Si Manis

Si Manis

Bola-bola bening itu yang ku cari pertama kali. Bola-bola bening nan cantik. Bola-bola bening bercahaya yang seakan menarik langkah-langkahku, mengajakku mendekatinya.

Karena dari sorot matanya, aku menemukan pesan berharga. Ada ingatan yang ia sampaikan, segera. Ingatan berlanjut rindu. Rindu pada siapa? Ya, Pemilik bola-bola bening nan bercahaya itu. Berikutnya, haru. Lalu, … entahlah, aku pun tidak mau menitikkan bulir bening permata kehidupan, setiap kali melihatnya, lagi. Maka, ku temukan cara, supaya bisa tersenyum dalam kebersamaan kami.

Saat ia masih jauh, aku terus bergerak, sampai kami semakin dekat. Lebih dekat, bertatapan, dan kemudian menjadi akrab dengannya. Keakraban yang tidak terjadi begitu saja. Namun keakraban yang indah dan mewah. Keakraban yang membuat senyuman pun tersungging pada wajahku, akhirnya. Hingga beberapa lama kemudian. Sepanjang waktu kami bersama.

Dalam kebersamaan kami, terkadang ku tempelkan satu telapak tanganku di atas alisnya (eiya, dia ada alis engga ya?). Ya, kalau ku yakin ia tidak akan mencakarku, tentunya. Atau ku tempelkan ujung-ujung jemari pelan-pelan, tepat di kepalanya. Sampai ia memejamkan mata dan kemudian tertidur. Biasanya, begitu aku memperlakukannya. Ia yang ku kenal dengan baik.

Namun kini, berbeda. Ia belum ku kenal sangat. Kecuali pernah melihat sesekali, pada hari-hari yang lalu. Karena ia datang mengunjungi ku, di sini. Kedatangan yang membuatku mengalihkan perhatian dari aktivitasku, sejenak. Kedatangannya yang membuatku spontan tersenyum.

Ya, tersenyum saja. Lalu menyapanya, “Hai, miaamiaa.” Biasanya begini ku menyapa saat seekor kucing melintas di depanku. Sapaan yang membuatnya berhenti sejenak, lalu memalingkan wajah ke arahku. Setelah ku senyumi, ia pun melanjutkan langkah. Mungkin ia menjawab, “Iyaa… (seiring terdengar suaranya olehku. Namun tidak jarang, ada yang berpaling saja dan melanjutkan langkah lagi. Tanpa suara yang ia tinggalkan untukku)”.

Biasanya, aku menyapa ketika ia lewat. Namun hari ini, berbeda. Ya, berbeda.

Kali ini, aku yang mendekatinya. Karena ia sudah ada, tepat saat ku baru datang. Kedatanganku pagi-pagi sekali dan ia seakan menyambutku. Lantas ku mendekatinya segera, menyadari keberadaannya.

Pertemuan pagi tanpa ku duga. Ternyata ada dia di dalam ruangan. Ia sedang merebah badan, berleha-leha, malas-malasan, menempelkan dagu di atas dua kakinya yang menjulur ke depan.

“Pagi, maniiiiss…!” ku menyapanya dengan senyuman.

Mengetahui kedatanganku, ia mengangkat kepala kemudian berdiri. Sambil menggerak-gerakkan telinga dan ekor panjangnya. Bulu-bulunya yang berwarna putih campuran abu-abu, ku perhatikan dan amati lebih dekat. Badannya terawat, bersih dan mengkilat.

Ia melangkah mendekatiku.

Saat itu, aku pun teringat pada saudaranya yang lain, di sana. Catchy, kucing belang tiga serta anak-anak dan keturunannya, yang mudah dekat dan bersuara saat ku menyapa mereka.

Tampaknya ia suka ku sapa ‘Manis’.

Buktinya, bola-bola bening di matanya tertutup sekejap, lalu terlihat lagi. Diiringi dengan suara yang muncul dari bibirnya. Bibir mungil yang membuatnya semakin manis di mataku.

Yah, ia selamanya begitu. Walau seperti apapun warna bulunya, bibir mungilnya pasti terasa dingin kalau ku sentuh. Iya, terkadang ku iseng. Tapi, padanya yang benar-benar ku pahami, saja. Bukan padanya yang baru ku jumpa. Termasuk si Manis yang ini. Ia yang sudah berjalan di sekitar kaki-kakiku, pada menit-menit berikutnya.

