Ada Kisah Di Balik Senyumanmu

Jadikan pengalaman orang lain sebagai hasil pelajaran. Jadikan pengalaman diri sendiri sebagai bahan pelajaran. Jadikan pembelajaran hari ini untuk mendewasakan diri, membuka cara pandang, mengenali diri, siapa, dari mana, mau ke mana? Supaya kita lebih sering menyadari diri.

Hari kemarin telah berlalu dan tidak akan pernah kita tempuh lagi. Ia telah menitipkan oleh-oleh berupa pengalaman yang menyertai kita meneruskan perjalanan. Begitu pula hari esok yang belum kita jalani. Ia menyediakan rangkaian pengalaman untuk kita jemput. Semoga, hari esok yang kita damba, mensenyumkan lebih cerah. Semoga, kebahagiaan menjadi bagian dari hari-hari kita berikutnya.

Hari ini adalah lembar pembelajaran baru. Orang-orang yang kita temui, menjadi teman-teman sesama pelajar dan juga guru-guru untuk bertanya. Begitu pula dengan lokasi yang kita kunjungi, adalah tempat belajar terbaik. Maka, jumpailah teman-teman terbaik, para guru dan juga tempat terbaik pada waktu terbaik. Belajarlah, berbagilah, membacalah, menelitilah, memahamilah. Lakukan semua dengan sungguh-sungguh, penuh rasa ingin tahu dan keinginan tinggi untuk bertambah pengetahuan, berkembang pengalaman, bertukar pikiran dan juga wawasan. Niscaya, hari-hari yang penuh pembelajaran semakin ringan kita tempuhi.

Kita berubah dari waktu ke waktu, seiring pergantian hari yang kita jalani. Sesuai pengalaman demi pengalaman yang kita temui, ia dapat membentuk diri kita. Seiring ilmu baru yang kita pelajari, mengubah cara pandang kita.

Belajarlah, membaca, menulis, memperhati, mengingat, menebarkan pesan dan juga hasil pembelajaran yang berarti. Tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga beliau yang kita bersamai. Lakukan aktivitas ini dengan sepenuh hati, benar-benar, dan menghayatinya. Maka kita akan menemukan jalan-jalan terbuka lebar, ruang-ruang tersedia luas, lembar demi lembar pelajaran membentang indah. Untuk kita pelajari, dari waktu ke waktu.

***

Awal datang lagi ke sini, aku belum bisa tersenyum sempurna. Karena membawa ingatan demi ingatan pada hasil bacaan yang melekat dalam pikiran pada sebuah kesempatan. Aku pun jadi terbawa suasana hingga menghabiskan jadual seharian dengan baca-baca saja. Tanpa menulis sebaris kalimat pun, di sini.

Aha? Membaca apa, temanya? Semenarik itukah untuk mengalihkan perhatianku dari merangkai catatan? Begitu hangatkah tema yang ku baca? Atau penasaranku semakin menjalar panjang, menanjak tinggi tentang tema yang ku baca? Adakah semua terjadi kebetulan?

Ku pikir, tidak. Namun menjadi pengalaman, melalui orang lain yang membagikan tulisannya. Menjadi pengetahuan, atas bahasan yang ku baca lagi dan lagi. Belum puas dengan satu tulisan, berlanjut pada tulisan berikutnya dengan bahasan senada. Lalu, saat ini pertanyaan tersebut masih ada. Tapi, belum ku lanjutkan membaca di sana, karena mengingat misi yang ku punya. Untuk menitip catatan, lagi di sini.

Ini artinya, beralih pada aktivitas mencatat, ku sedang mengendapkan pikiran yang hadir. Apakah setelah membaca, dari pengamatan sepanjang perjalanan tadi, atau hanya mengabadikan sekitar yang ku bersamai. Semua ini, membuatku mau tersenyum lagi.

Merangkai catatan dalam diam, menulis di saat tiada sesiapa di sini. Ini waktu yang tepat. Ku pikir begini, awalnya. Maka, ku lanjutkan merangkai catatan… dalam diamku.

