Menemukan Jiwa yang Hilang (2)

Terurai sudah benang-benang ukhuwah antara kami.
Benang-benang penuh warna yang membentang indah.
Menjadi bahan untuk kami kreasikan menjadi selembar kain kebahagiaan, bercorak keceriaan dalam hari-hari yang kami jalani bersama.
Ya Allah, semua karena Engkau,
karena kebaikan-Mu,
sampaikan melalui hamba-hamba-Mu pada kami sekeluarga.

Karena Allah sayangi kami, Allah tunjukkan keagungan-Nya. Allah penuhi janji-Nya. Bahwa kami akan bertemu juga pada waktunya.

Baru beberapa hari kita bersama, namun sudah banyak kesan tercipta. Semoga menjadi jalan bagi kita untuk merangkai kisah kita.

(Diari, 14 Juli 2014, dilengkapi dengan garis-garis lengkung sederhana di samping tulisan)

***

Terima kasih teman, untuk mencahayai hidupku lebih berbinar. Walau pun ku tidak mengetahui, kapan, di mana dan bagaimana awal kita berjumpa. Namun yang jelas, ku pernah menjumpamu dalam ingatan demi ingatan yang ku abadikan melalui goresan catatan atau lukisan.

Lukisanku memang tidak sempurna. Begitu pula dengan tulisan yang ku cipta. Namun bersamamu, dengan adanya engkau dalam kehidupanku, semua menjadi penuh warna.

Tentangmu pun aku belum pernah tahu, sedikit tahu, atau sudah banyak tahu? Bagaimana pun, ketika kita bertemu, aku tentangmu sungguh masih sangat terlalu awam. Jadi, tolong maklumi yaa.

Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, ku mempelajarimu. Mempelajari gaya bicaramu, kebiasaanmu, kesukaanmu, ketidaksukaanmu, pengalaman yang engkau bagikan, pengetahuan yang engkau sarikan, harapan yang engkau ulurkan, kenangan yang engkau suarakan, suara yang engkau alirkan, gerak dan sikap yang engkau perlihatkan, dan segala hal tentangmu yang perlu ku pahami. Yah, dalam masa belajar tersebut, ku akan sering menanyamu, menuliskan hasil pembelajaran, membacanya lagi, mereview dan evaluasi, supaya bertambah tumbuh dari hari ke hari, pengetahuanku tentangmu. Bertemu, bersama, untuk mengenali dan memetik makna di dalamnya. Begini ku mendamba sejak lama.

Hampir saja ku terlupa tentang semua. Sampai aku teringat lagi, hari ini. Yah, tepat saat ku membalik lembar demi lembar catatanku. Helai demi helainya yang ku sibak, berarti ku sedang menelusuri ingatan demi ingatan. Hingga akhirnya… Aku tersenyum penuh makna. Ku senyumi impian yang menjadi nyata, sampai detik ini. Pun, ku senyumi juga impian yang sedang melambaikan jemarinya dari masa depanku. Masih jauh atau sudah dekatkah perjalananku menujunya? Wallahu a’lam bish shawab.

Nah, berhubung saat ini ku sedang ingat, maka inginku titip lagi sebagai pengingat untuk nanti. Sebagai langkah yang berikutnya melanjutkan pencarianku. Apakah masih mencari diriku yang belum utuh sempurna? Atau mencarimu hingga ke dunia maya, hahaa. 😀

Untuk menemukan informasi, menyemarakkan hari-hari, membaca lagi dan lagi, membaca untuk melenturkan pikir, memasuki pintu ilmu yang membuka, dalam kesempatan ini. Bagaimana aku memasukinya? Bagaimana cara menemukannya bila belum terlihat? Semua kembali pada diriku. Adakah aku cukup tahu diri untuk meneruskan langkah lagi? Maukah aku bersyukur atas apapun yang ku temukan dalam perjalanan yang ku tempuh? Dan yang terlebih penting adalah seberapa besar tekadku untuk bangkit lagi demi mencapai tujuan?

