Tips Tetap Bahagia Akhir Pekan ala Me (6)

Morning View Week End

Oh kawan, apa yang kau fikirkan
wajah muram mu tampak gelisah
ku tau pasti duka hati mu kini
cerita mari berbagi

oh kawan, tarik simpul senyuman
tatap masa hadapan gemilang
syukuri segala nikmat yang Tuhan beri
bersama merajut mimpi

Memang kita tiada sempurna
ada-ada saja yang melemahkannya
yakin kita tidakkan terganggu
apapun keadaannya itu

senyum diatas kesukaran
berbagi diatas kelapangan
wujud kita bisa ilhami
tiga kata kunci
Hadapi Hayati Nikmati

Sigma – H2N (Hadapi Hayati Nikmati)

***

Lirik-lirik di atas sempat mengalun, saat ku sedang merangkai catatan ini. Catatan akhir pekan, tentang tips tetap bahagia akhir pekan ala me. Aku bersemangat menyongsong hari kemerdekaan negara Indonesia yang ke – 72 dengan bahagiaaa. 😀 Adakah engkau juga, teman?

Berbincang tentang bahagia, bahagia rasanya kita bisa berjumpa lagi di akhir pekan. Akhir pekan yang semoga bahagia dan membahagiakan, yaa.  Semoga saja, kebahagiaan seringkali menerpa hati kita. Hati yang tenteram dan tenang. Dengan demikian akhir pekan kita jalani dengan bahagia. Yah, tetap bahagia akhir pekan yang mungkin saja hening nan sunyi. Karena jadual aktivitas berbeda dari biasanya. Sehingga waktu-waktu yang akan kita tempuh, semakin panjang terasa.

Apalagi bagi kita yang sedang jauh dari keluarga. Ketika beraktivitas di luar kota, misalnya. Akibatnya, waktu akhir pekan mesti kita tempuh tanpa mereka. Bahagia bisa menyempatkan waktu bertemu dengan keluarga. Ini sangat baik. Sehingga akhir pekan kita habiskan dengan mengunjungi keluarga. Berkunjung untuk menjemput bahagia.

Akan tetapi, jika belum bisa, bagaimana? Ya, bagaimana masih bisa berakhir pekan dengan bahagia? Ketika rindu merebak untuk semua. Keluarga yang jauh di mata, pun semakin dekat di dalam hati. Keluarga yang menjadi tempat kita kembali, setelah jauh melangkah. Keluarga yang siap menyambut kita, setelah berlama-lama meneruskan perjalanan hingga ke ujung negeri. Keluarga yang juga sangat merindukan kita. Nah, ingatan pada keluarga, seperti inilah yang mengajakku untuk berbahagia dan masih bahagia di akhir pekan. Sehingga bahagiaku merebak pada mereka, saat kami bertukar suara lagi. Bahagia yang mengajakku mau bergerak dan melangkah meski akhir pekan.

Nah, kali ini, aku ingin bagi lagi sebuah tips tetap bahagia akhir pekan ala me. Ya, ala-ala aku yang terkadang ‘merasa’ belum berbahagia. Terkadang saja, memang. Aku yang sering-sering saja mudah terbawa suasana atas segala yang ada di depan mata. Aku yang begini adanya, ya, beginilah ya. Aku yang kadang tergelak membersamai tawa, kalau ku bertemu dengan orang-orang yang membuatku berekspresi serupa. Aku yang mudah saja memasang wajah serius, tanpa ekspresi sama sekali, saat berhadapan dengan keadaan yang membuatku bungkam. Aku yang sesekali melirikkan mata ke sana-ke mari saat menempuh perjalanan. Apalagi kalau ku sedang melangkah sendiri, maka acapkali ku lirik-lirik ke belakang lagi. Barangkali ada yang ku kenali. Atau, ku perhati orang-orang yang ada di sekitar, di kiri atau kanan, barangkali kami dapat bersapa atau bersenyuman. Supaya perjalanan yang ku tempuh ke mana pun, menjadi tidak terasa, tetiba sudah sampai di tujuan.

Atau, di perjalanan ku bisa menemukan secuplik inspirasi untuk menemani meneruskan langkah. Lalu, senanglah hati, setelah sampai di tujuan. Ku bisa rehat sejenak, masih membawa senyuman. Senyuman yang lebih sumringah. Apalagi saat duduk manis di ruangan yang sejuk, wuuuah, ini sungguh membuat syukurku bertambah-tambah. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, terima kasih untuk perjalanan yang menyenangkan ini, hingga ku sampai di sini dengan selamat.

