Emak Pun Bercerita

Ibu
Sebagai Emak, sesekali menceritakan pada anak tentang masa-masa sulit penuh perjuangan. Supaya anak bisa berpikir. Saat menempuh masa sulitnya, ia ingat perjuangan Emak lebih sulit dari yang ia alami. Ingatan yang membuat anak semangat meneruskan perjuangan. ::Emak Punya Cerita 

Hari ini, kita masih bisa berjumpa, teman. Maka, tolong maklumi yaa, bila ku datang lagi dan lagi.

Bukan apa-apa, namun untuk menitipkan ekspresi saja. Selanjutnya, ku senyumi dengan sempurna. Senyuman sebagai wujud syukur yang ku punya.

Syukur yang ku data, apakah ia ada atau tiada?

Masih, masih ingin meneruskan langkah-langkah lagi, alasannya. Yah, demi memperhati setiap pergerakan yang ku lakukan. Apakah suasana hatiku sedang berbahagia, atau malah sebaliknya. Walau bagaimana pun adanya, semua ingin ku ingat lagi. Apakah ada kelegaan dan ketenangan, ingin ku ingat juga. Lalu, memperhati bagaimana ku menempuhnya. Sebagai bukti perjalanan diri.

Lalu, cerita tentang apakah yang ingin ku rangkai lagi? Tidak jauh-jauh ku memperhati. Namun, dekat sangat, di sini. Ya, tentang kebersamaan kami lagi. Orang-orang yang berperan penting dalam hari iniku, mereka yang ingin ku ingat lagi. Selalu begitu. Mereka yang dekat di hati, walau kami berjarak raga.

Tentang siapakah kali ini?

Awalnya adalah bersama Aurora. Yah, Aurora yang ku suka, sejak pertama kali kami bertemu. Aurora yang menyisakan senyumannya untukku. Tepat setelah ia berlalu dari hadapanku. Aurora yang membawa senyuman hangat menemuiku, lalu kami bergenggaman tangan sangat erat, saat bersalaman. Aurora yang ku lepas dengan bahagia, semoga perjalanannya lancar.

Ini adalah pertemuan kami yang ke delapan kali. Setelah berjumpa juga pekan lalu, dalam rangka melakukan perjalanan jauh, bersamanya. Perjalanan yang ku kisahkan menjadi tulisan, namun hilang entah mengapa. Yah, kisah yang sempat hilang tersebut adalah perjalananku bersama Aurora, teman.

Sampai saat ini, kehilangan kisah tersebut, masih menyimpan tanya. Mengapa ia hilang begitu saja? Kisah yang ku susun sedemikian rupa, tentang perjalanan kami seharian.

Ah, Aurora, walau kisah tentang perjalanan panjang kita hilang entah ke mana, namun percayalah bahwa, ingatan masih ku jaga. Termasuk kesan tentang perjalanan kita yang penuh cerita tersebut. Semoga, suatu hari kelak, kita kembali bisa melanjutkan perjalanan lagi.

Kunjungan Aurora hari ini, menemuiku masih untuk misi sama, seperti sebelumnya. Yah, kunjungan persahabatan meneruskan perjuangan hidup. Demi menjemput sejumput rezeki, begitulah cara yang ia tempuh. Untuk saat ini memang begitu.

Semoga, hari esokmu lebih baik, Aurora. Bisa juga duduk-duduk manis saat menjemput rezeki, tidak lagi harus berjibaku di bawah terik mentari atau kehujanan dalam melanjutkan ikhtiar.

Lancar dan sukses ke depannya, yaa. Selamat jalan, nanti malam, menuju kota kelahiran.

Ha? Bagaimana? Aurora akan pulang kampung? Apakah ia sudah tidak di sini lagi? Berarti tidak bisa lagi menemuiku pada jadual-jadual tertentu?

Bukan, bukan begitu, teman.

“Ini demi cita-cita sich, Kak. Karena aku mempunyai impian, maka, ku rela meski harus pulang walau sehari saja. Semoga ini yang terbaik, mohon doanya ya, Kak, semoga lancar,” bisik Aurora dengan wajah cerahnya. Ia yang duduk di depanku, ku lihat jelas ada harapan di matanya. Sorot mata bersinar, bening, yang sesekali mengedip. Berikutnya, ia tersenyum lebar.

“Iya, tentunya, Aurora. Aamiin. Semoga mendapatkan yang terbaik, dan ini kesempatannya,” jawabku pelan, menjelang kami sudah harus berjarak lagi.

Besok pagi Aurora sudah harus berada di kota kelahirannya, Jambi. Untuk memenuhi panggilan kerja di sana, atas lamaran yang ia ajukan jauh-jauh hari sebelum ini.

