Menilik Makna Keberadaan Diri

KE°°°°°hadir°°°°°AN
““““““““““““““`

Semangat Pagi, Mentariii 😀

Ku memula catatan ini dengan rangkaian syukur di ruang hati. Bersama selembar senyum hiasi wajah. Lanjut, berpikir tentang sesosok wajah yang ku ingat kini. Wajah yang juga sedang tersenyum, menyadari pertemuan kita di sini.

Yah, sosok tersebut adalah engkau. Engkau yang sedang mampir menepi dari ramainya aktivitasmu. Engkau yang meluangkan waktumu, waktu sangat berharga. Untuk menitikkan ekspresi atau sebaris pesan untukku. Ekspresi yang ku lihat sekilas, teringat atau tidak membekas sama sekali. Namun ku percaya, ada ekspresi yang membersamaimu saat sampai di sini. Apakah senyuman, atau raut wajah tenang nan teduh? Ekspresi yang ku suka.

Aku senang, menyadari kehadiranmu. Apakah terdeteksi melalui jejak-jejak yang engkau tinggalkan untuk selanjutnya ku pungut atau ikuti. Apakah melalui sekelebat bayang yang terlihat sebelum engkau berlalu, atau engkau berada di balik badan temanmu yang engkau ikuti? Bisa aja, bukan?

Ada kemungkinan, kehadiranmu dengan cara lain yang bahkan tidak terpikirkan olehku. Walau begitu, keberadaanmu ku nilai ada arti, membawa makna, bermanfaat. Sekalipun sebentar, meskipun engkau belum ku kenal. Sebab ada yang ku pelajari darimu.

PEM•••••belajar•••••AN
””””””””””””””””””””””

Ya, belajar lagi dan lagi dari keberadaan diri. Keberadaanku di mana pun, serta kehadiranmu di sekitarku. Apakah kita sempat bersapa, menghabiskan waktu bersama, atau hanya pandang-pandangan tak sampai bertukar suara. Ini pun menjadi bahan pelajaran yang berharga. Pelajaran yang tersedia tanpa perlu mendaftar untuk mempelajarinya. Namun membawa kemauan, untuk mau belajar lagi.

Sehingga pertemuan dengan siapa saja menjadi sungguh sayang untuk tidak belajar lagi. Kurang bermakna rasanya, bila tak terpetik sebongkah hikmah. Kurang lengkap kiranya bila tak menjadikan kita menghayati. Karena segalanya tidak terulang lagi untuk kedua kali dengan kondisi sama. Sebab semua akan menjadi masa lalu setelahnya. Kebersamaan ini pun akan menjadi kenangan untuk masa depan kita.

KE•••••nyata•••••AN
““““““““““““““
Lalu, masihkah mudah meletup-letup diri ini? Tidakkah mau renungi lagi, dan menjadikan hikmah, detik demi detik hari ini? Tentang siapa saja yang ia temui, bagaimana memperlakukan mereka, apa tanggapan yang ia peroleh setelahnya? Bukankah semua telah menjadi kisah yang indah? Mudahkah ia bersyukur atas keindahan yang ada? Masihkah diri mempertanyakan makna kesabaran saat menjalaninya? Bukankah semua untuknya? Kembali padanya? Ketika semua berlalu juga, maka berlalunya dengan hasil pelajaran. Bila diri mau memetik hikmah.

Ku temukan engkau tersenyum, meski di ujung kebersamaan kita hari ini. Senyuman yang membuatku terharu, akhirnya. Karena tidak ku sangka, sedikit cara berbeda memperlakukanmu dari biasanya, mampu mengubahmu yang sang-ar menjadi lembut, lalu tersenyum. Senyuman yang ku maknai sebagai senyuman asli nan tulus Senyuman yang terasa hingga ke relung jiwa, menyentuhnya. Membuatku tersentuh. Ya, tidak menyangka saja, engkau tidak seperti biasanya. Padahal hanya sedikit perbedaan yang ku lakukan padamu.

Ya, selama ini baru terpikir saja. Sebelum ini baru teringat saja. Nah, di ujung pertemuan kita hari ini ku mengubah pikir dan ingat menjadi sikap padamu. Sehingga dari ekspresimu yang ku lihat, membuatku turut tersenyum. Lalu kita bersenyuman menempuh waktu. Hingga berjarak lagi tidak hanya sebatas satu dinding. Untuk selanjutnya engkau meneruskan perjalanan, begitu pun aku.

