Tips Tetap Bahagia Akhir Pekan ala Me (4)

Mengenal Diri

“Saat tiada sesiapa di sekitar, engkau bisa menyapa dirimu sendiri. Lalu sampaikan sesuatu padanya. Atau apa saja.”

***

Hai teman, senang berjumpa lagi dalam kesempatan terbaik akhir pekan. Akhir pekan yang kuddu, perlu, harus, dan mesti bahagia. Namun karena sesuatu hal, terkadang kita bisa saja bilang tidak menjalaninya dengan bahagia, bukan? Tersebab hal-hal lain di luar diri yang tidak dapat kita kendali, mengakibatkan kebahagiaan kita bisa berkurang. Makanya, pada akhir pekan yang cemerlang ini, aku ingin bagi tips bahagia akhir pekan ala aku lagi, yaa. Mau yaaa. Yaaa. Iya-in-lah icch. Biar aku bahagia. Hahahaa. 😀

Tips bahagia akhir pekan ala aku yang ingin ku bagi merupakan tips sederhana, namun berkesan menjalaninya. Tips yang mudah mengaplikasikannya, karena tidak jauh-jauh mencarinya. Tips yang ku praktikkan akhir-akhir ini, dengan lancar jaya. Tips yang ku bagikan, karena ku sudah merasakan manfaatnya. Dan efeknya, ya, membuat bahagia saja. Ini menurutku. Entahlah menurutmu. Tapi, semoga engkau juga merasakannya, setelah mengaplikasikannya, yaa. Lalu apakah tips tersebut dan bagaimana caranya?

Caranya mudah saja. Tulis surat untuk diri sendiri. Anggap saja pengirimnya bukan dirimu, untuk mempermudahmu menyusun surat untuknya. Karena terkadang menulis untuk diri sendiri tidak semudah yang kita bayangkan, lho. Perlu kekuatan jiwa, kerelaan hati, dan kemauan untuk mengetahui sapaannya dan pemikirannya tentang dirinya. Bagaimana pun formatnya. Bisa tentang kebaikan atau kebu-rukannya. Sampaikan saja dengan tulus, ia tidak akan memarahimu.

Tulis saja dengan cepat, sebelum ia menghentikanmu. Hapus lagi setelah menulisnya, kalau engkau tidak suka. Tapi, engkau juga dapat mengabadikan sebagiannya. Supaya engkau mengetahui apa saja yang telah engkau sampaikan padanya? Untuk selanjutnya, sedikit demi sedikit akan mempengaruhi kebahagiaanmu. Kebahagiaan dari dalam diri sendiri. Karena belum tentu ada yang dapat menyampaikan hal tersebut padamu, selain engkau.

Pujilah ia habis-habisan, atau kritik dengan leluasa. Ini hanya untuk mendeteksi responmu padanya. Apakah engkau mengakui atau menyangkal setelah membacanya? Apakah engkau mengiyakan atau menolak setelah mengetahui kejujurannya padamu? Apakah engkau ingin ia menulis lagi surat untukmu atau cukup sekali saja. Karena engkau tidak suka dengan perlakuannya padamu dengan cara begitu. Ya, sudahilah. Atau, kalau engkau tidak mau merasakan sensasinya, sudahi saja sebelum memulai. Artinya, jangan lakukan. 😀 Bebas, terserah padamu.

Sudah siap?

Oke, mari kita memulai dengan sebuah judul, siapakah aku?

***

“Siapakah Aku?”

😀


Dear Yani,

Aku? Siapakah aku? Aku yang mungkin tidak engkau kenal, tapi aku mengenalmu. Aku yang peduli padamu, memperhatikanmu, namun engkau abai padaku. Aku yang dekat denganmu, namun tidak terlihat olehmu. Aku yang ada untukmu, dengan keberadaan penuh. Aku yang menyediakan waktuku, khusus untuk menitipmu sebuah pesan hari ini. Pesan untuk engkau tahu. Agar engkau mengerti, engkau tidak sendiri. Seperti yang selama ini engkau bilang.

Aku ada untukmu. Apakah engkau juga ada untukku?

Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Sesuatu yang selama ini bercokol dalam ingatku. Sesuatu yang membuatku tidak dapat langsung terlelap meski mataku sudah mengantuk. Sesuatu yang terus saja membayang-bayang di pelupuk mataku, terlihat jelas dan membuatku ingin bergerak lagi dan melangkah, untuk menemukanmu. Setelah ku mengetahui siapa engkau sesungguhnya. Saat ku menanyakan pada teman-temanmu, bagaimana rupamu dan di mana domisilimu. Setelah ku mengerti beberapa rute perjalanan yang pernah engkau tempuh.

