Tentang Kisah yang Hilang

Mungkin engkau berpikir, ada apa ini?

Ini, ada sesuatu. 😀

Aku harus mengakhirinya menjadi tulisan. Agar tidak teringat-ingat lagi atau terbawa-bawa dalam ingatan. Tulisan yang ku mau menjadi pengingat lagi, tepat saat ku ingin mengingat atau teringatkan. Yah, lebih tepatnya begini. Maka, aku datang lagi ke sini, untuk merangkai senyuman. Tersenyum saja. Senyuman penuh makna. Senyuman penuh arti. Karena dari balik senyuman yang tercipta, ada ceritanya tersendiri.

Apakah senyuman manis yang ku berai? Atau senyuman getir yang ku urai? Atau senyuman bahagia yang ku tebar? Atau senyuman pahit yang membuat wajahku kembali mengerut, tepat setelah ia tersenyum.

Pagi-pagi sekali ku sudah merangkai senyuman. Senyuman yang mau ku perhati lagi, setelah ia tercipta. Senyuman yang ku lihat melalui cermin, makanya ku bercermin. Senyuman yang tidak ingin hilang begitu saja, karena ia tersapu angin. Tidak, tidak mau begini, aslinya. Tapi, aku ingin senyuman yang ada lagi dan lagi, tepat saat ku ingin menyaksikannya. Namun dalam kenyataan, ternyata tidak semudah itu. Karena kenyataan ini terkadang pahit. Pyiuuuh!

Uhum. Aku baru saja menerima kenyataan pahit tersebut. Kenyataan yang membuatku harus tersenyum menghadapinya. Senyuman yang membersamai waktu-waktuku berikutnya. Tepat, setelah senyuman tersebut sempat hilang, oleh kenyataan. Kenyataan apakah itu?

Sambil menulis ini, aku kembali tersenyum. Padahal, aku pilu. Bagaimana tidak? Sebuah senyuman yang telah sukses terangkai dengan indah, harus hilang. Karena apa gerangan?

Ia hilang begitu saja, teman. Senyuman yang ku susun sambil tersenyum, tentang perjalanan yang berkesan. Namun, kisah perjalanan tersebut harus ku rangkai kembali saat ini bersama senyuman lagi. Senyuman yang ku rasa berat di wajah, karena ini adalah pengulangan. Yah, mengulang bercerita dan berkisah. Cerita apakah itu? Apakah terlalu penting untuk ku susun lagi menjadi senyuman? Bukankah sudah hilang, yaa, hilang saja? Mengapa mau merangkai lagi? Bukankah lebih baik merangkai catatan dengan tema yang lain saja?

Tidak, aku tidak mau. Karena menurutku, perjalanan ini sangat berkesan dan memesankan. Kisah yang hilang begitu saja, saat ku asyik mengedit-editnya. Entah apa yang terpencet olehku, membuatnya tidak terlihat lagi. Huwwaaa. Menyedihkan sekali, bukan? Kesedihan yang ingin ku sampaikan padamu. Karena ini rasanya berat menjalani. Berat saja, setelah merangkai senyuman, lalu tiba-tiba ia hilang.

Aku sudah tersenyum sejak memulainya, ujung-ujungnya tidak terlihat hasilnya. Sedyiih, kaan?

Ya, sudahlah yaa. Kalau gagal, coba lagi. Bukankah begitu, yang namanya usaha? Bukankah kita tidak boleh menyerah dan putus asa? Barangkali senyuman sebelum ini bukan yang terbaik, kali yaa. Berpikir positif saja, atas kehilangannya.

Ya, karena mungkin engkau belum dapat membaca yang terpikir olehku. Maka, engkau belum memahaminya. Nah, ceritanya, tadi aku merangkai kisah tentang perjalanan. Sudah selesai tulisan awal pasca edit, lalu ku edit dech. Eh, tiba-tiba hilang begitu saja. Seingatku, memang belum tersimpan, buktinya tidak ada terlihat di draft dan ia sudah hilang. Pelajaran pentingnya adalah, sebaiknya tidak langsung menulis di lembar post, untuk merangkai catatan. Atas pengalaman pribadi, sich. Karena terkadang ia bisa hilang begitu saja, lenyap, tanpa bekas. Mungkin karena saat menulis ku tidak terkoneksi baik dengan internet, jadi tidak tersimpan otomatis kapanpun ada perubahan dalam tulisan.

