Menulis Perhatian

Mentari sore. Sudah demikian jauh ia bergerak. Semakin lama semakin jauh. Sehingga hanya terlihat seperti satu titik saja. Titik yang memberi tanda padaku, bahwa ia masih ada. Sebelum akhirnya berlalu dari hari iniku.

Mentari pagi. Pagi-pagi sekali ku memperhati. Perhatian pada mentari yang siap menerangi lagi. Memberi penerangan pada seluruh alam untuk menyampaikan bakti. Untuk masih bersinar berbinar-binar sebagai bukti ia masih ada. Memenuhi janji yang ia sampaikan ketika sore mengharuskannya tenggelam dari tatap ini. Yah, ia berjanji untuk datang lagi esok, tepat pagi-pagi sekali. Ia akan hadir menghiasi heningnya pagi membawa senyuman untukku lagi. Senyuman cemerlang yang membuatku tersenyum padanya, saat menyadari ia kembali.

Hening. Masih hening suasana alam, ketika ku memberikan perhatian padanya. Memberikan perhatian lebih, karena darinya ada pesan yang ku petik. Dalam hening, sunyi, ketika belum ramai sesuara memenuhi alam. Bahkan cericit beburung pun belum kedengaran. Apalagi desau angin yang mendominasi hening ini tiada, namun ia ada. Keberadaannya yang ku rasakan sejuk di kulit.

Dari jauh, dalam hening, ku lepaskan pandangan jauh padanya. Memperhatinya yang terlihat kecil, namun sesungguhnya ia besar. Ada energi maha hebat yang ia bawa. Ada sinar kuat yang ia miliki. Ada senyuman lebar yang ia persiapkan. Ada inspirasi yang ia tebarkan. Maka, menyadari dua mata ini masih memiliki kesempatan memperhatikannya, ku bersyukur, bahagia. Mengetahui bahwa ia masih ada, ku tersenyum, lega.

Apakah ia harus terlihat sebentuk lingkaran kecil nan terang, aku suka. Meskipun rupanya terlihat titik bercahaya, aku lebih suka. Karena ku dapat menatapnya berlama-lama, dan tidak memiliki efek samping pada mata. Berbeda kalau sinarnya sempurna tak terhalangi apa-apa, ku tidak dapat memerhatinya leluasa. Sebab sayangku pada dua mata yang mesti ku jaga dari menatapnya.

Mentari. Memperhatikannya pagi dan sore membuatku mudah tersenyum lagi. Karena ia menjadi jalan sampaikan ingatan ini kepada pencipta-Nya. Ia yang mengendalikan seluruh gerak mentari yang ku suka.

Mentari yang meneladankan tentang hal ini. Supaya tetap tersenyum, meski awan membuat sinarnya tidak sepenuhnya sampai ke bumi. Untuk bersinar lagi, ketika hari telah berganti. Untuk rehat sejenak, dari sebagian sisi bumi. Namun masih beraikan bakti pada sisi lainnya. Dengan begitu, selama dua puluh empat jam sehari, bersungguh-sungguhlah menjalani waktu. Ini pesan tersirat darinya yang ku peroleh. Pesan untuk bergerak, teruskan perjuangan dan mengenali keadaan. Saat ku membacanya dari waktu ke waktu, memperhatikan sepenuh perhatian. Lalu menuliskan bersama senyuman. Senyuman penuh makna, untuknya. Senyuman yang ku baca melalui parasnya. Walau tanpa bibir yang tersenyum, namun ku lihat ada kebahagiaan yang ia tampilkan melalui sinarnya yang sampai padaku.

#melihatmemperhatimentaripagidansorehari[]

🙂 🙂 🙂

2 thoughts on “Menulis Perhatian

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s