Pertemuan ke Enam

Related image

Ini pertemuan kami yang ke enam. Bertemu lagi, karena kami memang tertakdir untuk meneruskan pertemuan. Pertemuan demi pertemuan yang menyisakan senyuman untuk ku rangkai. Pertemuan demi pertemuan yang menitipku pesan dan kesan untuk ku kenang. Pertemuan demi pertemuan yang membuatku tersadarkan, semua ini tidak kebetulan.

Sungguh, semua terjadi atas rencana-Nya, izin-Nya semata. Sehingga, menjalani kebersamaan setelah pertemuan dengan sebaik-baiknya adalah pilihan tepat. Karena kami tidak mengetahui, berapa kali lagi akan bertemu seperti ini. Untuk selanjutnya akan berpisah. Hah!

Semoga tetap kuat yaa, kawan. Walau perpisahan mungkin saja terjadi. Dan genggam erat keyakinan akan adanya pertemuan berikutnya, meski tidak dengan orang yang sama. Namun akan ada yang mirip dengannya, serupa sikap, ucap dan lelaku dengannya. Yakini saja, benar-benar. Semoga engkau mampu.

Pertemuan ke enam, menjelang malam. Lagi dan lagi, selepas senja kami bertemu. Semirip dengan pertemuan ke lima, ia datang menemuiku. Pertemuan setelah berjarak sebentar, untuk meneruskan perjalanan kami masing-masing. Dan tahukah engkau teman? Bahwa pertemuan yang ke enam ini, masih ingin ku abadikan dalam rangkaian senyuman seperti ini. Karena sepanjang pertemuan, kami bersenyuman.

Senyuman persahabatan, meski usia kami tidak sebaya. Senyuman persaudaraan, sekalipun kami berasal dari keluarga berbeda. Senyuman penuh, karena kami menikmati waktu yang kami habiskan bersama.

Baru enam kali kami bertemu, memang. Namun ia sudah semudah itu memberai kisah. Tidak jauh berbeda dengan anak-anak seusianya, ia pun mempunyai kisah. Walau kisah kami tidak sama, namun mereka mempunyai kisah perjalanan serupa. Sehingga, klop jadinya saat bercerita, saling menguatkan, sharing, berbagi pengalaman terkait pacaran.

Haaaaaaaa? Aku lagi dan lagi bilang, “Tidak.” Hihihii.  😀 Tidak ada pengalaman tentang hal ini. Meskipun demikian, sedikit banyak ku menerima curhatan terkait dunia ini. Curhatan dari mereka yang sedang berbunga-bunga karena bahagia bersamai ‘teman’ dekatnya. Curhatan tentang luka yang mengajaknya harus ikut dengan untaian airmata yang berjatuhan. Lalu jatuh-rebah-dunia seakan runtuh, setelah putus. Huh!

“Benar-benar, aku merasakan juga. Aku mengalami pengalaman ini. Seakan hidup sudah berakhir, hari-hari hampa nan kelam, tanpa cahaya sama sekali. Semangat hidup menepi, sepertinya, dunia sudah sampai pada ujung waktu. Itu rasanya langit mau runtuh, dan aku tidak sanggup berdiri. Maka, ku sampaikan hal ini yaa, supaya kau-kau-kau Dek, yang katanya punya pacar ini, kuatlah, kuatkan hatimu,” tanggapnya menyikapi sebuah curhatan yang sampai padanya.

Aku bahagia, tersebab kebersamaan seperti ini. Ia yang datang menguntai pesan, nasihat dan juga tips selayak seorang ‘ratu cinta’ yang sudah mempunyai pengalaman. Ia mewanti-wanti adik-adik yang ada di dekatku.

Yah, adik-adik ini pada punya ‘teman’ dekat yang katanya perhatian, ada juga yang banyak janji, banyak akal, dan posesif mengekang diri. Sungguh menyedihkan, mereka. Dalam usia sebelia itu, berhadapan dengan kerumitan-kerumitan yang menurutku, mereka ciptakan sendiri. Yaaa. Begitu menurutku.

“Ingat, ingat Dek… Kakak ingatkan yaa, pacar kalian sekarang itu, belum tentu jodoh kalian. Emang kalian suka, kelak ‘dia yang menjadi jodoh kalian mendapatkan sisa-sisa?’ Atas aktivitas pacaran yang kalian jalani? Kakak bilang yaa, pengalaman terdekat, teman kakaknya kakak, sudah berpacaran dengan seseorang selama 4 (empat) tahun lamanya. Namun sekarang ia sudah menikah, dan menikahnya bukan dengan pacar tersebut. Nah, sayang, khan. Karena mereka ternyata tidak berjodoh. Jodoh itu kuasa Ilahi, dengan siapa berjodoh nanti, tidak ada yang mengetahui. Ingat ini, ingat. Kakak mengingatkan,” ia memberai pesan.

