Apakah yang Engkau Amati?

Hai, teman. Selamat datang kembali di tempat persinggahan kita. Tempat engkau dan aku bersua, bertemu, bercengkerama, lalu menikmati menu yang ada. Apakah suka atau tidak, tergantung selera kita-kita. Bukankah begitu, yaa?

Aku senang, kita kembali berjumpa hari ini. Pertemuan, tanpa tatap mata. Walau begitu, ku yakin, engkau di sana sedang memperhati. Seperti halnya perhatian yang ku beri, saat menghias ruang maya ini.

Ya, kita berjumpa lagi di sini. Engkau menemuiku dan aku menyambutmu. Atau engkau datang lalu intip-intip saja dan tidak masuk lalu pergi lagi? Atau engkau sempat menyapa, kemudian pulang lagi sebelum ku sapa balik? Sehingga suaraku belum sampai padamu?

Apakah engkau melihat-lihat dari kejauhan saja. Karena belum sempat membuka suara segera, namun berencana mengunjunginya suatu hari setelah hari ini?

Iya, seperti sinar mentari engkau menyelinap melalui celah-celah kecil dan menerangi sampai ke sudut-sudut ruangannya. Sehingga engkau yang membawa sinarmu terlihat olehku. Lalu, ku ikuti sinar terbaikmu. Kemudian ku temukan juga ujungnya, di sana. Rupanya engkau memiliki tempat bersinggah juga. Terkadang, tidak sampai ke ujungnya aku mengikutimu, sinarmu sudah tidak terlihat. Ini berarti aku kehilanganmu. Karena sudah tidak terdeteksi lagi, ke mana engkau pergi? 😀  Ini tidak jarang ku alami. Sebagaimana yang ku alami, engkau bisa saja mengalaminya, bukan?

Terkadang, ku lirik-lirik ruangan mayamu yang sering engkau hias dan rapikan juga. Sesaat setelah ku berkunjung ke tempat seseorang. Engkau yang menjadi tetangganya. Tapi, aku tidak mampir di tempatmu, pada hari yang sama. Namun baru ku tandai saja alamatnya. Supaya ku dapat mengunjungi lain waktu. Tidak seperti beliau yang ku kunjungi dan sapa, aku memperlakukanmu. Begitulah terkadang.

Karena masih ada yang harus dan mesti ku lakukan, dalam waktu-waktu berikutnya. Sehingga tidak bisa lama-lama main-main di sini atau mampir ke tempatmu, engkau, dia, mereka di sana. Namun percayalah, dalam kesempatan terbaik ku berkunjung dan menyapamu, juga. Semoga aku pun sampai di sana ya, di mana-mana engkau berada. Seperti engkau yang sampai di sini, saat ini, dari mana-mana saja engkau datang?

Saat ini ku kembali ke di sini. Ruang yang ku singgahi dan bercerita apa saja. Terkadang berbincang dengan diri sendiri. Terkadang, menorehkan pikir-pikir yang hadir dan ku pigura. Lalu menggantungnya di dinding. Nah, saat engkau berkunjung pada suatu hari, lalu memperhati pigura-pigura yang ku pajang, ada yang engkau sukai, ada juga yang belum terperhati.

Tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya, hari ini ada pigura yang baru ku pasang lagi. Inilah dia. Isinya tentang hasil pengamatan. Setelah mengamati fenomena yang terjadi di sekitar. Fenomena yang sering ku perhati, mau ku bagi juga. Untuk menjadi pengingat diri, mengingatkan diri lagi. Tentang segala yang ku sukai saat orang lain melakukannya padaku. Apakah ku memulainya dari diri sendiri? Tentang segala yang tidak ku sukai saat orang lain melakukannya padaku, bagaimana ku menyikapi?

***

Pada suatu kesempatan, aku mengamati. Ya, terkadang ku menjadi pengamat cantik. 

