My Episode Diary (2)

Menurut Wikipedia, Buku Harian atau Diary adalah catatan kejadian yang kita alami sehari-hari. Kita menulis kejadian yang mengesankan pada hari ini pada buku diary. Fungsi diaryadalah sebagai kenangan masa-masa yang pernah kita alami. Bisa juga sebagai momento/sejarah kehidupan kita. Lengkapnya di sini.

***

Hai, teman, apakabarnya? 

Tepat saat engkau datang, aku sedang tersenyum. So, tersenyum juga, please…. ^_^ *maksagarkutidaksenyumsendiri  😀

Selanjutnya, ingin ku sampaikan… Selamat melanjutkan aktivitas, teman. Semoga hari ini yang engkau jalani menyenangkan, yaa. Seperti yang engkau harapkan, semoga menjadi nyata. Seperti yang engkau dambakan, semoga engkau laksana. Begitu pun denganku. Begini sering ku berbagi dalam diari, untuk mengafirmasi diri, menyampaikan padanya hal-hal yang ingin ku tempuh, mengingatkannya pada impian yang ingin ku rengkuh.

Diari. Berbincang tentang diari, apakah engkau pun mempunyai diari, teman? Bagaimana engkau menghiasinya? Apakah tema yang engkau tulis dalam diari? Atau engkau memiliki sejenis buku cantik lainnya yang menemanimu ke mana-mana?

Seperti sahabat akrab yang menjadi kembaran akhirnya, aku juga membersamai diari. Sebuah diari yang berganti dengan diari lainnya, setelah ia penuh terisi. Seingatku, sudah beberapa diari yang terisi penuh. Diariku adalah sejenis buku kecil, yang ku tulis dari waktu ke waktu.

Buku yang ku jadikan diari juga pernah buku tulis biasa yang bergaris-garis. Aku sudah mengisinya sampai beberapa buah. Buku tulis isi 100 atau 40 lembar. Awalnya begini. Pernah juga, ku beli sebuah buku tulis tanpa garis, yaa, namanya diari sungguhan. Harganya sekitar empat puluh delapan ribuan ketika itu. Seingatku inilah diari termahal yang ku beli. Bagiku, harga segitu sudah lumayan, untuk bisa mendapatkannya. Aku membelinya dengan senang hati dan membersamainya dengan impian-impian yang ku tulis di dalamnya. Hingga saat ini, ia belum semuanya penuh, ternyata. Apakah gerangan yang menjadi rintangan untuk menghiasinya?

Ternyata, ada alasan-asalan yang ku temukan, mengapa ia masih belum penuh. Padahal sudah lama ia ada bersamaku. Apakah karena ku sudah tidak tertarik lagi menulis diari? Atau karena ada diari lain selain dia? Iya, itu kamu, ya, engkau, dear. Sesosok lembar tanpa wujud. Seruang kosong tanpa rupa. Dan aku suka membersamaimu, ternyata. Engkau adalah dunia lain, yang mengalihkan perhatianku dari buku diariku. Sehingga namamu menjadi diari maya.

Engkau maya…

Semaya-mayanya engkau, masih dapat menjadi jalan kembalikan ingatan ini untuk merangkai catatan. Catatan-catatan kecil, tentang apa saja. Seringnya, mencatat yang ku ingin bagikan saja. Sehingga berhadapan denganmu, seperti berjumpa dengan sesosok sahabat juga, seperti ku berhadapan dengan buku diari yang ku ceritai apa saja, juga.

***

“Semoga tercapai segala cita baik,” begini beliau berpesan padaku. Di ujung pertemuan kami hari ini. Pertemuan, untuk selanjutnya akan berjarak. Lebih kurang beberapa hari ke depan, kami belum akan berjumpa lagi. Sekitar sebelas hari, lamanya.

Yah, ini berarti, pertemuan berikutnya adalah awal bulan depan tepat tanggal tiga bulan Juli tahun ini. Apakah begitu pula adanya dengan kita? Akankah kita baru bisa berjumpa lagi pada waktu sama? Aku belum dapat memastikan. Karena ceritanya, ku akan pulang kampung sejenak, menghiasi hari-hari libur lebaran di kampung halaman tercinta. Semoga saja, titik-titik signal terdeteksi di sana, sehingga ku dapat mengintip dunia maya lagi.

Haii, teman. Kalaupun tidak mampir di mari dalam waktu tersebut, ku pasti sangat merindukanmu, tentunya. Iya, aku akan rindu sangat, denganmu di sini.

