With Love ❤

With LoveCatatan kali ini, ku rangkai untuk seorang teman. Teman yang sedang melanjutkan perjalanannya, di sana. Bukan di jalan yang selama ini kami tempuh bersama lagi.

Memang baru setahun terakhir, kami berjumpa. Namun ada saja kesan yang ia titipkan di ruang hati, untuk ku kenang tentang hari-hari kebersamaan kami. Kenangan yang membekas sangat baik, karena ia membaikiku, memudahkan urusanku dengannya, dan tidak sekalipun ia membuatku terluka. Namun adanya jatuh cinta setiap harinya.

Ya, mungkin karena perasaanku saja yang berbunga-bunga, bahagia. Apalagi setelah dan sering-sering engkau menyampaikan, “I love you, Yani.” 

Aha! Terima kasih teman atas cinta yang bersahaja. Terungkap jelas, melalui suaramu saat menyampaikannya dalam bicara. Meskipun bukan berasal dari dasar hatimu, tidak mengapa. Kalau pun berasal dari sudut hatimu, boleh saja. Sekalipun hanya untuk membahagiakanku, dengan caramu. Atau untuk menumbuhkan semangat hidupmu lagi, pada suatu ketika. Agar hari-harimu dapat engkau hayati dari waktu ke waktunya. Maka, sampaikanlah cinta pada sesiapa saja yang engkau suka, termasuk aktivitas yang engkau lakukan. Supaya lebih membahagiakan menjalaninya, membersamainya.

Lalu, bagaimana ku menanggapi? 🙂 Tersenyum, ya, begini ku menanggapi setiap kali engkau menyampaikan ‘cinta’. Pernah absen, lalu hadir lagi. Atau, “Aku sangaaat sayang sama Yani,” juga tidak asing lagi di telingaku. Kalimat yang engkau sampaikan melalui suara renyah.  Menanggapinya, ku senyumin saja. Lalu bilang, “Terima kasih, yaa.”

Karena dalam yakinku, tidak ada yang tidak mungkin, terjadi. Tidak ada yang kebetulan, di dunia ini. Tidak ada yang salah dengan cinta yang ia bagi, melalui suara. Dalam berbagai kesempatan kami bertukar suara, karena tidak dapat berjumpa. 

Selanjutnya, ku tidak menyimpan di dalam hati, namun menguraikan dalam diari. Bahwa hari ini, ada yang mencintaiku, menyayangiku. Lalu, bagaimana bisa ku masih belum mudah mensyukuri? Mensyukuri hari-hari bersama kedamaian, keteduhan nan tenang.

Iyah, mengetahui engkau juga segera tersenyum, di sana. Tepat setelah ku senyumi, dari sini. Berikutnya, kembali lagi ke normal. Ku mengalihkan percakapan untuk hal serius yang sedang kita bahas saat berkomunikasi.

Sehingga dalam hari-hari, dapat ku rangkai senyuman untuk mensyukuri hari yang ku jalani. Mengingat dan teringat, ada yang dapat ku bagi untuk mewujudkan cinta dan kasih sayangku juga. Pada sesosok wajah yang ku perhati hampir setiap hari, atau jarang-jarang ku temui. Apakah karena kami terpisah jarak yang tidak sedepa, atau memang belum pernah berjumpa. Ku berikan saja cinta dengan caraku, walau tidak berwujud sebelumnya. Ini yang ku lakukan, untuk mengelola cinta yang ku terima selama ini. Sehingga, cintaku pun mewujud senyuman.

Aku tersenyum, supaya ku dapat juga menebarkan cinta. Untuk dunia yang ku senyumi, walau bagaimanapun perlakuan penghuninya padaku. Untuk menitipkan cinta melalui senyuman, saat tidak dapat ku suarakan. Merangkai cinta dengan tulisan, saat ku tidak dapat berkata-kata untuk mengungkapkan. Karena bagiku, tidak mudah sekadar bicara, saja. Namun ku renung-renungkan lebih dahulu, sebelum hadir ke permukaan. Ku selami dalam-dalam, sebelum bersamanya menempuh kehidupan. Selama ini, begini.

Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu, aku pun mengerti. Aku belajar dari beliau yang senang membahagiakanku dengan caranya. Walaupun cintanya hanya di mulut, bukan dari dasar hati. Ah, terima kasih teman, membuatku bahagia. Dengan begini, ku menyadari, harusnya bagaimana, bagaimana harusnya dan seperti apa menyikapi. Bukankah tiada yang tanpa arti, atas keadaan apapun yang kita temui?

