Memaknai Perjalanan

“Perjalanan ada, agar kita mau memetik makna.  Dari tempat yang kita kunjungi atau orang-orang yang kita temui, maupun keadaan yang kita alami.”

***

“Asyiik, bisa jalan-jalan lagi.” 😀

Jalan-jalan lagi, berarti bertemu orang baru berikutnya. Jalan-jalan berarti menempuh perjalanan lebih jauh lagi. Jalan-jalan lagi berarti menemukan inspirasi dari orang-orang baru yang ku temui. Jalan-jalan lagi berarti siap menjadi pemerhati saat seseorang berbicara padaku. Jalan-jalan lagi berarti mengumpulkan ingatan demi ingatan, saat belum bisa mencatatnya langsung. Jalan-jalan lagi berarti meneruskan perjalanan sampai tujuan. Jalan-jalan lagi berarti menitipmu sebaris senyuman.

Jalan-jalan lagi berarti aku masih ada untuk menyapamu, teman.  🙂

Hari ini, bisa jalan-jalan lagi, aku senang. Senang dan bahagia saja, rasanya. Karena ini adalah kesempatan yang ku manfaatkan sebaik-baiknya. Ini adalah waktu luang yang ku pergunakan sebagaimana mestinya. Ini adalah nikmat waktu yang ku bersamai dalam kehidupan. Ini adalah sebentuk hadiah yang Allah beri, untuk ku buka, lagi. Entah seperti apa isinya, aku belum tahu sebelum melihat langsung, mengalami, memperhati, bahkan menjadi lebih dekat dengannya.

Yah, hari ini adalah hadiah termewah yang ku syukuri, lagi.

Alhamdulillah,  syukur dan bahagia ini ingin ku bagi lagi. Membaginya dengan cara yang ku mampu lakukan. Berbagi dengan upaya yang dapat ku usahakan. Berbagi apa saja yang bisa ku bagi. Berbagi tentang siapa saja yang ku ingin abadikan dalam ingatan. Sehingga, tepat saat sebuah catatan lagi hadir, aku teringat dengan orang-orang yang ku bersamai. Berbagi untuk mensenyumkan diri ini kembali, setelah senyuman itu terhenti sejenak. Berbagi senyuman lagi, saat kami sudah harus berpisah setelah menghiasi waktu-waktu bersama. Berbagi untuk membuat hari ini menjadi berseri-seri ku jalani. Berbagi, untuk menitipkan kesan, pesan dan kenangan terbaik tentang hari ini yang ku tempuh.

Iya, aku lakukan semua ini demi cinta yang ada. Cinta yang ku terima dari orang-orang yang ku temui. Cinta yang ku rasakan indah dan menarik. Cinta yang ku peroleh dari mereka tanpa alasan. Cinta yang mereka beri tanpa ku minta, namun semua ada. Iya, aku bisa saja terharu saat mengingati lagi. Aku bisa saja sendu saat mengingati kemudian. Aku bisa saja bahagia lagi dan lagi. Aku bisa saja tersenyum lagi, seperti ini. Mengingat cinta demi cinta yang ku terima, lalu ku rasa-rasa, kemudian ingin ku bagi.

Di sini, sebuah kesempatan lagi untuk berbagi. Hari ini, masih ada waktu untuk ku jalani. Sedangkan pertemuan kita saat ini, ku ingin lebih berarti. Bukan tanpa makna, ya, makanya ku rela kembali lagi. Demi menjemput manfaat, menebarkannya juga. Demi memperoleh ingatan lagi, dengan memberi ingatan juga.

Esok hari kita belum tahu masih ada di bumi ini, untuk melangkah lagi meneruskan perjalanan hidup. Karena bisa saja kesempatan hidup kita sudah tiada lagi, wallahu a’lam bish shawab. Esok hari kita tidak tahu akan berada di mana, meneruskan perjalanan hidup ini. Karena bisa jadi kita sudah berada di kota berbeda dalam waktu lama, mungkin terjadi.

Meski pun demikian, kita masih bisa menyusun rencana terbaik untuk kita lakukan. Rencana yang mendekatkan kita pada harapan terbaik. Rencana yang kita susun sedemikian rupa. Rencana yang kita jadualkan untuk mengingatkan kita agar bergerak sesuai rencana.

Hari ini kita bisa merencana dan menyusun jadual yang akan kita lakukan esok. Sedangkan hari ini kita melakukan rencana yang telah kita susun pada hari-hari sebelumnya.

