Hari ke-315

Tiga, satu dan lima adalah angka ganjil pertama. Namun saat ini, ia tidak tersusun berurutan. Karena ada makna dari angka-angka tersebut, bagiku. Apakah makna di balik angka 315 yang ku maksud? Pada hari ke-315 ini, ingin ku rangkai lagi catatan tentang kami. Namun sebelumnya, ku ingin mengurai kesan lebih dahulu.

Sebuah kesan penting tentang perjalanan sebelum merangkai catatan. Kesannya adalah : Kesan setelah baca-baca, “Selesai baca site dengan background hitam, pas pindah ke layar bening, tiba-tiba ujung tatapanku muncul garis-garis gitu, dengan kondisi kepala yang seakan pusing jadinya. Solusinya, merem sebentar, trus buka mata, baca lagi. Tapi, bukan site background gelap, yaa. Bisa pusing lagi, nanti. FYI. Hihii.  😀

***

Setelah baca-baca, saat ini waktunya tulis-tulis. Mau tulis apa yaa? Bagaimana kalau membahas angka-angka saja? Bagaimana kalau mengingat seseorang saja? Bagaimana kalau mengenang perjalanan saja? Atau sebaiknya melanjutkan perjalanan lagi?

Hmm, saat ini ku ingin mengingat seseorang saja. Seseorang yang ku bersamai, ku temui, ku perhati, ku penasarani, sudah sampai pada angka tiga ratus lima belas hari lamanya. Siapakah dia?

***

Awalnya, ku kupas dulu angka-angka ini, yaa.

Angka tiga adalah peran orang lain di dalam kehidupanku. Peran dari orang-orang selain diriku, untuk mewujudkan harapanku. Peran dari orang-orang di sekitarku dalam proses menemukan diriku yang sempat hilang. Peran dari siapa saja selain diriku, untuk kebahagiaanku. Peran yang bisa saja ku minta atau tanpa ku minta, lalu ada yang memberikan kontribusi pada diriku. Mereka adalah orang ketiga, selain aku dan diriku. Siapakah aku? Siapakah diriku? Siapakah orang lain? Orang lain tersebut adalah juga dia. Siapakah dia?

Angka satu adalah awal, pengalaman pertama, pertemuan pertama ku dengan seseorang. Aku sendiri. Dia sendiri. Diri yang satu. Hari pertama pertemuan kami, ku sapa ia dan mengenalkan diri. Ia menyambut sapaku, menjawab dengan sebuah nama dan tersenyum kecil. Ini kesan pertama pertemuan kami. Saat ini, ku ingin mengingat lagi tentang dia. Sekali lagi, siapakah dia? Dia yang berkesan bagiku, sehingga menjadi bagian dari catatan-catatanku juga. Catatan tentang orang-orang yang berkontribusi dalam kehidupanku.

Angka lima adalah tanggal pada hari lahirku. Sedangkan hari lahirnya, aku belum tahu. Kapankah ia lahir? Konon, sedikit informasi yang ku tahu, ia sebaya denganku. Siapakah dia?

Jawabannya adalah teman sebaya. Betul, ini tentang teman sebaya, yang ingin ku bagi. Beliau yang akhir-akhir ini menjadi bagian dari hariku. Beliau yang suka menasihati dan memberiku motivasi. Beliau yang langsung menegur ketika ku silap atau terlupa menempatkan sesuatu. Tidak sungkan memperingatkan hal-hal yang harus ku perhatikan.

Nah, ini pengalaman pertama kami berkomunikasi. Beliau tanya begini, “Sampah di depan punya mu yaa? Tolong pindahin ke bawah yaa.” Tepat esok pagi hari, setelah ku pindahan malam harinya. Ia sebagai penghuni lama, sedangkan aku penghuni baru.

Selanjutnya, ku pelajari peraturan-peraturan tidak tertulis yang ada di tempat baruku. Sebagai penghuni baru, memang ini kewajiban utamaku. Supaya kebersamaan kami, berkesan, memesankan antara aku sebagai pendatang baru, dan para penghuni lama yang sudah tahu seluk beluk lingkungannya.

