Welcome to Simple Words

Hai, teman, selamat datang kembali di dunia maya. Lama tak berjumpa, I miss you so much. Hehe. 😀

Ya, senang rasanya kita berjumpa lagi di sini. Setelah berjibaku dengan dunia ibu-ibu akhir-akhir ini di dunia yang sesungguhnya. Dunia yang membuatku semakin salut dengan perempuan bernama ibu, emak, amak, bunda, umi, ibuk, mama, mami, bunda, mom, dan lain sebagainya panggilan kita pada beliau. Walaupun berbeda-beda panggilan, namun ibu tetaplah ibu.

Beliau yang mengandung dan melahirkan kita. Beliau yang senang dalam kebahagiaan kita. Beliau yang sangat terluka atas kesedihan kita. Beliau ibu, senantiasa dan selalu sayang walau bagaimanapun kondisi kita. Beliau ibu, menunjukkan semua dengan lelaku nyata, meski terkadang tanpa bicara. Beliau berusaha dan berjuang sekuat tenaga yang mampu beliau daya demi kita. Beliau yang istimewa di dalam hati.

Di sini, kita berjumpa lagi. Di dunia sederhana. Dunia yang ku syukuri untuk menjadi bagian dari hari-hari, sejak sebelum hari ini. Dunia yang ku jadikan jalan melanjutkan perjalanan lagi. Dunia yang sesekali ku intip saat ku rindu ibu saat jauh dari beliau. Lalu mengulik-ngulik pelosoknya untuk bertemu sebuah kata tentang ibu. Kemudian menelusuri sudut-sudutnya saat sebuah catatan memahat kata tentang ibu. Maka, betahlah aku berlama-lama di sana, sampai ku pernah lupa waktu.

Yah, aku lupa dan kemudian teringatkan lagi. Setelah bertemu dengan para ibu-ibu di sini yang ternyata teman-teman sebayaku. Bersua dengan mereka yang sudah bersamai anak-anak dan menjadi seorang ibu. Bertemu dan bersapa dengan beliau bersama buah hati yang lucu. Hingga akhirnya aku pun bertanya, “Kapankah ku menjadi ibu?

Hai, tentang pertanyaan ini, ternyata bukan hanya aku yang mengalami. Ada juga teman-temanku yang mengalami kondisi sama denganku. Mereka juga bertanya, senada. Pertanyaan ini mengalir dari bibirnya lancar dan mudah. Semudah ia menanya diri sendiri, tapi padaku. Karena pada saat itu kami bersama. Sama-sama melanjutkan perjalanan.

Dia sama sepertiku, dia temanku. Lama-lama, ia tersadarkan lagi setelah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia menyadarkanku juga atas pertanyaan-pertanyaannya. Bahwa semua ternyata, memerlukan proses yang tidak sesederhana yang kami tahu. Bahwa ternyata di balik yang kami tahu tentang teman-teman yang sudah menjadi ibu, ada perjuangan dan usaha yang beliau lakukan. Mungkin kami belum melakukannya, sedangkan kami tidak menyadarinya. Ha!

Semua ini bermakna. Semua ini berhikmah, pastinya. Semua ini adalah cara-Nya untuk mengingatkan kita, wahai-para calon-calon ibu… untuk semakin yakin dan percaya, dengan janji-Nya.

Tersenyumlah, teman-teman. Engkau tidak perlu terus menggugu begitu. Tidak usah lagi hanya bertanya-tanya. Sapalah pemilik hati, sampaikan kepada-Nya di tengah sunyi. Karena engkau tidak sepenuhnya sendiri. Jika saja engkau mau menyadari diri.

Saatnya bangkit, bergerak, melangkah, melanjutkan perjalanan dan tetap berhati-hati di jalan. Semoga kita bertemu, untuk saling bercerita tentang hal ini. Karena aku pun sama sepertimu, tentang hal ini. Yuuk bersinergi, menyuarakan impian. Saat menjadi nyata, engkau pun bisa berbagi. Kita juga bisa membagi cerita. Saat kita tidak lagi sendiri.

Seperti saat ini, ku bercerita melanjutkan perjalanan, bersama senyuman. Karena ku ingin kelak, ia masih membersamai saat bercerita senada dengan yang beliau bagi. Berkisah saat menjadi seorang ibu. Atau membersamai anak-anak yang lucu. Yuhu. Seperti ini.

