Berbagilah dengan Sebaris Senyummu

Ada yang mudah tersenyum pada orang yang baru ia temui, namun ada juga yang susah. Apakah karena tidak bisa senyum, atau irit ekspresi, yaah? 😉

Kami duduk bersebelahan, ia datang lebih akhir dariku. Kemudian duduk tepat di sebelah kiriku. Duduk dengan posisi punggung tegak, wajah datar, tanpa senyuman. Sekalipun kami sudah bertukar suara, ia sama sekali tidak tersenyum. Namun membuka sedikit saja bibirnya saat bicara, cukup untuk mengeluarkan suara saja. Ekspresi yang membuatku berpikir.

***

Berbeda dengan orang yang duduk di sebelahku, tadi, dia berbeda. Karena apakah? Bagaimana bisa? Siapakah dia?

Tiada airmata di pipinya. Hanya senyuman yang sering menebar pada wajahnya. Sesekali tertawa, bersama kerling mata penuh arti. Selebihnya, menggerakkan tangan, melambaikan jemari, menekuknya, atau sesekali jemarinya saling bertautan saat bercerita. Seringnya berbicara, berbagi apa saja. Hingga tidak terasa, sudah empat jam lamanya kami bersama.

Di antara aktivitas-aktivitas selain di atas yang kami lakukan, kami juga meneruskan perjalanan, melangkah. Setelah jauh berjalan, kami duduk-duduk kembali. Ia melanjutkan ceritanya, yang ku simak sangat teliti.

Di antara jeda bercerita, sesekali ia terdiam, lalu mengedarkan pandang ke sekeliling. Sering juga ia memperhati alat komunikasinya. Ia mengecek pesan singkat yang masuk, namun tidak pernah menerima telepon. Sehingga, kalaupun ia berbicara dengan entah siapa di sana, hanya melalui tulisan saja. Aku memaklumi. Apalagi sebelum mengecek, ia bilang, “Bentar ya, Kaak.” Sesaat setelah terdengar nada yang ia kenal dari alat komunikasinya.

“Ccringg…” Detik-detik berikutnya ia sibuk bertukar kata, sesekali tersenyum dan atau berbicara dengan diri sendiri. Setelah selesai urusannya dengan entah siapa di sana, kemudian melanjutkan bicara denganku.

Aku?

Aku menyediakan diri dan waktu ku untuknya. Sehingga, ku simpan alat komunikasi di tempat tersembunyi. Agar ku tidak dapat meraihnya. Apalagi mengecek pesan-pesan singkat untukku. “Semoga, tidak ada pesan sangat penting, selagi kami bersama,” begini ku berharap. Dan benar saja, tiada yang menghubungiku untuk hal penting atau tidak penting sepanjang kebersamaan kami.

Dia? Siapakah dia sesungguhnya? Dia yang membersamaiku hingga selama itu?

***

Tepat menjelang senja, kami sudah bertemu.

Aurora.

Yah, karena kami membuat janji bertemu lagi. Pertemuan berikutnya, setelah sebelumnya juga bersapa, bertukar cerita, tapi sebentar saja. Nah, ini pertemuan kami yang ke empat. Dalam pertemuan ini, Aurora bilang ingin sharing aja. Tukar-tukar cerita, berbagi pengalaman. Intinya adalah, pengen bersantai sejenak. Setelah hari-hari sepekan membuatnya jenuh. Ingin menghirup udara segar yang membuatnya tersegarkan lagi, setelah tersibukkan oleh aktivitas rutin dan berkutat dengan urusan-urusan penting yang membuatnya bo–ring.

Okee. Kapan-kapan boleh kita berjumpa lagi, bertukar kisah sembari lesehan di sebuah tempat makan. Begini ku berjanji padanya dan ia padaku. Supaya kami bisa bertemu lagi, untuk membagi waktu yang kami punyai. Supaya kami bisa lebih akrab, menjadi sahabat. Hingga akhirnya, waktu yang tepat datang. Kami bisa pergi bersama.

Tidak banyak yang ku ceritakan padanya, selain beberapa pertanyaan yang ia ajukan. Selebihnya, ia bercerita tentang dunianya. Termasuk kekalutan, kegalauan, kepeningan dan kegentingan yang ia hadapi menempuh hari.