“Oiya? Aurora daftar di Jambi juga?” tanyaku padanya sejak ia memberi kabar terbarunya ini.

“Iya, Kak, aku daftar dua, di sini satu, di sana juga. Semoga ada yang terbaik diantaranya,” jelas Aurora, atas pertanyaanku padanya.

Jambi. Teringat tentang kota yang satu ini, mengingatkanku juga pada ibunda. Ya, pada masa beliau muda, dulu juga pernah berdomisili di kota ini. Tentu saja untuk menjemput rezeki, awalnya.

Sehingga kota ini yang segera akrab di telingaku, pertama kali Aurora menjelaskan padaku, dari mana ia berasal. Kota yang tidak terlalu jauh dari kampung halamanku. Di kota ini, ibunda pernah merasakan suka duka meneruskan perjuangan hidup dengan tetap menjaga nyala harapan. Untuk lebih baik, dari sebelumnya. Kota yang menjadi saksi pertemuan dua sejoli, ayah dan bunda. Iya, begini ibu pernah bercerita, pada kami.

Sehingga, tidak asing lagi, bila ingatan pada kota ini, mengembalikan ingatanku pada beliau, juga. Ibunda yang ku rasakan sangat dekat denganku. Baik saat kami memang berdekatan raga, atau berjarak tidak lagi sedepa. Nah, perantaranya adalah komunikasi. Sehingga kami bisa menjadi lebih dekat. 

Ya, ketika kami berjarak raga, ku sapa beliau lagi. Sehubungan hadirnya ingatan demi ingatan, pada beliau. Ingatan untuk berbagi cerita, ingatan untuk menyimak cerita beliau. Ingatan untuk memperoleh nasihat lagi, walau pun dari jauh.

Ingatan demi ingatan tersebut, menggerakkan jemariku memencet beberapa nomor yang ku hapal. Susunan angka yang lekat dalam ingatanku hingga detik ini. Supaya kami bisa bertukar suara lalu berbagi tentang apa saja. Karena setiap kali kami bertukar suara, ada saja berita baru yang beliau kabarkan. Ada juga semangat baru yang beliau selipkan. Termasuk senyuman yang beliau bagi, melalui suara ceria menyenyumkanku saat menyimak.

Tidak lama kemudian, kami pun sukses terhubung.

Dari seberang sana, terdengar suara beliau menyambutku. Suara yang terdengar berbeda. Ya, lebih pelan, tidak seperti biasanya. Mengetahui perbedaan ini, segera ku menanya, “Ada apa dengan beliau? Bagaimana keadaan beliau? Apakah ada yang terjadi? Mengapa bisa seperti ini? Ibunda yang ku sayangi, biasanya berseri-seri, ceria dan gembira, menyahut dengan suara jelas dan bahagia kapan saja ku menghubungi beliau dari jauh. Meski ku tidak tahu pasti, bagaimana keadaan beliau aslinya, karena memang kami tidak berhadapan. Tapi, kali ini berbeda, sungguh membuat ku bertanya-tanya. Bagaimana bisa, suara beliau memelan? Dengan sapaan lebih cerah, ku bertanya sepenuh hati. Tanya yang akhirnya ku ketahui jawabannya, meski membutuhkan waktu hingga beberapa menit berikutnya. Setelah kami berbicara lain-lain hal dulu. Setelah ku kabarkan beliau kondisiku di sini, akhirnya, beliau beraikan segalanya.”

“Hati Amak runtuh, Nak… Ini yang ke tiga kalinya. Yang pertama karena ini. Kedua karena itu. Ini yang ke tiga, semirip dengan keruntuhan pertama dan kedua. Membuat Amak jadi begini,” pemaparan beliau menyentuh hatiku.

Lalu ku dekati hati beliau lebih dekat, sampai kami bisa bersenyuman. Senyuman yang kami bagikan, untuk saling menguatkan. Senyuman yang hadir di sana, membuatku tersenyum akhirnya. Senyuman untuk ibu, ibu yang tersenyum. Karena kalau beliau sedih, aku akan terpikir-pikir, tentang kesedihan beliau.

Dengan segala yang ada, beliau seakan memesankan, seorang ibu memang begitu. Berhati lembut, sangat halus dan ini bukan dibuat-buat, namun karena kasih sayang, kepedulian dan cinta beliau yang utuh. Maka, bila ada yang membuat beliau tersentuh, hati beliau akan runtuh, hancur, berkeping-keping.