Pertanyaan di atas, adalah kalimat terpanjang yang keluar dari bibirnya, sejak pertama kami bertemu. Bahkan saat perkenalan pun, beliau hanya tersenyum, sambil menyebutkan sebuah kata, namanya. Nama yang ku rapal, beberapa detik kemudian. Lalu, kami sama-sama berlalu, saling diam-diaman. Dan ternyata, kini kami sangat akrab.

Sejak awal berjumpa, aku menyusun tanya demi tanya yang ingin ku tahu jawabannya. Tanya yang tidak ku tuliskan, namun ku rangkai dalam pikiran. Pertanyaan tentang, teman baruku. Tapi, sejauh itukah aku ingin mengetahui siapa dia? Bukankah rasa penasaranku tidak sebegitu tingginya?

Sedikit demi sedikit, dari hari ke hari, kami terus bertukar suara. Walau singkat, meski sedikit, seperlunya saja. Ia bicara sepatah kata, aku juga. Aku tersenyum, ia tersenyum simpul. Aku bertanya, ia menjawab. Ia bertanya, aku menjawab. Begini hari-hari kami jalani sejak awal bertemu. Awal yang sangat dingin untuk sebuah cerita tentang persahabatan kami.

Raga kami dekat sehingga bisa bertatap mata saat bercakap. Namun ketika itu, hati kami belum mendekat. Saling asyik dengan dunianya. Aku dengan duniaku, begitu pun dia.

Rupa-rupanya, memang ia seperti itu. Jarang bicara, namun sangat peduli. Sedikit bicara, yang bernas saja. Bahkan saat sudah ku sapapun, terkadang ekspresi saja yang ia munculkan sebagai jawaban. Seorang yang aneh. Aneh menurutku. Mungkin ia juga memikirkan keanehan demi keanehan yang ada padaku, kali yaa. Entahlah.

Sebulan, dua bulan, hingga hari ini sudah sampai pada angka tiga ratus lima belas hari kami bersama, berjumpa, bertukar suara. Hari-hari yang terus bertambah, dengan kisah datar, menjalar, mengalir, tenang, tanpa gejolak, damai, teduh, adem, sejuk. Hari-hari yang manis, tipis, tenteram, aman. Hari-hari yang ku perhati, datar-datar saja. Tanpa ada emosi meninggi, apalagi kericuhan. Sebab ia sangat mengerti, begitu memahami, sungguh empati. Maka, ku belajar banyak darinya, meneliti sikap-sikapnya. Kapan ia diam, kapan bicara. Apa yang membuatnya bicara, apa yang ia bicarakan, bagaimana berbicara, bicaranya berapa lama? Darinya, ku pelajari sebuah karakter lagi. Karakternya yang pernah hadir di dalam mimpi. Mimpi yang menjadi nyata, lagi.

Menjelang tutup bulan ini, kami masih dapat bersama. Berikutnya, entah berapa lama lagi kami bersama. Aku pun belum dapat memprediksi. Namun yang pasti, tidak selamanya kami bersama-sama. Seperti menjalani tiga ratus lima belas hari terakhir.

Maka, selagi kami masih bersama, ku berai lagi kisah tentang kami. Bukan juga sembarang kisah, tapi karena terketuk lagi hati ini, atas sebaris kalimat yang ia bagi. Tepat saat ku bertanya gini, “Kak… nanti kalau ku tidak berangkat tarawihan, kakak sendiri, lah yaa, perginya?”

Pertanyaan yang ia tanggapi dengan ekspresi datar, “Iya, sudah biasa ku sendiri. Kapan coba aku tidak sendiri? Dulu, ku juga sendiri. Saat anak-anak yang lain pulang kampung, aku tarawihan berangkatnya sendiri. Sahur sendiri. Buka juga sendiri. Jadi, sudah biasa sendiri, ke mana-mana juga sendiri. Aku sudah mandiri sejak kecil.”  Sampai pada akhir kalimat ini, hatiku tersentuh. Sejak kecil, beliau sudah menempa diri dengan sebaik-baiknya. Ternyata beliau sudah sekuat itu. Sejak kecil, malah.

