Beliau Berpesan

Mentari Pagi di Balik Awan

Ketika ku rasakan gelap di sekitar, Mentari hadir menerangi

Mentari bersinar dari balik awan, siang itu. Ketika beliau berpesan via radio. Pesan yang sampai padaku karena ku sedang mendengarkannya. Pesan yang ku simak dengan baik. Sudah ada beberapa bagian yang beliau sampaikan, ketika ku mulai menyimak. Sehingga judul pesan beliau pun aku tidak tahu, apa temanya. Inti dari pesan beliau, ku rangkum menjadi sembilan poin, berikut :

1.                 Bergeraklah

Bergerak adalah melakukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Ya, bisa berdiri setelah duduk, duduk setelah berjalan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Atau mengerjakan sesuatu yang membuat kita bisa segar lagi, setelah sempat jenuh. Membuat kita tercerahkan lagi, setelah sempat redup dan temaram. Mengajak kita berpikir lagi, setelah suntuk. Memberi kita energi lagi, setelah sempat lelah. Menebarkan sumringah, setelah kuyu. Membuat mata terbuka lagi, setelah sempat ngantuk. Mengingatkan lagi, setelah lupa. Mensenyumkan lagi setelah manyun. Menceriakan lagi setelah duka. Memperbarui lagi, setelah sempat terlihat usang.

Ku coret kata-kata tertentu, yaa, agar kita bisa lebih mudah bergerak. Agar lebih ringan melangkah, lapang di dada, terang penglihatan, jernih pendengaran, senyuman juga lebih mendamaikan.

2.                 Mencintai yang kita kerjakan

Mengerjakan sesuatu, mesti sepenuh cinta. Karena dengan mencintai, kita tersemangatkan. Baik saat mengerjakannya, atau menyelesaikannya ketika engga selesai-selesai. Namun dengan cinta padanya, kita masih mau mengerjakan. Meskipun awalnya bera. Yah, berat itu terasa, karena kita belum mencintai yang kita kerjakan saja. Sedangkan kalau sudah mencintainya, kita terasa lebih ringan mengerjakan. Tidak terasa, lama-lama selesai juga.

Walaupun sampai tahap mencintai dalam mengerjakannya, memang tidak mudah. Namun membutuhkan berkali-kali kejengkelan. Karena berat rasanya. Sudah sejak tadi mengerjakannya, tapi belum selesai juga. Namun begitu, cintailah ia, meski sedikit demi sedikit.

Cintailah lagi dengan latihan. Bukankah terkadang cinta tidak selalu hadir begitu cepat? Akan tetapi, seiring bergulirnya waktu, cinta pun ternyata ada. Apalagi kalau tertinggal sehari, sekali saja, tidak mengerjakannya. Teringat-ingatla. Rasanya ada yang kurang. Karena sudah mencintai.

3.                 Berusaha terus menerus untuk perubahan lebih baik

Terkadang memang begitu. Sebuah perubahan memang perlu usaha. Usaha yang terus menerus, hingga perubahan menjadi nyata. Usaha yang tidak sekali saja, namun berulangkali. Usaha yang membutuhkan ketekunan, keuletan, kegigihan, hingga menjadi yang lebih baik tidak lagi mustahil. Sebab kalau mau berusaha, tentu ada hasilnya. Apakah berhasil materi yang membuat kita terriang gembirakan membersamainya. Atau bisa bernama kepuasan tanpa wujud yang dapat kita lihat. Karena hanya ada lega di ujung waktu mengerjakannya. Ya, bahagia.

Walau berulang kali mengelap keringat yang mengalir deras saat berusaha. Tapi, rasanya, ada sejuk dari rongga dada. Meskipun harus berjibaku di dalam ruangan yang tanpa penyejuk sama sekali, namun adem memenuhi relung hati. Sekalipun melangkah di bawah terik mentari yang menyengat, tapi ada senyuman menemani.

Mengapa tersenyum? Sebab, tidak akan lama lagi, kita sampai di tujuan. Tujuan yang menanti dengan senyuman cemerlangnya. Nah, kita akan segera sampai, bila terus berusaha.

“Hey, banyak sekali, hasilnya. Alhamdulillah, bahkan di luar dugaan. Bahkan lebih dari ekspektasi. Bahkan, ada diantaranya yang tidak terbayangkan sama sekali,” kita pun bergumam sendiri. Bersyukurlah.

Sungguh, usaha tidak memungkiri hasil. Sebanyak-banyak usaha, memang tidak semuanya berhasil. Bahkan gagal di antara usaha demi usaha tersebut pasti ada. Kegagalan yang menguatkan untuk berusaha lagi.

Yah, berusahalah terus menerus, demi perubahan lebih baik. Karena usaha pertama tidak harus selalu sempurna. Akan tetapi, dalam usaha, di antaranya ada yang terbaik. Berusaha terus menerus, untuk lebih baik. Kips spirit!