“Dunia nyata ternyata begini, yaa Kak. Ada engga enak-nya ternyata. Apalagi saat aku harus berhadapan dengan hari-hariku terakhir. Makin banyak saja yang membuatku tidak tenang menjalaninya. Haaaah!” ia menghembuskan nafas cepat, di ujung suaranya. Lalu, tersenyum lagi, sesekali. Senyuman yang masih menepi di pipinya, ku tahu untuk mengalihkan berat beban hatinya. Senyuman yang ia tebarkan lagi, ku pikir untuk melegakan pikirnya. Wajahnya pun mencerah, membuatku melakukan hal serupa. Aku tersenyum bersamanya. Senyumannya yang ku jadikan cermin.

“Tapi aku tahu, mungkin karena aku kurang bersyukur, kali yak, makanya aku begini. Serba ga tenang, seperti mau gila rasanya. Kalau ku lanjutkan hari-hariku begini,” ceritanya yang membuatku tersenyum dan memperhatikan dua bola matanya yang cantik.

“Ha? Kok bisa begitu?” Ku tanya Aurora, penuh penasaran. Bagaimana bisa, ia yang ku perhati biasa saja, seakan tidak ada kendala berarti dalam hidupnya, rupanya menyimpan sejenis dilema. Dilema yang ia inginkan pergi. Sehingga ia dapat melanjutkan hidup lagi, dengan tenang.

“Iya, aku merasakan, kurangnya syukurku akhir-akhir ini, membuat hariku hambar terasa. Seperti kehilangan makna. Padahal ku tahu, keadaan apapun yang ku alami, pasti ada hikmahnya. Bukankah begitu, yaa Kaak?” ia masih mempertanyakan.

Pertanyaan yang ku jawab dengan senyuman, sambil sibuk memikirkan dirinya. Sehingga membuatku juga bertanya-tanya, “Siapakah Aurora sesungguhnya? Ia yang tampak ceria sejak pertama kali kami berjumpa. Ia yang masih membawa senyuman bahagia, dalam pertemuan kami berikutnya. Begitupun pertemuan terakhir kami, ia masih sama. Aurora, ada apa dengannya.”

Tidak ingin menerka-nerka, ku tanya-tanya apa saja tentangnya. Ku ajukan segala penasaranku tentangnya. Ku gali informasi lebih dalam tentang siapa dia? Bagaimana bisa sampai ke sini? Pertanyaan demi pertanyaan yang ia jawab dengan lengkap, masih bersama senyuman. Senyuman yang ia jaga ada, menemani wajah. Sehingga ku betah berlama-lama di sampingnya.

Ya, kami memang tidak duduk berhadapan, namun samping-sampingnya. Sehingga, ku untuk melihat ekspresinya, ku duduk miring sampai dapat melihatnya. Begitupun ia yang sesekali menempelkan tangan kirinya menopang kepala sambil memandangku, saat bercerita masih membawa senyuman. Lebih sering, senyuman lebar nan tertata, aku suka. Ia sangat pandai bercerita, membagikan pengalaman demi pengalamannya.

Senyuman yang ku kembalikan padanya, tepat setelah ia memberinya padaku. Senyuman Aurora yang penuh cerita, membuatku sangat ingin menceritakannya, seperti ini. Agar apa? Supaya ku tahu, cerita seperti apa yang tercipta atas pertemuan kami. Sebanyak apa ia membagikan tentang dirinya padaku. Bagaimana ia menitipku kisah hidupnya dan sedikit rahasia yang ia bilang, “Jangan bilang siapa-siapa yaa. Nanti begini, begini… bla, bla, bla.”

Aha! Ku tergelak mendengarnya. Bisa saja ia menitip rahasianya. Rahasia penting terkait hidupnya. Rahasia yang memang kami jaga saja dan ku skip dari ingatan, termasuk dalam catatan. Ia tiada di sini, karena rahasia.

Aurora yang cantik, memperlihatkan kharismanya untuk ku petik. Sehingga, tidak henti ku layangkan tatap pada ekspresinya yang terlihat, lalu menyelami ekspresinya yang tidak terlihat. Sebisa ku mampu, memberinya nasihat juga pengingat. Untuk terus bangkit, yakin, dan semakin percaya akan kelebihan dirinya. Tanpa mengabaikan kekurangan diri. Karena sepaket kita tercipta, untuk mengenali semua dengan baik.

Adanya kelebihan diri yang kita tahu, menjadi jalan kita kembali bangkit, meneruskan perjuangan. Sedangkan adanya kekurangan diri yang kita kenali, membuat kita menyadari, batasan-batasan yang kita mampu dan tidak mampu lakukan.