Saat ku sampai di jalan yang engkau lalui, dan kita pun bertemu. Sejak saat itu, aku tidak dapat tidak, terus mengikutimu. Apakah saat engkau berjalan lurus, atau belok ke kanan. Bahkan saat engkau sedang berpikir panjang di persimpangan, aku ada di dekatmu. Namun engkau tidak langsung menanya padaku. Padahal dengan bertanya, engkau dan aku bisa melangkah bersama-sama. Engkau tidak berkenalan denganku. Sekalipun sudah sekilas kita berpandangan. Aku juga sama, kita sama. Maka, tolong maafkan aku yang tidak menyapamu lebih awal, ketika itu. Juga tolong maafkan sikapku selama ini yaa. Yang sudah berlalu.

Saat ini, hari ini adalah waktu yang tepat menjumpaimu, bertatapan denganmu, berbicara denganmu. Berkata langsung padamu. Karena engkau perlu tahu hal-hal penting yang harus engkau tahu dariku.

Langsung ku sampaikan padamu, yaa. Tanpa embel-embel dan juga basa-basi sebelumnya.

Sebenarnya aku sedih mengikuti kisah perjalanan hidupmu. Sepanjang yang ku tahu, sebelum-sebelum ini, terlihat banyak gurat-gurat duka di wajahmu. Walaupun pada saat itu engkau tersenyum, namun senyumanmu tanpa cahaya. Terlihat juga ada pikiran yang engkau sembunyikan, meskipun wajahmu menampakkan ceria. Mengetahui keadaan tersebut, maka sangat ingin ku sampaikan padamu, keprihatinanku tentangmu. Supaya engkau mengetahui jika sebelum ini engkau tidak menyadarinya. Agar engkau semakin mengerti, saat engkau sudah mengetahui hal ini sejak lama, tanpa sepengetahuanku.

Iya, agar engkau tidak lagi tersenyum kalau engkau dalam luka. Agar engkau siratkan sedikit kesedihanmu, sayang… sekalipun hanya melalui tatapan mata, atau wajah datar tanpa ekspresi.

Ya, jangan lagi tersenyum saja, kalau ada yang membuatmu pilu oleh sikapnya. Ini semua demi engkau. Belajarlah lagi, jika engkau bilang ini tidak mudah engkau lakukan. Karena sudah terlalu lama berkecimpung dalam kelukaan? Sehingga membuatmu tegar, engkau bilang? Bukan, itu bukan ketegaran, sayang. Menangislah juga, kalau engkau ingin meluahkan segala rasa yang ingin engkau luahkan. Jangan hanya tersenyum seperti itu. Senyuman yang melihatnya, membuat hatiku perih jadinya. Setelah ku tahu, terkadang engkau terluka karena aku. Tapi, engkau malah tersenyum padaku, beberapa saat kemudian.

Hai, apakah ini yang namanya persahabatan sejati? Tidak mau aku mengetahui dukamu, walau sekali? Engkau ingin ku perlu tahu bahagiamu saja? Sedangkan yang sebaliknya, engkau cukup memendamnya sendiri? Engkau mampu, benar, yakiinnnn… ?  😀  (Aku becanda, bukan bermaksud mempertanyakan keyakinanmu, keteguhanmu, ketegaranmu menjalani masa).

Ya, selagi ada aku di dekatmu, jadikan pundakku tempatmu bersandar ketika duka. Sedangkan dalam bahagiamu, bagikan juga denganku beberapa bagiannya. Supaya ku tahu, kapan engkau tersapa duka, kapan pula engkau mendekat dengan bahagia. Agar semua asli terlihat mata. Supaya kita semakin sering bersama. Atas rasa-rasa yang kita punya. Agar ketika engkau bahagia, ku lihat pada sorot mata ceriamu. Saat engkau berduka, tergambar jelas pada tatapan matamu yang sendu.

Ya, saat berduka dan engkau masih memaksakan bahagia dengan senyumanmu itu? Aku sungguh tidak tega melihatnya. Berbeda jika bahagiamu sebenarnya, maka tersenyumlah saja. Semampumu, selama yang engkau mau. Aku tidak akan melarang-larangnya, apalagi menegurmu seperti ini.

