, sungguh ini sulit, Bun,” bisikmu. Saat kita bersantai melepas mentari di ufuk Barat dari atas bumbungan atap maroon, kemarin sore. Tepat setelah ku berikan sedikit solusi atas orang-orang yang membuatmu jengah menghadapinya. Orang-orang yang masih saja mengusikmu. Hingga detik ini? Hingga hari ini? Mau sampai kapan mereka akan menyadari?

Sesungguhnya, mereka perlu menanya diri terlebih dahulu, “Bagaimana kalau mereka mendapatkan perlakuan sama seperti ia memperlakukanmu?”[]

🙂 🙂 🙂