Lalu melanjutkan beberapa nasihat penting. Bla…bla… bla… hingga ramai dan riuh semakin menghiasi ruangan. Serius tapi santai, ia membagi sekelumit nasihat lagi. Sedangkan adik-adik yang menyimak, tertegun sejenak lalu senyum-senyum menanggapi.

“Trus, gimana sekarang, Kak? Menghadapi pacarku yang posesif ini?” seorang gadis manis menanya lagi. Belum puas dengan jawaban dan penjelasan sang kakak.

“Aaaaah, kau ini. Masih saja nanya lagi. Tadi, yang kakak bilang itu? Huhuhuu, kakak tadi udah bilang banyak cara menghadapinya. Kau mendengarkan, tapi enga mengingatnya? Iya khan, kaaak? Aku tadi bahas tentang itu?” ia mengarahkan tatap padaku. Sedangkan aku tersenyum lagi. Mengiyakan, memang ku simak dengan baik nasihat-nasihatnya, walau bukan untukku. Karena aku ada di sekitar mereka.

Adik pun memperlihatkan ekspresi polos. Memang ia mendengarkan namun mungkin belum memahami.

Ia menambahkan.

“Sepengalaman kakak yaa, begitu. Ingat-ingat lagi, tadi kakak bilang apa, yaa,” tutupnya mengakhiri sesi tanya jawab atas curhatan adik-adik tentang dunia yang menghanyutkan mereka. Sedangkan aku bisa apa? Menyimak saja, lalu merekam dalam ingatan tentang nasihat, pesan, hikmah, termasuk apa saja yang sekiranya dapat mengingatkanku lagi, kelak. Ingatan pada sesiapa saja yang saat itu ada di sekitar kami.

***

Beberapa menit selepas Maghrib, mereka asyik bercerita, ada yang menanya dan menjawab. Padahal pertemuan tersebut adalah pertemuan mereka yang pertama. Tapi, kok bisa langsung akrab, yaa? Aku sempat bertanya di dalam hati, tentang hal ini.

Untuk itulah, kita mesti dan harus kembali mengingati, siapa yang ada di balik semuanya. Apakah kita menyadari, segala gerak yang kita gerakkan, tidak terjadi tanpa izin-Nya. Kehadiran kita di sebuah tempat, bukan sepenuhnya atas keinginan kita sendiri. Namun, dengan izin-Nya, kita sampai dengan selamat, dan kemudian membersamai mereka yang kita kunjungi. Dengan mengembalikan ingatan kepada-Nya, tenanglah hati menjalani. Dengan siapa-siapa saja kita bertemu. Bersama siapa-siapa saja kita berkomunikasi. Karena ingatan ini memang perlu diingatkan lagi. Maka kalau memang kita tempatnya lupa, yuu kembali menyadari diri. Siapa dia? Dari mana? Mau ke mana? Ngapain aja, di dunia?

***

Berbincang tentang pacaran yang mereka bagi dan ku simak dengan jeli, ternyata pacaran karena ada misi. Diantaranya, mereka sedang menyiapkan calon suami, mempunyai tumpangan untuk bisa pergi ke sana ke mari, dan mempunyai teman berbagi.

Berbincang tentang tidak pacaran, aku tahu kelemahanku di mana, termasuk kelebihan untuk ku pantau. Selanjutnya, menyadari kemampuan yang sanggup ku panggul. Selebihnya bersandar kepada-Nya. Untuk apa saja, tentang apa saja. Sehingga, segala keinginan yang ku miliki dan ternyata bukan kebutuhan, memang belum ku alami. Segala keinginan yang ku harapi, ternyata bukan kebutuhan, semua belum ku miliki.

So, melangkah dengan segala yang ku miliki, semua yang ku syukuri, sesiapa saja yang ku bersamai, membuat hidup ini menjadi semakin ringan ku jalani. Atas segala perhatian yang tidak ku sangka, atas segala kepedulian yang tidak ku duga, kemudahan demi kemudahan yang ku terima, kejutan demi kejutan yang menggugurkan airmata di pipi atau hanya terbit tidak runtuh, menggelantung di sudut mata lalu tenggelam lagi. Semua, membuatku mensenyumi keadaan tersebut. Terlepas suka atau tidak suka, semua dalam rencana-Nya, aku percaya ini. Termasuk tentang pertemuan kami ini, lagi. Pertemuan ke enam.