“Hai, hai, jadii, bagaimana dengan tips tetap bahagia akhir pekan ala me, tersebut?,” engkau menanya.

Tips kali ini tidak perlu jauh-jauh, mencarinya. Namun ia ada dan mendekat dengan diri. Betul, ia menghampiri diri. Ini ada hubungannya dengan teman.

#Bersamailah teman, ketika ia mengajakmu

Berikan waktumu untuknya. Walaupun waktu-waktu yang telah engkau jadualkan untuk melakukan aktivitasmu juga. Namun, meluangkan waktu untuk teman, tiada ruginya. Malah, akan menambah kebahagiaanmu. Bahagianya berbeda dengan bahagia yang engkau alami dengan tetap menjalankan aktivitas yang engkau jadualkan. Misalnya, aku tidak akan ke mana-mana pada suatu ketika. Dan sudah merencana mau baca-baca saja, setelah satu pekerjaan selesai ku lakukan.

Lalu datang seorang teman dan bilang gini, “Mau engga, nemenin aku?”

“Haa? Mau ke mana? Jam segini? (melirik jam sudah menunjukkan angka delapan malam) ,” ku bertanya padanya. Sembari mikir-mikir dikit, mau engga yaa? Penting engga yaa?

“Iya siich,aku mau liat-liat sesuatu, di tempat belanja. Kalau mau nemenin, kita berangkat. Kalau engga, ya sudah,” sang teman bilang gitu aja.

“Hm, jauh engga? Boleh juga. Mari kita berangkat,” ku bangkit dari duduk dan mensenyuminya setelah kami saling setuju untuk pergi.

“Lumayan jauh juga. Okee, mari kita siap-siap,” teman pun bersemangat.

***

Di perjalanan, kami melangkah. Melangkah saja, karena jarak yang kami tempuh tidak terlalu jauh. Hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja jalan kaki, hingga sampai di tujuan. Namun sebelum sampai, di sepanjang perjalanan, ada-ada saja yang ku perhati. Termasuk sebaris kalimat berikut, “Berkawan Seiring Sejalan. Kalimat pendek yang terpampang pada plang dan ku baca saat melewati sebuah pos pelayanan. Kalimat yang ku baca sekilas, awalnya. Berikutnya, aku pun terpesona, aku terkagum. Kemudian, melirik lagi, sambil masih terus melangkah. Langkah yang tidak ku pelankan, namun masih seperti sebelumnya.

Berkawan Seiring Sejalan, Berkawan Seiring Sejalan. Ku merapalnya, ku hapal-hapal sampai ku ingat. Lalu bilang sama teman yang melangkah anggun di sampingku, “Haaii, Kak, ada tulisan –Berkawan Seiring Sejalan– di plang tadi. Lalu apa hubungannya yaa, sama pos pelayanan tersebut?”

“Mungkin dia bilangin kita, kali. Kan kita lagi berkawan dan berjalan seiring 😀 ,” jawabnya ringan sambil tertawa kecil.

Tawa khasnya yang singkat dan pendek, pasti saja mengajakku tertawa juga mendengarnya. Apalagi saat ku lihat wajah orientalnya dengan dua mata kecil yang seakan tenggelam saat ia tertawa meski suaranya kecil. Ia memang sedang melangkah di sampingku. Kami beriringan.

Jawaban singkat ia berikan, tidak memikirkan yang ku pikirkan. Padahal di dalam ingatanku, terpikir lagi tentang satu kalimat singkat tersebut. Apa maknanya ya? Apa hubungannya ya? Kok bisa pakai kata-kata tersebut?

Atau apakah benar yang temanku sampaikan, tulisan pada plang tersebut sedang membicarakan kami? Kami yang memang berkawan, sedang berjalan, beriringan? Ah, apa pentingnya ku pikirkan?

Ku penting-pentingkanlah ingatan ini. Hingga ku ingat untuk menjadikannya inspirasi. Inspirasi yang mengajakku meneruskan langkah bersama senyuman. Sambil mengingat kawan-kawan, di sepanjang perjalanan. Kawan-kawan yang berjalan dan seiring denganku. Apakah mereka jauh di sana? Atau kawan yang ketika itu ada di dekatku. Terima kasih yaa, untuk berkawan. Menjadi bagian dari kehidupanku. Menemaniku berjalan dan kita pernah beriringan. Atau, kawan-kawan yang memang belum pernah berjalan beriringan, namun hadir dalam ingatan, terima kasih ku sampaikan juga. Terima kasih ya, untuk menjadi kawanku. Termasuk engkau, teman. Yah, engkau yang ku bersamai di sini. Walau tidak dapat ku lihat ekspresimu, tatapan matamu, apalagi senyumanmu. Senyuman yang ku yakin ada, membersamaimu bahagia. Semoga, engkau sedang berbahagia bersama senyuman, di akhir pekan ini yaa.

