Terima Kasih Senyumannya

​Selembar uang sepuluh ribu. Dua lembar lima ribuan dan empat lembar dua ribuan. Ia mulai menghitung uang yang ada di tangan. Dua puluh delapan ribu rupiah saja.

Setelah mengetahui jumlah uang yang ada di tangannya, ia tertegun sejenak. Selanjutnya ia pun berpikir dan bertanya. "Apakah yang dapat ia lakukan dengan sejumlah uang ini?"

Sekilas pikiran ibu-ibunya pun kambuh. Apakah akan ia belanjakan keperluan dapur saja? Untuk bahan memasak hari ini? Lalu mengolah menu selezat masakan bunda. Atau ia beli pulsa supaya bisa menghubungi seseorang di sana? Seseorang yang memang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Dan tepat hari ini, ia teringat padanya. Untuk bertanya sekilas kabar di sana? Apabila ada perubahan yang belum ia ketahui darinya? Apakah ada perkembangan terakhir yang luput darinya? Ah! Jelas saja iya. Bukankah mereka sudah lebih setahun belum bersapa lagi? Sejak kepindahannya ke kota ini tahun lalu?

Menit-menit terus melaju. Ia masih berpikir. Terlihat dari posisi duduknya yang belum berubah. Atau bagaimana kalau menggunakannya untuk ongkos perjalanan ke toko buku? Pikir selanjutnya hadir mendekat. Karena ia juga sudah sangat merindukan tempat satu ini. Sudah lama juga ia belum berkunjung lagi. Seingatnya juga dua bulan lalu terakhir ke sana bersama seorang sahabatnya.

Ya.

Ia sedang berhadapan dengan lembaran uang. Lembaran uang yang segitu-gitunya, dan membuatnya bertanya. Bagaimana memanfaatkannya?

Begitulah selalu. Selain berjibaku mengumpul receh diantara waktu dua puluh empat jam sehari yang ia punya, ia juga ingin membelanjakannya. Belanja keperluan atau yang tidak benar-benar perlu. Terkadang memang begitu.

Terus ku perhatikan ia dengan baik. Memberikan perhatian terbaik. Hingga pada jam berikutnya, ia sudah asyik di dapur. Ternyata ia menggunakan uangnya untuk belanja keperluan bahan masakan.

Ia sibuk di dapur selama beberapa puluh menit saja, setelah belanja di pasar sebelumnya.

Hai, apa saja yang berhasil ia beli dan berapa harga masing-masing?

Seikat daun bawang Rp 2.000,-
Dua gulung bihun Rp 2.000,-
Dua puluh butir telur puyuh Rp 6.000,-
Seikat bayam Rp 2.000,-
Seluruh belanja berjumlah Rp 12.000,-
Selanjutnya ia bereksperimen di dapur.

Memasak menu apa hari ini, dear?

Sempat ku menanya padanya. Pertanyaan yang tidak ia jawab dengan suara, hanya tersenyum padaku. Senyuman yang sejak tadi pun sudah membersamainya menghiasi waktu demi waktu. Senyuman khasnya yang sangat ku kenal. Kami pun bersenyuman. Tepat saat ku membalas senyumannya.

Selesai memasak menu ala-ala dia, ia mengajakku menikmatinya. Menu makan siang di akhir pekan yang panjang.

Karena seharian tersebut bertepatan hari libur, kami tidak ke mana-mana. Namun menerima kunjungan beberapa orang temannya ke tempat kami. Teman-teman yang membersamai kami dengan senyuman terbaik. Senyuman yang menempel di hati-hati kami, meskipun mereka sudah berangkat lagi.

Terima kasih teman dan temannya teman, atas senyuman yang engkau bawa. Lalu membaginya padaku. Selamat berjumpa lagi pada waktu dan kesempatan terbaik berikutnya, yaa.

***

Rangkaian kalimat di atas adalah update informasiku tentang seorang anak kost. Anak kost yang menjadi bagian dari kehidupanku juga. Anak kost yang ku ketahui liku-liku perjalanannya. Dan saat ini adalah episode ke-dua nge-kost baginya. Setelah sebelumnya sempat terhenti sejenak, dalam rangka pulang kampung. Namun, kesempatan kedua ada, untuk ia manfatkan dengan baik. Karena baginya, tidak ada yang sia-sia. Pasti ada hikmahnya, untuk menjadi kisah dan cerita.

Bercerita tentang anak kost, aku juga menjalaninya pada beberapa bagian episode hidupku. Sampai saat ini juga. Menjadi anak kost dengan suka dukanya.

Mengenang semua mampu mengubah-ubah ekspresi seketika. Apakah teriris rasa, terluka, atau terlonjak gembira bahagia. Semua, ada ceritanya.

Cerita tentang indahnya kebersamaan dengan sesama anak kost lainnya yang mensenyumkan. Cerita tentang kepergian mereka karena sudah tidak nge-kost lagi. Cerita tentang bahagia dan sukanya, cerita tentang duka dan kesedihannya.

Ah, cukup sudah, mengurai pilu. Sekarang saatnya mengunduh haru. Terharu karena suasananya berubah.

Dulu, dulu, masa-masa ngekost, aku suka tersedu. Namun berharap berteman senyuman dalam waktu-waktu. Lalu, ku rangkai senyuman menjalani hari, walau masih impian.

Sekarang, sekarang, masa-masa ngekost (lagi), aku suka tersenyum. Membersamai teman-teman yang terkadang sendu. Mengajaknya tersenyum, membagi beberapa rangkai pengalaman. Mengajaknya menikmati rindu, membagi beberapa titik pengetahuan. Memberinya kekuatan, berbagi kebahagiaan. Supaya hari-hari berat yang mereka lalui, menjadi lebih ringan, dengan kebersamaan.

Sebuah keadaan ku perhati, pada akhir pekan yang memesankan.Keadaan yang mengingatkanku pada masa-masa ngekost, saat jauh di sana. Sekarang, nuansanya terasa berbeda. Karena episode ngekostku lebih dekat dengan kampung halaman. Walaupun masih ngekost juga.

Dulu jauh, sekarang lebih dekat

Kini bisa belajar masak-masak. Dulu, dulu, mana ada. Sukaku jalan-jalan.

Pesan dan Kesanku sebagai anak kost : "Kita bisa saja kehabisan uang pada hari-hari tertentu, namun tidak akan kehabisan makanan bila mempunyai teman yang mensenyumkan."[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

5 thoughts on “Terima Kasih Senyumannya

  1. Eaaahhh…
    Rezeki tak hanua berupa uang, teman sejati adalah rezeki yang tak ternilai dngan jutaan uang sekalipun

    Liked by 1 person

    1. Iyup, Mas Nur, betul, betul sekali. 😀 Apalagi teman yang suka sekali bagi-bagi rezeki, hihii.

      Like

  2. Uni, bagi duit. Eh 😂😂😂
    Email maksudnya 😂😂😂

    Liked by 1 person

  3. Ini sisanya untuk belanja sampai akhir bulan, Dije.
    Tapi demi Dije boleh lah, dua ribu adja, cukup yaa, yaa. (senyum,senyum please) 🙂

    Opsss 😀 kalau email ini yaa -> maryasuryaniatgmaildotcom

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close