Kalau sedang ramai-ramai, ada sesiapa di sekeliling, maka perhatianku fokus pada mereka. Sehingga tidak ada waktu untuk merangkai tulisan. Kalaupun memaksakan, tidak akan fokus. Sebab? Menulis, bagiku, memang saat sendiri, bisanya. Ketika ada yang tiba-tiba mendekatiku saat merangkai catatan, ku henti sejenak. Soalnya, ini khan ‘diari’ ceritanya. Berbeda setelah ia selesai, lalu publish, berubahlah namanya menjadi ‘Diam’. Lha, kok bisa? 

Dia diam, aku pun diam. Ketika kami bertemu lagi masih dalam diam, namun kami bertatapan. Setelah diam lama-lama ia seakan berbicara padaku untuk menceritai. Bahwa aku pernah membersamainya tentang hari-hari tertentu yang kami habiskan bersama. Ia menertawaiku, mencurhatiku, menggugu di depanku, menyampaikan segala keluh dan uneg-unegnya, ia beraikan airmata meluruh, bahkan tidak jarang senyumannya mensenyumkanku. Begitulah, ia berubah menjadi temanku. Teman lama yang kembali bertemu.

Bertemu dengannya lagi, seakan aku bertemu dengan seseorang yang tidak ku kenali. Terkadang, ku membersamainya seakan diriku yang lain. Atau, ku perhati ia sebagai seseorang yang begitu berbeda dari diriku. Adakah memang begitu, perjalanan ini?

Lalu, bertanya ku sendiri, “Ternyata aku pernah begini, menanggapi keadaan. Rupanya ku pernah begini menyikapi situasi. Ooo.. lalaa, aku tidak menyangka perjalanan ini berliku-liku, banyak rupanya, beraneka cuacanya, semua membuatku terharu, membacanya lagi.” 

Aku pun memberinya senyuman, setelah kami semakin dekat, ku peluk erat, hari ini. Kami bersama, siap melangkah lagi. Yuuk mari. Bersama-sama tentu lebih baik, daripada ku biarkan engkau sendiri.

Membaca kisah perjalanan diri, setelah ku berada di masa depan dan berlalu darinya, seperti melihat seorang sahabat yang tertatih-tatih berjalan, berjibaku, berjuang, dalam suka dan dukanya.

Begitu pula yang sedang ia alami sekarang, di usia ketika ku seusia beliau dulu. Aurora. Kedatangannya lagi, hari ini, saat ku sedang merangkai catatan ini. Maka, menepilah ia di sini, sebagai bukti pertemuan kami lagi. Hihii.  😀 Ku lanjutkan merangkai catatan lagi, tentu saja setelah Aurora berlalu. Karena sebelumnya kami sempat habiskan waktu bersama, bertukar kisah selama belum bertemu lagi. Berbagi cerita tentang hari-harinya. Aku menyimak, penuh perhatian.

Wajahmu mengalihkan ku dari duniaku, Aurora. Engkau yang tersenyum cantik, membuatku tertarik untuk beralih sejenak darinya, menuju padamu.

Aurora yang datang membawa senyuman, ku baca jelas pada wajahnya. Lalu kami berjabat erat, bersenyuman sekali lagi, bertanya kabar, dan mempersilakannya duduk. Kali ini, pertemuan kami yang ke tiga. Yha, Aurora yang ku kagumi saat awal kami berjumpa, hingga pertemuan ke tiga ini ku masih kagum dengannya.

Aurora yang tersenyum, lama-lama mendekatkan hatinya padaku. Kemudian bercerita tentang segala yang ia rasa, alami dalam waktu dekat. Ini namanya curhat. Yup! Menyimak curhatan Aurora padaku, seakan ku memperhati diri sendiri, ketika berusia sama sepertinya. Aurora yang hebat! Lanjutkan perjuangan. Karena saat ini adalah waktumu menjalaninya. Engkau sedang berada dalam masa-masa tersebut.

“Iya, semangat terus,” lambainya di ujung pertemuan kami hari ini, membawa senyuman. Sempat juga beraikan kalimat berikutnya sebelum ia benar-benar berlalu untuk meneruskan perjuangan, “Kak, lihat langitnya mendung, kayak hatiku.”

***

Aku teringat, untuk merangkai catatan tentang hal ini. Karena ku telah membaca terlebih dahulu sebelum merangkai catatan. Bacaan yang mengalihkan perhatianku. Sehingga, beberapa jenak waktu yang ku luangkan sehari, untuk membaca dan menulis, kemudian membacanya lagi. Dengan begitu, ku bisa tersenyum kembali.