Apapun usahamu, untuk kebaikan, teruskanlah. Demi perubahan yang lebih baik di dalam prosesnya. Bersemangatlah, giatlah. Bangkit lagi, kalau usaha gagalmu sempat membuatmu terduduk, terhenyak, tapi jangan menyerah. Walau harus terseok-seok lagi saat bangkit, berusahalah. Jangan lemah, walau lelah. Kuatlah, dan terus berusaha.

4.                 Mengambil pelajaran terhadap musibah orang lain

Di dunia ini, segala sesuatunya tercipta berpasangan. Ada kalanya hadir musibah, ada waktunya berbuah berkah. Ada masanya bahagia, ada juga sedihnya. Ada yang tertawa, ada yang menangis. Ada yang merutuk, ada yang menyukuri. Ada yang terdiam, membisu, ada juga yang senang bersuara, menyampaikan deritanya. Ada yang asyik sendiri, ada yang rela beramai-ramai. Ada yang senang, ada yang tidak senang. Karena semua tercipta berpasangan. Maka, segala yang kita lihat dalam kenyataan ini semoga mengingatkan diri lagi.

Selanjutnya, memperhatinya dan menjadikan bahan pelajaran. Mengingatkan diri untuk memetik hikmahnya. Termasuk mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain. Supaya apa? Agar kita ingat, untuk menanggulanginya, sebelum terjadi. Untuk ingat bersabar, saat sampai pada diri. Untuk berhati-hati saat di perjalanan, ketika kita melihat ada orang yang terluka karena kecelakaan. Memang, semua berada di luar kendali kita. Akan tetapi, berwaspada diri adalah upaya untuk menghadapinya.

Begitupun dengan musibah orang lain, seperti kematian anggota keluarganya, kesakitan yang ia derita, supaya kita dapat mengambil pelajaran darinya. Bahwa, keadaan bisa berubah, sewaktu-waktu. Tanpa kita tahu, siapa berikutnya yang akan ia hampiri. Pelajarilah lagi, wahai diri.

5.                 Tidak frustasi tentang masa depan, tidak trauma dengan masa lalu, tidak menghayal melakukan cita-cita hari ini

Ya, kita bisa bilang, ini hidup kita. Yang menjalani kita, apakah mau menjalaninya dengan kesedihan-kesedihan saja? Atau mau menghiasinya dengan kebahagiaan.

Iya, bebas, terserah kita. Akan tetapi, alangkah baiknya, bila mau kembali ke kenyataan. Hidup ini tidak melulu sedih-sedih saja. Tidak juga bahagia selamanya. Makanya, kalau sedih menyapa, hadapi dengan senyuman. Saat bahagia terasa, imbangi dengan senyuman. Termasuk gado-gado rasa yang tidak jelas namanya. Tahu-tahu sudah menitikkan airmata di pipi. Ini namanya, ingatan. Ingatan yang terkadang hadir, memenuhi ruang pikiran. Ingatan pada masa lalu, ingatan pada masa depan. Padahal, kita berada hari ini. Bagaimana kita menyikapinya, ingatan ini?

Beliau berpesan untuk tidak frustasi tentang masa depan, yang jelas saja belum kita jalani. Namun mempersiapkan diri untuk masa depan yang kita idamkan, boleh, kan yaa? Caranya? Dengan melakukan yang terbaik hari ini. Benar-benar melakukan, sepenuh kesadaran. Sesungguh kemauan. Sehingga, kelak ketika hari ini telah berakhir, berubahlah namanya menjadi masa lalu. Nah, masa lalu seperti apakah yang kita tinggalkan? Masa lalu yang kita create hari ini. Masa lalu yang kita jalani saat ini. Iya, detik ini pun adalah masa lalu sedetik lagi. Kenangan kita kelak terhadapnya adalah sesuai dengan yang kita lakukan hari ini bersamanya?

Bila belum bahagia, bahagia-bahagiain aja. Bila hati dirundung luka, terhimpit beban rindu, tentunya wajah akan kaku, tanpa senyuman, lalu airmata berguguran. Lamaaa membersamainya.

Bila ingin tersenyum, tapi berat rasanya menarik dua ujung bibir ini, karena memang tidak sedang bahagia, maka coba-cobalah. Coba saja di depan cermin. Senyum-senyumi diri sendiri. Lakukan latihan berkelanjutan. Ini adalah tips bahagia hari ini.

Senyumlah saja, untuk dirimu. Supaya engkau tahu, betapa cantiknya engkau saat tersenyum. Menenangkan, menyenangkan. Dari pada manyun, begitu. Eiya, 😀 Tuch kan, lebih ringan rasanya, bersama senyuman.

6.                 Menghadapi dengan lapang dada dan hati tenang

Terkadang, ada-ada saja yang datang menemui kita. Ada-ada juga yang membuat dada menyesak. Lalu bilang, “Hei, ngapain pula ini. Kok bisa ia begitu padaku? Padahal aku begini, begitu, tidak seperti yang ia tahu. Bahkan ia hanya berprasangka saja padaku. Semua ini membuatku eneg, lelah hatiku.”

