Kebahagiaanmu adalah Senyumanku

Smile don't Cry

Tersenyumlah, Berbahagialah

Terkadang. Kita tidak mudah mengingat sesuatu yang mestinya kita ingat. Terkadang. Kita tidak mau mengingat sesuatu yang masih saja bertengger dalam ingatan.

Lalu bergeraklah kita menemukan solusinya.

Solusi yang membuat kita bisa mengingat yang mestinya kita ingat. Solusi yang membuat kita tidak mengingat lagi yang tidak mesti kita ingat. Solusi yang kita tanya ke sana ke mari, sebelum menemukannya. Solusi yang membuat kita riang dengan terbahagianya hati, setelah menemukannya. Solusi yang membuat ingatan demi ingatan dapat kita petakan dengan baik. Apakah ia harus tetap kita ingat, atau kita tepikan sejenak. Ingatan yang tidak kita ingat-ingat, kecuali ia muncul lagi. Solusi yang apik, indah nan cantik. Karena solusi ini membuat kita terus ingat dan mengingatkan.

Solusi pasti ada, kalau kita mau menemukannya. Solusi atas keterkadangan ini. Lalu, apakah gerangan? Ke mana mencarinya? Bagaimana menemukannya? Apakah membutuhkan perjalanan panjang memenatkan? Atau bisa kita laksanakan segera tanpa perlu perjuangan?

Ah, engkau bilang semua terjadi begitu saja? Tidak perlu berjuang? Menata segala yang perlu ada? Lalu, saat semua ada, engkau mudah saja menertawainya? Engkau bisikkan padanya, -engkausia-sia-. Engkau sampaikan padanya, -engkautakberguna-. Engkau lakukan sesuai kemauanmu padanya. Padahal engkau tidak tahu, alasan apa ia ada?

Iya, engkau begitu mudah men-cela dan mencer-ca. Engkau mudah saja menginjak-injaknya walau ia tanpa rupa. Engkau sampaikan padanya semua yang engkau suka, sesuai inginmu. Padahal, tahukah engkau jauh di sana? Dari tempat kehadirannya, ada yang terluka atas semua?

Ada sepotong hati yang menangis,

Lihatlah, tangisan membasahinya atas lelaku dan kata-katamu,

Dengarlah, ia yang berbicara dan menautkan kekata menjadi kalimat-kalimat teduh,

Rasalah, bagaimana ia berusaha menata lagi jiwanya yang porakporanda setelah badai melanda,

Hiruplah, wangi senyuman yang ia berai sebagai caranya menyikapimu,

Cicipilah, sepiring hidangan yang ia persembahkan sumringah,

dengan menuliskannya,

lalu ia tersenyum.

***

Yap! Kita dapat menuliskan hal-hal yang mesti kita ingat lagi. Menuliskannya sebelum hilang dari ingatan. Agar kita teringatkan, pada waktunya. Tepat saat membacanya, lagi.

Begitu juga dengan ingatan yang nempeeel aja dalam pikiran. Di sisi lain, kita tidak mau ia ikut-ikut selalu. Maka, menuliskannya juga menjadi pilihan.

Cepat. Ya, cepat tuliskan.

Apakah hal-hal yang ingin engkau ingat atau lupakan. Namun tidak henti sampai menuliskannya, saja. Engkau mesti segera merealisasikan dengan melakukan, bila ingatanmu tentang harapan. Bersama keyakinan, keteguhan, dan perjanjian yang kuat terhadap diri sendiri. Karena engkau yang tahu, harapanmu. Beraikan juga melalui ucap dan sikap serta perbuatan. Berikutnya, temukan orang-orang yang bisa memantaumu dan tetap memberikan dukungan. Sehingga, kelak engkau mulai kehilangan harapan, mereka menjadi alarm yang berdering, mengingatkan.

Temukanlah.

Pada tahap inilah harapanmu menjadi kenyataan. Apakah engkau benar-benar dapat melupakannya? Lalu akan teringatkan lagi saat membacanya nanti. Ingatan yang engkau senyumi dengan tenang. Begitu juga dengan ingatan yang ingin engkau ingat lagi. Karena engkau sangsi dapat mengingatnya dalam waktu lama. Tuliskanlah.

Tapi ingat! 😀 Mereka sama-sama akan kembali kelak, saat engkau membacanya.

***

Pada sebuah kesempatan dalam tahun-tahun perjalanan hidupku, ku buktikan tentang hal ini. Segera ku tulis ingatan untuk ku ingat lagi atau ku menulis untuk segera melupakan. Ini terbukti sukses ku jalani. Setelah merangkainya menjadi kata-kata. Kata-kata yang berubah wujud menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat yang membuatku terharu, tersipu, tertawa atau senyuminya. Sambil menyadari, ada di antaranya yang telah berlalu. Sambil menyukuri, ada di antaranya yang akan menjadi kenyataan. Hanya perlu waktu dan kesempatan terbaik.

Lepas kepenatan pikir, setelah menuliskannya.

Lega keberatan hati, setelah mewujudkannya menjadi tulisan.

Luas kondisi pikir, setelah menepikannya menjadi kalimat.

Apakah setelah menjadi tulisan, semua dapat menertawaiku saat membacanya lagi? Atau ada yang ku senyumi akhirnya. Sebab sebelum ia jadi, memang sempat terpikirkan. Atau ada juga yang mengajakku menguntai beningnya bulir bening permata kehidupan hingga sambung menyambung di lembaran pipi? Sukses ku senyumi juga. Ini tujuanku merangkainya. Supaya ku dapat tersenyum lagi bersamanya. Kapan pun ku mau. Dari mana pun ku berada ketika membacanya lagi. Kondisi yang dapat ku sebut sebagai ‘Impian menjadi nyata’.