Termasuk membaca wajah dan ekspresi Aurora, lagi hari ini. Ia yang tersenyum meriah seperti biasanya, ternyata membawa gumpalan mendung di ruang hati. Tapi, ku jelas tidak tahu kondisinya, jika saja ia tidak bercerita namun berceria saja.

***

Beberapa waktu lalu, sejak awal hari, hingga seharian ku membaca-baca saja. Sehingga tidak merangkai meski sebuah tulisan. Karena asyik menelusuri tulisan demi tulisan yang mengantarkanku pada informasi-informasi baru. Ya, sibuk membaca, terkadang aku memang tidak menulis.

Semalam sebelumnya, aku sempat bermimpi. Mimpi yang menarik-narik ingatanku untuk menggerakkan jemari lagi. Awalnya untuk merangkai tentang mimpi tersebut. Untuk ku susun menjadi rangkaian catatan. Tapi sebelumnya, ku ingin baca-baca dulu. Selanjutnya baru menulis, begini rencanaku. Akan tetapi, mereka membuatku tergoda untuk meneruskan baca-baca saja. Akhirnya, tulisan demi tulisan tersebut mengalihkan perhatianku hingga jauh menyelaminya.

Aku mulai menulis beberapa kata saja, awalnya. Kata-kata yang awalnya untuk menemukan secuplik inspirasi tentang mimpiku, malamnya. Hingga akhirnya, kata-kata tersebut malah menyampaikanku pada link-link yang membuat pertanyaanku bermunculan. Tepatnya setelah membaca satu catatan, aku beralih ke catatan berikutnya. Begitu yang terjadi, ku alami, ku lanjutkan, hingga habislah waktuku hanya untuk baca-baca saja. Aaaaaaaah. Makin penasaran. Begitulah perjalanan di dunia maya, terkadang ia begitu.

Ku baca lagi tulisan demi tulisan yang menguak pikirku untuk merangkai catatan lagi. Catatan yang hadir alami, walau tidak sepenuhnya begitu. Karena terkadang sempat ku olah dari hasil bacaan, kemudian memoles dengan pengalaman sendiri. Hingga menjadi catatan penting untuk ku ingat.

Adapun pesan penting dari hasil bacaan demi bacaan terakhir. Supaya, menghargai penulis sebuah catatan, dengan mencantumkan sumber dan penulisnya. Jika ku ingin memetik kembang bunga senyumannya yang mewujud tulisan. Meskipun ia tidak meminta di setiap catatan. Akan tetapi, begitulah aturannya. Untuk menghargai karya dan hasil perjuangan penulis yang menghadirkan tulisan indah. Tulisan yang akhirnya ku sukai. Penulis yang bahagia, melimpahkan kebahagiaannya padaku juga. Walau ia tidak mengetahui atau menyadari, ternyata ada yang membaca tulisannya dan bermanfaat. Sungguh, perjalanan ini menyenangkan.

Aku bisa tersenyum, bersama mereka yang menulis, dengan membaca. Dari satu bacaan ke bacaan berikutnya, ku seakan bercakap dengan penulisnya. Dari satu ulasan ke ulasan berikutnya, kami seakan bertemu sapa. Walau tidak bertatap mata, meski tidak bertukar suara. Beginilah indahnya aktivitas membaca. Tulisan yang ku baca dapat membuka pikiran, menenangkan jiwa, menggerakkan ujung bibir untuk tertarik simetris bersamaan.

Begitu juga kah yang engkau lakukan saat menulis, teman? Sehingga, tulisanmu mensenyumkanku saat kami bertemuan tatap, kemudian? Mungkin setelah beberapa tahun, atau keesokan harinya.

***

Sepanjang waktu membaca, ku masih berjuang menemukan cara bagaimana bisa menulis? Perjuangan yang ku dayakan, membuatku tidak sanggup juga merangkai catatan. Ujung-ujungnya, hari pun berganti. Esoknya, aku masih bertanya-tanya tentang tema yang sama. Maka, ku lanjutkan membaca lagi. Membaca juga hampir seharian, sampai menjelang malam datang. Sibuk-sibuk menelusuri bahan bacaan, apakah ku tidak ingin menuliskannya? Walaupun melalui sebaris kalimat?