Atas penuturan beliau, aku ingin mengingat lagi. Memikirkan tentang beliau, teman sebaya yang pernah melangkah di sisiku. Ya, ketika ku bertanya kami sedang melangkah, bersama. Jalan-jalan sore, sembari ngabuburit. Ceritanya lagi menghirup udara sore menanti jadual buka puasa yang segera datang.

Hatiku tersentuh, tanyaku redup. Aku pun tersenyum. Menyimak kalimat-kalimat berikutnya yang beliau sampaikan tentang hari-hari beliau. Sembari menanya diri. Sungguh, aku belum ada apa-apanya.

Beliau memang suka sendiri, sejak lama. Beliau yang belajar mandiri, sungguh menyimpan banyak misteri untuk ku selami. Misteri tentang diri yang menjadi bagian dari hari-hariku, akhir-akhir ini. Seorang perempuan yang sebaya denganku. Adakah ia pun memiliki banyak pertanyaan tentangku? Seperti ku memiliki begitu banyak pertanyaan tentangnya sejak awal kami bertemu?

Mungkinkah kami dipertemukan setahun terakhir untuk menemukan sebuah makna? Meski tanpa keakraban di awalnya? Lalu, hari ke hari, kami menjadi sangat akrab? Keakraban yang tidak kami akrabi sangat-sangat. Sebab, kami ingin ketika harus berpisah lagi nanti, kami siap. Siap dengan bentang jarak yang tidak lagi memungkinkan kami bersama seperti ini. Siap untuk tidak menangis, di ujung kebersamaan raga. Namun tersenyum ketika harus berpisah lagi, membawa kenangan yang sempurna. Mengingat beliau nanti, ku ingin tetap bahagia. Bahagia, bersama perasaan teduh, tenang, damai, adem, ayem yang beliau titipkan seperti saat kami sudah akrab.

***

Puncak dari semua rasa penasaran dan pertanyaanku tentang beliau, terjawab. Tepat saat ada kabar dari kampung halaman, telah berpulangnya ibunda beliau. Kabar datang dini hari, menjelang Shubuh. Namun, tiada sedu sedan terdengar atau gerimis di pelupuk mata beliau, ku lihat. Sangat pintar menyembunyikan kesedihan, beliau menampakkan wajah tenang. Beliau menjalani waktu biasa saja.

Ku perhati, seakan tidak ada apa-apa. Ada apa dengan beliau? Sebegitu kuat dan tegar menghadapi semua? Menyembuhkan luka tanpa airmata?

Pribadi berkualitas yang pantas memperoleh yang terbaik. Semoga, hari esok di masa depanmu, membuatmu sering terus bersyukur dan bersabar, teman. Aku pun salut denganmu. Belajar banyak bersamamu. Sekalipun melalui selintas pikirku tentangmu. Walaupun dari seraut ekspresimu. Meskipun sepotong kalimatmu. Walaupun selembar senyumanmu. Atau sebaris tawa kecilmu.

Berikutnya, hari-hari setelah ibunda beliau meninggal, kami mulai lebih dekat. Hingga kini. Sampai terjawab tanya demi tanyaku tentang beliau. Mengapa begitu, tidak begini. Karena beliau adalah dirinya terbaik.

Beliau gemar membantu, suka menolong. Misalnya, dalam sebuah kesempatan aku dan my roommate Scatzy ingin shopping, beliau bersedia menemani. Shopping berbagai keperluan menjelang lebaran datang. Bersama beliau, kami belanja mukena baru. Beliau menjadi jalan, memudahkan kami memperolehnya, mukena kesukaan kami, tanpa kesulitan. Allah memudahkan, melalui beliau. Sehingga, waktu shopping kami tidak lama-lama, memilih barang yang tepat dan cepat dengan biaya hemat. Kami pulang membawa lembaran mukena baru. Aku satu, sedangkan Scatzy dua, satu untuk dirinya, satu lagi untuk adiknya.