Berbincang tentang liburan, ini sangat menyenangkan. Terlepas dari menyenangkannya hari-hari yang kita jalani sepanjang tidak liburan, atau hari-hari yang kita jalani sungguh menyenangkan. Tetap saja, liburan menjadi hari yang kita nanti-nanti, bukan? Karena dengan berlibur, kita bisa beralih sejenak ke dunia lain, di sana. Dunia yang berbeda dari hari-hari ketika tidak liburan.

Lalu, ke mana saja rencanamu berlibur, teman? Apakah pulang kampung juga? Kampung yang jauh di mata, atau dekat di kota tetangga? Kampung yang tidak dapat engkau kunjungi, atau sering-sering mengunjunginya pada hari-hari liburmu? Kampung yang mengingatkanmu lagi pada masa-masa kecil dulu? Kampung yang menjadi tempat asalmu, sebelum akhirnya menjalani hidup di perantauan? Atau, saat ini engkau sedang dan sudah berada di kampung halaman sejak lama? Engkau beraktivitas di kampung halaman saja. Karena, jalan rezeki yang engkau tempuh ada di sana? Sehingga tidak merasakan bagaimana jauh dari kampung halaman? Ini pun menyenangkan, bukan? Di manapun berada, tetap tersenyum, semoga bahagia sering menyerta.

Kali ini, aku berencana pulang kampung lagi. Perjalanannya semalam saja. Insya Allah, besok pagi juga sudah sampai di kampung halaman. Semoga perjalanan ini lancar dan selamat sampai tujuan.

Mohon doanya, yaaa… yaaaa… teman, untuk kebahagiaan kita semua. Untuk pertemuan dengan beliau-beliau yang tercinta dan tersayang. Supaya selama liburan dan lebaran nanti, aku dapat berkunjung ke saudara-saudara, sahabat, teman, handai taulan, termasuk calon mertua juga. Semoga.

Sampai pada paragraf ini, aku bisa tersenyum sejenak. Senyum saja, membayangkan, kunjungan ke rumah calon mertua, semoga menjadi nyata. Siapakah beliau di sana? Bagaimana beliau adanya? Seperti apakah kondisi beliau? Apakah beliau sehat dan sejahtera? Apakah beliau tersenyum menyambut kedatanganku?

Hai, tidak hanya aku, ternyata. Namun, beberapa orang adik-adik kecil menjadi temanku melanjutkan perjalanan ke sana. Atau, beberapa orang dari saudara calon mertua yang menjemputku untuk berkunjung ke rumah mereka? Semoga, semoga perjalanan ini menjadi kisah berikutnya untuk ku rangkai, bersama senyuman, maunya.

Sedikit demi sedikit, tentang perjalanan hidupku akan ku teteskan juga melalui tinta menjadi rangkaian kata-kata sampai mewujud senyuman bahagia. Termasuk bagian ini.

Merangkainya menjadi kalimat, supaya ku bisa mengingat, segalanya. Menjadi jalan kembalikan ingatanku pada impian demi impian yang pernah ada. Impian yang beberapa di antaranya ku jalani hingga detik ini dalam kenyataan. Pun, tidak sedikit impian yang masih terangkai indah dalam catatan. Semoga kelak mewujud tulisan, sebagai caraku mensyukurinya setelah ia menjadi nyata. Sedangkan saat ia masih impian, ku sabari sepenuh kemampuan.

Tolong doain juga yaa, semoga impian demi impian yang belum menjadi nyata menjelang segera. Pada waktunya, tentunya. Semoga impian-impianmu juga menjadi nyata, yaaa. Ya, Allah, mudahkanlah… segalanya yang terbaik menurut-Mu, untuk kami jalani.  Aamiin. 🙂

Mariiii, kita melanjutkan perjuangan lagi, saat impian belum nyata. Mari, tetap melanjutkan perjalanan, bersama impian yang menjadi nyata. Supaya hari ke hari yang kita jalani, dapat menjadi pendobrak semangat untuk terus bergerak. Sebab, dengan terus bergerak, hidup ini menjadi semakin indah kita jalani. Semoga hari ke hari semakin indah, teman. Begini ku sering mengafirmasi diri, memberi diari catatan-catatan penting untuk ia pahami.