Barulah, hampir tengah malam menyapa. Tepatnya setelah senja berlalu, aku merangkai juga sebuah catatan. Yup! Catatan tentang menemukan jiwa yang hilang. Yang ku juduli dengan angka dua di belakangnya, sukses ku senyumi. Artinya, catatan dengan tema sama sudah dua kali hadir ke sini. 😀 Catatan yang ku tulis, berkaca dari pengalaman demi pengalaman, perjalanan demi perjalanan, pencarian demi pencarian, penemuan demi penemuan.

Lalu, apakah sudah menemukan jiwa yang hilang ku maksud? Sampai ku juduli dengan judul senada yang pernah ada? Atau karena belum bertemu jiwa yang hilang? Siapakah jiwa? Di mana berada? Mengapa menempuh perjalanan untuk menemukannya? Atau, melanjutkan perjalanan ini bersamanya yang sudah ku temukan?

Pertanyaan demi pertanyaan terjawab juga, seiring bacaan demi bacaan yang ku temui. Bacaan demi bacaan yang mengingatkanku pada awal mula merangkai catatan. Catatan demi catatan yang mestinya dalam diari saja, tertulis di atas kertas, lalu ku baca sendiri, hanya untuk diriku. Kalau hanya untuk mengetahui perjalanan diri. Namun, ada misi lain yang mengajakku ke sini. Lalu, menulis catatan dari hari ke hari, tidak hanya dalam diari. Supaya apa?

Agar ku dapat meliriknya, di waktu-waktu terbaik berkunjung lagi. Sebab, lembarannya tidak memberatkan untuk ku panggul. Lembarannya sangat banyak namun mudah ku bawa ke mana-mana. Sehingga merangkai catatan kapan saja, bisa. Kecuali untuk posting tentu membutuhkan kuota yang tersedia, hihihii. Nah, dalam kesempatan kuota internet mencukupi dan sedang terisi, aku bisa langsung menerbitkan di blog. Kalau sebaliknya, ku simpan saja dalam draft, lalu ku pandang-pandangi, ku baca sendiri, ku perbaiki lagi. Untuk diriku sendiri. Cukupkah sampai di sini?

Saat menulis dalam diari, lalu, kalau ku pergi-pergi dan tidak membawa diari, tapi ingin membacanya lagi? Maka harus menunggu kembali pulang, baru bisa ku baca lagi. Maka, ku tidak henti sampai di diari saja. Ku tepikan juga pada lembaran ini. Agar kapan-kapan ku terkoneksi lagi dengan dunia luar, kami bisa bernostalgia. Kapan saja, bila-bila masanya, bebas.

Lembar yang tidak harus kebasahan saat hujan. Lembar yang sangat ringan, melayang-layang, bertebaran, bertaburan, di ruang ingatan. Taburan yang pernah ku lihat sejak lama, dulu sekali. Selanjutnya, bisa ku intip lagi lembar demi lembar, sesuai keinginan. Seperti halnya saat ku membaca tulisan demi tulisan yang bertebaran di sini. Bahagia rasanya membersamai semua. Tulisan demi tulisan yang bertebaran, banyak sekali. Sehingga, ku bisa baca-baca lagi. Sampai lama, tapi semoga  masih bisa meluangkan waktu untuk merangkai catatan juga. Supaya ku tahu, pernah bertemu dengan siapa, pada waktu sama. Ada pelajaran apa yang ku petik, untuk ku ingat lagi. Siapa saja yang berbagi pengalaman denganku, hingga ku terkesan.

Lain waktu, kami berjumpa lagi, ku senyumi mereka penuh makna. Senyuman yang ada cerita dibaliknya. Seperti senyuman Aurora yang ku perhati lagi hari ini. Senyuman bersama ceritanya, setelah kami bertukar suara.

Aurora, terima kasih untuk berbagi. Semoga hari-harimu menjadi lebih ringan dengan membaginya. Engkau masih muda. Masih panjang jalan yang akan engkau tempuh. Masih jauh jarak yang harus engkau lalui. Masih banyak kesempatan untuk engkau rengkuh. Terus semangat. Meski mendung bergelayut di ruang hati, tetap tersenyum seperti tadi. Darimu ku belajar lagi. Belajar menguasai keadaan, menaklukkan rintangan, menghadapi tantangan. Semoga kita berjumpa lagi, bersama senyuman yang lebih cerah, dari ruang hati yang benderang, yah.[]

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close