Awalnya memang aku bertanya-tanya, atas spontanitasmu mengungkap cinta. Akhirnya ku menemukan jawabannya, atas semua yang engkau laksana. Untuk menitipkan kenangan sejak mula, yaa? Makanya, engkau sampaikan semua apa adanya, dengan caramu yang ku pikir, hanya bualan saja. Makanya ku senyumiSo, maafkan aku terlambat mengerti. 😉

Engkau yang menjadi bagian dari hari-hariku sebelum ini, kini sudah tiada lagi. Engkau yang harus melanjutkan perjalananmu, di sana. Bukan lagi di sini. Engkau yang unik, tiada yang menyamai. Engkau yang menitipkanku pelajaran berharga tentang hidup ini. Ah, engkau sempat juga membaca diariku, saat ku terlengah. Lalu, bagaimana ekspresiku saat menyadari semua? Senyumi saja. 🙂 🙂 🙂

Yah, diari berisi harapan-harapanku yang engkau tertawakan, membuatku ikut tertawa karenamu. Hingga menjadi caraku menitipkan harapan melaluimu, untuk mendoakan supaya tidak selamanya harapan menjadi harapan, namun menjadi kenyataan juga. 

Diari berisi keru-wetan dan kekal-utan pikiranku, yang engkau tertawakan, membuatku malukaaan. 

“Setress teman kita di sini,” ungkapmu yang masih ku ingat. Ungkapan berkesan sangat, walau ku tidak tahu pada bagian mana engkau membacanya. Hingga mengungkapkan kalimat tersebut, tentang aktivitas yang ku berai dalam diari.

“Aha, ku iyakan saja,” karena begitu penilaianmu ternyata.

Selebihnya, engkau pun beraikan lagi rasa-rasa yang ada, membuatku tersenyum menanggapi. Engkau pun tersenyum. Meski bagaimana pun tanggapan dan ekspresi yang ku perlihatkan padamu. Semoga engkau tidak pernah terluka, yaa. Semoga begini harapku. Sebagaimana yang ku alami. Aku juga tidak terluka olehmu. Tapi, mensyukurinya.

Kebersamaan yang menitipkan kenangan demi kenangan ini, mengajakku untuk tidak menangis (lagi) mengetahui ada perpisahan dalam hari kita. Berbeda dari sebelum-sebelumnya, akan ada sepotong hatiku yang ikut denganmu, siapapun engkau yang berpisah denganku. Akan ada sesudut hatiku yang tertinggalkan untukmu, saat ku harus berpisah denganmu. Makanya, aku bisa saja menangis dalam perpisahan tersebut.

Yah, sampai saat ini, aku belum menangis atas perpisahan kita. Aku pun bertanya, “Apakah ada yang salah denganku, ya? Hingga membiarkanmu berlalu begitu saja? Atau karena kenangan darimu untukku segitu aja adanya? Hanya kenangan bahagianya, membuatku tersenyum melepasmu. Karena yang terkenang olehku hanya bahagia saja?”

***

Benar saja, perpisahan dengan siapa saja, akan mengingatkan kita pada hari-hari membersamainya. Nah, ingata tersebut yang menyisipkan rasa di sudut hati, di ujung kebersamaan, bernama hari perpisahan. Apabila kenangan kita tentang kebahagiaan, mungkin masih ada airmata, tapi haru namanya. Apabila kenangan kita tentang perjuangan menempuh waktu yang sungguh sangat berkesan, bisa menitik airmata juga, di pipi. Namanya airmata sendu, pilu, karena sudah harus berjarak. Padahal di dalam hati, sudah sedemikian dekat satu sama lain.

***

Ya, kita harus berpisah, akhirnya. Setelah menjalani waktu bersama. Meski sering berjarak, menempuh masa-masa kebersamaan. Kini, harus berjauhan beneran, kiranya. Setelah sempat berjumpa lagi di ujung kebersamaan, hari ini.

Hari ini engkau pamitan, akan meneruskan perjalanan. Ku lepas engkau, teman dengan pertanyaan. Terima kasih atas cinta yang engkau titipkan, untuk ku jaga. Cinta yang membuatku mau tersenyum lagi, dalam ingatan padamu. Walaupun, tiada balasan yang ku beri, atas cinta yang engkau ucapkan. Namun, sungguh di sesudut hatiku, engkau sangat berarti. Buktinya, engkau pun pernah menjadi bagian dari catatan perjalananku sebelumnya. Sungguh, semua itu menjadi kenangan darimu untukku. Kenangan yang ku senyumi, walau hingga akhir kebersamaan kita.

***

Pertanyaan kembali menemuiku. Pertanyaan demi pertanyaan yang sempat juga ku ajukan atas keputusan itu. Bertanya ku pada diri sendiri, lalu padamu. Untukmu ku bertanya. Namun engkau pun tidak mengetahui jawaban tepatnya. Mengapa kita harus sudah berpisah? Engkau juga masih bertanya-tanya. Atas semua yang engkau alami. Tiada jawaban, masih. Dan berikutnya, engkau harus melangkah. Meneruskan perjalanan hidup, lagi.

