Sudahkah Kita Bersyukur Hari Ini?

Sunset
“Melihat Sunset dengan – Mata”

“Iya, ada anugerah yang ku syukuri hari ini. Syukur yang mengajakku tersenyum bersamanya. Sehingga ku mau melangkah lagi. Ketika lelah, berhenti sejenak.”

***

“Syukur sangat perlu dalam kehidupan ini. Karena dengan bersyukur, kita menjadi orang yang paling kaya,” masih teringat jelas olehku, nasihat beliau pada suatu hari. Nasihat yang beliau sampaikan sambil menggerakkan tangan, menunjuk mata, meraba kulit, memegang telinga, membuka mulut hingga terlihat lidah beliau, dan sempat juga menempelkan telunjuk beliau di hidung. Ha? Termasuk hidung? Iya.

Aku ingat tentang syukur, ketika ingat hidung ini. Tadinya mau mensyukuri hidung aja, awalnya. Tapi, setelah ku telusuri, ternyata ada banyak lagi syukur yang perlu ku lampirkan dalam hari ini. Mereka adalah para indera yang lima jumlahnya.

Ya, syukuri apa yang ada, maka kita pun menjadi orang paling kaya dan bahagia. Sudahkah kita mensyukurinya? Bagaimana caranya bersyukur?

Sungguh, betapa sangat banyak yang bisa kita perhati. Mulai sejak pintu hari ini terbuka untuk kita masuki. Sungguh, sangat merugi kiranya, bila kita tak bersyukur, jika hanya merutuki keadaan yang tidak kita ingini. Sungguh, belum tentu hari esok akan secantik ini. Belum tentu kita masih ada membersamai sinar mentari yang hangat ini. Sungguh, lebih baik rasanya, kalau kita mau mengingat semua ini.

Ada saja jalan yang dapat kita tempuh untuk bersyukur. Raba hati untuk mengetahui apa yang ia alami? Apakah ia sudah bersyukur? Jika syukur sempat tidak terdeteksi di dalam diri, temukanlah caranya, carilah jalan tersebut. Melihatlah, membaulah, mendengarlah, merasalah, dan rabalah.

***

Alhamdulillah, ini adalah hari yang cerah, berseri, dan mentari bersinar cemerlang. Mentari yang menerangi alam, kembali lagi. Mentari yang kemarin sore juga masih ku perhati, namun di sisi barat. Sedangkan pagi tadi, mentari bersinar dari sisi langit timur. Sama cerahnya dengan kemarin sore.

Mentari yang menjadi jalan kembalikan ingatanku untuk bersyukur. Karena masih memiliki kesempatan hari ini, untuk menatapnya, lagi. Walaupun melalui sesudut mata yang ku sipitkan. Meskipun dari balik jemari yang menutupi hampir seluruh wajahku. Sambil tersenyum, untuknya.

Mentari yang meneladankan padaku untuk tersenyum, sepertinya. Meski sesekali awan gemawan melintas di sekitarnya. Sehingga sinarnya tidak sampai padaku. Namun waktu-waktu berikutnya ia muncul lagi. Setelah awan menepi. Demikian pula dengan ekspresi yang terkadang terbit pada wajahku.

Alhamdulillah, hari ini yang ku syukuri lagi. Masih bisa bernafas dengan baik. Sehingga ku dapat menghirup segarnya udara sejak pagi. Udara bersih tanpa polusi. Masih banyak terlihat pepohonan di sepanjang jalan yang ku lewati. Udara pagi yang mengingatkanku untuk tersenyum lagi. Yah, senyuman untuk mensyukuri karunia-Nya, nikmat hidup yang indah ini.