Ia tidak bicara padaku. Begitupun denganku. Aku tidak bicara dengannya. Ini berlangsung menit-menit berikutnya. Setelah kami berjumpa dan bersapa. Pertemuan pertama yang ku jadikan sebagai kenangan lagi, tentang kami. Kami yang baru pertama kali berjumpa di dunia. Pertemuan pada pagi hari nan sahaja.

Dia di sana, asyik dengan alat komunikasinya. Sedangkan aku memperhatikan. Jarak kami tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu dekat. Jarak yang dapat membuat ia lebih nyaman.

Ya, sejak awal kami bertemu, dia memang sudah asyik sendiri. Sampai akhirnya aku mendekat padanya dan menyapa. Saat ku sapa, ia sempat melirikku sejenak. Ku lanjutkan menanya tentangnya. Ia menjawab sedikit, jelas dan singkat. Lalu pembicaraan kami terputus sejenak. Berikutnya, ku persilakan ia duduk, setelah mengetahui maksud kehadirannya. Ia pun menurut. Menit-menit berikutnya, suasana di sekitar kami berubah menjadi sejuk, tenang, damai nan teduh.

Sejuk, seperti halnya cuaca pagi hari bermendung. Sejuk, seperti keadaan alam menjelang hujan turun ke bumi. Sedangkan mentari tidak terlihat memancarkan sinarnya, untuk menghangatkan suasana. Tiada derai tawa apa lagi candaan, untuk membuat ekspresi menjadi riang gembira. Tidak ada. Padahal ku mendamba kondisi serupa. Bukan hanya hening, mencekam, sunyi dan sejuk, begitu. Kesejukkan yang menjadi-jadi. Karena tiada suara di sekitar. Kondisi yang jauh dari impianku, ku temukan dalam kenyataan.

Kenyataan yang kita temui dan bersamai dalam hari-hari, terkadang tidak sesuai harapan. Akan tetapi, kenyataan dapat berubah, seiring dengan upaya kita mengubahnya. Kenyataan yang perlu kita hiasi sedemikian rupa, agar kita jalani dengan bahagia. Bukan lagi kenyataan yang mencekam, sejuk nan dingin, tanpa suara dan sunyi.

Kalau begini terus, bagaimana jadinya? Bukankah harapan bisa mewujud nyata untuk kita upayakan? Ku terpikir, bertanya dan mulai mengamati.

Apakah yang ia pikirkan saat ini? Apakah ia mempunyai ragam masalah yang ingin ia selesaikan? Apakah ia membawa ingatan demi ingatan yang datang dan pergi sesuka hati? Apakah ia sedang berkomunikasi dengan seseorang di sana, sehingga ia berpikir? Sebab, saat aku melihat wajahnya pertama kali dan menyapanya, sepertinya ia masih berada di alam lain. Yah, tatapan matanya tidak fokus padaku, senyumannya tiada untukku. Yuhuu. Padahal, aku mengharapkan semua itu. Saat berkomunikasi, kami benar-benar menyadari pertemuan, bersama ekspresi.

Backsound yang pas :: Ebiet G Ade – Biarkanlah Hati Yang Bicara

Coba diam sejenak, amati suara angin
Barangkali di sana ada yang engkau cari
Coba dekapkan wajahmu di bawah sinar lampu
Tak perlu kau katakan, rindumu telah terbaca ho..
Tumpahkanlah lewat nyanyian
Salah satu cara untuk menyiasati rindu
Kadang kadang tanpa terasa
Tetes air mata membasahi pipi

Coba katakan padaku apa yang engkau inginkan
Barangkali aku mampu melepaskan dukamu
Coba kau dekap hening terbang menembus waktu
Tak perlu kau risaukan luka dan kepedihan hm hm hm
Setidaknya aku dapat
Mengajakmu larut dalam gelora nyanyianku
Kadang kadang tanpa terasa
Mataharimu telah bersinar ceria kembali

Simpanlah mimpimu dalam kehangatan mentari
Ketika embun masih menggantung
Pejamkan mata, rebahkan jiwa,
Biarkanlah hati yang bicara

Kau tak pernah tahu kapan dukamu terobati
Meskipun hujan t’lah mulai turun
Pejamkan mata, rebahkan jiwa,
Biarkanlah hati yang bicara

Hm… ho…

***


“Masih menjaga harapan, aku adanya.

