Perjalanan Ini

Picture

Perjalanan ini berawal dari dunia nyata. Lalu singgah sejenak, ke dunia maya, di sini. Perjalanan yang membutuhkan niat, pengorbanan (waktu, energi, pikiran, biaya) dan juga ingatan pada tujuan. So, jalan-jalan lagi, dech. Jalan-jalan aja, tapi bukan sekadar jalan-jalan biasa, yaa.

Sungguh, perjalanan yang tidak mudah, teman. Walau begitu, ku masih sangat ingin berjalan-jalan di sini. Untuk menitipkan lukisan jemari mewujud tulisan. Tulisan singkat, tulisan panjang, berkelok-kelok ketika bingung-pusing-mulas, bahkan ada yang landai menurun atau terjal dan juga lurus membentang.

Tulisan berhias aneka warna bebungaan yang ku petik di sepanjang perjalanan. Ada bunga melati, mawar merah berduri yang menusuk jemari saat ku bela-belain memetiknya walau sekuntum, bunga senyuman dari orang-orang yang ku temui, atau bunga kata dari beliau yang berjasa. Ku hargai, sebagai oleh-oleh dari perjalanan di dunia nyata sana, untukmu di sini. Semoga engkau sudi, ku bagi seperti ini. Untuk melentur-lenturkan jemari, melembut-lembutkan hati, menggerakkan pikir. Karena mereka ada bersama diri.

Perjalanan ini adalah perjalanan mengheningkan diri, ketika ia banyak bicara. Perjalanan mencerahkan pikir, ketika ia bergelut masalah. Perjalanan menenangkan hati, saat ia berkecamuk. Dan perjalanan ini sungguh menyenangkan saat menempuhnya, teman.

Ini adalah perjalanan raga, rasa, dan juga pikir. Perjalanan yang mengakibatkan pertemuan demi pertemuan pun berlangsung. Pertemuan dengan sesama pejalan yang sedang melangkah di jalan sama. Pertemuan berkesan, memesankan, juga meninggalkan kenangan. Perjalanan yang ku bagi dalam beberapa BAB, untuk saat ini.

BAB I Pertemuan

Bertemu denganmu seperti mimpi. Atau ini benar-benar mimpi? Bertemu namun tidak bersapa. Bersua namun tidak bertatap mata. Kita berdua asyik dengan pikiran masing-masing. Seperti halnya engkau, aku pun sama. Tidak berucap kata apa-apa, hanya diam seribu bahasa. Tanpa bertatap mata, hanya ku sempat menatap punggungmu yang membelakangiku ketika ku melihatmu. Sedangkan engkau tidak menyadari keberadaanku di sekitarmu. Sungguh seperti mimpi saja.

Ini kesan tentang pertemuan pertama kita. Pertemuan berikutnya, kesannya serupa. Tidak bicara, apalagi bertukar tatapan mata. Masing-masing asyik dengan entah siapa di sana. Dunia yang tidak pernah ku sangka, ku alami juga. Dunia yang menarikku untuk segera mengabadikan tentang pertemuan kita sejak pertama kali. Pertemuan yang seakan mimpi, atau benar-benar mimpi?

Mimpi yang menjadi nyata, begini ku sering menyebutnya. Sehingga ku masih dan selalu saja bertanya-tanya, sambil mempercayai kenyataan yang ada.

Aku tersenyum, masih belum menyangka. Engkau sudah di depan mata. Seperti mimpi, seakan ini tidak benar-benar terjadi. Tapi, lagi dan lagi, ku kucek kelopak mataku. Ini asli. Ku cubit juga pergelangan tanganku sedikit, sakit. Ku cubit punggung tanganku dua kali, perih. Ku perhatikan jemari yang sedang mensenyumiku, ia bilang, “Jangan-jangan, ini memang mimpi? Aku juga belum mempercayai semua ini.”

BAB II Kebersamaan

Bersama jemari, ku duduk sambil berbicara. Kami saling bersenyuman, menyampaikan uneg-uneg masing-masing. Ternyata bukan aku saja yang masih bertanya-tanya. Jemari juga sama. Ia yang mencubit berkali-kali, bilang tidak mau lagi. Kasihan pada kulit yang tipis ini. Karena, sebagai penjalan skenario, kita kudddu mempercayai. Skenario Sang Sutradara kehidupan sudah tertulis rapi, sedangkan kita menjalani dan memerankan.

“Marii, melangkah lagi.” bisik jemari padaku. Ia menyampaikan demikian, supaya ku tidak terpana berlama-lama, hanya memikirkan semua yang ada ini. Semua ini bukan mimpi, namun asli.