***

Akhir pekan di sini cerah, teman. Cerah sangat. Karena mentari tersenyum dan sinar beningnya terlihat jelas. Bening yang membuat tampilan langit pagi cemerlang. Ya, semenjak pagi, sudah terlihat biru jernih di atas sana. Jernih, yang membuat mata ini tidak henti menatapnya.

Di sana, warna biru sudah berhiaskan putih-putih garis memanjang, bergelembung, atau sebentuk titik-titik kecil. Pemandangan pagi yang ku perhati, sembari berharap, hari ini dapat ku jalani dengan baik, hingga ke ujungnya. Akhir pekan yang bahagia dan menyisakan bahagia tentang akhir pekan ini, sebagai kenangan nanti.

Seperti saat sebuah kenangan  lainnya hadir dalam ingatan. Ingatan tentang akhir pekan bahagiaku, saat menerima ajakan seorang teman, pekan yang telah berlalu. Aurora namanya. Ia mengajakku jalan-jalan ke sebuah lokasi wisata. Padahal hari itu rencananya aku tidak ke mana-mana dan aku sudah ada aktivitas sendiri yang mesti ku lakukan. Namun, akhirnya ku mau pergi juga. Mengingat dan menimbang, ini adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh ku lewatkan. Meskipun ku sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Namun, perjalanan yang akan kami tempuh, tentu berbeda nuansanya dari perjalanan sebelumnya. Maka, ikutlah aku menemani Aurora. Perjalanan yang kami tempuh seharian,menyisakan cerita yang berkesan. Kesan yang ku jadikan sebagai kenangan tentang kami. Termasuk juga hikmah dan pesan yang ku petik sepanjang perjalanan.

Ada tujuan, pasti ada jalan. Walaupun jalan yang kita tempuh masih panjang. Meskipun di sepanjang perjalanan ada ketidaknyamanan, namun dengan menikmatinya, ada senyuman juga di ujungnya. Sekalipun masih lama, tetap teruskan perjalanan. Akhirnya sampai juga. Ini pesan yang ku petik dari memperhatikan perjalanan kami seharian. Pesan untuk mempunyai tujuan dan menempuh jalan yang benar menujunya. Meski lama, walau penat, tapi ada tebusan di ujungnya, kebahagiaan dan kelegaan.

Ku perhatikan ekspresi yang hadir di wajahnya, tepat saat tujuan semakin dekat. Ekspresi yang semakin ceria dan bahagia, ketika tujuan benar-benar membentang di depan mata. Ekspresi yang berbeda, dengan sebelumnya.

Ia terlihat lebih bahagia setelah sampai di tujuan. Sedangkan saat menempuh perjalanan, sesekali sempat bertanya juga, “Kapan sampainya? Ini benar jalan menuju ke sana? Sambil sesekali menebar senyuman, bercanda dan menikmati perjalanan”.

Ini tentang mau menemani teman yang mengajak di akhir pekan. Sehingga, dapat membahagiakan kita juga, dengan bahagianya teman yang kita temani.

Kebahagiaan tersebut, ternyata tidak hari itu saja. Namun, kebahagiaan berulang menyapa diri. Tepat hari berbeda, setelah perjalanan usai, bertemuku dengan Aurora lagi. Aurora yang memang begitu. Ia tercipta dengan keunikan tersendiri. Keunikan yang ku perhati, sejak awal kami bertemu. Hingga sudah bertemu beberapa kali juga, ia masih begitu. Berseri-seri, senang tersenyum, senyumiku, mengeratkan genggaman tangannya di jemariku saat kami bersalaman. Genggaman penuh energi, membuatku segera terinspirasi darinya. Hari ini, masih. Ketika ingatanku hadir untuknya.

Saat kami berjumpa lagi, ia mengingatkanku tentang perjalanan kami tersebut. Kemudian menanya kesan dan pesanku tentang perjalanan kami, “Apakah mengesankan?

“Ooo, tentu dan pasti. Aku senang menemanimu dan teman-temanmu, Aurora,” begini ku menanggapi.