Senang berjumpa lagi di sini. Dunia yang terdiri dari rangkaian kalimat-kalimat sederhana untuk mengungkapkan rasa-rasa dan menelurkan pikir-pikir. Paragraf sahaja yang ku gunakan untuk berbagi tidak hanya pikir-pikir dan rasa-rasa tersebut, namun juga ajang berlatih tersenyum.

Yah, tersenyum saja, untuk membuat hari ini menjadi lebih baik ku jalani. Karena memang begini salah satu efek tersenyum yang ku alami.

Tersenyum. Tersenyum lagi hari ini di sini, aku sungguh suka. Suka sekali merangkai senyuman seperti ini. Sebab dengan begini, bisa menghilangkan sedikit kepenatan pikiran. Bisa juga meluruhkan berat beban di hati. Bisa juga menemukan binar cemerlang harapan.

Ya, ada secuplik harapan yang dapat ku gantungkan lagi. Selain itu, ada seberkas sinar yang ingin ku rengkuh juga. Termasuk untaian makna yang akan nge-link dengannya. Sehingga, dengan menulis lagi, ku bisa bertemu dengan sesiapa saja dari sana. Beliau-beliau yang sahaja, namun luar biasa. Beliau-beliau yang mungkin belum dapat ku tatap mata, namun kami berjumpa via susunan kata. Beliau-beliau yang membuatku senang dan kembali mau tersenyum sebenar-benarnya, tidak hanya sekadar harapan yang ku susun melalui tulisan.

Hari ini, kembali lagi seperti ini, menyapamu aku sudi. Berbagi lagi seperti ini, walaupun tentang sekerat isi hati, aku rela. Bercerita lagi walau sepotong episode perjalanan, aku bahagia.

Bahagia yang ingin ku lihat padamu juga. Kebahagiaan yang ingin menebar di sekelilingku, termasuk di sini, seperti ini. Tepat saat engkau mampir dan kemudian bercengkerama denganku. Walaupun tangan belum bersalaman, jemari belum saling bertautan. Maka, seperti ini, menjadi teman yang kembali bertemu, aku sangat senang menjalani.

Me and Ndok IraWalaupun melalui dunia maya yang ku perhati, sesungguhnya dari sana engkau juga berbagi kisah menarik. Walaupun melalui susunan kalimat yang engkau tata sedemikian rupa dan ku mengerti yang engkau sampaikan, adalah juga sarana kita berkomunikasi. Sehingga, dengan berbagi seperti ini, ada lagi yang dapat kita susuri. Ketika perjalanan semakin jauh dari hari ke hari. Untuk menjadikan kita mengerti. Bahwa semua terjadi dengan makna yang bisa kita gali sedalam-dalamnya. Sesungguh-sungguhnya hati. Dari berbagai keadaan yang kita jalani. Dari setiap sudut keberadaan diri yang kita selami. Tentu saja tidak selalu dari diri kita sendiri. Akan tetapi atas pengalaman yang orang lain bagi, kita juga dapat memetik kumpulan nasihat, pesan, hikmah serta makna. Dan kemudian kita bagi, menjadi penghias hari ini.

Saat ini, di sini, kita bertemu lagi. Untuk menitipkan cuplikan pesan, hikmah dan ingatan untuk diri. Semua ku peroleh saat membersamai beliau yang berbudi, suka memberi, senang berbagi. 🙂 Beliau yang ku bersamai dengan senyuman, tatapan mata penuh tanya dan penasaran. Bahkan pernah juga membuatku harus terharu seketika. Dan sesekali, beliau membuatku tertawa juga, akhirnya. Selain itu, ada yang mengajakku berpikir panjang, merenung-renung, melangkah lagi, dan tidak seorangpun yang memintaku diam.  Karena aku sudah diam sendiri dalam kebersamaan kami.

Pesan-pesan yang ku pahami betul-betul, dan ku rasa bermanfaat di masa nanti. Pesan-pesan yang mungkin saja belum ku alami, namun beliau rela membagi. Pesan-pesan yang ku yakini, tidak mengalir begitu saja tanpa makna dan arti. Pesan-pesan yang ku jadikan sebagai hadiah terindah dari beliau sepanjang kebersamaan kami.

Beliau adalah seorang ibu. Sebagaimana halnya ibu yang dalam waktu-waktu terakhir, ku bersamai dengan baik.