BAB III Harapan dan Impian

Ini tentang perjalanan yang ku tempuh lagi. Ini tentang keyakinan adanya jawaban atas pertanyaan yang ku ajukan. Ini tentang menjemput harapan yang sedang melambai-lambaikan tangannya untuk ku rengkuh. Ini tentang melanjutkan impian dalam kenyataan. Kenyataan yang seperti mimpi, atau benar-benar mimpi?

Dulu, dulu sekali.

Aku pernah bermimpi. Bermimpi bertemu denganmu seperti ini. Dalam nuansa yang ku sukai. Ketika senja menjelang tutup hari atau dini hari menjelang membukanya hari. Aku pernah bermimpi, untuk menjumpamu. Hingga kini, kenyataan ku alami. Namun, mengapa ku masih belum mempercayai? Malah bertanya-tanya seperti ini? Apakah ada yang salah dengan diri ini? Kenyataan yang seakan mimpi ini, membuatku meneruskan tanya, lagi.

BAB IV Penolakan

Ku langkahkan kaki, tepat setelah bertemu sebuah petunjuk. Melangkah lagi, hingga bertemu dengan beliau. Lalu ku sampaikan keperluanku menemui beliau yang ku dekati. Beliau bilang dengan pemaparan jelas, “Tidak bisa di sini, coba melangkah sedikit lagi ke sana, yaa. Jalan lurus, di ujungnya ada persimpangan, belok kanan, sampai dech. Kalau belum nemu sesuai petunjuk, tanya aja ya.”

Detik berikutnya, beliau mensenyumiku, aku pun tersenyum. Tersenyum, tapi masih membawa tanya. Apakah benar di sana ku akan bertemu yang ku perlukan? Jika beliau tidak berkenan ku pintai? Ini mimpi atau asli? Ini penolakan pertama. Jika pun masih ada penolakan lagi, tentu bersama petunjuk dan penjelasannya juga. Aku berusaha meyakinkan diri sebelum melangkah lagi. Dan benar saja, penolakan berikutnya sukses menyambutku dengan cerianya.

Pada penolakan kedua ini, beliau bilang, “Sedang sibuk, tidak bisa melayani, coba cari saja di sana… di sana… Ah, semudah itu beliau berbicara, yang ku sambut dengan senyuman. Senyuman untuk menenangkan diri, supaya ia mau melangkah lagi. Setelah dua penolakan ia temui dalam sehari. Hihii. Ini baru permulaan, “Ayo melangkah lagi.” Ku semangati diri, ia mau aja semangat. Membawa tanya, menggenggam tekad membaja. Pasti ada solusi, tentu ada jawaban.

BAB V Melanjutkan Perjalanan

Titik-titik air terus terbit di puncak hidungku. Dari arah kening juga sama. Titik air yang terbit lebih ramai dan kemudian mengalir. Membuat wajahku merasakan kesejukkan, bersamanya. Kesejukan ini, berbeda dari biasanya. Kesejukkan yang membuatku tersenyum. Meski wajahku berbalur keringat yang tidak lagi sedikit. Aku terus berjalan.

Dalam kondisi begini, mengapa masih berjalan? Tidakkah mau rehat sebentar? Berteduh? Berhenti? Atau menaiki kendaraan yang bisa ku tumpangi? Bukankah pilihan terakhir lebih baik, jika masih mau meneruskan perjalanan di bawah teriknya mentari, begini?

BAB VI Syukurku

Aku masih betah dengan langkah-langkahku. Sebagai wujud syukurku atas kaki-kaki yang ada. Sebagai cara mengingat lagi, siapa diri ini. Untuk menyadari diri, tidak ngomel-ngomel atas keadaan yang tidak ku sukai. Lalu, mengapa masih ngomel di sini? Bercerita sebagai luahan suara hati? Bukankah sama saja? Aha! 😀 Aku tidak becanda, ini asli. Terlihat seperti omelankah? Atau malah pembicaraan dengan diri sendiri yang sedang berjibaku dengan keadaan-keadaannya?

Sure. Aslinya ku sedang diam-diam saja, tidak banyak bicara, seperti huruf-huruf yang bertebaran ini. Aku tersenyum, tidak tertawa-tawa. Aku tersenyum, tidak terisak-isak. Aku tersenyum, tidak berlelah-lelah. Karena ku melakukan semua ini dengan senang hati. Suka, bahagia, sebab ini yang ku damba sejak lama. Menjadi nyata, meneruskan perjalanan diri, melalui kata-kata. Aku bersyukur, makanya melipir lagi di sini.

