Belajar Memetik Sekuntum demi Sekuntum Kembang Hikmah di Taman Kehidupan

Sumber Gambar : Wanita Salihah

Sepanjang menjalani kehidupan, tentu ada yang kita temui dan kita tinggalkan. Ada yang kita bersamai atau berjarak raga. Ada yang dekat di sisi, tapi jauh dari hati. Ada yang jauh di mata, namun dekat di hati. Semua turut mempengaruhi sikap dan cara pandang kita terhadap kehidupan.

***

Sejak pertemuan pertamaku dengan beliau, memang ada yang terlihat berbeda. Berbeda dari ibu-ibu pada umumnya. Beliau mempunyai aktivitas yang super sibuk di luar rumah. Melakukan aktivitas-aktivitas sosial yang mendukung pengelolaan emosi dan penataan hati. Aku sempat berpikir tentang beliau dan bertanya-tanya. Siapakah beliau sesungguhnya? Awalnya begini. Ketika itu kami berjauhan, belum bertatapan.

Ada pertanyaan dalam pikiranku, tentang beliau. Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dari hari ke hari. Pertanyaan yang tidak ku sampaikan pada beliau sejak mereka ada. Hingga akhirnya, beliau pun berkisah pada kami. Kisah yang menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku tentang beliau. Ternyata, beliau adalah ibu yang menjadi single parent selama enam belas tahun terakhir.

Beliau memilih melanjutkan kehidupan sebagai single parent, setelah mengetahui kebiasaan suami yang kurang baik. Sehingga hari-hari dalam keluarga penuh ketidaknyamanan, ketidakbahagiaan dan ketidaktenangan. Padahal bukan demikian tujuan berkeluarga yang beliau idam. Maka, membuat keputusan terbaik, demi kebaikan diri beliau dan anak-anak pun beliau lakukan. Selanjutnya, berjibaku dengan sepenuh kekuatan, berusaha mengendalikan perasaan. Meneruskan hari-hari sebagai single parent.

“Hidup ini memang keras, maka sebagai perempuan perlu tegar. Begini saya menyampaikan pada anak-anak. Mereka perempuan,” beliau mengungkapkannya pada kami. Di antara waktu berbagi beberapa pengalaman beliau terkait urusan rumah tangga. Termasuk pengalaman sebagai ibu merangkap tugas seorang bapak dalam keluarga. Keadaan yang beliau jalani dengan segala suka dukanya, menitipkan kesan mendalam di ruang hati atas kisah beliau.

Beliau seorang ibu single parent, memiliki latar belakang keluarga demikian. Dari pengalaman tersebut, beliau mau bangkit lagi. Beliau rela berjuang, berikan kemampuan dan energi terbaik pada buah hati tercinta. Supaya mereka bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mandiri dan mengerti. Bahwa hidup ini memang keras. Namun harus tegar menempuhnya. Karena hidup masih terus berlangsung.

Meski di dalam hati rumit menjalani, untuk anak-anak beliau memperlihatkan semangat dan optimis. Sehingga, anak-anak tetap menjalani hidupnya seperti anak-anak lain yang memiliki orang tua lengkap. Hasilnya, anak-anak beliau sudah beranjak remaja dan dewasa bahkan berkeluarga saat ini.

Beliau berbagi tentang keadaan beliau juga, menanggapi kisah yang kami bagikan terlebih dahulu. Membagikan segala keadaan yang membuat kami harus berkorban ini dan itu, untuk masih melanjutkan hidup. Membagikan kisah kami, tanpa tahu keadaan beliau di sana, jika saja beliau tidak memberitahu.

Di balik semua keadaan yang kami alami, ternyata, beliau memiliki masalah yang lebih pelik. Dengan kondisi perekonomian seperti saat ini, beliau bangkit dan survive membesarkan anak-anak, memotivasi mereka supaya tumbuh dengan baik. Sedangkan beliau terlihat kalem menjalani. Seolah tiada hal mengganggu di dalam hati. Dari penampilan memang begitu. Terlihat mata, memang demikian.

“Setiap kita membawa masalah hidup masing-masing. Segalanya sudah diatur sangat detail, untuk kita jalani. Maka, jalani hidup ini dengan sungguh-sungguh. Allah Maha Tahu tingkat kemampuan kita,” beliau menambahkan dengan ekspresi serius dan sorot mata teguh. Menatap wajah beliau seperti ini, saat kami menjadi lebih dekat, mensenyumkanku. Karena akhirnya, kami bisa duduk bersebelahan, beliau mengurai kisah panjang lebar, sedangkan aku menyimak sepenuh jiwa. Menghayati, memetik pelajaran. Tersenyum, bahagia, karena tidak menyangka saja, kami akan sedekat ini. Bisa bertukar suara lebih dekat, lebih sering, menuju akrab. Bertukar pengalaman, mengubah cara pandang, membuka pikiran, mendamaikan hati juga memotivasi dengan nasihat-nasihat beliau untuk diri ini…

Beliau pun tidak sungkan mengajakku serta atau menginformasikan jadual kajian-kajian yang beliau ikuti. Terasa seperti ibu sendiri, beliau mengayomiku.

Seru dan keren saja rasanya, bertemu dengan ibu-ibu seperti ini, di tanah rantau. Saat ku sejauh ini dari my lovely mommy. Semoga hari-hari beliau semakin berseri, dengan senyuman yang juga menemani, di hari-hari selanjutnya. Sama seperti saat beliau mensenyumiku pada waktu-waktu terbaik sepanjang perbincangan kami. 

***

Kisah dan keadaan yang mengetuk pintu hatiku untuk menitipkan di sini, sebagi kenang-kenangan tentang beliau yang pernah mampir dalam kehidupanku. Seorang ibu yang baik, gemar menasihati, dan memberi kemudahan dalam urusan-urusanku dengan beliau. Mengingatkan saat ku terlupa, kapan saja beliau tahu dan harus memberitahuku. Supaya ingat, lagi dan lagi.

Beliau berbagi, untuk menyampaikan ilmu dan pengalaman yang beliau punyai. Sedangkan kami, menjadi penerima ilmu. Menuntut ilmu dari beliau, yang kami temui. Karena menerima ilmu bisa dari siapa saja. Tidak melihat siapa dia, dari mana, dengan latar belakang apa, dan bagaimana dia? Namun kebenaran yang seseorang sampaikan, yang kita petik menjadi ilmu berharga.

Hikmahnya : Belajarlah lagi dari waktu ke waktu, hari ke hari, sambil mengamalkan dan senang hati mencari tahu atas ketidaktahuan (tapi::~::bukan::~::kepoin::~::orang::~yaa). Jangan merasa sudah tahu dan tidak lagi mau belajar hal-hal baru. Berilmulah, karena ilmu bisa menjagamu selalu, teman.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close