Ibu, yaa, aku baru saja menjumpa ibu lagi. Setelah beberapa waktu lamanya kami berjarak raga, lagi. Sepanjang kebersamaan kami, tiada hari yang ku jalani tanpa bersama beliau. Kami beraktivitas selayak sahabat lama tak jumpa. Saling bercerita tentang hari-hari saat kami berjauhan raga. Kami yang saling merindui setelah lama terpisahjarak. Kebersamaan paripurna yang berkesan, meski hanya beberapa hari. Kebersamaan yang menitipku cerita tentang perjalanan hidup ini.

Ku lihat tatap mata beliau, sebelum kami berpisahlagi. Ku tahu, ibu yang tersenyum melepasku pergi, sedang berjuang menata hati. Sebab, tetiba mataku memberat dan kemudian ku tersenyum membalasi. Kami bersenyuman, kemudian berpisah lagi. Jauh di mata ibu, engkau dan nasihat-nasihatmu menemani ke manapun ku pergi.

Beliau adalah seorang ibu. Tidak jauh berbeda dengan ibunda yang ku bersamai. Beliau yang mempunyai pengalaman berperan sebagai ibu. Ya, beliau seorang ibu. Ibu muda yang mudah bercerita dan berbagi sepanjang kebersamaan kami. Cerita yang bukan biasa, namun sarat makna untuk ku pahami. Beliau tidak segan mengingatkanku lagi. Beliau memberai segala pelajaran yang beliau petik tentang menjadi seorang ibu melalui cerita. Atas pengalaman yang beliau alami sendiri.

“Ini pelajaran, Kak… penting untuk mengingati,” begini lebih kurang nasihat beliau lagi. Intinya adalah tentang tips-tips menjadi seorang ibu. Walaupun beliau baru-baru ini menjadi ibu. Sehingga secuplik pengalaman penting yang beliau rasakan berarti dan bermanfaat, pun beliau bagi. Ya, masih dalam hal pengalaman yang beliau miliki.

Super Mom, incredible.

“Terima kasih untuk berbagi, terkait tips-tips menjaga buah hati, termasuk memperlakukannya sebelum ia lahir,” bisikku mengamini. Ketika pada ujung-ujungnya beliau mendoakanku menelusuri jejak-jejak beliau. Iya, beliau turut berdoa, dan meyakinkanku lagi. Beliau menyampaikan padaku, semua ada masanya. Maka, bersabar untuk menjemput masa yang belum terjadi, dengan cara mempersiapkan diri. Membekalinya dengan ilmu dan pengetahuan terkait dunia keibuan, menyimak pesan dan nasihat dari pengalaman ibu-ibu yang berbagi, serta ber-ikhtiar mewujudkan cita untuk menjadi. Tidak hanya sekali, namun lagi dan lagi.

Tidak lupa pula beliau bertanya hal-hal penting yang ku alami. Bagaimana bisa begini dan begitu. Apakah yang ku lakukan dan bagaimana menyikapi. Bagaimana peran orangtua dalam keseharianku. Selanjutnya, beliau sampaikan juga tentang kesannya terhadap diri ini, “Kakak terlihat tenang-tenang saja, tidak seperti dia, dia, dan atau dia, yang ku perhati.”

😀 Aha! Segera ku amini. Padahal, di dalam hati siapa yang tahu. Cukup, sudah. Banyak juga ketidaktenangan ku alami. Namun, bila terlihat sebagaimana yang beliau ungkapkan, alhamdulillah. Semoga segala yang beliau sampaikan, menjadi bagian dari doa, untuk ku jalani.

Sepanjang kebersamaan kami, beliau menasihatiku banyak sekali. Ku anggukkan kepala tanda mengerti. Tersenyum tanda bahagia dan sesekali memperhati dua bola mata beliau yang berkelipan tiada henti. Termasuk ekspresi yang beliau bagi, dalam setiap kalimat yang beliau susun menjadi suara. Semua, akan mengembalikan ingatanku pada beliau lagi. Tepat saat catatan ini ku baca, nanti, di hari esok, entah berapa lama lagi. Beliau yang juga berpesan begini, “Untuk memperhatikan kondisi diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Tentang pikirannya, perasaannya, ekspresinya termasuk asupan gizi. Sebab sangat mempengaruhi kondisi buah hati.”

