Luka

Aku terluka dan mengobatinya. Luka yang ku perhati sangat teliti sesaat setelah terjadi. Ku lihat lagi dan lagi. Ini luka yang unik. Terlihat lapisan kulit ari dan daging yang berbeda bentuknya, sebelum darah terbit. Seperti ada garis lengkung gitu. Melihatnya lagi, membuat tanganku sedikit bergetar. Aku yang sedang duduk mengiris keripik masih duduk manis untuk menenangkan diri sejenak. Lalu bilang, “Aku terluka, tanganku perih. Ini, jempol. Hihihii. 😀 (masih saja bisa cenge-ngesan). Sambil mengangkatnya“.

Kakak dan Adik
Adik dan kakak sering saling memaafkan

Amak yang mendengar dari balik dinding sebagai pembatas antara kami, segera mendekatiku. Beliau yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas dapur juga, meninggalkannya sejenak. Saat sudah di depanku, beliau berekspresi sendu, melihat luka di jempolku, kemudian tersenyum. Beliau menguatkanku dengan begitu.

Aku tahu, beliau syahdu. Terlihat dari tatapan mata beliau nan ayu, menenangkan. Ku senyumi beliau, karena aku baik-baik saja. Ku yakinkan beliau, walau ini memang perih, tapi sedikit.

Sedikit lukanya. Hanya karena kaget, makanya aku bersuara. Sungguh, tidak apa-apa sebenarnya.

Berdetik-detik kemudian, darah mulai muncul. Membentuk gelembung merah yang lama-lama melebar. Kemudian menetes. Perih rasanya bertambah-tambah. Denyut itu membuatku hanya bisa pasrah. Sangat.

Detik-detik berikutnya, ku bergerak menuju batang betadin yang ada di samping rumah. Ku petik setangkai daunnya. Kemudian mengoleskan getah yang muncul dari pangkal tangkai pada ujung jempol yang terluka. Ku berani-beranikan saja. Walau aslinya ‘ngeri’.

Karena ku ingat, ujung-ujungnya akan sembuh juga. Dengan meneteskan getah yang ku petik langsung dari batangnya, lebih mempercepat penyembuhan. Biasanya juga begitu. Sesiapa saja yang terluka dalam keluarga kami, menggunakan batang obat yang satu ini sebagai obat mujarab. Alternatif pertama menjadi pilihan. Walau getahnya membuat perih luka semakin terasa. Huwwaaa. Ada air terbit di sudut mataku. Ini tersebab luka, dan ku ingin ia berlalu.

Ku nikmati luka dengan mengobatinya. Ku tahan perih, ku teguhkan hati. Ku genggam erat jemari, lalu meniupnya pelan. Semilir angin yang sampai pada ujung jempol tadi, membuatnya tersejukkan sebentar. Sebentar kemudian, perih terasa lagi.

Saat ku sedang mengoleskan obat alami ini, duo bocah imut ponakanku berdatangan. Tepat saat suara-suara tambahan ia dengar dari arah dapur. Ketika ku bersuara, melapor pada Amak dan chef Onna, detik-detik terluka. Duo imut yang sebelumnya sibuk bermain, segera mendekatiku. Menanya bagaimana bisa terjadi? Luka? Di mana? Lihat, lihat, Buk? Tidak henti mereka memberai tanya. Kemudian Ndok Ira ponakan kedua adiknya Khayla melanjutkan dengan komentar begini, “Uko Buk? Aooo, mak coo…! (artinya lebih kurang begini; luka Buk? Rasain, emang enak rasanya!)”.

Ndok Ira, balita usia dua setengah tahun. Membuatku bertanya, berpikir. Sedangkan Ndok Ira, senyum-senyum khas balita tanpa dosa, tanpa bersalah, tanpa mengetahui, aku memikirkannya. Ku kerutkan kening, ku colek ia yang menghindari. Tapi mana bisa lari? Kaki-kaki kecilnya tidak bisa mengalahi langkah-langkah cepatku. Ku peluk ia erat, ku sampaikan padanya lagi, “Ini sakit, Ndukk… Huhuhuu (sambil berekspresi menyedihkan). Sedangkan ia malah tertawa kecil, tersenyum ringan, gaya anak-anak balita umumnya. Mungkin ia tahu, aku tidak sesakit itu. Buktinya, aku masih bisa tersenyum, padanya. Ia mungkin berpikir, aku hanya bercanda, atau sejenisnya. Barangkali ia berpikir aku sedang menghiburnya dengan berpura-pura. Tapi mana bisa begitu? Kalau sakit ya, tetap aja sakit. Perih, lebih tepatnya.