Lalu bagaimana dengan teman-temanku? Mereka baik-baik semua, khan?” ia bertanya memastikan.

Bahkan lebih dari prediksi,” tanggapku.

Oooia, ada satu temanku yang bilang gini, -Temanmu ada lesung pipitnya, yaa, maniss- Ia bilang ke aku dong, Kak? Aaaai, kamu tengok-tengok teman aku yaa? Ku marahi dia,”  berai Aurora atas sikap dan kesan temannya tentangku.

Hahaaa, yang itu khan. Aku ingat, eh, namanya siapa yaa, Bara. Iya, Bara, kan Aurora, masa iya dia bilang gitu. Tapi emang benar, hehee. Ini lesung pipitku, (ku senyumi Aurora dengan baik, hingga ia melihatnya. Ku ingat, apakah betul teman Aurora melirik-lirikku di waktu perjalanan kami? Entahlah, kapan ia memperhatikanku dengan lesung pipit. Aku tidak habis pikir. Padahal aku tidak pernah bicara dengannya.

“Iya, ada. Aku aja engga tahu tadinya,” jawab Aurora. Ia tersenyum lebih cerah. Aku pun sumringah.

***

#Berbagilah dengan senang hati

Bagi apapun yang bisa engkau bagi, dengan rela. Yah, memberilah. Berikan senyuman dengan wajah cerahmu saat bertemu seseorang. Ini tentu membahagiakan. Engkau tersenyum menyambutnya, membersamainya, orang-orang yang menemui atau engkau temui. Sehingga ada bahagia yang menebar, membuat waktu yang engkau jalani semakin membahagiakan. Ayo, belajar lagi, dear Me. 😉

Berbeda halnya, kalau engkau malah manyun-manyun, ujungnya, wajah semakin berat. Lalu, orang yang engkau bersamai bertanya-tanya, “Ada apa dengannya? Melipat-lipat wajah seperti itu?” Nah, ia tidak bahagia jadinya, karena sibuk memikirkanmu. Ujung-ujungnya, wajahnya pun menjadi tegas dengan kening mengerut. Ujung-ujungnya, tiada keceriaan, bukan?

#Membantulah

Bantu sesiapapun yang dapat engkau bantu dengan sukacita. Lihat yang terdekat denganmu. Barangkali ada yang sedang membutuhkan bantuanmu. Walaupun tidak ia sampaikan, tapi bacalah dari ekspresinya. Perhatikanlah dari sikapnya. Pelajari bahasa yang ia sampaikan. Karena di sana, ada peluang bagimu untuk memberikan bantuan.

Bantuan yang dapat membahagiakannya. Bantuan yang membahagiakanmu juga. Seiring senyuman yang hadir di wajahnya, senyuman cerah nan gembira saat menerima bantuanmu. Senyuman ceria sambil tertawa lepas. Senyuman yang tidak akan engkau saksikan, tanpa membantunya. Senyuman sebagai hadiah untukmu, walau tidak engkau harapkan, meski tidak engkau sangka, ia bisa tersenyum lebih cerah, ternyata.

Senyuman itu hadir, saat engkau mengetahui kebahagiaannya meningkat karena merasa terbantu olehmu, dan bilang, “Terima kasiiih ya, Kak.” Terima kasih pun bonus yang engkau terima dengan bahagia.

Ia bahagia karena beban pikirannya lebih berkurang melalui bantuanmu. Ia tersenyum karena geraknya lebih santai dan tidak terburu-buru lagi dengan kehadiranmu memberikan bantuan padanya. Ini tentu akan terbaca, setelah engkau membantunya.

Bantuan yang barangkali tidak ia sampaikan agar engkau membantunya. Apa saja, siapa saja. Temukanlah jalan bahagiamu, salah satunya dengan mudah membantu.

Oke, segini dulu yaa teman. Tips tetap bahagia yang dapat ku bagi kali ini. Semoga, akhir pekan berikutnya ada lagi tips ala me yang bisa ku bagi, yaa. Dengan harapan, kebahagiaan dapat menemani diri, kapan pun di mana pun bersama siapapun. Karena membersamai bahagia, adalah juga alasan untuk tersenyum, bukan?

Selamat bersama, berbagi dan membantu dengan senang hati atau dengan tips lainnya yang mungkin saja engkau miliki. Tips yang lebih membahagiakan hati, boleh dong berbagi… 😀 Hihii. Untuk ku tiru dan teladani. Sehingga kebahagiaan sebagaimana yang engkau rasakan pun ku alami.[]

🙂 🙂 🙂