Sepotong Senyuman yang Engkau Beri

Akhirnya, bisa tersenyum lagi. Setelah berjibaku dengan hari ini yang super sweet. Betapa tidak? Sepanjang hari yang beberapa jam ini, ada saja yang menitipku rangkaian pengalaman juga pengetahuan. Melalui orang-orang yang ku temui, semua mengalir deras. Apakah ku mendekati mereka terlebih dahulu, atau mereka yang menghampiriku.

Semua ada menjadi pengingat, supaya ku menyadari, memperhati, mensyukuri kehadiran semua dalam hariku. Karena tidak terjadi begitu saja, tanpa ada yang mengendalikannya. Termasuk secuplik suara yang ku dengar dari radio, pagi ini.

Yah, akhir-akhir ini aku bisa mendengarkan radio lagi. Setelah lama tidak. Mengapa tidak? Yah, begitulah. Sepertinya tidak ada alasan yang bisa ku berikan. Apakah alasan melupakannya, atau karena tidak ingat. Sebab adanya alasan karena tidak melakukan sesuatu itu sungguh tidak seharusnya ada, bukan? Maka, cari-carilah cara menemukan alasan, mengapa engkau melakukan sesuatu, bukan alasan mengapa engkau tidak melakukannya. Ini lebih menenangkan, kiranya. Bagaimana-bagaimana, teman, bener, khan? Hehee.

Cuplikan perjalanan tentang hari ini yang ingin ku ingat lagi pada suatu hari yang akan datang adalah tentang suara-suara yang ku dengarkan. Suara-suara yang dekat, ataupun yang mendekat. Suara-suara yang ku panggil, atau yang memanggilku. Suara-suara yang ku simak dengan jelas, karena ia bernas. Suara-suara yang ku dengar-dengarkan dengan lebih teliti, karena ia kurang bersih. Begitulah yang ku lakukan. Agar informasi apa saja yang terdengar dari sana, dapat ku tangkap dengan baik. Sehingga tidak salah menafsirkan, bila kurang bersih. Sebaliknya, membuatku memahami, karena suara-suara tersebut benar-benar jelas.

Hari ini yang sweet, manis, dan membuatku suka. Masih menikmatinya, dengan ekspresi yang hadir dari dalam diriku. Sehingga, senyumanpun tidak lagi menipis, tapi mengembang. Senyuman yang ku bawa juga ke sini, untuk mengingatkanku pada hari ini. Tentang semua yang ku perhati, lagi.

Memperhatikan suara yang terdengar, memang tidak dengan mata yang terbuka. Namun, mempertajam indera pendengaran, supaya pesan-pesan sampai dengan sempurna. Menyimak, mendeteksi segala pesan yang mungkin bermakna, menghadirkan sepenuh hati, untuknya. Untuk suara-suara yang ku dengar, dari sana.

Lalu, suara-suara apakah yang membuatku tersenyum? Bilang engga, yaa?

***

Aku tersenyum, lagi. Awalnya memang tersenyum. Tapi, lama-lama menitik airmata di pipi. Mulanya karena ada sesuara yang datang dari sana, tanah impian yang kudamba. Huuwwaa? Nangis dech, di kamar mandi. Untunglah aku sedang berada di sana. Bagaimana kalau lagi duduk manis di depan seseorang, kemudian ku tiba-tiba menitikkan airmata? Ini tentu aneh sekali, bukan?

Maka, satu hal yang ku syukuri dalam hari ini adalah, tentang perjalanan waktu. Waktu demi waktu yang ku tempuh, dengan langkah-langkah yang ku ayunkan. Langkah-langkah yang mengajakku ke mana-mana ku ingin menuju. Langkah-langkah yang menepi pada sebuah tempat, kemudian terhenti sejenak. Langkah-langkah yang sempat gegas, lalu melambat. Langkah-langkah yang ingin terus ku ayunkan, memijakkan kaki di tempat-tempat yang selama ini ada dalam impian. Yups! Karena perjalanan waktu terkadang tidak dapat kita prediksi. Tetiba, bersamanya kita sudah ada di sana, atau masih di sini. Tetiba, ia mengajak kita berjumpa dengan orang-orang yang tidak pernah kita bayangkan.