Wah, mulailah kita memikirkan ketidakbaikannya, lalu bersiap membalas perlakukannya pada kita, “Aku akan sampaikan padanya, begini, begitu. Karena ia sudah beraninya membuatku kessal begini. Memang ia tidak tahu? Bagaimana pengorbananku untuknya? Mengapa ia begitu mudahnya mengira-ngira tentangku? Huuh! Sebbal dan ku sakitt hati. Aku maraah padanya.”

Haaai, kondisi ini  ada obatnya. Sapalah Allah, “Yaa Allah, hati ini, Engkau Yang Membolak-balikkannya. Saat ini hatiku begini, dan aku tidak mau membersamainya seperti ini. Tolong, Ya Allah, mestinya aku bagaimana.”

Lalu, ambil cermin, pandangi diri. Seperti apa ekspresinya yang terlihat? Ia yang sedang sebal dan kesal. Ia yang sedang marah. Ah, bukankah lebih indah kalau ia tersenyum, lalu menenangkan hati. Pasti ada yang salah dengannya, hingga menjadi sedemikian. Sapa ia dengan penuh akrab, ialah sahabatmu.

7.                 Fokus dan konsentrasi beramal karena Allah dengan tujuan akhirat

Ini adalah ilmu tentang ikhlas. Tidak perlu ada yang melihat, kecuali karena-Nya. Tidak perlu ada yang memberi semangat, kecuali dengan izin-Nya. Tidak perlu berkoar-koar, berbicara panjang lebar, tapi buktikanlah dengan aksi.

Yah, ini memang tidak mudah. Akan tetapi, selagi ada niat, tentu ada jalannya. InsyaAllah, ada kemudahan. Fokuslah pada tujuan, khusyuk. Meski terkadang ada godaan dalam perjalanan, ingat lagi tujuan. Sekalipun ada cercaan sepanjang prosesnya, ingat lagi tujuan. Semua ada untuk menguji keimanan. Apakah masih mau melakukan?

8.                 Mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ada gunanya dan mengejar sesuatu yang bermanfaat

Hidup ini semakin indah dengan hiburan. Hidup menjadi lebih menarik dengan liburan. Tapi, akan lebih indah lagi, dengan meninggalkan sesuatu yang tidak ada gunanya. Mengapa? Karena tidak ada gunanya ya, tidak ada gunanya. Maka, meninggalkannya, apakah engkau mau berela hati?

Seperti berpikir begini, sebelum melakukan sesuatu, “Hm, aku ngerjain ini ada gunanya engga, yaa?” Lalu memilih meninggalkan, bila ternyata tidak berguna. Namun kalau bermanfaat, sampai ngejar-ngejar juga boleh, pesan beliau.

9.                 Untuk sukses, kita perlu mengenal banyak orang

Ini pesan beliau lagi, untuk mengenal banyak orang. Karena dengan mengenal banyak orang, kita bisa sukses? Yah, terbuka jalan melalui banyak orang, menuju sukses yang kita damba. Ada melalui orang yang belum pernah kita kenal sebelumnya, ada yang baru kita kenal, ada yang belum kenal sama sekali. Kalau belum kenalan, yuuuk, kita kenalan dulu.

Kesimpulan :

1. Perkara yang dihadapi seorang mukmin adalah baik baginya. Bersyukur atas nikmat. Bersabar atas penderitaa, beristighfar atas dosa-dosa, qanaah dan menjaga llisan

2. Orang-orang bahagia ada di dalam jannah, kekal di dalamnya

3. Memanfaatkan waktu untuk beribadah kepada Allah, meminta kepada Allah

4. Tips bahagia :

  • Mewujudkan iman kepada Allah dengan sebenar-benarnya kesabaran, ketabahan, ketakwaan
  • Percaya kemampuan Allah (mengubah sedih menjadi gembira, mengubah sempit menjadi lapang)
  • Mempercayai takdir adalah ketetapan Allah, Dia sudah mencatat di Lauhul Mahfuz
  • Mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik dengan membiasakan melakukan kebenaran
  • Kebahagiaan datang dari dalam diri kita
  • Orang-orang bahagia, panutannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  • Membenahi tujuan hidup kita, tujuan baik akan berujung bahagia. Sedangkan tujuan je-lek akan berujung keseng-saraan
  • Berpikir positif. Karena hidup adalah sementara, penuh cobaan, update dan dinamis
  • Menyederhanakan yang rumit
  • Membiasakan diri tenang
  • Memaksakan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan akan membunuh karakter, membunuh waktu, membunuh prestasi hidup kita.
  • Mampu membahagiakan orang lain dengan bermanfaat. Karena manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling bermanfaat.
~:.Semoga Bermanfaat.:~

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Beliau Berpesan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s