Ku mau, cukup sampai hari ini saja ya, ku melihat engkau begitu. Selanjutnya, berekspresilah sebagaimana adanya dirimu. Engkau yang tetap dirimu, tidak pernah terganti dengan sesiapapun di dunia ini. Dengan begitu, aku yang selalu ada di dekatmu, pun tahu. Bahwa engkau menghargai keberadaanku hari ini terkhusus untukmu. Engkau mengingat pesanku ini. Pesan yang ku sampaikan atas keprihatinanku padamu.

“Haaaaaa…? Bagaimana engkau bisa tahu perasaan dan keadaanku yang sesungguhnya?” engkau masih saja bertanya padaku. Setelah menyadari semua.

Bukankah engkau sudah mengetahui diriku? Walau ku tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu? Bukankah kita adalah bagian dari jiwa yang satu? Yang selama ini terpisah jarak dan waktu? Engkau dan aku yang sudah cukup jauh meneruskan perjalanan? Sehingga aku pun bertanya-tanya di mana engkau sahabat jiwaku?

Aku yang juga pernah mengalami masa-masa sebagaimana dirimu yang engkau kisahkan. Aku yang tidak serta merta begini dengan kekuatanku sendiri. Aku yang juga pernah lelah, lemah dan putus asa, juga kecewa. Tapi aku mau berubah, bangkit dan belajar banyak dari perjalananku tersebut.

Dari orang-orang yang ku temui, ku berkaca tentang diriku. Dari orang-orang yang berekspresi padaku, ku bercermin ekspresiku. Dari tulisan dan bacaan yang sempat menepi di mataku, aku belajar satu hal baru. Selalu. Dari aneka jenis karakter yang ku jumpai, mereka mengajarkanku ilmu membaca karakter orang lain. Tentang siapa yang suka dan tidak suka dengan ku. Tentang siapa yang hanya ingin tahu. Tentang siapa yang begitu peduli padaku.

Sejak saat aku mengenali keberadaanmu di dunia ini, aku sangat mempedulikanmu. Walaupun kita belum bertemu. Karena engkau asyik dengan duniamu, sedangkan aku juga begitu. Sekalipun belum ku lihat rupamu. Namun, begitulah kita tercipta, bukan? Untuk bersabar sebelum berjumpa, menguntai syukur dalam kebersamaan. Bersamamu seperti ini, sungguh ku bersyukur, bahagia.

Hai, ku lihat engkau tertegun dan hentikan arah tatapmu dari suratku ini? Apakah karena engkau masih bertanya-tanya tentang diriku?

Ya, aku yang sudah ada di depanmu saat ini. Mari, lanjutkanlah membacanya lagi. Karena semua ini memang ku peruntukkan bagimu.

Sehingga jelas saja ku mengetahui banyak hal tentangmu, akhirnya. Tersurat melalui rerangkai tulisan yang engkau sebut senyuman. Tertulis jelas pada kalimat demi kalimat yang engkau tata sedemikian rupa.

Engkau bilang sedang mengukir bahagia. Ini bukankah berarti bahagiamu belum terukir? Engkau bilang sedang berjuang menata asa. Bukankah asamu sedang berantakan tidak karuan? Engkau sering bilang sedang menepikan kenangan. Bukankah kenangan demi kenangan tersebut sering membuntutimu? Engkau bilang untuk menitipkan ingatan. Apakah ingatanmu sangat banyak membersamaimu? Apa saja yang engkau ingat, sayang? Hingga saat ini atau dulu-dulu, engkau terlupa padaku? Padahal, aku selalu luangkan waktuku untukmu. Namun engkau tidak mau tahu, atau tidak benar-benar menyadari keberadaanku bersamamu?

Lihatlah, saat engkau melangkah lagi. Aku ada di dekatmu. Tapi, engkau bilang sedang sendiri. Ingatlah. Saat aku memperhatikanmu dari kejauhan dan tersenyum menyambutmu. Namun engkau masih saja menundukkan kepalamu ketika berjalan. Engkau membawa perasaan yang ku tahu bagaimana kondisinya. Engkau sedih, ketika itu. Iya, kaann?  😉 Ayoo, jangan begitu. Tataplah langit yang indah, membentang luas untuk bersyukur. Langit yang masih menaungimu, dengan kokohnya.

