Happiness is Consciousness

My Surya

Terkadang kita tidak menyadari diri, makanya sulit bahagia.

“Hai, kapan terakhir kali engkau merasa menjadi korban, teman? Korban apapun, yang mengakibatkan engkau merasa dirugikan. Korban perasaankah? Korban materikah? Korban tenagakah? Korban pikirankah?”

Seseorang memberikan harapan demi harapan padamu, sehingga engkau menaruh harapan padanya. Lama-lama, harapan tersebut ia pupuskan padamu. Engkau pun merasa menjadi korban, lalu menderita. Perasaan menjadi korban yang ujung-ujungnya membuatmu mengomel. Karena engkau tidak pernah membayangkan akan menjadi korban olehnya.

Masih ada lagi? Engkau merasa seseorang berbuat tidak adil padamu? Ini bermula dari prediksimu tentang orang tersebut. Engkau menyangka ia akan berbuat begitu atau begini padamu. Melihat kondisinya yang berlimpah kekayaan, engkau merasa akan tercukupi olehnya. Engkau merasa ia memenuhi semua kebutuhanmu. Padahal, semua itu hanya perasaanmu saja, ternyata. Engkau mulai menyadari, setelah menerima kepel-itan demi kepe-litannya saja. Engkau pun memandangnya tidak adil padamu. Akibatnya, engkau marah sejadi-jadinya. Sebab tidak menyangka ia akan memperlakukanmu seperti itu.

Lain waktu, saat melanjutkan perjalanan hidupmu bersamanya, engkau merasa sudah berkontribusi besar untuknya. Engkau merasa sudah melakukan yang terbaik, terbanyak, sesungguh-sungguhnya. Berkorban waktu, tenaga dan pikiranmu. Engkau merasa sudah optimal. Akan tetapi, balasan yang engkau terima tidak sesuai yang engkau berikan. Engkau merasa, ia menzalimimu yang melangkah bersamanya. Akibatnya, engkau mulai tidak menyenanginya. Pikiranmu yang jel-ek-je-lek tentangnya mulai menetas. Engkau semakin tidak suka padanya. Saat bertemuan lagi dengannya, engkau berusaha menjauh. Sedapat mungkin menghilang dari pandangannya. Karena engkau merasa sebagai korbannya. Hai, apakah ia memangsamu? Melahap tulang-tulangmu? Mematahkan lehermu? Setragis itukah ia? Sampai engkau merasa menjadi korban begitu?

Pada kesempatan berikutnya, lagi-lagi, engkau merasa menjadi korban. Korban atas perlakuan seseorang yang membuatmu kecewa. Yah, berbagai keinginanmu tidak ia kabulkan. Engkau bilang, ia tidak memberikan hakmu. Akibatnya, engkau pun mulai menghilangkan perhatianmu padanya. Engkau tidak lagi melakukan yang terbaik untuknya. Karena engkau bilang, ia tidak memperhatikanku, juga. Ia menbuatku merasa menjadi korban, begini.

Hai, teman. Kapan kah terakhir kali engkau mengalami kondisi seperti di atas?

Ooowww… Engga pernah, yaa? Heheee, sorry, karena ku sudah mengira-ngira. Peace.  🙂

Syukurlah, kalau engkau tidak pernah mengalaminya. Ini berarti hidupmu sungguh bahagia. Karena engkau tidak melengketkan harap pada sesama. Tingkah laku dan perbuatanmu karena-Nya. Sebab engkau melakukan segala sesuatu memang karena engkau ingin melakukannya, itu saja. Tanpa adanya perasaan tidak adil yang engkau rasakan sebagai balasan atas perbuatanmu untuk seseorang. Atau penderitaan karenanya, sebab engkau merasa terzalimi. Tidak, semua tidak mempengaruhi kinerjamu. Namun, setulus-tulusnya engkau melakukan sesuatu meniatkan ibadah saja. Hebat!

***

Ingin ku bahas tentang hal ini, karena ia menjadi sebuah usikan pada pikirku, atas kondisi-kondisi yang ku temui. Atau memang pernah ku alami? Apakah sudah jauh-jauh hari? Atau sampai saat ini masih ku alami? Let’s check it.