Meski sering-sering ku masih bertanya juga pada diriku sendiri, “Oiyaa, aku terlupa lagi tentang hal ini. Semestinyakah aku diam saja? Atas keadaan yang ada di sekitar? Diam saja?”

Mungkin tidak selamanya begitu. Sehingga ku sebut melakukan aktivitas seperti ini, begini sebagai sarana berbicara. Tidak jauh berbeda denganmu, teman. Terkadang engkau merangkai lagi kalimat untuk berbicara dalam diam, bukan? Lebih kurang sama, denganmu. Aku pun melakukannya.

Setidaknya supaya ku tahu, aku telah berbicara apa, dengan diriku sendiri. Sekalipun tidak ku sampaikan melalui suara. Setidaknya, ku sedang mengusaha untuk berbicara bagaimana, walaupun belum kesampaian terucap bibir. Setidaknya, semua ini menjadi pengingatku tentang hal-hal yang ada antara dunia dan diriku pada waktu tertentu. Aku dan dunia di sekitarku. Lebih kurang begitu aja siich. Supaya engga ngeberat-beratin kepala dengan pikiran yang tidak semestinya. Agar teralirkan sebagiannya, mengendap melalui rerangkai senyuman yang menawan. Iya, khann? Ujung-ujungnya pun bisa mensenyumkan. Apakah senyuman setelah sampai pada tahap tidak percaya keadaan? Atau senyuman lega, sebab bertemu lagi dengan seorang pejalan? Seperti impian, sesuai dambaan. Ini betul-betul perjalanan yang berkesan.

Aku masih melangkah, meski dalam lelah. Supaya ku tahu, di luar sana ada yang tidak bisa berjalan. Sehingga untuk meneruskan perjalanannya, ia harus menggunakan penopang tubuh seperti tongkat, atau kursi roda. Sedangkan aku, dengan kaki-kaki yang menopang tubuhku sempurna, ku manfaatkan semaksimal mungkin, melangkah lagi. Melangkah saja, untuk menemuimu, mereka dan siapa saja yang mau ku temukan. Selebihnya, untuk menemukan inspirasi.

Terkadang melangkah di jalan-jalan yang teduh, sesekali di bawah terik sinar mentari atau bermandikan hujan. Hujan airmata, hujan peluh atau semilir angin. Semua, terasa berkesan saat ku kenang. Termasuk kini. Perjalanan ini ku lanjutkan sambil mengenang perjalanan di tengah terik mentari, pada suatu hari. Perjalanan yang sungguh berkesan, dengan pesan serta ekspresi dari orang-orang yang ku temui.

Kesan tentang perjalanan yang menyampaikanku ke sini, menitip senyuman. Senyuman, untuk mengabadikan tentang pertemuanku denganmu, dengan beliau dan orang-orang yang mengingatkanku untuk meneruskan perjalanan, selagi memiliki tujuan, selagi masih ingat dengan tujuan.

Termasuk pertemuan denganmu yang seperti mimpi. Walau kita tidak bertatapan, ku rangkai juga menjadi senyuman seperti ini, sebagai wujud syukurku. Bersyukur, atas pertemuan sebagai sesama pejalan.

BAB VII Pesan-pesan dari Sahabat .::♥::.

Dalam perjalanan ini yang masih ku tempuh hingga sampai di sini, ada-ada saja pesan yang sahabat sampaikan untukku. Maka, sebisa mungkin ku rangkai juga menjadi kalimat tertulis. Baik pesan-pesan yang ku terima melalui tulisan, melalui suara, atau dengan membaca raut wajah sahabat. Berikut pesan penting dari sahabat tentang menjalani kehidupan yang beliau bagi:

  • Hidup itu sama saja, di mana-mana. Tentang kepedulian, kejelian, ketelitian, penerimaan, bersyukur dengan yang ada (berpuas diri), di sisi lain terus berpikir maju dan berjuang mencapai impian dengan melakukan yang terbaik. Demi perubahan, untuk kebaikan hari esok dan masa depan.
  • Membuka pikiran terhadap berbagai masukan dan nasihat yang kita terima, dapat menentukan kehidupan ke depannya. Apakah kehidupan kita berubah lebih baik dari waktu ke waktu, atau begitu-begitu saja, tanpa perubahan.
  • Seseorang yang kaya atau miskin, tergantung pada cara pikirnya. Orang-orang yang berpikiran terbuka dan lapang, memiliki kekayaan berlimpah. Sekalipun harta tidak banyak. Namun, dengan cara pikir yang ia kendalikan, kehidupannya bisa lebih baik, hidup lebih bahagia, lebih tenang menjalani hari, dapat membantu sesama dengan kemampuan terbaiknya. Berbeda halnya dengan orang yang berkelimpahan materi namun tidak berpikir terbuka, kehidupannya begitu-begitu saja, dari waktu ke waktu.
  • Hal-hal besar, bermula dari hal-hal kecil. Terkadang, kita luput memperhatikan hal-hal kecil, hanya berikan perhatian pada sesuatu yang kita pandang besar. Padahal, tanpa adanya hal-hal kecil, sesuatu yang besar mungkin saja tiada. Syukuri yang ada, yang sedikit, begini sahabat menambahkan. Melengkapi pesan penting hari ini, dengan ekspresi yang ku perhati, saat beliau menitipiku pesan-pesan tersebut dengan sepenuh hati.