Yah, agar hari-hari ke depan sesuai harapan.

Meskipun saat ini masih harapan.

Hai, harapan ada memang untuk itu.

Supaya kita masih mempunyai semangat hidup.

Tidak menyerah dan putus asa, namun tetap melangkah”.

Dia masih menekur, memperhati alat komunikasinya. Dengan jemari yang tidak henti bergerak. Sepertinya ia sedang mengganti halaman demi halaman yang ia baca. Yah, ia sedang membaca sesuatu. Ia terlihat sangat tenang dan fokus, ketika ku perhati lagi. Tidak mau mengganggunya, aku pun melanjutkan aktivitasku juga. Dalam diam, sama sepertinya.

“Haaattccchii…!” terdengar suara bersin olehku. Suara yang berasal dari arahnya. Ia sepertinya dalam kondisi tidak baik-baik saja. Apakah karena ia alergi debu. Karena memang keadaan di sekitar kami penuh debu? Atau memang ia sedang flu? Aku tidak mengetahui pastinya. Namun ku tahu ia sedang dalam kondisi tidak nyaman, kini.

Sepanjang kebersamaan kami hingga menit-menit berikutnya, hanya sekali itu saja ia bersin yang terdengar olehku.

“Semoga ia dalam kondisi terbaik,” gumamku.

Kami tidak bicara lagi, sampai akhirnya ia berlalu dari hadapanku. Tidak pamitan saat akan berangkat, tidak juga tersenyum. Sama, wajahnya masih sama seperti ketika kami bertemu. Wajah yang ku perhati, dan memunculkan tanya di dalam hati sejak awal kami bertemu.

***

Keadaan seperti ini sering ku perhati. Berada di zaman yang semakin berbeda ini, membuatku sering terpikir. Tentang pertemuan demi pertemuan yang ku perhati. Terkadang, ada yang bertemu saling berhadapan, namun asyik sendiri menekur kepala. Dengan alat komunikasi di genggaman masing-masing, mereka tetap bicara. Apa asyiknya, coba? Pertemuan yang dalam pandanganku, unik saja.

Lain waktu ku perhati lagi. Ada dua orang sedang bertemu. Pertemuan lagi setelah lama tak jumpa. Pertemuan yang semestinya berhias senyuman satu sama lain. Lalu berbagi pengalaman dan pengetahuan sepanjang tidak bersama. Berbagi untuk saling menceritai. Sehingga, selepas bertemu, ada kesan, pesan, dan kenangan yang menyelip di ruang hati. Namun yang terlihat, bukan demikian adanya. Mereka sebentar bertatap mata, kemudian sibuk dengan alat komunikasi masing-masing. Aku berpikir yang baiknya begini, semoga mereka sedang mencari ide berikutnya untuk mereka bahas. Barangkali.

Aku perhati lagi, ternyata mereka melanjutkan bicara via alat komunikasi tersebut. Karena sesekali mereka bersenyuman, dan mendekatkan alat komunikasi masing-masing. Saling memperlihatkan hasil upload foto yang mereka ambil beberapa saat sebelumnya, dan memperoleh komentar dari salah satu jaringan sosialnya. Berikutnya, raga masih berhadapan, namun tidak bertukar suara lagi. Tanpa mereka sadari, aku menjadi bertanya-tanya sendiri dengan aktivitas yang mereka laksanai.