Pada pertemuan ke enam  ini, semakin banyak yang ku ketahui tentangnya. Sebanyak yang ia bagikan padaku, tersirat melalui rerangkai kata. Terbersit dalam ingatan, lalu ia pun mengiyakan saat ku bertanya. Sungguh, ia adalah pribadi hebat yang kuat. Ia adalah perempuan sahaja yang menjadi bagian dari kisah perjalanan hidupku. Ia yang ku temui di sini, kemudian kami bertemu lagi, selanjutnya bertemu lagi. Pertemuan lanjutan untuk berbagi. Ini pertemuan kami yang ke enam.

Tidak berbeda dari pertemuan-pertemuan kami sebelumnya, ia masih sama. Mencerah wajah, tersenyum sumringah, sesekali tertawa menimpali tanya dan penasaranku tentangnya. Sebenarnya ia bukan siapa-siapa, tidak mampu melakukan apa-apa, sungguh tanpa-Nya ia tidak kuasa.

Ia sangat sahaja, sederhana dan aku takjub. Ini pesan yang ku petik, darinya.

Ternyata, kehidupannya berlimpah harta. Sebenarnya orangtuanya berada dan mempunyai jabatan bergengsi. Akan tetapi, dengan semua yang orang tuanya punya, ia tidak berbangga diri. Namun dengan apa yang ia punya, ia berusaha dan berdayakan kemampuan. Ia belajar hidup mandiri, berjuang mendedikasikan diri. Masih saja, mau belajar lagi dan lagi. Saat ini sudah mempunyai pendapatan sendiri. Ia akan melanjutkan pendidikan tahun ajaran ini, untuk waktu satu setengah tahun ke depan.

“Semoga lancar dan sukses kuliah lanjutannya, yaa. Tetap semangat, menjemput ilmu. Engkau mampu menjadi seperti yang engkau impi, teman.”

Ia bilang, “Ada bahagia tiada terkira, ketika memperoleh pendapatan dan kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan yang kita perlukan. Ada lega di hati, ketimbang tidak dapat melakukan apa-apa dan hanya berdiam diri. Walau kini, aku begini dan begini, dengan suka duka menjalani, namun ada rasa yang tidak dapat ku ucap, namun terasa. Mengalaminya langsung, membuahkan senyuman dan keceriaan. Maka, selagi masih berusia semuda ini, belajar benar-benar, jangan pacar-pacaran ga jelas, lagi. Kakak sudah kembali dari sana, sudah mempunyai pengalaman. So, sekarang masanya berbenah diri. Kalau jodoh kami bertemu lagi”. Ceritanya, ia sedang break dengan pacarnya. Sudah tidak pacaran lagi. Dan sedang menasihati dua adik manis yang mendengarkan sepenuh hati. Aku tersenyum, memperhatikan mereka yang sedang berkonsultasi.

Ya, ini pertemuan kami yang ke enam. Ku susun catatan dari pertemuan ke pertemuan berikutnya. Supaya ku dapat mengingati, bahwa kami pernah bersama dan membicarakan ini dan ini. Semua tidak kebetulan, namun dapat membuka lagi cara pandangku terhadap dunia.

Sungguh, di dunia ini, banyak orang-orang yang sedang berbagi dengan kemauan dan keadaan yang mereka miliki. Melakukan yang terbaik dari diri. Karena mereka tahu, mereka tidak sendiri. Mereka menyadari, tidak selamanya di dunia ini. Lalu, bagaimana menggunakan kemampuan diri? Ini pesan penting yang ku peroleh darinya dalam pertemuan ke enam kami. Siapakah dia? Dia adalah yang ku sebut di sini dengan, Aurora.

Habis sudah waktu, ketika detak jarum jam sampai pada angka 8.30 malam harinya. Selanjutnya ia kembali, pulang. Kepulangannya setelah meninggalkan secuplik dua cuplik kisah yang ia bagi. Ya, berbagi saja, atas pengalamannya. Berbagi juga atas keadaannya. Berbagi, atas perjalanan hidupnya. Berbagi dengan mudah, indah nan membuat bibir tidak henti menyunggingkan senyuman. Karena ada sekeping hati yang bahagia, atas kebersamaan ini. Kebersamaan setelah bertemu. Pertemuan yang ke enam.

“Terima kasih yaa, untuk membagi sekelumit kisah perjalanan hidupmu yang belum tentu ku alami. Namun engkau yang berbagi, mengajakku menyelami lebih dalam, sedikit demi sedikit.”[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s