Walaupun pertemuan masih melalui nada suara yang kita simak dengan jelas, tidak mengapa.

Meskipun pertemuan melalui susunan kata yang kita rangkai, boleh juga.

Makanya, jadikan semua sebagai pengingat kita. Supaya masih mau bergerak, melangkah, dan jangan cari-cari alasan untuk berdiam tanpa melakukan apa-apa. Sekalipun melangkahkan kaki setelah duduk begitu lama di sebuah tempat? Bergeraklah, melangkahlah. Hitung-hitung penyegaran lagi. Menyegarkan kaki-kaki yang sudah sekian lama dengan kondisi serupa, bersimpuh, bersila, atau tanpa gerakan sama sekali? Bisa kesemutan, lhoo…

Secuplik suara yang ku dengarkan dengan teliti, begini lebih kurang, “Kalau kita baik dan mau menolong orang lain, maka ada juga orang yang menolong kita. Ini sudah menjadi hukum alam. Maka, jangan pelit-pelit membantu, walau pada orang yang tidak kita kenal sekalipun. Meski pun kecil dan sedikit, berikanlah bantuan dengan senang hati. Sehingga ada yang senang hatinya, selain kita. Ada yang bahagia, seperti kita. Ini akan menjadikan hari-hari kita terasa lebih berarti. Arti yang tidak akan kita peroleh jika tidak melakukannya.” – Suara dari Radio

Oleh karena itu, mudahlah membantu, senanglah memberi. Meski dengan sebaris senyuman yang kita punya. Bagikanlah pada orang-orang yang pantas menerimanya. Tersenyumlah dengan sepenuh hati, bukan senyuman basa-basi atau senyuman pendek dan singkat waktunya. Ini sangat rumit mengartikannya. Ha?

Engkau bilang, asalkan sudah tersenyum, meski sebentar tidak apa-apa? Ini yang ku maksudkan wahai dear me. Lihatlah, bagaimana engkau berekspresi tadi. Saat seseorang datang mendekatimu, laki-laki separuh baya. Beliau bermaksud agar engkau mau menerima penawaran beliau. Tapi engkau bilang, “Makasiii… mau nunggu aja. Iya, engga apa-apa lama. Karena aku sedang tidak buru-buru,” gumammu dalam hati. Engkau melanjutkan tersenyum pada beliau, tapi tidak bilang apa-apa lagi, kecuali hanya tersenyum pada beliau, di antara pertanyaan demi pertanyaan berikutnya yang beliau sampaikan. Masih menawarkan kebaikan.

Hai, jadinya kepikiran, khannn?  Karena sang Bapak ternyata tidak tersenyum hingga di ujung kebersamaan kalian yang hanya sebentar, “Iiih,engkau tega, deh. Ini, ku ingatkan lagi, yaa. Sebaiknya berikanlah alasan yang lebih masuk akal, sehingga beliau bisa memahami, lalu tersenyum meninggalkanmu. Begini, sebaiknya, di waktu-waktu yang akan datang, oke, oke?”

Pada waktu-waktu berikutnya, engkau menawarkan kebaikan pada seorang ibu. Ya, memang beliau yang menyapamu terlebih dahulu. Lalu, beliau mau menerimanya. Nah, betapa senyuman yang engkau berikan ku lihat berbeda. Bertemu dengan orang yang sebelumnya tersenyum singkat, berikutnya tersenyum sampai agak lama, walau melanjutkannya di dalam hati. Tepat, saat engkau menyaksikan senyuman pun menebar pada wajah ibu tersebut. Tuch, khan, ada efek dari senyuman seseorang di depanmu terhadap kelanjutan senyumanmu, bukan?