Beliau yang mempunyai hati lembut, tolong, jaga-jaga benar, bagaimana kita memperlakukan beliau. Sedikitpun, meski tidak terniat membuat beliau luka, coba tanya-tanyalah bagaimana perasaan beliau atas sikap kita, ucap dan tingkah laku. Barangkali kita tidak menyadari, telah menjadi penyebab turunnya titik-titik bening permata kehidupan hingga menetesi pipi beliau.

Sebagai seorang ibu, beliau lebih menanya diri, mengajak perasaan bercengkerama, lalu hanyut dalam lautan airmata. Diam-diam, di belakang kita beliau menangis atau menyimpannya tanpa memberi tahu. Tetiba, ekspresi beliau berubah, tidak seperti biasanya.

Kapankah terakhir kali kita membuat hati beliau runtuh, karena ulah kita? 

Walau sedikit, janganlah berbicara tinggi pada beliau. Walaupun kita lebih pintar, janganlah berbicara semaunya pada beliau. Sekalipun kita cerdas berkata-kata, tolong jaga hati beliau dengan berbicara pelan dan merendah tidak menyudutkan. Kalau beliau salah pun, ada cara yang lebih baik memberi tahu. Bukankah selama ini beliau menemukan banyak kesalahan pada diri kita? Namun adakah cara beliau saat mengingatkan kita, membuat hati kita terluka sungguh dalam?

Tolong, ingat-ingatlah lagi. Sebelum membuat beliau terluka, ingatlah, kita juga ‘akan’ atau telah menjadi orang tua.

Hati beliau memang tidak runtuh karena ucap dan sikapku. Tapi karena alasan lain yang ku ketahui, setelah beliau bercerita. Sungguh, karena ada hubungannya dengan aku di balik cerita beliau.

Walaupun begitu, ibu, selalu punya cara untuk membahagiakanku, membuatku tidak terpikir-pikir lagi. Meskipun atas masalah yang beliau alami. Sungguh pun demikian, seingat-dua ingat, aku teringat juga. Karena ku yakin dan percaya, keadaan apapun yang ku temui dalam detik waktuku seharian, ada hikmah dan pesan untuk ku gali. Untuk mengingatkan diri, sebaiknya begini, jangan begitu. Termasuk pertemuan dengan siapa saja, ku petik pesan yang terselip saat kami berinteraksi. 

Ibu, beliau mempunyai keterikatan sangat lekat dengan buah hati. Karena anak-anak pernah berada di dalam rahim beliau, sebelum mereka hadir ke dunia ini. Maka, pasti saja beliau memberikan perhatian lebih, sekalipun anak-anak sudah dewasa. Beliau masih mengingat dan memikirkan anak-anaknya, meskipun mereka sudah berkeluarga. Apalagi anak-anak belum berkeluarga, maka beliau sangat mempedulikan tentang masa depannya.

Seorang ibu tetaplah ibu. Seorang perempuan berhati mulia, yang memiliki pengertian dan ketulusan tiada duanya. Walau bagaimanapun, beliau adalah perantara hadirnya kita ke dunia. Maka, bagaimana perasaan kita mengetahui beliau terluka?

Aku ‘sedikh’ bila ada yang membuat airmata ibu berjatuhan. Aku sangat terluka, bila ada yang menjadi sebab beliau berduka. Aku sangat perih, bila beliau berkisah tentang kesedihan yang beliau rasa. Atas perlakuan seseorang yang membuat beliau ‘down’, sikap yang semaunya saja, ucap yang tak terdata, tanpa mempedulikan bagaimana perasaan beliau setelahnya.

“Ibu yang ingin ku bahagiakan dengan segala upaya yang dapat ku laksana, namun tetiba beliau terluka karena perlakuan seseorang, pada beliau, membuatku melanjutkan pikir”.

~_~

Semuanya akan berakhir bahagia, dalam hati kita. Terkadang dengan tidak selalu mendengarkan perkataan orang-orang terhadap kita. Terkadang dengan membiarkannya berlalu. Terkadang dengan melihat ke sekeliling, hingga mengetahui, kita tidak sendiri. Ada banyak lagi orang-orang yang mengalami keadaan sama dengan kita. Semua tentu dengan batas kesanggupan masing-masing, saat menjalaninya.

Ini adalah cerita tentang Emak. Emak yang bercerita. Cerita yang ingin ku ingat. Cerita yang menepi dalam hari ini ku, membuatku terpikir-pikir. Cerita di antara perjalanan yang ku tempuh. Lalu, duduk sejenak di sini, menjadi pilihanku. Memilih menyusun kata, menjadi rangkaian kalimat, lagi. Setelah menyimak cerita tentang perasaan ibu. Cerita yang ku rangkai, setelah melepas Aurora berangkat, untuk meneruskan perjalanannya lagi.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close