Mari Kita Merenung Sejenak

Mari kita merenung sejenak. Merenung untuk mengingat. Mengingat untuk mengenang. 

***

Kenangan adalah bagian dari ingatan. Ingatan dari masa depan, terhadap hari ini yang kita jalani. Ingatan hari ini, terhadap hari-hari yang telah kita lalui.

Apakah kenangan membuat kita tersenyum saat mengingatnya, atau sebaliknya? Apakah kenangan tersebut masih ingin kita ingat lagi, atau tidak? Namun pastinya, kenangan adalah bagian dari ingatan.

Menitip kenangan pada masa depan tentang hari ini yang kami jalani, aku kembali lagi. Kembali merangkai senyuman, sebaik yang dapat ku usahai. Merangkai senyuman terbaik, lebih indah, mudah dan meriah. Merangkai senyuman untuk mengembalikan ingatanku pada mereka yang ku bersamai, sepanjang hari ini. Untuk menjadi jalan kembalikan ingatan lagi, di hari nanti. Siapakah mereka?

Mereka adalah orang-orang penting yang ku bersamai. Penting karena ada-ada saja yang membuatku mementingkan mereka, sepanjang kebersamaan kami. Dengan memperhatikan, ya, memberikan perhatian.

Apakah saat kami sedang bertukar suara, atau sekadar ku amati saja. Apakah kami berdekatan, atau berjarak raga tidak sedepa. Namun, adanya perhatian dapat mengalihkanku dari aktivitas. Aku menghentikannya sejenak, karena perlu memberikan perhatian lebih, pada mereka. Siapakah mereka?

Mereka adalah selain diriku. Mereka yang berkontribusi dalam perjalanan hidupku. Mereka yang sangat berarti bagiku. Karena ada-ada saja pesan tersirat yang mereka suarakan dan terdengar olehku. Pesan yang  sampai ke indera pendengarkanku. Sehingga ada makna kehadiran mereka dalam waktuku. Makanya, ku ingin mengingat-ingat lagi pesan penting tersebut. Supaya teringatkan lagi, pada suatu waktu yang akan datang. Pesan yang akan menjadi kenangan indah, sekaligus mengingatkanku pada beliau yang mengucapkannya. Sedangkan suara beliau saat mengalirkan pesan penting tersebut, akan terngiang-ngiang lagi olehku. Sekalipun beliau sudah tiada. Meskipun kami tidak dapat bertemu tatap lagi. Seperti hari ini.

Kami sedang duduk melingkar, aku sebagai pengamat (lagi). Mengamati sekitar, memperhatikan dengan pendengaran. Karena tidak selalu memperhatikan dengan pandangan.

Beliau sedang bercakap dengan yang lainnya. Aku, hanya menjadi pendengar yang baik, menyimak, memperhati. Karena aku sedang bercermin, merapikan wajah yang sedari tadi ‘mungkin’ mengerut dan belum tersenyum. Bercermin untuk melenturkan pipi yang ‘barangkali’ kaku dan tidak dapat berekspresi. Bercermin untuk memperhati sorot mata sambil menanya, “Apakah ia bersinar?” Saat ku melihat bersamanya, apakah yang teringat olehku? Bercermin untuk memperhati wajah yang tersenyum, akhirnya. Sangat sibuk ku menanya diri sepanjang ku perhati ia melalui cermin yang ada di depanku. Pertanyaan demi pertanyaan yang ia pikirkan.

Aku sudah bercermin sejak beberapa menit yang lalu. Aktivitas yang ku lakukan untuk mendeteksi wajahku sendiri. Aktivitas yang kemudian terhenti. Berhenti seketika. Karena aku  ingin memperhatikan benar-benar. Seketika. Saat beliau sampai pada kalimat berikut :

Ini satu hal yang perlu kita pahami, kita syukuri dan kita jadikan bahan perenungan. Mari kita perhatikan yang terdekat di sini, saat ini. Kalau perempuan, ibu-ibu, walau bagaimana pun sibuknya mereka, dengan pekerjaan demi pekerjaan yang harus mereka selesaikan, satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita, masih terpikirkan oleh mereka. Seperti ini, masih tersedia cemilan di meja, walau seadanya. Masih ada minuman tersedia. Padahal kita? Tidak terpikirkan untuk menyediakannya. Saya tepatnya.  Makanya, satu nikmat penting yang perlu terus kita syukuri adalah peran perempuan.

Namun masih saja ada di antara kita yang belum mensyukuri peran perempuan dalam keseharian. Barangkali karena terlupa atau memang tidak terpikir oleh kita. Tentang bagaimana ia / perempuan / kaum ibu / berpikir memutar otak, untuk masih dapat menyediakan menu makanan hari ini. Bagaimana ia berjuang mengolah menu yang ada setelah terpikirkan. Supaya enak dan disukai oleh anggota keluarga. Kita tidak memikirkannya.

Bagaimana pengorbanannya selama di rumah, saat kita tidak ada. Kita yang beralasan sedang menjemput rezeki untuk menafkahinya. Lalu, bisa saja, kembali ke rumah dan menemukan ada sesudut rumah yang ‘mungkin’ saja belum beres dan terperhatikan oleh kita, mudah saja bilang begini, misalnya, “Ngapain aja kau di rumah seharian tadi? Tanpa memerhati, ada lagi aktivitas-aktivitas di sekitar rumah yang ia lakukan, namun luput dari perhatian kita.”