Saat memperoleh beberapa sharing dari orang-orang penting yang ku bersamai. Mereka yang merasa menjadi korban, merasa terzalimi, merasa menderita, karena memfokuskan hasil pada ada atau tidaknya pengakuan seseorang atas kontribusinya. Pengakuan yang tidak kunjung ia peroleh. Apakah berupa tambahan materi, apalagi ucap puji.

Sehingga, ia merasa menjadi korban : 

  • Korban pikiran, atas pengorbanan waktu yang tidak berbayar seimbang, pikirnya.
  • Korban perasaan, atas perlakukan semena-mena/meren-dahkan, dan tidak semestinya, rasanya.
  • Korban ketidakadilan, atas sikap seseorang yang memperlakukan tidak lebih baik dari yang ia sangka, nyatanya.

Korban… korban… korban…
Ia merasa menjadi korban, setelah berbuat baik dan masih saja merasa dicuriga-curigai. Ia tidak terima, ia marah, ia pun mogok, kehilangan semangat. Ia merasa menjadi korban, setelah menyampaikan permohonan, masih saja belum disetujui. Ia tidak mengerti, ia merasa terzalimi, lalu berlanjut pada kekurangan empati.

Sehingga terbersit dalam ingatku begini, saat ini. Apakah orang tersebut adalah diriku, atau siapa-siapa saja yang membagi perasaannya denganku. Merasa menjadi korban tersebut :
Jika masih saja merasa menjadi korban seperti demikian, kapan lagi ia akan berkorban, yaa?
Jika selalu saja mengharapkan seseorang berbuat baik padanya, kapan lagi ia memulai kebaikan dari dirinya, yaa?
Jika selamanya menginginkan seseorang memperlakukannya sesuai keinginan, kapan lagi ia menyadari diri dan mengerti orang lain, yaa? Lalu memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin orang lain memperlakukannya. Alih-alih menunggu, bukankah lebih baik ia yang memulai?
Jika hanya menunggu seseorang berubah untuknya, lalu kapan lagi ia berubah dengan dirinya terlebih dahulu, yaa? Supaya orang-orang pun tergerak berubah, meneladan darinya.
Jika saja masih mengharapkan orang lain membahagiakannya, kapan ia belajar berbahagia dari dirinya sendiri, yaa?

***

Hai, teman. Untukmu yang masih merasa menjadi korban, berhentilah. Sekarang juga. Karena merasa menjadi korban, hanya perasaanmu saja. Dan… Sekarang saatnya melanjutkan hidup. Menyambut penemuan masa depan dengan perasaan lebih bahagia, senyuman, pemaafan, penerimaan, dan perubahan cara pikir.

Merasa menjadi korban bermula dari pikiran negatif yang perlu segera kita tinggalkan. Karena berpikir positif atas perlakuan seseorang, akan membuat kita mau menemukan hikmah. Sehingga kita tidak akan pernah merasa menjadi korban yang tertindas, mengenaskan, serta terinjak-injak, lagi.

Percayalah. Sekali lagi, merasa menjadi korban hadir karena pikiran negatif yang kita pelihara semenjak ia terbersit dalam ingatan. Hingga mewujud sikap-sikap kita menanggapi perlakuan seseorang. Saat seseorang menemui kita tanpa senyuman, segera hadir dalam pikiran, bahwa ia jutek dan tidak ramah. Padahal, kita tidak tahu, ia sedang membawa masalah dan pikiran apa, saat menemui kita. Sehingga ia terlupa tersenyum, padahal kita berharap ia tersenyum menemui kita.

Saat seseorang tidak mengizinkan keinginan yang kita ajukan padanya, mungkin ia memiliki alasan yang lebih rasional dari pada yang kita pikirkan. Maka, berpikirlah baik tentang respon yang ia berikan. Petik hikmahnya, jadikan sebagai pelajaran. Belajar menerima, memaafkan dan lanjutkan perjalanan hidup ini dengan senyuman, tanpa merasa menjadi korban, lagi. Ini tidak mudah, memang. Membutuhkan proses, lagi. Maka, bersemangatlah, teman.[]

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s