Ah, indahnya.

Keindahan yang ku hayati sepenuh penghayatan. Keindahan yang tidak akan terjadi dan ku perhati, jika tidak pernah menuliskan sebelumnya. Keindahan yang mengedipiku setiap kali berkunjung menemuinya lagi.

Keindahan yang ku pandang dengan mata berkaca-kaca mengingat duka saat membersamainya. Kini, sudah berlalu. Duka lama. Hahaa. 😀 Selanjutnya ku bisa tertawa juga. Karena tidak menyangka. Mereka adalah gambaran atas hasil fikirku saat menjalaninya.

Duka? Ku tepis dengan senyuman.

Keindahan yang ku pandang dengan senyuman berseri-seri mengingat suka saat membersamainya. Kini masih berlanjut. Suka lama. Kini masih ada. Hihiii, masih ingin tertawai semua. Seiring syukur menemani. Begini ku menjalani waktu dengan terus menata fikir yang hadir.

Suka? Ku tebarkan senyuman.

***

Hari-hari berlangsung menitipkan senyuman demi senyuman di ruang hati. Senyuman yang ku rajut semenjak pagi sembari memandang mentari. Mentari yang memberikan senyuman lagi dan lagi. Tepat saat waktu bernama pagi, ia bersinar lagi.

Nah, meliriknya dari berbagai lokasi, dari tempat yang tinggi, pernah ku impi. Sekarang masih sama. Impian menjadi nyata sering membuatku mau tersenyum lagi. Senyata-nyatanya senyuman. Maka, jangan tanya dan ragukan lagi semua ini. Karena dalam bahagia, ku bisa tersenyum seketika itu juga. Sambil bercerita mengisahkan pada yang ada, untuk meneruskan hidup bersamanya. Walau terkadang ada saja awan tipis yang menghalangi sinar mentari sampai ke bumi, namun di sana ia masih tersenyum. Memberikan senyuman sejak pagi. Ini pelajaran yang ku perhati darinya, lagi. Karena dari balik awan sekalipun, mentari masih tersenyum. Karena ia tahu, awan pun akan berlalu.

***

Ketika engkau terhimpit beban kehidupan yang memberatkanmu, tuliskanlah menjadi catatan. Tulis saja dengan tenang. Sehingga mengalirlah semua menjadi bacaan. Bacaan yang bisa menertawaimu atau turut berduka atas deritamu. Bacaan yang sedang membersamaimu dalam situasi tersebut. Bacaan yang dapat engkau hapus dan atau buang sejauh-jauhnya kalau tidak menyukainya. Atau engkau biarkan saja tanpa mengotak-atiknya lagi. Bahkan bila tidak langsung membacanya setelah ia jadi pun tidak mengapa. Jadikan sebagai kipas-kipas juga bisa. Untuk menyejukkan ketika engkau kegerahan dalam perjalanan hidup ini. Untuk mengirimmu semilir angin. Angin yang tersenyum bersamamu.

Ketika pikirmu hampa, kosong, sunyi dan hening. Tiada yang engkau pikirkan dan terpikirkan. Maka menulislah. Tuliskan tentang keadaan yang ingin engkau pikirkan. Tuliskan tentang kehampaan pikirmu, kekosongannya, kesunyian dan keheningannya. Bagaimana bisa ia masih begitu, padahal hidup ini masih berlangsung? Padahal engkau sangat ingin terus berpikir.

Berikan kesempatan pada matamu untuk menutup sejenak. Tanpa membuka beberapa lama. Yah, pejamkan matamu, lalu rangkailah tulisan melalui jemarimu. Dari hati yang berbicara, mengalirlah melalui jemari menjadi tulisan di lembaran kertas. Tapi jangan sampai terlelap apalagi bermimpi. Karena terlelap akan menghentikanmu untuk berpikir, dan kemudian lanjut bermimpi. Mimpi yang mengalihkanmu dari kenyataan.

Hai! Ini masih perjalanan. Engkau dalam kehidupan. Sering-seringlah menutup mata seperti ini, lalu lanjutkan merangkai suara hati. Seiring waktu, akan terciptalah kisah hidupmu. Kisah seperti di alam mimpi. Kisah dalam berbagai keadaan dan situasi. Kisah yang mungkin tidak semua orang mengerti. Sebelum mereka menjalani langsung. Tapi, mereka terkadang begitu mudah mengerti-mengerti. Tanpa mengerti yang sebenarnya engkau alami. Karena apa?

Sebab mereka mempedulikanmu, mengingatkanmu, mengharapkan kebaikan untukmu. Meski engkau belum menyadari langsung. Maka ingatlah untuk menuliskannya. Sekalipun membuatmu terluka, pediih, periih, sakiiit. Telanlah. Oleskan lembut pada hatimu bersama senyuman. Pada saat mengalami memang membuatmu tidak nyaman. Tapi ternyata, ia menjadi obat. Setelah beberapa tahun berlalu. Engkau pun sembuh. Engkau bisa melangkah lagi bersama kesehatan jiwa, raga dan pikir dengan obat demi obat yang mereka berikan padamu.

Tetap sehat dan hidupkan hatimu dengan ikhlas. Ikhlaskan mereka yang membuat hatimu terluka, menangis dan pedih, dengan mengembalikan ingatan kepada-Nya. Karena hati ini dalam genggaman-Nya, milik-Nya.

Beliau berpesan padaku, begini, “Ikhlaskan dengan berdoa kepada Allah, Yang Maha membolak-balik hati. Karena ikhlas berasal dari hati. Sebelumnya, pelajari terlebih dahulu tentang keutamaan ikhlas dan bergaullah dengan orang-orang shaleh/shalehah. Mereka yang mau mengingatkan kita bila terdeteksi takikhlas.”[]

🙂 🙂 🙂