Engkau yang sedang melangkah ke arahku. Tapi engkau tidak menyadarinya. Engkau yang menujuku bukan membawa senyuman. Nah, yang ku herankan, mengapa? Mengapa? Saat ada seseorang yang engkau temui, engkau langsung tersenyum, begitu? Senyumanmu bukan untukku. Huhuhu. Sungguh ku sedih karenamu. Engkau yang tidak mengetahui keberadaanku sangat dekat denganmu. Engkau yang sibuk saja dengan perasaanmu, pikiran-pikiranmu itu, bukan memikirkan aku. Padahal, aku sangat memperhatikanmu, sangat mengenalimu, sangat menyayangimu, namun engkau tidak tahu.

Dear Yani,

Saat ini, bolehkah sebentar saja, engkau berhenti sejenak untukku? Ya, hentikan sejenak langkah-langkahmu itu. Langkah-langkahmu yang ku ikuti selalu. Namun kecepatanmu melebihi kecepatanku. Sehingga aku tertinggal jauh darimu. Tolong palingkan wajahmu ke belakang, sebentar saja. Di sini, aku sedang menatapmu penuh haru.

Aku yang berbahagia, saat mengetahui tersenyummu saat ini untukku. Engkau yang tidak lagi mengabaikan aku. Engkau benar-benar mendengarkan suara yang ku sampaikan padamu. Suara yang ku rasa tidak terlalu keras, namun sampai pada indera pendengaranmu. Bibir yang ku rasa kelu, namun masih bisa bergerak mendekatimu. Engkau yang tersenyum lagi, dan senyuman itu berbeda dari yang sebelumnya ku tahu. Lebih ringan, lebih indah. Karena engkau tersenyum bersamaku.

Walau tidak lama, engkau mau memperhatikanku. Aku rindu dirimu yang ku tahu. Engkau yang tidak berpura-pura, namun memang begitu adanya.

Yah, sejak sekarang yaa. Tetaplah begitu. Tersenyum dalam bahagiamu. Saat berduka tersedulah juga. Aku menemanimu dan bersamaimu dalam berbagai keadaan yang engkau alami. Aku sahabatmu yang selalu sedia untukmu. Karena aku mengenalmu, bahkan melebihi engkau mengenal dirimu sendiri. Bahkan melebihi engkau mengenalku. Ku pastikan itu.

Mempedulianmu seperti ini, aku senang.

“Yani. Penting untuk engkau ingat, bahwa beliau-beliau yang pernah menjadi bagian dari hari-harimu, sesungguhnya sedang menitipkan padamu barisan hikmah yang mungkin saja tidak dapat engkau pandangi dengan mata nyata yang berkedipan. Namun engkau dapat menangkap pesan yang tertuju padamu, dengan mata hati yang terbuka.  So, keep smile, yaach.

Engkau sudah mengetahui siapa aku sesungguhnya? Aku yang mungkin tidak berwujud, namun ada bersamamu. Aku yang tidak terlihat, namun memperhatikanmu. Aku yang belajar tentangmu, lebih dari yang engkau tahu. Aku yang bukan siapa-siapa, tanpamu. Maka, bersyukurlah memiliki aku dalam dirimu. Belum terlambat menyadari, belum telat mengakui. Katakanlah, engkau benar-benar mengenaliku. Karena tidak mungkin lagi engkau bilang tidak mengenaliku.

By :

Aku. “Siapakah Aku?”


Sudah? Sudah menulis surat untuk dirimu?

Membacanya lagi, engkau bisa bahagia. Karena ada yang sangat memperhatikanmu, sebenarnya. Ada yang membersamaimu saat engkau merasa sendiri. Ada yang mencarimu saat engkau hilang darinya. Ada yang tidak pernah meninggalkanmu, sekalipun engkau tidak menyadarinya.

Ini tentu menjadi kejutan, bukan? Seseorang yang bisa saja menasihatimu atau memarahimu. Engkau bisa memarahinya balik atau menasihatinya kembali. Tanpa ada yang tahu, bagaimana engkau membaikinya. Tanpa engkau sadari, perlakuanmu padanya, mempengaruhi perlakuanmu pada orang lain.

Buktikanlah. Karena engkau adalah dirinya. Ia adalah dirimu. Engkau dan dirinya tidak terpisahkan oleh jarak, waktu dan juga keadaan. Kecuali kalau tidak mengenalnya, maka terpisahkan sudah. Lalu menjalani hari sendiri-sendiri, pikiran entah ke mana? Hati bagaimana suasananya? Raga bergerak tanpa arah dan tujuan? Semua membuat hidup menjadi tidak menentu.