Sekalipun kita sudah merencana sangat matang, ada kala kita menjalani keadaan di luar rencana yang kita susun sebelumnya. Tidak maukah kita menjalani? Bersikukuhkah kita dengan rencana yang kita miliki? Padahal, ada kebaikan yang akan kita temui, saat melakukannya. Sekalipun tidak ada dalam list rencana kita. Karena segala yang kita alami, kita jalani, tanpa kita prediksi, ada di dalam rencana-Nya.

Iya, sehingga kita bisa bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah kita rencanai. Kita sampai di tempat-tempat yang tidak kita rencana sebelum ini. Kemudian, terbitlah ingatan lagi, pada Allah yang menguasai perjalanan kita. Apakah kita mengembalikan ingatan kepada-Nya lebih mudah? Baik saat bertemu kesukaan atau yang tidak kita sukai?

Tandai lagi, di mana kita sempat terlupa. Tandai juga, di mana kita bisa ingat. Tandai titik-titik yang perlu menterjagakan kita. Tandai juga ekspresi yang membuat kita berbinar ceria. Tandai wajah-wajah yang kita suka. Tandai kata-kata yang tidak kita sangka. Tandai saja, untuk menjadi sekelumit inspirasi. Bila kita tidak bisa mencatatnya langsung. Karena sedang memberi perhatian, atau memang keadaan tidak memungkinkan. Tandai saja intinya. Ingat satu kata tentangnya. Lukis sebuah gambar tentangnya. Begini yang ku coba untuk bisa mengingat pesan-pesan penting dan wajah-wajah yang ingin ku kenang.

Aha! Tentang perjalanan, kita bisa menandainya begini:

  1. Karyawan Administrasi
  2. Penjahit Gorden dan Selimut
  3. Sosial Worker

Orang-orang baru yang ku temui kali ini, melakukan tiga profesi di atas dalam kesehariannya. Mereka adalah tiga orang yang berbeda. Ku urutkan sesuai waktu kami bertemu.

  1. Karyawan Administrasi

Aku melihatnya dari arah belakang, untuk pertama kali. Karena pada saat itu kami masih berjauhan. Selanjutnya, dari arah samping, setelah aku mendekatinya. Ketika ku sedang melanjutkan perjalanan, jalan-jalan lagi hari ini. Jalan-jalan yang menyampaikanku hingga kami berdekatan. Aku tertarik saja untuk mendekat padanya, karena di sebelahnya ada sebuah kursi kosong. Sedangkan ia yang ku perhati dari kejauhan, sedang duduk. Duduk-duduk sendiri, sepertinya sedang menanti.

Setelah duduk di kursi kosong yang tersedia di sebelahnya, aku sempat melirik sekitar. Lirikan sekilas, lalu menghentikan pandang padanya. Iya, beberapa detik ku memperhatikan wajahnya, meski hanya dari samping. Sehingga yang terlihat olehku hanya sebelah kiri hidungnya, pipi kiri dan bulu mata yang bergerak seiring kedipan matanya. Aku suka memandangnya, karena ia menarik. Aku tertarik, karena ia cantik. Seorang perempuan manis yang tampaknya baik. Ia merasa kuperhati, lalu menoleh padaku. Tepat saat itu, wajahku mencerah, ku senyumi ia. Ia pun sama. Kami bersenyuman. Berikutnya, aku pun bertanya padanya, karena ia sedang tidak ada kesibukkan apa-apa. Hanya duduk, menunggu. Ada keperluan apakah ia ada di sini? Tanpa merasa terganggu oleh tanyaku, ia pun memberikan jawaban. Jawaban sederhana, namun jelas. Dengan suara pelan namun terdeteksi oleh indera pendengaranku.

Menit-menit berikutnya, kami sudah akrab. Aku bertanya, ia menjawab. Kami bercakap-cakap dan bertukar informasi terkait aktivitas kami masing-masing. Percakapan yang kami selingi dengan senyuman demi senyuman, sesekali tertawa kecil. Karena banyak orang di sekitar, terkadang kami berbicara sedikit berbisik.