Sudah beberapa kali aku mengalami pengalaman ini. Dulu, pernah sekali. Duluuuu, sekali, telah bertahun-tahun. Rasanya, periih, gitu di hati. Menyadari kenyataan ini. Nah, sempat juga ku rangkai tulisan di post, tapi melalui hape. Hilang juga, tanpa jejak. Padahal, ku sudah merangkai tulisan tersebut penuh senyuman. Senyuman yang ujung-ujungnya berubah jadi keru-tan di kening. Sambil mikir, ada kesalahan apa yaa? Kok bisa hilang gitu aja?

Seakan sudah lupa dengan kepahitan atas kehilangan tersebut, hari ini ku hanya coba-coba aja. Mencoba langsung menulis di lembaran kosong post, lagi. Karena ingin mengulangi kepahitan serupa? Ah, tidak juga.

Tapi, nyatanya, kenyataan lagi khan, dear me. Hiks banget dech. Beneran, mau nangis rasanya. Tapi, walau begitu, aku masih lega. Seraya memikirkan baiknya. Barangkali, catatan sebelumnya tentang perjalanan ini, masih belum terbaik.

Iya, ini lah uneg-unegku atas kehilangan se-buah tulisan yang masih ku edit-edit, ternyata hilang begitu saja. Karena belum tersimpan. Dalam rangka berbagi pengalaman. Semoga, ini pengalaman terakhir. Pengalaman yang semoga menjadi pengalamanmu juga, teman. Sehingga dengan mengetahui hal ini, engkau teringatkan. Pesan pentingnya, yaa, sering-seringlah simpan, sebuah tulisan yang sedang engkau kreasikan, kalau tidak mau kehilangan. Kehilangan yang membuat senyumanmu luntur seketika. Rasanya engga enak. Sungguh dech. But, kalau sudah bukan pengalaman pertama lagi, rasanya biasa saja. Tidak terlalu perih di hati.

Lalu, apanya yang ku pentingkan dari kisah yang hilang tersebut? Sepenting apakah gerangan? Dan apakah ada hikmahnya yang ku petik sepanjang perjalanan? Bagaimana ku melakukan perjalanan tersebut? Ke manakah aku pergi?

Sebenarnya, tidak penting-penting kali. Tapi yang paling penting dari semua adalah orang-orang yang membersamaiku seharian. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah ku sangka, menjadi bagian dari kisah perjalananku. Siapakah mereka?

Aaaa… Sungguh sulit memulainya lagi. Sungguh tidak mudah merangkai tulisan ulang dengan tema sama seperti ini. Namun, aku masih ingin mengingatnya menjadi bagian dari perjalananku. Perjalanan menuju sebuah lokasi.

Mengunjungi lokasi dalam rangka menemani seorang teman. Lokasi yang untuk pertama kalinya ia kunjungi, kalau kami selamat sampai ke tujuan. Lokasi yang bagi kami sudah tidak asing lagi, karena sudah pernah mengunjunginya. Sehingga kesannya biasa saja, ketika berkunjung lagi. Tapi, berbeda baginya. Ia terlihat sangat antusias, bersemangat, membawa harapan, terus bertanya sepanjang perjalanan sembari bercanda, “Masih lama lagi, yaa. Berapa hari lagi? Berapa jam lagi? Kok belum sampai-sampai yaa? Beneran ni, jalannya?”

Walau masih bertanya, ia tetap meneruskan perjalanan. Karena dari suara pemandu yang ia dengar, jalan yang ia pilih sudah tepat. Tinggal melanjutkan, ikuti jalur, patuhi peraturan, dan teruskan saja. Tidak perlu langsung putar arah, kemudian kembali. Dengan konsekuensi, ia tidak akan pernah sampai ke lokasi yang sangat ingin ia kunjungi.

Sangat, ingin sangat ia sampai di lokasi tersebut. Walaupun perjalanan yang kami tempuh hampir lima jam untuk sampai ke sana. Meskipun harus berhenti beberapa kali di perjalanan, berhubung perlu mengisi bahan bakar dan perut kami yang mulai kriuk-kriuk.

Perjalanan melewati jalan berliku, lurus, ada turunan, pendakian, termasuk sedikit jalan berlobang dan juga berkerikil. Namun, lebih banyaknya jalan mulus membentang indah yang terpajang di depan mata. Jalan beraspal dan membuat laju kendaraan yang kami tumpangi meluncur begitu saja. Tidak cepat, namun juga tidak terlalu lambat.