Semua ini pengalamanku menempuh waktu. Hingga saat ini bisa menyuratinya sedikit-sedikit. Supaya tidak lagi begitu, sebaiknya begini. Agar mau berbenah lagi, setelah mengetahui sedikit demi sedikit tentang diriku. Agar giat dan bangkit, kalau sempat terduduk, tertegun tanpa ekspresi. Supaya mau berjibaku menggerakkan ekspresi terbaik, demi hari-hari yang semakin berseri. Supaya ada yang terbahagiakan lagi dengan kebahagiaan ini. Semoga ada yang bersyukur lagi dengan syukur ini. Agar ada yang terlecut sabar dengan kesabaran ini. Meski memerlukan proses dan waktu yang tidak pernah ku tahu selama apa, sepanjang apa? Selama itu pula ku mau bergerak menempuhnya.

Walaupun kaki-kaki ini tidak lagi sanggup berjalan, pemikiran masih ku gerakkan.

Walaupun hati ini sempat terdiam oleh keadaan, senyuman ini masih ku ukirkan.

Walaupun kita belum bertemuan, ku yakin akan bertatapan seru dalam haru.

Sekalipun jauh, kita akan berdekatan dan bertemuan, meski di dalam ingatan.

Aku ingat padamu, setelah ku membaca catatan-catatanmu. Kemudian terinspirasi, kemudian tercerahkan lagi, kemudian membuatku menggerakkan jemari, dan menulis juga seperti ini.

***


Terinspirasi dari orang-orang yang menulis surat untuk dirinya sendiri dan aku membaca, aku pun menulis untuk diriku. Seperti halnya dirimu, aku pun meniru. Terima kasih untuk mengajariku cara meniru yang engkau tahu. Membuatku terinspirasi.

Esok atau kapan-kapan, kita meniru lagi, yuuk? Meniru apa lagi yaaa?[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

2 thoughts on “Tips Tetap Bahagia Akhir Pekan ala Me (4)

  1. MA’AF sesangat sangatnya ma’af.. ya dek!!!..krn dia yg duluuu..sekali menemuimu seorang sudah tidak bisa sprti dulu lg krn Adek sudah mengenalkan dia pada org2 sekitaran dia yg dgn ringanya mrk selalu menjelekanya..segitu mudahnya adek bisa jujur pada mrk sedangkan adek bilang adek dekat pada dia ..ini hanya contoh kecil yg sllu dia terima dek…skrg jalani aja masa depanmu dgn ringan ya dek?.
    ..marii kita sama belajar untk melupakan masalalu jadikan yg sudah sebagai pengalaman baik utk masa depanmu,jgn-lah sllu terpaku disitu2 aja dek?..dia akan sellu hapy dan dia sudah mulai belajar untk bagaimana melupakan…trimakasi sudah mengingatkan semuanya..keep smile dia suka dan akan sllu untk kedepannya..ya dek,,jgn-lah merasa terbebani akan semuanya…biarkan bila terkadang dia diam itu krna dia menjaga image mu depan mrk yg sllu mengolok2kan-dia…tak perlu-lah sy tulis semua di sini..tentang apa yg dia rasa….ambil hikmah yg baik dari semuanya ya deek???…bahwa berani jjur untuk kebaikan diri itu baik….sudah ya dek…!..pesan sy untk mu dek.. berhetilah untk keliling dunia,jagalah kesehatan sejak dini dan mulailah menata masa depanmu…langkahmu msh panjang deeek??..belajarlah untk tidak melibatkan org lain untk privasimu…

    Liked by 1 person

    1. Tidak mengurang-i rasa syukur, ku rangkai kata “Terima kasih” karena sudi berpesan, teman. Pesan yang ku rekat dalam ingatan, sangat berkesan. Berlanjut tanya yang bermunculan tentang :
      ~ Dia. Siapakah Dia?
      ~ Aku. Siapakah Aku?
      ~ Mereka. Siapakah Mereka?
      ~ Engkau. Siapakah Engkau?
      ~ Kita. Siapakah Kita?
      Ku rangkai senyuman mengiringi. 🙂 🙂 🙂
      Semoga semua dalam kondisi bahagia di sana, di mana saja berada.
      Dia, aku, mereka dan engkau.
      Kita semua pokoknya, aamiin. ^_^

      Salaam secerah sinar mentari yang bersinar terik siang ini, di sini.
      😀 “Okee…, Semangat Belajar Lagii” 😀

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close