Engkau mau membaiki seseorang walau dengan senyuman yang engkau punya, berbeda efeknya dengan tidak melakukannya. Ini pelajaran dan pengalaman yang semestinya tidak luput dari perhatianmu. Bukankah engkau mendengarkan sebaris kalimat dari suara dari sana? Entah siapa yang menyampaikannya. Namun, sejak suara tersebut sampai padamu, mengapa hanya engkau dengarkan saja, tidak langsung engkau praktikkan? Bukankah engkau memerlukan latihan untuk menjadi biasa? Ini pesanku untukmu. Pesan yang memungkinkan engkau mengingatkan dirimu sendiri, terlebih dahulu. Untuk memberikan kebaikan pada orang lain, dengan yang terdekat. Ya, bersama wajah yang tersenyum, mereka akan tersenyum juga. Tapi, lagi dan lagi, senyumannya sepenuh hati. Karena setiap senyuman ada artinya. Yang menerima yang memberi arti. Sedangkan engkau, menerima tanggapan balik dari arti yang mereka perhati.

***

Sukses mendapat ceramah dari sekeping hati, atas perhatian yang kami luputkan sebelumnya, menarik ujung bibirku untuk bergerak lagi. Tepat, saat seseorang dan dua orang yang pernah ku temui dan kenali, membersamai beberapa menit waktuku lagi. Beliau adalah bapak-bapak lagi. Ini adalah pertemuan kami yang ke sekian kali. Setelah sebelumnya sempat bertukar kata, bertukar suara, bahkan bersenyuman. Nah, pertemuan lagi dalam kesempatan hari ini, ku sapa beliau seakrab-akrabnya, selayak dua sahabat lama tak jumpa. Beliau pun sama, menyahut sapa bersama senyuman. Lagi dan lagi, ini hanya sepotong episode pertemuan orang-orang di halte, tempat menanti. Beliau sedang menanti tumpangan, sedangkan aku menanti busway. Dan pertemuan kami lagi, sukses mengembangkan senyuman di wajah beliau. Karena beliau mengerti, mengapa aku ada di sana dan tidak memenuhi tawaran beliau, lagi. Masih.

“Baiklah, tidak mengapa. Lagian, buswaynya engga jalan kok. Nanti jam dua baru ber-operasi lagi,” beliau tersenyum sebelum berlalu. Senyuman yang ku senyumi, dan tahu ini becanda, pasti. Selanjutnya, beliau berlalu, berusaha lagi. Semoga banyak rezekinya yaa, Paa. 😀 Ku lepas beliau dengan doa di dalam hati, beliau yang juga membawa senyuman. Senyuman yang asli.

Satu lagi, juga seorang bapak yang juga sudah ku temui beberapa kali di tempat sama. Beliau masih mempunyai profesi sampingan sebagai tukang ojek. Bertemunya kami lagi hari ini, juga menyisakan senyuman di wajah beliau. Apalagi saat ku menyediakan waktu menyimak pemaparan beliau terkait bisnis kecil-kecilan yang beliau usahakan. Yah, beliau berbagi informasi dan pengalaman, bersama senyuman. Dan, sampai pada ujung waktu pertemuan kami, beliau ku lepas dengan senyuman. Karena beliau masih harus meneruskan perjuangan lagi, menjemput rezeki.

“Hati-hati di jalan, Bapak, yaa,” ku lambaikan tangan, seperti beliau melambaikan tangan dan kemudian menjauh pergi membawa senyuman indah yang beliau jaga sejak tadi. Bahkan di awal pertemuan kami lagi. Karena beliau lupa-lupa ingat. Lalu, ku ingatkan beliau lagi, kita pernah berjumpa di sini, berbagi informasi tentang ini, ini dan ini. Hihiii, beliau angguk-angguk, memastikan. Selanjutnya tersenyum, lagi.

“Semoga beliau sehat selalu,” terdengar sebuah suara berbisik olehku.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

3 Comments

    1. 😀 Engga lah, adanya juga mata yang hilang (sekejap) karena senyum, menyipit, tenggelam dan kemudian balik lagi, seiring usainya senyuman. Bagi sebagian orang yang pernah ku lihat, begitu. Tapi, hidungnya masih ada. Jadi, kesimpulannya, kalau banyak senyum enggaaaaaaaaaa menghilangkan hidung. #Ambilcerminmerhatiinhidung

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s