Jalan masih panjang, kawan…
Walau waktu hidupku sebentar, meski sedetik lagi…
Aku tidak akan rugi kalau bangkit sekali lagi.
Setidaknya untuk menginspirasi, jikapun sedetik kemudian aku tiada.
Meski aku mesti pergi, meninggalkan dunia ini.
Maka sebelum semua terjadi, aku mau melangkah, lagi.
Hanya selangkah lagi saja.
Bangkit dan berjuang.
Untuk menjejakkan langkah, menitipkan selembar senyuman tentang hari ini. Karena senyuman ini ada. #smilesmile 🙂

Seperti para ahli di bidangnya, tentu melakukan banyak sekali latihan, percobaan, penelitian, menelaah, mengkaji, hingga benar-benar memahami yang ia lakukan dan lebih mengetahui dari yang lain. Jelas tanpa rintangan dan halangan, apalagi tanpa perjuangan dan pengorbanan. Lalu di ujung perjuangannya, sang ahli sempat melirik sebentar, pada prosesnya. Pada saat itulah senyumannya mengembang mekar. Mengingat jalan panjang yang ia tempuh, lama waktu yang ia habiskan, begitu juga dengan biaya yang ia keluarkan. Semua terbayarkan oleh pengakuan atas usaha, kerja kerasnya, kegigihan, keuletan, ketekunan hingga berhasil.

Begitu pun denganmu. Ketika engkau mempunyai ingatan tentang masa depan yang engkau dambakan, pegang erat. Ini namanya impian. Genggam kuat-kuat, jadikan peneguh diri ketika bertemu kendala dan rintangan. Camkan tepat di sudut hati, lekatkan dalam ingatan. Maka, seiring waktu berjalan, langkah-langkahmu bergerak menujunya, mendekati. Tanpa engkau sadari, atau engkau sadari. Perhatikanlah, impian masa lalumu yang menjadi kenyataan. Apakah memang menemanimu selama ini? Dalam melanjutkan perjalanan? Bagaimana bisa?

***

Catatan ini ku lanjutkan lagi, mengenang "Menemukan Jiwa yang Hilang." Pernah ku tulis juga setahun lalu dalam bulan yang sama, Juni 2016. Berikut cuplikannya sebagai lanjutan, yaa…

😀

Begitu pula dengan cita. Engkau hanya perlu meneruskan langkah saja. Melangkah lagi dan lagi. Untuk menjemput citamu. Tanpa lelah, tanpa menyerah.

Yah. Mulailah dengan apapun yang engkau punya. Yang terdekat denganmu. Dengan caramu. Begini guruku berpesan indah di suatu dekade, yang lalu. Saat kami bersitatap haru berbagi ilmu. Beliau menginspirasiku, dengan kekata ramah yang beliau susun dengan ayu.

Aku suka. Maka aku pun meniru. Meniru cara beliau bertutur. Memperhatikan gerak bibir pena beliau meliuk. Menyimak suara khas beliau. Walau sekalipun kami belum bersua. Namun begitulah adanya. Dengan apa yang beliau punya. Yang terdekat dengan beliau, maka kami bersapa. Sempat pula bertegur sopan dalam bahasa jiwa, dengan susunan kata. Meski hanya membaca kekata yang beliau tera, hingga saat ini, aku tak mudah lupa dengan beliau.

Seorang pembaca akan sangat mudah akrab dengan penulisnya, jiwa mereka sama-sama saling membutuhkan. Maka di sanalah terjadi pertautan bahasa. Hingga mereka saling melengkapi. Pembaca memerlukan inspirasi, sedangkan penulis membutuhkan apresiasi. Supaya semakin hiduplah hidup ini. Dengan begitu, dunia menjadi tempat yang menarik untuk kita huni. Meski sejenak. Walau sebentar. Sebelum kita mati.

Agar dunia menjadi lebih layak untuk kita huni, memang harus ada yang memberi inspirasi dan menerima inspirasi. Lalu, ketika inspirasimu pergi, bagaimana cara menemukannya kembali? Membacalah. Ya, baca apapun yang ada di sekitarmu. Bisa seonggok kertas, sekuntum bunga, atau setetes air. Dan kemudian tebarlah inspirasimu. Ia tak akan pernah habis, malah bertambah dan bertumbuh. Cobalah… Dan coba lagi.

Ya. Mulailah mencoba dengan yang terdekat. Lalu melengganglah indah dengan tangan terayun lepas. Melantunlah indah, dengan suara merdumu. Sampaikan pada dunia bahwa engkau pun bersuara. Bukan seorang yang hadir ke dunia tanpa melakukan apa-apa.