Angin yang berhembus sepoi menyejukkan, terasa hingga ke kulit ini. Sejuknya yang membuat senyumanku terbit lagi. Sebab, ku sedang melangkah dan berjalan. Terasa kesejukkannya menenteramkan hingga ke relung hati. Kesejukkan yang tidak akan pernah dapat ku bayar dengan materi, namun ku rasakan secepat ini. Mudah sekali, sangat indah. Kesejukkan alami, dari alam yang ku bersamai. Kesejukkan yang memberiku ruang dan waktu untuk mengingat lagi, makna kehadirannya dalam perjalananku.

Aku menikmati setiap langkah, yang ku pijakkan. Sekalipun masih jauh, sebelum sampai di tujuan. Walaupun bertemu dengan apa saja, siapa saja. Maka, menjadikannya sebagai pengingat, adalah perlu. Pengingat diri supaya mengerti, mereka ada bersama arti. Semua ada menitipkan pesan, untuk ku baca bila tidak tertulis. Mengingatkanku untuk melihat, bila tidak berwujud. Mengingatkanku untuk merasa, bila ia memang tidak terlihat. Seperti angin, yang nyata ada, meski tidak terlihat. Sungguh, ingin rasanya terharu sepanjang perjalanan. Namun, aku menjalaninya dengan senyuman. Senyuman yang mencerahkan wajah, membuat pikiran juga benderang. Semua ada, dan tidak pernah terjadi begitu saja, tanpa hikmah, bukan?

Alhamdulillah, dengan pendengaran yang juga berfungsi sempurna, aku masih dapat mendengarkan deru kendaraan di sepanjang perjalanan. Suara mesin dari kendaraan yang saling berkejaran, karena ada yang mereka tuju. Ada yang bergerak perlahan, seakan menikmati perjalanan. Ada juga yang ngebut seakan mengejar waktu yang terus bergulir. Sebab ia tidak ingin ketinggalan jauh.

Ya, memperhatikan keramaian di perjalanan, dengan riuh aneka jenis kendaraan, pun bisa membuatku tersenyum. Senyuman untuk diriku sendiri, karena ia ada di antara mereka, melanjutkan perjalanan. Ini pun sangat ku syukuri.

Bersyukur sangat, melihat langkah-langkah yang menyisakan jejak. Mengingat, ia belum rasakan lelah. Kalau lelah, ku ajak melentur sejenak. Lalu melangkah lagi dengan kaki-kaki yang ku hiasi sepatu dan kaos kaki cantik, sebagai hadiah pada suatu hari. Kaki-kaki yang tersenyum menerima dan mau ku ajak melangkah lagi. Senyuman yang masih ia bawa saat kami sampai di tujuan.

Alhamdulillah,  lagi dan lagi ku langkahkan kaki-kaki ini. Kaki-kaki yang menjadi jalan sampaikan ku ke tujuan, dengan terus menggerakkannya. Kaki-kaki yang ku gerakkan dengan sepenuh hati. Seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling menggunakan dua mata yang mengerling rapi.

Dua mata yang juga melihat jalan yang ku tempuhi. Agar kaki-kaki ini tetap aman sepanjang perjalanan. Mata yang ku perhati, saat ku bercermin diri. Ada sebuah potret yang ia perlihatkan di sana, untuk mengingatkanku lagi. Bahwa dengan bercermin, kita dapat melihat dua mata ini.

Mata yang sering kita bawa ke mana-mana, kita jadikan sebagai jalan melihat indahnya dunia. Dunia yang kita bersamai saat ini. Maka, bagaimana kita menggunakan mata ini? Mari kita mengingat lagi sejak pagi hari. Sejak awal, sebelum ia melirik-lirik jauh sekali. Sebelum ia memperhati semua yang ia lihat. Ingatlah lagi, wahai diri.

Mata yang ku gunakan untuk melihat benderangnya alam ini. Mata yang merupakan salah satu titipan untuk ku jaga dengan baik. Mata yang ‘mungkin’ tidak semua orang memilikinya, dan atau berfungsi dengan baik. Mata yang menjadi kewajibanku untuk memperhatikannya, karena ia ada bersamaku. Makanya, melihatnya lagi melalui cermin, ku lakukan juga. Melihat saja padanya, ia yang juga melihat padaku. Melalui mata yang melihat, ku dapat membuka cakrawala pandang terhadap dunia. Saat ku menggunakannya untuk membaca. Membaca rangkaian jejak dan peristiwa di sana. Mata yang sangat berguna dan bermanfaat di sepanjang waktu-waktuku.