Aku terkadang begini, untuk menemukan pelajaran dari lingkungan. Lalu senyum sendiri menyadari dan bertanya, “Mengapa juga ku memperhatikan mereka seperti ini?”

***

Saat ku memperhatikan keadaan sekitar akhir-akhir ini, memang kondisi serupa yang sering terlihat. Kondisi yang tidak jarang ku temui. Kondisi yang membuat ku berpikir lagi. Bagaimana menyikapinya kalau aku juga mengalaminya? Sambil menanya diri sendiri.

Apakah aku juga menjadi bagian dari kondisi tersebut? Aku yang ternyata asyik dengan alat komunikasiku. Padahal, jelas-jelas ada seseorang di hadapanku dan berbicara denganku? Apakah aku termasuk dalam perhatian seseorang juga? Ia yang melakukan hal sama sepertiku ketika memperhatikan orang lain?

Haai. Apakah engkau memiliki pengalaman serupa saat memperhatikanku, teman? Apakah aku berbicara denganmu, namun engkau tidak merasa ku perhatikan? How, how?

***

Lain waktu, ada juga fenomena berikutnya yang tidak asing lagi. Terlihat seseorang sedang duduk manis. Kemudian, terdiam lama, lalu tertawa sendiri. Ku perhati-perhati lagi, ternyata ia sedang membaca sesuatu, masih melalui alat komunikasi yang ada dalam genggamannya.

Hasil pengamatan berikutnya, juga sudah biasa. Tetiba seseorang yang ku perhati, menangis sendiri. Tepat setelah berulang kali ia menundukkan kepala, mengeja kata demi kata yang ia baca. Rupa-rupanya, ia menangis karena patah hati. Seseorang di sana, sukses mengacak-acak emosinya. Hingga meluruhkan airmata di pipi. Airmata yang sejak lama ia tahan, agar tidak mengalir. Namun, lagi dan lagi, alat komunikasi yang terus ia perhati, menjadi jalan munculkan kesedihannya.

Wahai, aku memperhatikannya sekali lagi. Ia mengetahui dan menyadari. Kemudian segera menutup mata dan wajah dengan jemari. Ia tersenyum sebentar, sambil melirikku.

Karena penasaran, aku melangkah mendekatinya dan bertanya, “Ada apa, Beb…?” 

“Engga ada,” jawabnya singkat.

Aku tersenyum, kemudian mengingatkan diri. Apakah ia pun mengalami seperti itu? Pernahkah ia mengalaminya? Apakah masih berlangsung atau bagaimana? Bukankah, tersenyum jauh lebih mudah?

“Engga, engga juga, ternyata,” bisikku pada diri sendiri.

Buktikan saat ini. Apakah engkau sudah tersenyum? Kalau tersenyum mudah, bukankah seharusnya engkau sudah tersenyum? Nah, nah, baru senyum khan? Tadi aja man-yun. Hoho. 

***

Pengamatan pada kesempatan lain, suasananya berbeda.

Ya, pada suatu waktu, kami berdekatan. Namun sebelumnya kami tidak berbicara banyak. Sebab ia asyik berbincang dengan entah siapa di sana, hingga akhirnya menerima pertanyaan berikut.

“Ada-ada aja adik ini. Padahal kami sudah bertemu, tadi. Sekarang malah nanya kayak gini. Pertanyaan apa pula ini, Kak?” tanyanya.

Boleh kenalan, gak, Kak? [Dari seorang adik].  

Begini sebaris kalimat yang ia perlihatkan padaku. Kalimat berisi tanya. Tanya dari seseorang padanya melalui sebuah pesan singkat. Tanya yang membuatnya berpikir ulang sebelum memberikan jawaban. Tanya yang ia tanyakan padaku. Aku yang ada di dekatnya.

Aku melihat dan memperhatikan kalimat tanya tersebut. Lalu, mengalihkan fokus pada gambar kecil yang ada di samping kalimat. Kemudian menanggapi, “Heeei, orangnya ganteng. Hehee. Lihat-lihat, lebih dekat.”