Di ujung tatap mata kita, ku lihat sendu di sana. Di ruang matamu yang tanpa cahaya, tidak dapat ku baca jawabannya. Tiada airmata, juga senyuman. Ekspresi dingin. Sehingga tidak juga dapat ku lihat sedikitpun penjelasan tentang perpisahan ini. Perpisahan yang begitu cepat terjadi, tanpa kabar-kabari sebelumnya. 

Semoga engkau kuat yaah, dan teguh. Mudah-mudahan engkau terus melangkah, tegap. Karena engkau adalah pemimpin, pemimpin bagi dirimu khususnya.

Di sana, di jalan berikutnya yang akan engkau tempuh, teman. Teruslah tebarkan cinta yang engkau punya. Bagikan saja, dengan caramu. Supaya, ada senyuman yang lebih banyak lagi menebar pada wajah-wajah mereka yang engkau temui. Sebagaimana engkau menyampaikannya padaku. Walau hanya dari bibir, meski tidak sampai ke ruang hatiku. Aku suka gayamu. Gaya khas lelaki. Berbeda dengan kami, wanita. Lebih cenderung menggunakan perasaan dalam hal apapun juga. Sehingga, bilang cinta saja sulit rasanya pada suatu kondisi tertentu. Yah, masih mengedepankan rasa. Sehingga terkadang logika terbelakangkan, jadinya. Begitulah.

Ku menyadari semua, tepat setelah engkau berlalu. Maka, ku belajar darimu tentang hal ini. Belajar menyampaikan cinta yang ku punya. Sekalipun akan berbalas senyuman, saja. Seperti yang ku berikan padamu. Tidak mengapa.

***

Cinta sesungguhnya ada. Walaupun tidak terlihat mata. Meskipun cinta hanya sebuah kata, tanpa rupa seperti kita. Namun, ia dapat mewujudkan kemewahan yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bila saja, cinta ada di dalam raga orang-orang yang mewujudkan kemewahan tersebut.

Sebagaimana cinta ibunda. Cinta yang ada, walau beliau tidak menyampaikannya melalui suara. Namun, dari nada-nada suara beliau saat mengurai sapa dan memberai cerita, ku tahu di hati beliau ada cinta. Sejak lama. Melalui sikap dan perbuatan beliau, kami tahu beliau penuh cinta merawat kami, menyayangi dan menjaga semenjak kecil.

Cinta yang membuatku tersenyum mengingat beliau, meskipun kami berjauhan raga. Senyuman yang ku rangkai segera, sebelum airmata menitik karena rindu pun menyemut di ruang hati. Agar tidak tumpah bulir-bulir permata kehidupan, makanya sering-sering, ku merangkai senyuman untuk mewujudkan cinta yang ku punya. Dengan cinta, aku ada. Demi cinta, ku masih ada.

Untuk mewujudkan cinta, selamanya ku bersamai huruf-huruf menjadi kata. Huruf-huruf yang mau saja ku ajak bercengkerama, ketika ku sedang membersamainya. Huruf-huruf yang bertebaran, kemudian saling berangkulan ketika sebuah kata tersusun juga. Huruf-huruf yang tidak menertawaiku, atas rerasa yang ku punya. Huruf-huruf yang sangat paham, karena ia cinta padaku. Maka, ku berikan cinta padanya, semaksimal yang dapat ku upaya. Karena aku cinta.

Selayaknya sinar mentari, ku ingin menebarkan cinta yang ku miliki. Sering bersinar, lagi dan lagi, semenjak pagi. Untuk tersenyum pada semesta. Supaya ada yang segera bangkit dan lelapnya, lebih awal. Untuk menyambut hadirnya mentari. Agar ada yang tersenyum lagi, walau bagaimana pun suasana hati sebelumnya. Karena ia percaya, di balik mendung yang menghalangi, ada mentari yang masih dan selalu tersenyum.

Ah, lagi dan lagi, engkau mungkin akan menertawaiku. Bila saja engkau sempat mampir di sini, lembaran diariku yang lain. Untuk menertawai lebih banyak lagi harapan-harapan yang ku ukir bersama senyuman. Tertawaan yang masih akan ku balas dengan senyuman, meneladani mentari yang tersenyum.

Namun, semua (mungkin) tidak terjadi. Semoga saja, harapku. Semoga engkau tidak mampir di sini.

Selamat melanjutkan perjalanan, teman.

Sampai berjumpa lagi.

Catatan ini ku rangkai untukmu.

Sepenuh cinta. 

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close