Mengetahui tanggapannya. Aku sempat terpelongo. Aku bertanya-tanya. Bagaimana bisa? Ia menanggapi begitu? Huhuhu. Luka ini sakit. Tapi, ada sakit yang lebih dalam dari luka jempol. Hatiku yang kemudian bertanya, tentang sebuah suara dari luar sana. Pikir yang sibuk mengetahui, bagaimana bisa terjadi? Tanggapan yang hadir spontan, tanpa ada yang mengajari. Tapi, mungkin sebelumnya ia pernah mendengar, barangkali? Engga mungkin juga khaan, bisa sendiri? Meski mereka memang anak-anak cerdas yang aktif dan membuatku suka terinspirasi.

Karena penasaran, ku tanya ibundanya, tentang hal ini. Ibunda geleng-geleng kepala menanggapi, tersenyum penuh arti karena mengerti yang terjadi. Lalu bilang kalau Ndok Ira juga pernah luka dan ibunda bilang gitu padanya. Luka karena maksa-maksa bunda minjemin pisau buat iris-iris dedaunan. Lalu, luka dech, nangis dong dan lari ke pangkuan bunda akhirnya. Sedangkan Bunda bilang, “Aooo, mak coo…! (sambil mengobati lukanya)”. Begini bundanya berkisah.

“Hahaa, 😀 , unik saja,” aku lantas tertawa.

Setelah mengetahui, ternyata ini landasannya. Bermula dari perlakuan padanya, ia memperlakukan serupa. Anak-anak ini, membuatku berpikir lagi. Pemikiran yang ku timang-timang sembari menahan perih jemari. Selanjutnya, adem di dalam hati, sementara pikir sibuk menemukan solusi. Bagaimana menyikapi.

Karena ternyata, anak-anak sungguh sangat ingat. Bilang apa-apa padanya, ia kembalikan pada kita. Karena ingatannya masih selingkup hal-hal serupa. Belum banyak yang ia pikirkan. Nah, saat satu kejadian pernah ia alami dan kita menyalahkannya, ia akan balik menyalahkan kita dalam kejadian serupa. Yah, anak-anak mudah mengingat. Ingatannya masih tajam.

Ini baru sepotong kecil episode kebersamaan kami. Lain-lainnya masih banyak lagi. Menggelitik perut untuk tidak henti tertawa, menguras ekspresi agar keluar semuanya, mengajak pikir untuk henti sejenak, kemudian tenggelam dalam dunia mereka. Dunia anak-anak.

Dunia yang ringan, adem, lepas, bebas, tanpa himpitan. Dunia yang tiada luka di dalam hati, namun sering berisi pemaafan. Dunia yang ajaib, unik dan mengesankan. Dunia anak-anak yang membuatku tersenyum mengingat mereka ketika kami berjauhan. Dunia anak-anak yang membuatku berbaur dengan mereka dalam sebuah kesempatan. Anak-anak yang cerdas, pintar, berani, aktif dan tentu saja ‘sedikit centil’ dengan kenaka-lannya.

Maklum, sebagai pendatang baru-baru ini di dunia, banyak hal-hal penting yang ia alami pertama kali. Semua membuat mereka semakin penasaran, bertanya, dan kemudian ingin mencoba. Segalanya ia coba, segalanya menimbulkan tanya baginya, segalanya ingin ia tahu. Segalanya… selalu… tidak henti belajar lagi, mengulang, dan kemudian bosan, ngantuk, tidur, bangun-bangun, ulang lagi.

Dunia anak-anak yang mengacak-acak hariku yang teduh menjadi ramai oleh sinar mentari ekspresi dan hujan tingkahlakunya. Sehingga membuatku sibuk menata tanya di dalam pikir. Kok mereka bisa begini?

Ah! Dunia anak-anak memang punya cerita yang dapat kita baca, tanpa ia sampaikan. Namun melalui ekspresinya saja, kita bisa belajar, berkaca, menanya diri dan memetik ilmu.