Padahal, kalau kita menyadari, perjuangannya tidak mungkin dapat kita gantikan. Perannya tidak dapat kita samakan dengan peran kita. Pengorbanannya, waktunya, adakah kita menghargai?

“Makanya, surga itu di telapak kaki ibu,” beliau melengkapi sambil tersenyum. Sekilas sambil memandangku yang beliau sadari sejak tadi memperhatikan.

Terlihat lawan bicara beliau, mengerti. Lalu bilang begini, “Iya, aku juga memperhati, bagaimana pemikiran perempuan bekerja. Bagaimana ia memutar otak, misalnya pada suatu hari, kami ke pasar untuk berbelanja. Ia mau belanja cabe hijau dan cabe merah. Sudah jelas ada dua warna cabe berdekatan di tempat pertama. Namun, ia beli cabe merah saja di tempat tersebut. Sedangkan cabe hijau belinya di tempat lain. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Ku perhati, apa alasannya tidak langsung beli sekalian. Padahal cabe-cabe aja, pikirku begitu. Tapi, yang namanya perempuan, tidak begitu. Mereka jeli dan teliti. Mereka tahu yang bagus dan tidak. Mereka bisa membedakan. Karena cabe hijau di tempat pertama kurang bagus, maka ia mencari yang lainnya dan lebih bagus. Begitu salah satu yang ku perhati, dari aktivitas belanja istriku di pasar.” Sambil geleng-geleng, beliau tersenyum.

Sejenak setelah beliau mengingat uneg-uneg tentang pengalaman menemani istri belanja di pasar. Ini kenangan yang beliau bawa, beliau ingat. Lalu beliau beraikan, ketika kesempatan untuk menyampaikannya tiba. Inilah waktunya, ketika dua orang Bapak sedang sharing ingatan terkait perempuan.

***

Percakapan  di atas adalah suara dari ruang hati dua orang laki-laki yang sempat ku perhati. Seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut. Sedangkan satu orang lagi masih muda. Keduanya mempunyai pandangan tersendiri tentang perempuan dalam pikirnya. Beliau berdua saling mengeluarkan suara tentang perempuan. Perempuan yang menjadi bagian dari hari-hari beliau.

Lalu, aku sebagai perempuan, sempat mensenyumi. Tersenyum saja, bersama kenangan dan ingatan yang ku bawa. Ingatan demi ingatan pun bertaburan di kepala. Ku mengenang para perempuan yang bercerita denganku. Perempuan-perempuan yang berbagi terkait aktivitasnya sebagai seorang istri, ibu, bahkan sekaligus ibu, istri dan pencari nafkah dalam keluarga. Kenangan demi kenangan yang menitipkan sendu di hatiku, lalu menetes airmata di pipi. Tepatnya saat mengingat kisah seorang ibu yang bekerja untuk keluarganya. Ah! Sungguh, berat perjuangan beliau. Walau berat, beliau masih mengembannya.

Termasuk juga ingatan dan kenangan pada ibu. Ibu yang sering berbagi padaku terkait perempuan lebih dalam. Ibu yang memberaikan tentang kesan, pesan, juga pengalaman beliau sepanjang waktu. Sejak ku belum ada, masa kecil, remaja, hingga hari-hari kami berjarak raga tidak lagi sedepa. Ku kenang semua, ku perhatikan lagi. Kemudian, ku kaitkan dengan sebuah pesan penting yang sempat hadir untuk ku hari ini.

“Betul, betul, ku membenarkan yang beliau sampaikan. Bahwa menjadi perempuan, terlihat sederhana. Apalagi ibu yang tidak bekerja di luar rumah, namun menjadi ibu rumah tangga. Peran beliau sungguh luar biasa. Banyak pekerjaan yang beliau lakukan, sedikit-sedikit, namun tidak habis-habisnya. Ada lagi dan lagi di dalam rumah tangga. Ha!”

“Menjadi perempuan, apalagi sudah ibu-ibu, harus dan kudu pintar-pintar. Supaya tercukupi segalanya, dengan yang ada. Agar terpenuhi kebutuhan, dan cukup. Mesti giat dan rajin mencari ilmu dan pengetahuan, bagaimana menjadi ibu yang baik. Saat anak ga mau makan, mungkin ia sedang bosan dengan makanan yang itu lagi. Seorang ibu mesti pintar mendeteksi, bagaimana menemukan solusi, hingga anak bisa makan lagi. Menjadi ibu harus kreatif, sabar, pandai membagi waktu dan terus belajar. Harus cekatan dan gesit. Apalagi saat sudah mempunyai anak,” begini barisan pesan yang ku ingat, dari seorang perempuan yang berbagi uneg-unegnya sepanjang menjadi ibu.

Ibu muda dengan segala problematikanya dan keriuhannya. Ibu muda yang juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ibu muda yang ku simak pesan-pesannya karena berharga. Pesan-pesan yang akan ku jadikan kenangan saat kami berjarak lagi. Ketika itu, ingatan pada beliau juga menghampiri. Aku ingat, karena beliau pernah berpesan penting, padaku.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close