Adanya pengenalan terhadap kekurangan dan kelebihan diri, dapat memunculkan semangat hidup lagi setelah sempat tenggelam. Agar harapan menyala terang lagi, saat meredup, sebelum sempat padam. Agar hari-hari yang akan kita jalani dapat kita tatap dengan mata terbuka, wajah berbinar dan hati lapang, serta pikiran terbuka. Memikirkan hal-hal baik dan menjalani hari-hari yang lebih baik bersama kebaikan.

Aurora yang berkharisma. Ia mampu menebarkan energi positif, walau ternyata ia dalam keadaan tidak selamanya positif. Akan tetapi, seperti yang ia bilang, sepenuhnya ia berusaha mengenali diri dan mengenali keadaan. Ia belajar dari waktu ke waktu dari orang-orang yang ia temui. Dari orang-orang positif, ia mendapatkan energi positif untuk ia tebarkan. Melalui pertemuan dengan orang-orang penting, ia mempelajari ilmu baru. Bahwa, energi positif itu menebar, seperti halnya kebaikan yang juga menebar.

Benar saja, dengan senyumannya, ia menebarkan aura kebahagiaan pada sekitar. Sekilas terlihat begitu, saat awal kami berkenalan. Ternyata ia menjaganya selalu sejak lama, walau bagaimana pun kondisi hatinya. Seperti apapun ruwet pikirannya, ia masih bisa tersenyum.

Aurora, engkau luar biasa. Great teacher! Aku senang bertemu denganmu, lalu kita bersapa, dan kemudian bersama. Termasuk kebersamaan lagi untuk waktu yang lebih lama. Kebersamaan yang indah, ku hargai sebagai hadiah termegah atas kehadiranmu dalam hari ku.

Aurora beraikan segala dengan penuh semangat. Termasuk kesukaan dan ketidaksukaannya. Ia mudah berbagi cerita sambil masih membawa senyuman. Seorang yang hebat! Dalam kondisi seperti yang ia alami, ia mampu menjalani. Walau tidak jarang uji dan coba mendekati diri, ku perhati ia melewati semua dengan baik. Terlihat dari ekspresi demi ekspresinya, serta suara yang mengalir melalui bibirnya.

“Hai, Kak, bibirku sariawan,” ia memperlihatkan sebuah lingkaran kecil di sudut bibir  bawah bagian dalam. Ada luka yang mengakibatkan ia meringis. Ku lihat lingkaran kecil nan memerah itu, rasanya memang perih. Karena aku juga pernah mengalami kondisi serupa.

“Perih, yaa?” ku tanya Aurora seraya menyipitkan mataku, turut merasakan perih bibirnya.

“Oiya, aku bawa vita-c-min, mau yaa?” ku ulurkan sebutir padanya. Ia terima dengan senang hati. Detik-detik berikutnya, ia sibuk mengoleskan pada bagian sariwan sambil menarik bibirnya, sehingga terlihat dower. Saat ia memperlihatkan padaku, aku pun tertawa geli, “Aurora, ada-ada saja.”  Kami pun tertawa bersama.

Selesai satu cerita, ia bercerita lagi. Cerita demi cerita yang ia sampaikan, membuatku semakin mengenalnya. Termasuk ketiadaan ibunda tersayang yang telah berpulang beberapa tahun lalu, ketika ia masih menempuh pendidikan menengah.  Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Aurora yang kuat, tegar, optimis, positif, menarik, pribadi hebat. Lagi dan lagi, ku kagumi ia. Senang saja rasanya, mengenalnya seperti ini. Sehingga, ku mempunyai cerita lagi tentang perjalanan hidupku, saat bersamanya pada suatu hari. Dan aku merasakan manfaat yang ia tebarkan dari dirinya. Semoga hari-hari Aurora berikutnya, bertabur manfaat. Manfaat yang ia bagi pada sesiapapun yang ia temui dan bersamai. Sebagaimana ia membersamaiku.

Di antara banyak hal positif yang ku perhati darinya, ada akhlak baik yang membersamainya, yaitu diamnya. Yah, sebanyak-banyaknya ia bercerita tentang kisah-kisah hidupnya, ia juga bisa diam. Hal positif yang membuatku kagum lagi. Tepat, saat ia menanggapi sebuah perlakuan seseorang terhadapnya. Menanggapinya, ia berpikir dewasa dan memposisikan diri sebagai seorang yang berbeda lagi. Ya, berbeda dengan orang yang memperlakukannya, maksudku. Sehingga, ia memilih diam, tanpa menyakiti orang tersebut. Padahal ia merasa orang tersebut memperlakukannya kurang baik. Aku pun melihat, di depanku. Tapi, Aurora memilih diam, karena mengenali diri. Tentang siapa dirinya dan dia yang memperlakukannya.