Ingatlah! Untuk istiqamah. Meski tak mudah, namun engkau pun bisa. Lihatlah! Sekeliling. Meski sesosok wajah. Perhatikanlah! Di cermin. Betapa banyak nikmat Allah yang melekat padamu. Karena Dia menitipkannya padamu. Lihatlah dengan mata terbuka, hati yang membuka.

Ada mata yang jelita, dua jumlahnya. Mata yang memancarkan cahaya sempurna. Untuk bekalmu melihat dunia. Ada dua lembar telinga yang menjadi sarana bagimu menikmati lantunan merdu suara alam. Termasuk cericit beburung di pagi hari nan tenang. Manfaatkanlah untuk mendengarkan kebaikan. Kemudian anggota tubuhmu yang lainnya. Manfaatkanlah ia untuk bersyukur, kawan…

Saat engkau mau menyadari, kini. Betapa banyak orang-orang di luar sana yang tidak mempunyai kaki, namun masih berjuang melanjutkan langkah? Mereka bergerak dengan niat dan tekad di dada. Bersama untaian doa memohon kekuatan dari-Nya. Agar tercapai tujuan di ujung sana. Renungkanlah sekali lagi. Kemudian sadarilah, hingga akhirnya engkau bersyukur.

Saat engkau mau menyadari, betapa banyak orang-orang yang memiliki impian di luar sana. Namun mereka tak mampu berbuat apa-apa. Karena keterbatasan sarana yang mereka punya. Akan tetapi segenggam impian selalu mereka pegang erat bersama harapan untuk mewujudkannya. Mereka tak diam apalagi berpangku tangan. Karena mereka yakin banyak perpanjangan tangan Tuhan yang siap menyambut uluran tangan lembutnya untuk meraih impian.

Saat engkau percaya dan yakin, maka engkau pun bisa. Engkau mampu menjadi lebih baik. Engkau bisa mewujudkan niatmu pula. Kalau engkau mau bersyukur dan bersabar menjalani proses yang tentu… T I D A K M U D A H. Karena tidak ada cara instan untuk kemenangan. Pasti memerlukan waktu lama yang sangat menguji kesabaran. Membutuhkan kekuatan hati agar tak lemah dan rebah ditebas putus asa. Membutuhkan cinta untuk menemanimu meneruskan langkah. Ya. Cinta.

Cinta yang menguatkanmu lagi saat raga melemah. Cinta yang siap melindungi ragamu agar tak rebah karena lelah. Cinta yang mengajakmu bangkit setelah jatuh terpuruk jauh di jurang dalam menakutkan. Cinta yang membimbingmu… Saat raga sempoyongan mendera. Sehingga engkau kembali segar, tegar, kuat dan semangat menatap ke depan.

Haiii…! Jangan mengeluh dan menyalahkan. Mulai buka cara pandang, dan belajarlah dari keadaan. Seraya meneliti kenyataan. Di manapun engkau berada, bersama siapapun. Engkau berhak atas masa depan terbaikmu. Maka apapun yang engkau lakukan saat ini, merupakan caramu untuk menjadikan masa depanmu lebih baik dari hari ini. Pun merupakan caramu untuk berhenti menjadi objek, namun engkau menjadi subjek atas jalan suksesmu.

Hello… Kawan. Usah bengong. Jangan ragu. Apalagi malu. Mulailah bangkit dengan apa yang engkau mampu. Apa saja. Dengan yang terdekat. Lalu lakukan dengan awal yang sederhana. Menyederhanakan sampai kemudian. Hingga kesederhanaanmu menjadi sesuatu yang hebat, bermartabat dan luar biasa. Kehebatan yang engkau pun tak menyangka. Ternyata mampu memberi kontribusi nyata bagi dunia. Namun setelah semua engkau raih, tetap rendah hati, tawadhu, usah berbangga diri. Karena engkau tak pernah sendiri. Engkau tidak melakukan langkahmu sendiri. Maka sadarilah siapa diri, saat engkau menanjak tinggi. Semua orang besar dan hebat pun melakukannya.

Aha! Bacalah kisah hidup mereka. Mereka pasti berusaha, hingga menjadi diri mereka seperti yang engkau baca. Lalu berkacalah dari mereka. []

Lovely Smile,
-My Surya-
@Pinkost Cendrawasih

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s