***

Seringkali, kalau menempuh perjalanan, dan aku duduk di samping supir, perhatianku akan tertuju pada speedometer. Dengan begitu ku menjadi tahu, kapan ia berputar ke angka lebih tinggi, kapan juga kembali ke angka lebih rendah. Sibuk saja sendiri, ku memperhati perubahan yang terjadi. Sesekali, ku layangkan pandangan ke depan sana, bila ada pemandangan yang menarik. Selanjutnya, memperhatikan speedometer lagi.

Tidak jarang juga menatap mentari di atas sana, berteman awan gemawan yang berbaris rapi, atau berkumpul dengan sesamanya. Bahkan, tidak jarang mengedarkan pandang ke sisi kiri dan kanan jalan, untuk melihat-lihat pepohonan yang saling berkejaran. Mereka cepat meninggalkan kami, atau kami yang meninggalkan mereka? Terkadang ku berpikir begini.

Perjalanan yang mengingatkanku untuk memaknainya. Seperti halnya kehidupan yang sedang berlangsung, begitu pula dengan kisah yang terlihat di perjalanan. Ada waktunya kendaraan cepat atau melambat, ada masanya berhenti. Bila pengemudi lelah, ia minggir dan kemudian memarkir kendaraan di tempat aman. Kemudian rehat sebentar, untuk melepas lelah. Selanjutnya, ia meneruskan perjalanan lagi. Perjalanan yang tidak sebentar, menyampaikan kami ke tujuan, juga. Perjalanan yang kami lewati dengan selamat, Alhamdulillah.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 Comments

  1. Ma’aaaaaaf….dek ,,gimana kbr…hrus baik pokoknya ya dek!!!…ni dek dia mau cerita sedikit gpp yaaa dek?..begini tentang siapa kamu untk dia dek…adek tu bagi dia sudah seperti adeknya sendiri yg dulu dia pernah bercerita sama adek yg sayangnya melebihi pada diri dia sendiri sama sprti dia menyayangi dua bidadarinya…mau tau gak dek dari diamnya dia kenapa??..setiap manusia punya cara tersendiri bagaimana menyelesaikan masalahnya..entah itu mslh dari sekitar atau pribadi dia…mau tau gak dia untk adek bisa sllu tersenyum???????…..dia gak mau lihat adek ikut merasakan apa yg dia rasa..tidak sama adek doank dia melakukan ini sama org2 terdekatnyapun sama,,,mungkin salah satu sifat buruk ya dek..ma’afin ya dek!!!…tapi tenang aja dek dia bukan org jahat dulu sekali si iya msih darahmuda…aduuuuuuuuh males dia iget2 massa ini rasanya gak ada surga mungkin untk dia krna semua mslh sllu dia akhiri dngn darah…massa hitam bagi dia …dia bismillah-kan semua dgn setoubat-taoubat-nya taoubat setelah ibunya menangis untk dia alhamdulillah sampai skrg sampai punya wife dan dua bidadari rasa syukur tak terbatas padanya(allah)..sang pencipta…gak pa2 ya dek cerita sedikit masalalu hitam dia banyak belajar dia dari masalalunya…baca dgn seksama ya dek ada hikmah yg baik dari cerita ini………INTINYA JGN SLLU BERFIKIR NEGATIF SEBELUM TAHU APA YG AKAN TERJADI KELAK…(ini tentang kasih sayang org tua),,….siapa DIA,,,disini adalah yg menulis…see you tomorrow….my with you smile and welcome smile

    Like

    1. “Guru, jadikan aku muridmu,” pinta seorang murid menyadari siapa dirinya dan orang yang ia hadapi. Aku ingat kalimat ini, dan ingin juga menyampaikannya padamu. Engkau yang belajar banyak dari pengalaman. Karena kita bisa belajar dari siapa saja, bukan?

      Sip, siip.
      Alhamdulillah, kabar ku baik karena harus baik, kan yaa. 😀
      Senang bisa menyimak hikmah dari pengalaman yang engkau bagi melalui cerita, demi kepedulian pada sesama. Semoga tetap teguh dalam perubahan dan pertaubatan, hingga akhirnya.

      Wahai, semoga ibu lebih sering bahagia dengan segala yang ada. Boleh titip senyuman yaa. Senyuman buat ibumu, di sana… 🙂 🙂 🙂

      Terima kasih untuk semuanya, segalanya, yang ‘mungkin’ tak terbalas, namun menjadi kebaikan selamanya.

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s