***

Menemukan dan bersama dengan sahabat baik seperti beliau, membuatku ingat lagi, untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai ke sini. Supaya menjadi jalan ingatanku lagi dengan beliau, pada suatu hari nanti. Kemudian kami bersapa lagi, walau tidak bertatap mata seperti saat beliau berpesan. Namun ingatan akan gurat-gurat wajah beliau saat berpesan, masih ku ingat sama ketika membacanya lagi.

Semua sudah tertulis dalam skenario terbaik-Nya, jauh-jauh hari sebelum ku menjalaninya. Maka, bersyukur… adalah pilihanku. Bertemuan dengan beliau, bukan denganmu. Bertemuan dengan beliau, jelas tersenyum. Bukan menatapmu yang ku senyumi, dan belum tentu sedang tersenyum. Ah, semoga pikiranku salah, buktinya saat ini engkau sedang tersenyum sepenuh hati.  🙂  Tersenyumlah teman, menemui dan membersamai orang lain di depanmu. Karena engkau mungkin tidak mengetahui, ia sedang membawa pikiran seperti apa saat menemuimu. Mudah-mudahan masalahnya meringan, ketika menghadapimu berwajah ramah penuh senyuman. Hingga tahap lupa sejenak masalahnya, membersamaimu yang berbincang dengan suara lembut terhadapnya. Ini pun berbagi, namanya. Berbagi bahagia, dengan wajah cerah. Aku pun masih belajar dalam hal ini. Ku susun rapi kalimat ini, untuk mengingatkan diriku juga, lagi dan lagi. Saat ini ia tersenyum meneruskan perjalanan ini.

“Aku bisa begini dan seperti ini, bercermin dari orang-orang penting dalam kehidupan laluku. Beliau yang mengajarkanku disiplin, hemat, membantu sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri. Dari kebiasaan-kebiasaan bersama beliau, aku bisa begini. Maka, ku bagikan juga untukmu. Semua ini ku sampaikan, untuk kebaikanmu, bukan untukku,” ini pesan penutup yang beliau sampaikan, dalam kebersamaan kami lagi hari ini.

Dalam hatiku berkata, “Ini luar biasa. Ini sebentuk hadiah untukku. Kejutan, sekaligus kegembiraan. Karena jarang-jarang, ada yang mau begitu saja berpesan, kecuali karena kepedulian, kasih dan mengharapkan kebaikan untuk orang yang kita pesani, bukan. Semua karena sayangnya sahabat. Sahabat yang ingin hidup kita lebih baik, dengan adanya ia dalam kehidupan kita. Sahabat yang akan sangat senang saat mengetahui, kehadirannya dalam kehidupan kita, sangat berarti. Sehingga sahabat mau lagi berbagi, berpesan, untuk diri. 

Bersyukur, masih ada yang mengarahkan, menasihati, memberikan masukan, menitipkan pesan, dengan ringan, mudah, tanpa ku pinta sekalipun. Namun seakan mengetahui kebutuhanku pada pesan-pesan berharga seperti yang beliau sampaikan, beliau beraikan dengan tenang. Aku menyimak, lalu menitipkannya sebagian, melalui rangkaian kalimat mensenyumkan, seperti ini. Menitipkan pada lembar catatan “Perjalanan Ini”. 

Perjalanan ini, bukan hanya tentangku, namun juga tentang engkau yang hadir dalam kehidupanku, ku temui, ku jemput, atau tidak sengaja ku perhati. Walaupun pada saat engkau tidak menyadari kehadiranku, di belakangmu.

Oke, selamat melanjutkan perjalanan, teman. Semoga kita bertemu lagi, meski hanya ku lihat punggungmu, ku mengenali, engkau sahabatku yang pernah ku perhati.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s