“Aah! Kakak ini. Cowok iya lah ganteng. Kalau cantik, ya kita. Jadi, gimana, Kak. Aku jawab apa yaaa?” ia masih menanya terkait tanya dari seseorang di sana.

 “Jawab aja boleh, boleh,” bisikku padanya.

“Jangan, gampang kali. Aku orangnya cuek sama cowok, Kak. Ku bilang engga aja, gimana, Kak?” tanyanya meminta pendapatku.

“Terserah. Tapi menurut aku sih, boleh aja 😀 Kalau mau jawab engga, gimana yaaa? Boleh aja-lah. Ga-pa-pa. Kenalan aja khannnnn,”  jawabku lagi.

“Oke, aku bilang boleh yaa,” ia mulai sibuk menyusun kata.

Aku pun asyik dengan kegiatanku pula. Melanjutkan aktivitasku yang terhenti sejenak untuk menanggapinya. Kami sama-sama menyibukkan diri, lagi. Pada menit-menit berikutnya kami saling berbagi pendapat lagi. Sesekali ku tanya ia, atau ia bertanya padaku.

Aktivitas menjelang tutup hari, yang menyisakan sekelumit ingatan lagi bagiku. Tentang fenomena yang ada di sekitar dalam waktu terakhir.

Terkadang, begitu mudahnya kita lebih dekat dengan seseorang yang tidak terlihat. Namun sungguh mudah juga merasa jauh dengan seseorang yang ada di depan mata. Semua menjadi jalan ku berpikir lagi dalam tanya, “Ada apa dengan semua?”

“Untuk memberikan kemudahan-kemudahan pada kita, bukan? Supaya dari waktu ke waktu, kehidupan yang kita jalani menjadi semakin mudah, bukan sebaliknya.”

***

Aku sangat suka, melihat dua orang sedang berhadapan, tanpa alat komunikasi yang sering ia intip. Kalau sesekali, dan sangat penting, kita bisa memakluminya.

Yah, rasanya bahagia aja. Kebahagiaan yang menebar dari dua orang tersebut. Bahagia karena saat berhadapan, mereka benar-benar berbagi energi. Saat mereka berkomunikasi, benar-benar menukar tatap, mengalirkan suara, alami. Tanpa terusik oleh sesiapa selain dirinya.

Aku suka memperhatikan kondisi seperti ini. Sedangkan kondisi sebaliknya yang sempat ku perhatikan, maka aku akan terpikir-pikir. Berpikir begini, “Mereka bersua, tapi tidak bertatap mata. Berbicara, namun tidak sepenuh jiwa. Berekspresi, namun tidak berkesan. Sebab tidak ada perhatian terbaik.”

Jelas-jelas mereka sedang bertukar suara, saling berhadapan, namun berbicara juga dengan orang lain ‘di sana’. Entah mengapa, terlihatnya tidak menyenangkan saja. Ini yang ku rasakan, tentang fenomena di sekitar. Tidak asing lagi, namun sudah ada di mana-mana. Di dekatku, sekitarku dan sempat ku perhatikan. Adakah di sana, juga terjadi fenomena serupa teman?

***

Aku lebih suka melihat orang yang tersenyum dari pada tidak. Maka, kalau aku ingin orang lain melakukannya untukku dan tidak ku temukan di sekitar? Mengapa aku tidak memulainya terlebih dahulu? Saat ku ingin seseorang berbicara padaku, mengapa aku tidak berbicara terlebih dahulu, saat ia masih saja tidak bicara-bicara padaku? Kalau ingin orang lain memperlakukanku begini, mengapa aku tidak melakukannya terlebih dahulu bila aku belum menerimanya?

Mengapa masih menjaga harapan, kalau ada usaha untuk melakukan? Bukankah kita bisa memulai dari diri sendiri. Iyaa, khan?[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s