Ada-ada saja topic yang kami perbincangkan, setelah satu topic berakhir. Ada saja yang mengajakku untuk bertanya lagi padanya, setelah ia menjelaskan sesuatu. Ada juga yang ia tanya padaku, tepat setelah ku berai jawaban setelah ia bertanya padaku. Perbincangan kami, menyelipkan sebuah ingatan padaku, tentang pertemuan, kebersamaan dan perpisahan. Tiga hal yang saling beriringan, datang dan pergi lagi. Ingatan yang menyegarkan senyuman di sepanjang kebersamaan.

Kebersamaan kami harus sampai pada ujungnya hari ini. Sehingga kami harus sudah berjarak lagi. Pertemuan sebentar saja, namun menitipku sebuah kesan, ia suka. Yah, ia suka perbincangan kami. Begitu pula denganku. Buktinya, beberapa saat sebelum kami berpisah, kami masih sempat bersenyuman lagi. Senyuman pertemuan, sekaligus perpisahan. Senyuman bahagia, atas kebersamaan yang membuat kami bahagia. Bahagia, karena bisa bertukar cerita, berbagi pengalaman, termasuk saling mengingatkan. Inti kesan yang ku petik adalah, “Di manapun kita berada, rupa-rupa hari sama saja. Ada suka dan ada duka yang kita temui. Ada saja orang-orang yang mengira kehidupan orang lain lebih senang darinya. Padahal ia tidak mengetahui, orang lain yang ia kira senang-senang saja, juga ada ketidaksenangan yang ia rasa. Namun perbedaanya ada pada sikap menjalani. Ada orang yang bersyukur, sehingga tenang menempuh waktu. Ada juga yang mengeluh, sehingga ketidaktenangan yang ia bagi. Ia, intinya sama saja.

“Di tempat kakak, juga ada yang mau menjalani profesi menjadi kakak, karena ia bilang profesi kakak terlihat senang. Padahal ia tidak tahu, ada apa di dalamnya? Bagaimana kesibukkan yang kakak jalani? Apa saja yang perlu kakak selesaikan dalam sehari? Ia yang tidak mengerti, tidak mungkin mengetahui. Lalu kakak bilang begini, “Okelah, kita tukar profesi. Engkau bagian administrasi, aku di bagian masak atau cuci piring. Ayo, kita tukar profesi, dan buktikan sendiri nuansanya. Mau?” begini beliau berbagi tentang uneg-uneg yang beliau miliki.

Beliau adalah seorang istri. “Istri bekerja, suami juga. Kalau dikalkulasi, pendapatan yang kami terima dan hitung-hitung pengeluarannya, di sana juga sampainya. Maksudnya, tiada kelebihan materi sangat banyak, dengan adanya istri ikut bekerja. Nah, saat ini kakak bekerja dengan izin suami.”

  1. Penjahit Gorden dan Selimut

Beliau adalah orang kedua yang ku bersamai beberapa puluh menit berikutnya. Tepat setelah kakak karyawan administrasi berlalu dari hadapan. Tepat setelah kami berpamitan, kursi  kosong yang beliau duduki langsung ada pengganti. Ya, penggantinya adalah beliau, seorang ibu-ibu muda yang berprofesi sehari-hari sebagai penjahit gorden dan selimut. Beliau menjelaskan padaku, saat terlintas dalam ingatanku bertanya kesibukan beliau setiap hari.

“Engga ada karyawan, ibu sendiri. Iya, untuk usaha sampingan saja, di rumah,” jelas beliau saat ku bertanya bagaimana kondisi usaha yang beliau lakukan tersebut.

Sebelumnya kami juga berbincang akrab. Awal percakapan bermula sejak beliau duduk di sebelahku, lalu tersenyum dan menyapaku terlebih dahulu. Beliau membawa senyuman dan wajah berseri. Senyuman ringan yang sering beliau bagi, sepanjang kebersamaan kami. Senyuman yang ku lirik-lirik lagi, saat kami bertukar suara. Senyuman bersama tanya yang ku berai, untuk beliau specially. Sedangkan beliau, memberiku jawaban sepenuh hati.

Untuk sebuah keperluan, kami bertemu di satu tempat yang sama. Untuk mengembalikan ingatan pada diri ini, kami bersapa walau untuk pertama kali. Untuk menitipkan pesan, beliau menjadi bagian dari hari iniku. Untuk ku ingat lagi kebersamaan kami, maka ku titip pesan hari ini. Tentang beliau yang membersamai, sehingga kami bisa bersenyuman. Senyuman perkenalan, kebersamaan sekaligus perpisahan dalam waktu berdekatan. Karena belum tentu kami bisa bersua lagi dalam waktu dekat. Namun, beliau dekat dalam ingatan, dengan senyuman yang beliau bagikan. Aku ingat garis-garis wajah beliau terbentuk saat tersenyum. Bagaimana dua mata beliau menyipit dan memancarkan sinar cemerlangnya sambil beliau bicara dan masih tersenyum.