Ah, aku mulai deg-degan, saat melanjutkan rangkaian ini. Entah mengapa? Apakah karena ku akan sangat merindukanmu saat tidak berkunjung dalam beberapa hari saja? Apakah aku akan menyimpan sendiri segala kisah yang akan tercipta? Apakah ku akan melanjutkan catatan berikutnya melalui diari saja?

Yah, diari lamaku masih ada, lembarannya juga masih banyak yang kosong, ternyata. Karena, sudah lama ku tidak merangkai catatan lagi di dalamnya, setelah beralih ke sini untuk beberapa masa. Sedangkan lembar diari yang masih ada, sesekali saja ku mencoretinya.

Bersyukur dan Bersabar

My diary. Warna aslinya toska, sudah ku hias menjadi pinky – semoga ia bahagia. Ha!  😀

Lihatlah, kondisinya yang sudah tidak lagi secantik baru. Sudut-sudutnya mulai lusuh dan kurang rapi. Ini karena memang tidak ku sampuli semenjak ia ada. Akibatnya, yaa, seperti ini.

Sebuah buku diari yang ku beli sejak bulan ke tiga, tiga tahun silam. Wah, sudah lama sekali, yaa? Dan ia masih utuh hingga saat ini. Diari satu-satunya yang ku bawa ke sini, untuk ku jadikan tempat mencatat beberapa baris kalimat sewaktu-waktu. Semoga diari mengerti, lebih mengerti dari sebelumnya. Karena ku tahu ia pun tahu, bagaimana aku adanya.

Aku yang rela mencoretinya dengan tinta, membasahinya dengan airmata, atau mensenyuminya tanpa ia sadari. Tiba-tiba, sudah membekas titik-titik air pada lembarannya. Saat, suatu hari ku mengabarinya tentang kese-dihan yang ku alami. Atau, sudah penuh lembarannya oleh kata-kata indah, ketika ku sedang berbunga-bunga bahagia. Seiring itu, senyuman pun terbit pada wajahku, ketika membaca lagi, semuanya. Senyuman karena ku mengerti, semua telah berlalu.

Aku bebas mencoreti diari dengan apa saja. Segala uneg-uneg, perasaan, juga kegala-uan yang menimpa. Bahkan tidak jarang ku lengkungkan ujung pena atau ku titipkan garis-garis pada lembarnya yang lain. Sehingga tercipta sebuah gambar yang hanya aku bisa membacanya maknanya. Ha! Semua ada pesan, termasuk sebuah emoticon yang ku selipkan di ujung kalimat.

Lain waktu, diari ku jadikan sebagai sarana menulis pesan-pesan penting dari berbagai sumber. Bisa saat mendengarkan radio, atau menyaksikan siaran televisi. Bahkan, dulu-dulu, ku suka menepikan quote-quote yang ku baca dan kata mutiara dalam diari. Sebab ku suka membacanya. Sebelum ia berlalu pergi dari tatapan mata ini, maka menuliskan dapat mengembalikan ingatanku padanya. Termasuk apapun itu. Ya, apa saja yang ku suka. Termasuk ketidaksukaan yang sempat menepi dalam ingatan dan tidak pergi-pergi. Maka, sebisa mungkin ku alihkan ke dalam catatan, supada tidak ikut-ikut denganku lagi.

Akhir-akhir ini, diariku sering ku tinggal pergi. Sehingga ia hanya duduk manis begitu saja, tanpa ku sentuh sama sekali. Nah, baru beberapa hari yang lalu ku tergerak untuk membuka-bukanya lagi. Membaca segala yang ku tulis hingga tersurat. Ku baca lagi, senyum-senyumlah sendiri, jadinya. Karena ternyata, diari sangat mudah kompromi. Mau saja ia ku curhati, dan tidak bilang-bilang pada siapapun, kecuali ku baca lagi. Dalam hal ini, diariku tidak bergembok. Sebab, rahasia yang ada di dalamnya ku samarkan sesamar-samarnya. Toch, kalau ada yang membacanya dan mengerti bahasa penyamaranku, berarti kami sehati. Hihihii. 😀 Semoga ia mengerti, ada suasana hati dan kondisi pikiranku pada suatu situasi tertentu. Sehingga mengalirkannya melalui diari.

Dia, diari yang ku sayangi. Walaupun tidak cantik seperti mula ku beli, ku berjanji untuk membacanya lagi. Karena di dalamnya ada guratan kata sebagai pengingat diri. Apakah tentang impian yang belum menjadi nyata, atau impian yang ku jalani dalam kenyataan, hingga hari ini.