Dari pertemuan kami dan cerita-cerita Aurora, ada hikmah yang ku petik, begini : Sebenarnya, ia hanya ingin mengeluarkan isi pikirannya, ingatan, termasuk uneg-uneg yang memberatkannya. Setelah ia bagikan, seakan tiada apa-apa, ia kembali tersenyum menawan. Bahkan saat membagikan pun, ia tersenyum penuh keceriaan. Maka sebagai pendengar yang baik, ku sediakan pendengaran terbaik, tanggapan, juga ekspresi sesuai dengannya. Walaupun tidak persis sama, namun mendekati.

Saat ia tersenyum, aku mensenyumi balik. Ketika ia tertawa, kami tertawa bersama-sama. Hingga tidak terasa, waktu empat jam pun kami lewati. Waktu yang tidak sebentar, juga tidak terlalu lama. Waktu yang kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk bertukar informasi. Saling menanyai dan memberikan jawaban. Aurora yang ku kagumi, dengan kecerdasannya, kepeduliannya, dan keinginan untuk berbagi. Sehingga aku merasakan hasil yang ia bagi. Tentang berbagi energi positif dengan orang-orang yang kita temui dalam berbagai situasi. Sempurna.

Semoga ku dapat meneladaninya, sebagai guru yang ku temukan dalam perjalanan hidup ini. Guru yang berjasa, menjadi jalan bagiku untuk merangkai senyuman lagi. Senyuman tentang Aurora. Aurora yang tersenyum saat menemuiku, membersamaiku, pun saat ia sudah jauh dariku.

Yap, ketika kami sudah berjarak raga lagi, seperti ini, aku ingat Aurora. Lalu, aku pun tersenyum, mengenangnya. Senyuman yang ku bagikan untuknya, juga. Senyuman yang ku ingin masih ada, sekalipun kami tidak dapat bersenyuman lagi, untuk sementara. Semoga, lain waktu kami bertemu lagi, senyuman Aurora lebih berseri, dengan kondisi hati yang sama. Karena ku tidak mengetahui bagaimana keadaan Aurora yang sesungguhnya, jika saja ia tidak bercerita.

Aurora yang cantik, semakin cantik dengan senyuman. Dari balik senyumannya, ada kisah unik. Kisah yang ia kemas menarik, melalui cerita yang ia bagi. Cerita demi cerita yang membuatku tersenyum. Senyuman penuh makna.

Aurora yang mensenyumkan, tetaplah tersenyum, teman.

Aurora yang menitip kesan dalam perjalanan, tetaplah berkesan, teman.

Aurora yang sedang melanjutkan perjalanan, semoga selamat hingga tujuan, teman.

Aurora yang beraikan kisah tentang perjalanannya, tetaplah berkisah, teman.

—Walaupun melalui sebaris senyum yang engkau bagikan.—

Senyuman yang menitipkan kebahagiaan, bagi sesiapa yang engkau senyumi. Tanpa engkau sadari, atau menyadarinya.

Senyuman yang engkau jaga dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, menjadi bagian tidak terpisahkan darimu, lagi. Buktinya, wajahmu masih penuh senyuman, sekalipun di dalam hati ada gelisah, yah! Senyumanmu berhikmah.

Dan tahukah engkau bahwa, tersenyumnya engkau mensenyumkanku? Aku yang tertarik padamu sejak awal kita bertemu, oleh senyumanmu itu. Walaupun ku belum bersapa denganmu, kita belum bertukar suara, hanya melalui senyuman, kita pun saling bicara, bertukar suara, dan juga cerita.

***

Hai, teman, ini tentang Aurora dan senyumannya yang ia tebarkan. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah engkau masih tersenyum saat ini? Senyuman seperti apakah yang membersamaimu? Apakah senyuman bahagia dan berseri-seri? Atau senyuman datar saja, untuk olahraga pipi? Sebab suasana hatimu sedang dalam kondisi tidak mau tersenyum, barangkali?

Tersenyumlah, menjalani hariAh, lagi-lagi ku memprediksi. Semoga, aku salah. Karena buktinya, engkau sedang tersenyum sepenuh hati, saat ini. Senyuman dari hati. Senyuman yang engkau tebarkan pada orang-orang yang engkau temui, dan mereka tersenyum kembali, padamu. Sehingga, hari-harimu penuh bahagia bersama senyuman yang engkau bagi, teman.

Berbagilah juga dengan sebaris senyum. Tersenyumlah, menjalani hari.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

One Comment

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s