Pada anak-anak apakah yang sudah ku lakukan untuk mereka? Sebagai penerus generasi? Bagaimana memperlakukan mereka titipan dan amanah Ilahi? Seperti apa membentuknya menjadi yang terbaik? Apakah masih ada secuil ekspresi yang membuatnya malah bertanya begini, “Ada apa dengan orang dewasa? Suka marah-marah ga jelas, kalau kami begini dan begini? Mengapa ada larangan untuk hal-hal yang kami ingini? Mengapa mereka tidak mengerti? Kan ini tidak berbahaya?”

Pikiran mereka belum sampai. Masih setahap untuk bermain dan menyenangkan diri dengan melakukan yang mereka mau. Padahal jauh-jauh hari sebelum mereka melakukan semua, orang yang sudah dewasa pernah menjalani. Mereka sudah kembali dari zaman itu. Mereka yang mempunyai pengalaman, menjadi tahu tentang apa yang boleh dan tidak? Bagaimana semestinya? Begini orang dewasa berpikir. Pikirnya panjang jauh ke depan.

Walaupun begitu, kadang-kadang, menjadi seperti anak-anak lagi sungguh menyenangkan. Makanya, kebersamaan dengan mereka ku jalani sebaik-baiknya. Teriak-teriak mengimbangi riuhnya. Memelas memohon dan merengek untuk keinginan yang harus terpenuhi? Dan lain-lainnya yang membuat energi terhadirkan lagi. Sehingga, sehari dua hari, tiga hari pun berlalu. Sampai akhirnya kami berjarak untuk beberapa waktu lagi. Sampai berjumpa kembali anak-anak manis.

***

Anak-anak memang begitu. Senangnya meniru segala laku. Apabila ada yang berbuat baik padanya, ia membaiki. Apabila ada yang memelototinya, ia mundur selangkah, dan kemudian berlalu tidak kembali lagi. Bila ada yang memberinya sesuatu, bisa menempel kayak perangko. Apabila ada yang melarangnya, ia tidak mau tahu. Tahunya kemauan dan keinginan terpenuhi. Selebihnya, terserah padanya. Walau kita penat menasihati. Sesekali langsung menggugu tanpa alasan, meminta perhatian.

Kecuali kalau memperlakukannya dengan sangat ramah, memuji, memperhatikannya dengan telaten, maka anak-anak tahu kita menyayanginya. Sebaliknya, bila memperlakukannya dengan marah, keji, memberi perhatian tidak pada tempatnya, maka anak-anak tahu kita tidak menyayanginya. Akibatnya, ia berbuat semaunya, sesukanya. Ujung-ujungnya, orangtua juga yang kerepotan, bukan? Menjadi terluka hati atas sikapnya, menjadi tersedihkan oleh ulahnya, menjadi kelamkan hari-harinya. Padahal, sesungguhnya, dunia anak-anak penuh ceria, berhias bahagia. Buktinya, bersama mereka kita bisa tergembirakan juga. Lalu hilanglah segala masalah yang menerpa. Bersama mereka kita bisa terbuai, hingga lupa hari telah berganti.

Esok, pagi-pagi sekali, mereka membuka hari dengan senyuman rapi. Senyuman khas, asli, sepenuh hati. Tidak memikirkan hari ini makan apa? Tahu-tahunya sudah ada. Kalau engga ada makanan, nangis. Merengek-rengek, manja.

Sungguh. Anak-anak mempertontonkan banyak ekspresi yang terkadang luput dari perhatian kita. Sehingga, tidak dapat lagi menikmati hari, tersebab kesibukkan yang menyibukkan rasa, memberatkan pikir. Sampai tahap lupa tersenyum dalam sehari. Tetiba hari sudah sampai di ujungnya, sore menyapa. Namun belum ada yang tersapa, termasuk diri sendiri. Karena katanya ia sibuk dengan aktivitas dan rutinitasnya. Bahkan tidak menyadari, ada yang terlukai oleh diri. Atas sikap dan ucap yang tidak tersadari. Atas ekspresi yang menyinisi. Terucap maaf dari diri, wahai semesta yang melingkupi. I am sorry, for anything error from me. Mungkin saja melukai hatimu, tanpa ku sadari.

*)menyembuhkan luka hati dengan memaafkan, mengobati luka raga dengan obatnya yang tepat. Sehingga sedalam apapun luka, akan sembuh. Meski dalam waktu lama, tapi semoga tidak selama-lamanya, ya.

Ini aja sich, pesan penting yang ku genggam erat. Tepat sejak luka jempol ku alami. Luka yang hari ini sudah sembuh. Walau belum total, namun sudah berkurang. Alhamdulillah.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s