Bersyukur; Alhamdulillah

“Kami sudah datang lebih awal, sebelum yang lain datang. Aku dan beliau berjumpa, lalu saling menanya.”

Kemarin pagi adalah kebersamaan kami yang terakhir. Sehingga pagi ini kami tidak dapat bertemu lagi. Mungkin untuk beberapa hari ke depan, atau entah sampai kapan kami akan bertemu lagi dalam nuansa alam yang sama. Pagi. Berjumpa lagi di tempat sama kami berjumpa, seperti pagi kemarin. Dengan ekspresi serupa yang kami tampakkan, saat kami bertatapan. Dengan suara yang mengalir sempurna, ketika kami bertukar tanya dan jawaban. Entah kapan lagi, kami bertatapan dengan ekspresi sama. Karena pagi ini, beliau sedang sakit.

Sakit tiba-tiba, terjadi tanpa terduga. Sakit yang datang cepat, tanpa mengabari sebelumnya. Sakit yang meneman beliau saat ini, semoga segera berlalu. Kemudian berganti sehat. “Mudahkanlah proses pengobatan beliau, ringankanlah penyakit beliau, normalkanlah pendengaran, penglihatan, dan raga beliau. Sehatkanlah raga beliau, sehingga beliau masih dapat menjalani aktivitas seperti sediakala. Tanpa ada rasa sakit setelahnya, tanpa sakit lagi. aamiin ya Allah.”

To : Bapak yang sedang sakit…

Bapak yang ramah, baik hati, mudah tersenyum. Setiap kali datang berkunjung, sering menyapaku lebih awal. Sekalipun beliau melihatku sedang sibuk dan asyik dengan aktivitasku. Sehingga aku tidak menyadari kehadiran beliau.

Beliau yang memudahkan urusanku dengan beliau semudah-mudahnya. Beliau adalah kolega yang baik. Sehingga membuatku sangat terkesan. Beliau yang unik, berbeda dengan yang lain. Karena keunikan beliau tiada yang menyamai. Beliau yang senang mencandaiku, namun sopan. Walau dalam kondisi lelah, terlihat dari sorot mata beliau. Beliau yang masih bisa tersenyum, meski letih terlihat. Begini kesanku tentang beliau.

Tidak jarang, beliau menanyaku begini, “Balik kampung, Yan… Besok kan libur?”

Atau, “Kemarin pulang kampung, Yan? Liburan, khann…?”

Atau, “Yani bisa lah yaaa, pulang kampung terus kalau libur.” Atau, “Yani bisa lah yaa, tanggal merah liburan.”

Atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, ku senyumi beliau dan menanya balik, “Memang Bapak ga libur, Pa, kalau tanggal merah?” Atau,  “Kapan pulang kampung, Pa?”

“Hmm… Maaanaaaaa ada, Yannnn. Minggu-minggu juga masuk. Tanggal merah juga masuk. Bisa libur cuma kalau keperluan penting sangat aja, baru izin. Selebihnya, Bapak kerja terus (sambil geleng-geleng kepala, beliau masih tersenyum)”.

Senyuman yang ku perhati, pada wajah beliau yang mulai terlihat banyak kerutan. Namun senyuman itu mempercerah wajah beliau. Meski kerutannya bertambah pada saat tersenyum. Senyuman beliau yang menenangkan, aku suka.

Aku suka berkomunikasi dengan beliau. Meskipun sebentar berkunjung dan harus pergi lagi. Beliau yang ku pastikan menyempatkan waktu menyapaku, walau sekata dua kata. Beliau menyediakan sedetik dua detik waktu untukku. Seperti, tanya yang berisi, “Libur besok, Yann…?” Udah, gitu aja. Sambil merangkai senyuman. Seraya membereskan berkas-berkas yang selesai beliau urus. Terkadang setelah memintaku memfotokopi dulu. Selanjutnya, pergi, berlalu dari hadapanku.

Esok dan lusa, di hari lain, datang lagi. Ekspresi beliau nan teduh, masih menyerta. Wajah beliau yang menua, tidak mengurangi senyuman yang menyerta. Beliau tersenyum dan berwajah cerah, di hadapanku. Wajah yang terbayang-bayang dalam ingatan, ketika beliau tiada di sini, kini. Semoga beliau tetap tersenyum, berwajah cerah, di sana.

***

To : Bapak yang sedang sehat…

“Suka dan duka, harus kita jalani. Syukur alhamdulillah, kita masih diberi kesehatan. Kesehatan itu nikmat yang kita syukuri, masih kita miliki,” datang-datang, beliau bilang begini. Seorang kolega lagi.