Dalam hal ini beliau berbagi tentang keadaan beliau saat mengandung buah hati. Beliau bercerita sangat lancar, atas pengalaman diri. Beliau berbagi dengan ekspresi yang sering berganti, sesuai keadaan yang beliau alami. Tentang suka dan dukanya, tentang segalanya yang mau beliau bagi. Sekali lagi, terima kasih untuk berbagi. Dengan begini, menjadi jalan ku berbagi juga, dan tersenyum lagi menempuh masa. Hari ini masih leluasa, merangkai kata menyusun dunia sederhana melalui rangkaian kata. Belum bersibuk ria dengan pernik-pernik peribuan. Karena menjadi seorang ibu, ternyata tidak semudah yang terlihat. Menjadi ibu, butuh pribadi yang kuat jiwanya, raga yang sehat dan pikiran terbuka.

“Sebab ku menyadari, hasilnya setelah buah hati lahir. Kondisi yang ku alami, merembes pada anak-anak. Aku akui, aku memang pernah dan bahkan sering bersedih hati, buah hati pun begitu. Isaknya pun sama seperti ketika ku menangis saat ia dalam kandungan. Iya, kami pun semirip tentang ekspresi. Seperti yang ku alami, ia pun mengalami. Memang, semua dalam kuasa Ilahi. Namun sebagai ibu, kita masih bisa berikhtiar dan berdoa yang terbaik untuk kondisi terbaik buah hati. Atas pengalaman ku berbagi, supaya sebagai ibu;hamil, harus peka dengan kondisi diri,” rangkaian kalimat yang beliau sampaikan, lebih kurang begini.

Aku yang menyimak sepenuh hati, menjadi tersentuh. Teringat perjuangan ibu merawatku semenjak dalam rahim beliau. Bagaimanakah keadaan yang beliau alami? Ku bertanya sendiri. Sebuah pertanyaan yang bisa saja menitikkan bulir bening permata kehidupan di pipi. Lancar, luruh, cepat, dan semakin banyak. Apalagi mengenang keadaan demi keadaan yang ku alami dalam waktu-waktu penting perjalanan hidupku.

Aku haru, terhadap seorang ibu. Sebagaimana halnya engkau, teman. Engkau yang mempunyai kesan tersendiri tentang ibumu. Ibu yang sahaja, rela berlelah-lelah dan berletih-letih dalam kelelahan dan keletihan yang bertambah-tambah seiring usia kehamilan. Sungguh, mulianya ibu.

Walau perjuangan ibu berpeluh keringat, lelah dan letih, namun masih tersenyum. Mengingat senyuman beliau, kembangkan senyuman pada wajah ini.

Wahai anak-anak, tersenyumkan ibu dengan caramu, sekuat kemampuanmu. Bahagiakan beliau dengan sebulat kemauanmu. Tenangkan hatinya dengan sikapmu, lisan dan perilaku, seluruh hidupmu yang tersisa. Jangan gores hati beliau lagi, jangan engkau lukai dan membuat beliau menangis. Jangan lagi, yaa. Bertekadlah bersungguh-sungguh, menenangkan beliau dan menyenangkan. Karena anak-anak adalah investasi dunia dan akhirat orang tua. Tidak hanya ibu, namun ayah juga.

Wahai ayah…
Terima kasih untuk mencintai ibu sebelum kami ada.
Terima kasih untuk menjaga perasaan beliau sepanjang usia kehamilan.
Terima kasih untuk memenuhi kebutuhan beliau setelah kami lahir.
Terima kasih untuk masih dan selalu bersamai beliau saat kami beranjak usia.
Terima kasih untuk pengorbanan mendidik kami semenjak kecil;
Terima kasih untuk menjadi ayah teladan dan terbaik.
Terima kasih untuk merawat kami.
Terima kasih untuk membersamai ibu tersenyum hingga detik ini.
Terima kasih ayah, sedalam-dalamnya untuk semuanya. Aku sayang ibu dan ayah.

اَللَّهُمَّ اغْفِرَلِيْ وَلِوَالِدَىَّ وَٰرْحَمْهُمَا كَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Allahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi aku di waktu kecil

Apakah kita telah membuat beliau tersenyum sebelum-sebelum ini. Apakah beliau sungguh bahagia saat kita melihat beliau tersenyum? Masih ada kesempatan untuk mensenyumkan beliau lebih indah. Menjadilah anak-anak yang shaleh shalehah nan berbakti dan mendoakan beliau dalam berbagai kesempatan terbaik.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close