Alhamdulillah, dengan indera pembau ku dapat mengetahui ada aroma masakan sampai ke hidung. Aroma masakan yang sering datang dari ruang sebelah, sering mengusik hidungku. Lalu ku bertanya sendiri, “Bagaimana mereka bisa mengolah menu hingga harum seperti ini, ya? Apakah rasanya juga lezat seperti aromanya yaa?” Ketika wanginya semerbak memenuhi ruangan kami. Ha! Membuatku penasaran.

Sering juga ku berpikir, pasti mereka punya rahasianya. Rahasia masakan menjadi harum dan wangi hingga menggugah selera. Sehingga, aku pun jadi lapar, gerakan melambat dan ekspresi tidak berseri-seri.

Ada yang pernah bilang padaku, makanlah untuk menegakkan tubuh, supaya ia tidak lemah dan lebih bertenaga.

Makanya, kalau lapar, aku bisa mencicipi menu makanan yang lezat. Menghayati setiap suapan makanan dan menikmati rasa berbeda yang mampir di lidah, lalu menelannya dengan mudah. Masih bisa mengunyah dengan sempurna, sehingga makanan sampai ke kerongkongan lebih lembut. Selanjutnya ku telan. Begitu seterusnya yang ku lakukan, sampai rongga kosong dalam perut dapat terisi dan tidak lapar. Terkadang makan lebih banyak, lebih sering secukupnya saja. Karena ku masih ingat, pernah sangat tidak senang ketika kenyang. Kenyang yang mengakibatkan mata mengantuk dan tidak dapat bergerak banyak. Sebaliknya dalam kondisi lapar tidak bisa konsentrasi, kan?

Lalu, kalau haus, aku pun meminum segelas air. Minum untuk menghilangkan dahaga. Tidak sampai kembung. Karena saat haus kita juga tidak tenang melanjutkan aktivitas, bukan? Maka, makan minum secukupnya tentu juga menjadi jalan untuk tersenyum.

“Kita bersyukur masih bisa makan dengan baik. Ingatlah orang yang tidak bisa bebas makan karena adanya penyakit yang mengharuskan mereka mendapatkan asupan makanan melalui selang infuse. Ada juga yang bisa makan seperti biasa, namun mempunyai pantangan-pantangan yang tidak boleh makan inilah nanti darah tinggi, tidak boleh makan itu, nanti dia-betes, tidak boleh minum ini dan atau sebagainya. Banyak yang menjadi halangan mereka untuk menikmati nikmatnya makanan yang tersedia. Padahal, apa kurang mereka? Uang banyak? Mau beli apa aja, bisa? Tapi, satu nikmat yang tidak dapat ia pergunakan lagi, yaitu nikmat lidah yang mengecap rasa makanan. Maka, syukurilah, bersyukurlah,” tambah beliau, menit-menit sebelum meninggalkan kami lagi. Kepergian beliau tentu saja untuk kembali lagi, besoknya. Teringat lagi ku pada beliau, saat ingin merangkai kata tentang syukur, sebab beliau pernah menasihatiku jauh-jauh hari sebelum ini. Nasihat yang teringat lagi olehku, kini.

Alhamdulillah, beliau dalam kondisi sehat, saat hari ini kami berjumpa lagi. Semoga engkau alam kondisi sehat sempurna, bahagia dengan bersyukur juga, yaa teman. Syukur yang terjaga senantiasa menyertai, ke mana pun engkau melangkah. Hari ini, esok, lusa dan selanjutnya. Fabiayyi alaairabbikumaa tukadzibaan.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close