Sukses menemukan mukena yang kami suka, aku pun sempat bilang gini sama Scatzy, “Cepat ya Scatzy, kita belanjanya. Tanpa banyak tawar-tawar, langsung beli, langsung bawa. Senangnyaaaa…”

Scatzy dengan anggunnya menanggapi, “Iya, kalau sudah jodoh memang begitu, Kak. Tidak perlu kelamaan milih-milih, atau nawar-nawar terus. Nanti sukanya pas udah pakai. Ini mukena pertama yang ku beli langsung. Sebelumnya, sebelumnya, sebelumnya lagi, aku tinggal pakai.”

“Aku juga, saammmmaaaa dong kita, hehehee…” ceriwisku, tersenyum bahagia. Bahagia bertemu teman dengan pengalaman sama.

Thank you, teman sebayaku. Menjadi guide dalam perjalanan shopping kami. Pun saat engkau shopping, tidak lupa mengajak kami juga untuk menemani.

Thank you, untuk menjadi ibu dalam hari-hari kami. Sekaligus menjadi teman yang terbaik. ‘The best’ kalau bahasa Scatzynya. Meskipun engkau terkesan sebagai mama tiri oleh teman-teman yang lain. Namun bagiku, engkau sahabat yang ku bersamai sebagaimana engkau membersamaiku. Bukan merasa kita berbeda, lantas aku yang mama kandungnya teman-teman menjauhimu?

Tidak, tidak, karena mama-tiri atau mama-kandung, sama-sama perempuan yang punya hati selembut sutera. Kita memang berbeda, dengan keunikan sendiri-sendiri. Aku, kalau ada apa-apa yang sampai ke hati, suka tersendu, tersentuh, terenyuh, lalu bulir bening permata kehidupan pun runtuh, meluruh. Sedangkan engkau, ku perhati begitu teguh, sungguh tegar. Adakah karena sudah sekian lamanya engkau mengecap asinnya garam kehidupan ini? Seperti engkau bilang, hidup yang sudah lama ini memberimu banyak pelajaran dan hikmah bersamanya? Begitu pula suka dan dukanya? Sudah sering bertemu hal-hal yang tidak engkau suka? Berjumpa orang-orang aneh yang mengusikmu? Berjumpa orang-orang menarik yang menyenangkanmu?

Tetaplah dirimu, engkau menarik dengan keunikanmu. Walau tidak banyak bicara, sekali-sekali saja mengeluarkan suara, namun kesanku tentangmu, engkau berharga. Sungguh bahagia menemani, menemui, membersamaimu. Sehingga tiada alasan berarti untuk tidak mengabadikanmu di dalam ruang hari iniku. Tepatnya saat ingatanku menepi padamu, teman sebaya.

Saat ragamu sakit pun, engkau tidak merepotkan kami. Ketika memiliki rezeki berlebih, engkau suka meneraktir kami. Tapi, satu hal penting yang mungkin tidak akan pernah ku tahu darimu adalah, … tanggal kelahiranmu. Sepenting itukah? Engga juga, siich. Tapi, unik aja rasanya, kita berteman, bersama, bercerita walau beberapa bagian saja dari sisi hidupmu. Namun, tidak pernah sedikitpun engkau menyinggung hari kelahiranmu. Saat pernah ku tanya pun, engkau bilang, “Ada deeecch, sambil tertawa kecil.”

Maka, saat ku mencari-cari tahu melalui teman kita yang lain, mereka pun tidak mengetahui, ternyata. Sejak dulu, sejak lama, walaupun kebersamaanmu dengan mereka sudah lebih lama. Sedangkan denganku, kebersamaan kita memang tergolong baru, walau hampir saja mendekati angka setahun. Semoga, menjelang setahun kebersamaan kita ini, bisa ku ketahui juga satu rahasia penting ini. Supaya bisa memberimu surprise, juga teman.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s