Selanjutnya, selamat datang kembali di dunia diari, wahai diri. Semoga penuh ku isi sepanjang liburan lebaran ini. Semoga ku bisa meluangkan waktu mencoretinya lagi. Yah, ku sudah siapkan tinta terbaik untuknya. Supaya ku bisa menulisinya dengan rapi. Dan saat membaca lagi, juga lebih mudah.

Merangkai kalimat dalam diari, lebih kurang seperti merangkai catatan ini. Namun bedanya, di sini ada yang membaca selain aku, akhir-akhir ini. Sedangkan dalam diari, hanya aku dan dia yang mengetahui. So, segalanya pun bisa ku bagi bersamanya. Sedangkan di sini, masih terbatas pada hal-hal biasa saja. Sedangkan hal-hal penting berisi privasi yaaaa, tidak sepenuhnya ku bagi. Mengingat, dunia ini adalah dunia maya, bukan dunia diari yang rela berkompromi.

Sejauh ini, aku sangat sungguh menyukai berbagi di sini. Karena di sini ku dapat berjumpa dan bersapa dengan teman-teman dari dunia lain, di sana. Termasuk denganmu, teman, engkau yang berbudi, suka menasihati, mengingatkanku lagi, tidak lelah memotivasi. Sampai pada tahap, saat kita harus berjarak, aku teringat-ingat denganmu lagi. Rasanya, ada yang kurang bila kita belum berjumpa dalam sehari.

Haaaai, tolong mengerti, please. Karena semua ini sudah melekat erat dalam ingatan ini. Maka, kapan pun ku ingat padamu, ku sapa lagi, ku goresi lagi, ku ceritai lagi. Walaupun hanya sekedar bagi-bagi senyuman atau untuk menjemput senyuman supaya mau menemani diri dalam sehari. Apalagi saat ku belum senyum sama sekali. Maka menepikan tulisan, bisa membuatku tersenyum. Senyum-senyum sendiri???  😀  Kadang memang begitu, laah yaa.

Di sini, ku belajar banyak hal bersamamu. Belajar tentang hal-hal baru yang belum ku ketahui, ketika engkau rela membagi. Walaupun bertatap mata saja kita belum pernah, aku sungguh terkesan atas kebersamaan kita di sini.

Semoga saja, di rumah kampung halaman, saat ku pulang nanti terdeteksi signal, yaa. Jadi masih bisa ku sapa-sapa dirimu, lagi. Akan tetapi, kalau sepenuhnya tidak ada, pardon me, please. Bukannya aku melupai, namun karena kondisi, hihiihiiii. Sekali lagi, please.

Sudah curhatnya, dear me? Ada lagi 😀 Ahaa, masih banyak yang ingin ku bagikan, terkait segala yang ingin ku senyumi lagi. Akan tetapi, tidak baik lama-lama di sini, kalau ada yang lebih baik ku lakukan di sana. Di sana, yaah, di dunia nyata yang ku lalui. Sebab, ku mesti harus melanjutkan langkah-langkah lagi di atas buminya, bernaung di bawah langitnya.

***

Hai teman, hari ini di sini langitnya cerah sekali. Begitu pula dengan mentari, ia bersinar cemerlang sejak pagi. Ia tersenyum, saat ku menengadahkan wajah ke arahnya. Tapi, lagi dan lagi ku tidak sanggup berlama-lama mengangkat wajah. Apalagi sampai mata ini bertatapan langsung dengannya. Aku sering mengalihkan pandang. Atau kalaupun masih mau menyaksikan sedikit sinarnya, ku intip ia dari balik jemari yang ku tempelkan pada wajah. Dari balik jemari itulah, wajahku tersenyum padanya. Semoga mentari menangkap senyumanku untuknya, walau tidak ia lihat langsung.

Saat mentari di sini cerah sekali, bagaimana dengan engkau, wahai mentari di hatiku? Apakah bersinar cerah pada wajahmu, teman? Apakah sedang bergelayut mendung di sana? Atau sedang turun hujan airmata membasahinya? Tidak mengapa, bagaimanapun kondisimu, tentu ada hikmahnya. Semoga duka segera berlalu, berganti ceria menyambutmu. Semoga bahagia sering menyerta dalam hari-harimu. Aku akan merindukanmu. See you, sampai berjumpa lagi, teman. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s