Beliau yang sepuh, yang senang menasihati dan mewejangi kami selama ini. Mewanti-wanti diri ini dan sesiapa yang beliau temui. Untuk menyabari keadaan, menyabari perlakuan orang lain yang kurang enak di hati.

“Sabar… sabar…,” ucap beliau sambil mengurut dada, pada suatu hari atas keadaan yang beliau alami. Beliau meneladankan tentang sabar, tidak hanya bicara semata.

Berikutnya, pesan beliau lagi adalah, jangan pernah menggunakan kekerasan dalam menghadapi keadaan tertentu. Apalagi mau bertengkar dan berantam menggunakan se-njata taj-am.

“Jangan… jangan… karena bisa saja dilalukan oleh setan dan iblis. Saya sebagai orang yang sudah tua dan berpengalaman hidup sebanyak ini, menasihatimu, jangan begitu. Kamu bisa menggertak, kalau memang itu kemauanmu, tapi sekali lagi, jangan menggunakan kekerasan. Nanti yang rugi, dirimu sendiri, kalau sesuatu terjadi. Kamu bisa apa lagi? Masak iya bilang, “Yang terjadi, biarlah terjadi… (sambil bersenandung). Tentu engga bisa, begitu saja, wahai anak muda,” lengkap beliau mewanti-wanti. Ketika pada sebuah kesempatan terbaik, seorang kolega lainnya berkisah tentang kejengkelannya pada seseorang. Lalu, ia mengisahkan melakukan anca-man dengan senjata taj-am.

“Kalau kita hadapi dengan hati gembira, dengan suka dan senang, segala sesuatu itu nikmat menjalaninya,” beliau yang bahagia di masa senja usia. Beliau yang suka bercerita tentang cucu-cucu yang banyak. Beliau yang mengenalkanku pada wajah-wajah mereka, meski kami tidak berjumpa. Namun hanya melalui cerita beliau, ku bayangkan wajah-wajah lucu ekspresi mereka membersamai kakeknya.

“Karena semua adalah pemberian Allah, kita syukuri,” beliau berbagi sambil tersenyum ceria dan tertawa ringan. Bercerita tentang keriuhan anak-anak cucu yang menghibur. Totalnya 17 orang. Kalau hari raya, kumpul cucu anak-anak menjadi 40 orang totalnya. Usia mereka tidak jauh berbeda. Jadi kalau sudah berkumpul semua cucu di rumah, seperti sekolah SD dan TK jadinya. Heheheee…,” curhat beliau gembira. Kebahagiaan sempurna. Beliau panen di hari raya. Panen ekspresi dari anak-anak dan cucu yang membahagiakan. Sehingga kebahagiaan beliau menebar padaku juga, sebagai penyimak kisah dan cerita yang beliau bagi.

Beliau yang bisa berbagi di usia senja, karena sejak muda dan bertenaga, beliau pejuang tangguh, pekerja keras dan tabah.

“Bapak sudah seusia ini, mengapa masih juga kerja, Pak? Bukannya sudah terpenuhi segala keperluan? Malah berlebihan dan tidak mempunyai tanggung jawab lagi. Sebab anak-anak sudah berhasil semua, menghasilkan dan menyejahterakan Bapak?” bertanya seorang teman terhadap beliau.

“Yaaa. Kalau saya tidak bekerja, mungkin saja saya sakit, tidak bergerak. Dengan bekerja seperti ini, saya merasa masih segar dan bugar. Saya senang menjalani. Karena saya masih sanggup. Lalu kalau saya tidak berbicara-bicara seperti ini, mungkin saya bisa bisu, tidak bisa ngapa-ngapain lagi, kelu. Kalau hanya menung-menung saja,” tanggap beliau berseri-seri.

“Bapak sudah sekaya ini, banyak uangnya, yaa, Paaa..,” tanya berlanjut untuk beliau.

“Ya, syukur, alhamdulillah, ini semua rezeki karena Allah,” beliau nan sahaja menjawab datar.

“Bapak ini berilmu padi, semakin kaya semakin rendah hati,” tertegun pemuda yang pernah curhat tentang keje-ngkelan sebelumnya. Ia merenung, ia memandang Bapak nan sahaja. Tampaknya pemuda membenari, lalu bercermin dari beliau.

Jadi, Bapak masih mau kerja lagi? “Selagi kita mampu, syukur alhamdulillah (sambil menampung tangan, mengucap syukur)”. Sering-sering beliau begini, membuatku tersenyum lagi. Mensyukuri kebersamaan kami sepenuh hati.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s