  1. Sosial Worker

Dia berikutnya yang bercakap denganku adalah seorang social worker. Pertemuan kami juga tidak ku sangka. Kami awalnya tidak berdekatan. Tapi, karena tertakdir bertemu dan bersapa, ku mendekati lokasi yang ternyata ada dia.

Dia pribadi ramah, energik, dan sopan. Bersama senyuman yang ia rangkai pada wajah, menyapaku lebih dahulu. Padahal saat itu aku sedang duduk membelakanginya. Aku tidak mengetahui siapa ia sebelumnya, selamanya, kalau ia tidak memperkenalkan diri padaku lebih awal. Kami tidak akan pernah bicara, kalau saja ia tidak menyapaku. Aku tidak mengetahui dia yang duduk di kursi belakangku, akan menyapaku.

Awal datang ke lokasi ia berada, aku mengambil posisi di kursi kosong yang tersedia. Lalu duduk manis, menunggu antrian. Sambil menyimak sisa antrian tersisa, melalui suara yang terdengar. Aku masih harus menunggu beberapa antrian lagi, tepat saat ia menyapaku.

“Kak, kakakkkk… yang di depan, boleh bicara sebentar?” sapanya mengakrabiku.

Padahal kami belum pernah bertemu. Padahal kami belum pernah bersapa. Aku awalnya tidak menyadari kalau ia menyapaku. Namun, sedikit ku perjelas pendengaran, lalu merasa sapaan itu untukku. Karena lama-lama suara tersebut mendekat padaku. Ini jelas tidak ku perkirakan.

Kalau sudah tertakdir bertemu, ya bertemu. Meski di manapun, kapanpun, apakah kita berencana, atau tergerak kita untuk melangkah hingga berjumpa yang tertakdir untuk kita. Begitulah. Pertemuan kami juga, menitipkan pesan penting di hatiku.

Teringat-ingat dengan rencana, teringat-ingat juga dengan kenyataan yang ku jumpa dan menjalaninya. Semua, pasti ada yang mengatur sedemikian rupa, sangat rapi jali nan terdata lengkap. Sungguh, sering ku terharu mengingat semua. Atas pertemuan yang menyisakan kesan terindah, atas kebersamaan yang membuat senyuman menebar lagi. Termasuk adanya jarak yang membuat kami kembali berjauhan.

Yah, yang tersisa adalah kenangan, saat kita sudah berjauhan. Yang teringat adalah senyuman, saat kita harus berjarak. Yang terukir dalam ingatan adalah pertemuan, saat kita belum bersama. Begitulah, semua yang kita temui ada makna, mengandung arti di dalamnya. Supaya kita mengerti, semua sudah tertulis rapi. Kita hanya menjalani, terlepas dari rencana-rencana yang kita susun sedemikian rupa. Rencana-rencana yang akan kita jalankan.

Apabila yang kita jalani memang benar sesuai rencana, senyumilah.

Apabila yang kita jalani tidak sesuai rencana, senyumilah.

Karena ada makna di dalam berbagai situasi, keadaan dan peristiwa yang kita temui.

Tanpa kita sadari atau menyadarinya.

Tanpa kita sukai atau menyukainya.

Semoga dapat menjadi jalan kembalikan ingatan kita kepada-Nya, lebih sering lagi, lebih mudah.

Agar, hari-hari ke depannya dapat kita jemput dengan senyuman berseri. Senyuman yang kita tata hari ini. Senyuman yang menjadi bukti bahwa kita mensyukuri nikmat sehat, waktu luang dan hidup sebelum akhir usia menyapa diri. Semoga, kita menjadi lebih semangat menempuh hari, dengan tidak melupakan, ada rencana-Nya yang lebih indah untuk kita jalani, saat sesuatu terjadi di luar rencana.

Mari, kita melangkah lagi, meneruskan perjalanan di bumi. Menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kita pada tujuan. Tujuan yang sudah kita temui atau masih jauh di sana. Mari. Yuk.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close