Yah, tidak menunggu lama, sejak kami berjumpa, si manis mengeluarkan suara sesekali. Mungkin dalam pikirnya, ada yang dapat ku bagi untuknya. Wahai, hari ini ku tidak membawa sesuatu untuk ku berikan padanya. Sedih hatiku jadinya. Tampaknya ia lapar, belum sarapan. Atau, karena ia sedang mengabariku sesuatu dengan suaranya itu? Namun dengan bahasa yang tidak ku tahu. Bagaimana bisa ku mengerti? Maka, ku coba mengalihkan perhatiannya. Segera ku berjalan ke satu titik yang menerimaku sepenuh hati. Lalu, duduk manis dech aku. Kemudian memulai aktivitas pagi yang berseri.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tujuan dan bisa rehat. Sebelumnya melangkahkan kaki dengan tenang, setenang hati yang ku sapa lagi. Apakah ia turut bersama, saat ku berjalan? Melangkahkan kaki dengan damai. Sedamai semilir angin sampai ke kulitku. Meneruskan perjalanan menikmati kesejukkan udara. Sesejuk sepoinya yang kembali menepi di pipiku. Bahkan setelah ku duduk manis, begini.

Dengan semua ini, bagaimana agar ku mau tersenyum menjalani waktu? Bagaimana ku bisa menemukan celah-celah untuk bersyukur? Apa yang bisa ku pelajari dari semua? 

Yang ku tahu, kebersamaan kami, aku dan siapapun dalam hari ini, membawa pesan untuk ku abadi. Maka, teringatlah aku mampir ke sini. Untuk menitipkan pigura tentang hari ini, untuk tersenyum. Yah, tersenyum saja awalnya, mengabadikan kebersamaan kami hari ini.

Tentang aku dan si Manis. Si manis yang menyambutku dengan gerak-gerik dua telinganya. Si Manis yang menyapaku, dan ku sahuti dengan senyuman. Si manis yang selalu ku suka, apalagi bola-bola bening di sekitar alisnya. Seakan ada yang ingin ia sampaikan padaku melalui bola-bola bening tersebut. Karena ia masih memandangku, hingga lamaaa sekali.

Cahaya di matanya, ingin ku pandang lagi. Meski aku tidak tahu makna dari tatapan matanya. Tatapan mata yang membuat pikirku penuh terhadapnya. Ia yang membuatku sering terbuai lama-lama memperhatinya. Meski pernah juga ia tidak mempedulikan saat ku menyapanya. Tidak mengapa.

Saat ia menatapku dan aku memandangnya, terlintas dalam pikirku, “Sesungguhnya, pertemuan kami ada hikmahnya. Supaya ku ada aktivitas selingan sejak kami bertemu.”

“Hm, engkau mau pemotretan, yaa? Mau, mau…?” segera ku bangkit dari dudukku. Bertanya padanya, hanya menanya. Tidak ingin ada jawaban. Walau dengan suara meaow yang ia alirkan. Aku tidak tahu, apakah ia setuju atau tidak.

Ku meraih sebuah benda bercahaya, dan mengabadikan ekspresinya, gerakannya, juga senyumannya. Karena ku tahu, ia pun tersenyum, padaku. Meski tidak terlihat dari perubahan raut wajahnya. Namun dua bola-bola bening tersebut mampu berbicara.

Ekspresi matanya yang berkedip sebentar, menyiratkan ia bahagia dengan tanyaku. Sungguh. Si Manis akhirnya menjadi lebih dekat dan akrab denganku. Walau tidak sekalipun ku tempelkan telapakku pada keningnya. Apalagi menyentuh telinganya. Karena aku belum mengenalnya. Walaupun kami memang pernah bertemu dan bertukar pandang sebelumnya, ketika ia melintas di depan ku.

Ku sapa ia lagi, “Manis, marii, marii, pemotretan.”

Sayangnya, ia tidak mengerti. Tapi, asyik memperhati gerak-gerikku yang sibuk mengabadikannya. Sehingga, lagi dan lagi gagal mengambil ekspresi terbaiknya. Sudahlah, ya.

“Ia tidak ingin memperlihatkan mata beningnya fokus padamu, kali ini. Mungkin begitu,” pikirku aja, siiiich.

Trim’s manis, atas inspirasinya. Meski engkau tidak mengetahui, sungguh kehadiranmu ada arti. Untuk menjadi jalan kembalikan ingatan ini, lagi.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s