Ku lepas engkau dengan senyuman di ujung hari ini. Engkau juga tersenyum, namun senyuman berbeda dari biasa.

Pelajaran ku peroleh darimu, "Kelembutan ucap, ekspresi tenang, dapat mengubah wajah sang~ar menjadi penuh senyuman."

Seperti halnya mentari sore tertutup awan tipis, ku pandang teduh wajahmu yang tersenyum. Terima kasih untuk kebersamaan kita yang indah, hingga ujung hari ini. Hari ini kita masih bertemu dan bersama. Hari ini yang indah. Seindah hari-hari sebelum ini, dengan pelajaran demi pelajaran yang ku petik darimu. Ilmu tentang pengelolaan jiwa, pengendalian diri, mendeteksi ekspresi, bersikap, bersuara, menata pikiran, mendamaikan hati, dan mengetahui pesan melalui wajah.

Sejak ku tahu tentang dirimu, ku mulai menemukan cara bagaimana menghadapimu. Apakah ini sudah tepat atau masih ku pelajari lagi, aku mau belajar lagi. Sebagaimana engkau yang masih belajar dari apapun dan sesiapapun yang engkau jumpai. Aku juga belajar banyak darimu. Sehingga, sejak ku menyadari adanya keterkaitan antara kita, aku pun teringat bahwa keberadaan diri ini bersamamu tentu ada arti. Begitu pun engkau yang akhirnya menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Aku tidak pernah menyangka dalam langkah-langkahku kita bersua lalu menjalani waktu bersama. Kesannya memang penuh makna. Ada arti kehadiranmu saat kita bersama. Ada makna kebersamaan kita saat di dunia.

Aku belajar banyak darimu, meski tidak ku sangka sebelumnya, kita bersua. Rasanya masih belum percaya, namun ini nyata. Sehingga yang ada, ku memetik makna setiap kali kita bersama. Apakah lagi yang membuatku tidak segera mengingat-Nya sepanjang kebersamaan kita? Karena semua dalam rencana-Nya.

Dari yang ku perhati sejauh ini, banyak sisi baik darimu untuk ku gali. Sehingga ku mengerti, setiap yang ku temui dari dirimu. Apakah ku sukai atau masih harus menata pikir ini lagi tentangmu.

"Karena pada kenyataannya dalam diri sesiapapun yang kita temui, ada kebaikan," begini pesan ibu yang ku ingat. Ditambah dengan, "Berbaik-baiklah dalam berteman, ya Nak." Maka ingatan ini pula yang membuatku optimis, kita bisa menjalani waktu bersama, terlepas dari bagaimana pun penilaian ia dan dirinya tentangmu yang sampai padaku sebelum ini. Buktinya? Engkau tak seperti yang ia dan dirinya sampaikan, ini menurutku. Apakah karena engkau juga masih dan selalu belajar? Sebagaimana yang engkau sampaikan padaku? Hasil pembelajaran tersebut yang menjadi jalanmu menjadi dirimu yang ku tahu?

Hari-hari berikutnya, saat kita masih mempunyai kesempatan menjalani waktu bersama, ku ingin lebih memahamimu, mengerti dirimu, dengan mengetahui di mana dan bagaimana aku mestinya?

Sehingga waktu-waktu kebersamaan kita yang sangat berharga, menjadi penuh makna. Ada yang berkesan untuk kita kenang, ketika akhirnya berjarak raga tidak lagi sedepa. Ada juga yang lengket dalam pikir dan menjadi alasanmu bisa mengingatku lagi. Setelah kita tidak dapat menjalani waktu di tempat sama. Karena masing-masing kita sudah harus meneruskan perjalanan hidup, tidak mesti selalu bersama seperti hari ini.

😉 Engkau ada menjadi bagian hari iniku, untuk ku pelajari lebih baik. Tersenyumlah lebih indah dalam kebersamaan kita dan seterusnya, karena mentari pun tersenyum. 😉

Apakah engkau yang hadir dalam kehidupanku, atau aku yang hadir dalam kehidupanmu? Ku pelajari kehadiran kita di dalam kehidupan ini untuk mengembalikan ingatan kepada Allah subhanahu wa Ta’ala Yang Menciptakan dan selalu Memberi yang terbaik, untuk kita. Termasuk pertemuan kita di mana pun dengan siapapun. Tentu ada makna untuk kita tilik bersama senyuman terbaik. Terima kasih untuk semua, yaa.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close