Mentari pun Tersenyum (32)

Kembali ku hari ini, menitipkan catatan penting tentang perjalanan. Perjalanan yang masih berlangsung di atas bumi tempatku berpijak.

Perjalanan di bawah langit yang menaungi. Langit dan bumi yang Dia sediakan untuk kita renungkan. Renungan panjang lagi dan lagi hari ini, sebelum hari berganti. Sebelum hari ini berlalu, ku titip hasil perenungan lagi. Hari-hari berikutnya pun sama. Begitu seterusnya. Atas yang terlihat, terdengar, terasa, selama berada di antara keduanya. Mengapa harus merenung? Apakah benar-benar penting untuk merenungkan semua?

Menulis lagi untuk mengulas kisah perjalanan. Selangkah demi selangkah. Menjejakkan jemari pada lembaran kosong yang masih sunyi. Sunyi oleh huruf-huruf, sepi oleh kata-kata. Hening kesannya, membuatku tergerak untuk menghiasinya. Menghiasinya dengan kisah tentang hari ini. Tentang yang ada di sekitarku, ingatan, atau perasaan yang hadir lagi hari ini.

Hari ini yang berbeda dari kemarin. Hari ini yang akan tertinggalkan dengan kenangan-kenangannya. Hari ini yang tidak akan sama dan terulang lagi esok hari. Namun ku mau ia perlu masih ada. Untuk ku baca lagi pesan, kesan dan kenangan tentangnya.

Yah, ini adalah tentang hari ini ku. Hari ini yang ku jalani. Hari ini yang ku sambut dengan senyuman. Tepat saat ia mulai bernama hari ini. Hari yang masih polos dan ingin ku warnai, ku hiasi, menjadi sebuah lukisan. Lukisan dengan warna-warninya yang indah. Lukisan yang ku pajang di dinding hati, sebagai pengingat padanya lagi.

Hai, ada hal menarik apa hari ini? Mungkin engkau bertanya. Atau, malah sudah tahu, tentang hari ini yang akan ku ceritakan, teman?

Wajah baru hari ini masih membersamai kita. Wajah baru yang terlihat sangat jelita, belia, bersama segala keindahan yang ada padanya. Wajah baru yang berseri-seri, dengan sinar mentarinya yang terik menerangi. Wajah baru yang menyejukkan dengan semilir anginnya. Wajah baru yang terlihat sendu saat awan gemawan menaungi alam. Wajah baru yang berubah kelam, ketika malam kembali hadir. Wajah baru yang syahdu, saat hujan turun nanti. Namun kini, mentari sedang menarik perhatian untuk ku perhati.

Siang dan terang seperti ini, kesempatan untuk memandang wajahnya yang terang, menjadi pilihan. Melihat wajahnya yang cerah dan bahagia, membuatku bahagia. Berbeda halnya kalau wajahnya redup tanpa cahaya, karena tertutup awan.

-Mentari

Sejak pagi mentari sudah bersinar. Ia bersinar lepas nan bebas. Hingga ke sudut-sudut tempatku berdiri. Sinar yang terasa hangatnya, sekalipun ku berada di dalam ruang beratap. Sinar matahari yang sampai saat ini masih setia menemani di sekitarku. Sehingga memperhatikannya, merasakan sinarnya, mengajakku mengabadikan lagi tentang kami. Kebersamaan kami di dunia nyata, sampai pula ke sini. Hihihii.

Ini namanya berkreasi. Dengan harapan, hari-hari penuh sinar seperti ini, teringat lagi olehku. Hari-hari yang mengembangkan senyuman di pipi lebih mudah, nan ringan. Hari-hari yang menggerakkanku untuk melangkah lagi, meski jemari. Sedangkan kaki-kakiku, sedang berjuntai, bersantai. Ahhh, kurang apa lagi, coba? Bersyukurlah wahai diri.  —–> Meskiii, sekembali dari sini setelah sore nanti, seorang temanku sudah menunggu dengan ungkapannya, “Sore hitam, pagi putih… (wajah cantikku pagi hari berganti kelam setelah sore, sebab terbakar panasnya ruangan)”. Sebuah ungkapan yang ku tanggapi dengan senyuman. Karena mentari meneladankannya begitu.   😉

Sedangkan di luar sana, ku lihat seorang bapak tukang parkir, berjalan di bawah terik mentari. Terik yang semasih terasa hangatnya, seiring jarum jam yang menanjak meninggi ke arah angka dua belas. Terik mentari yang perih sampai di kulit, sekalipun berjalan di bawah payung yang menaungi.

Yah, tentang hal ini, prihatinku dengan kondisi bapak tukang parkir. Beliau yang harus rela berada di bawah sinar mentari. Beliau yang memakai topi lebar sebagai peneduh raga. Ditambah lilitan kain di sekitar pundak beliau. Ku lihat beliau mesti berjalan ke sana ke mari, melepas pemarkir yang siap berangkat lagi. Atau, mengarahkan pesepeda motor yang akan memarkir motornya. Atau, melambai-lambaikan tangan memberi isyarat, supaya mobil yang sedang parkir mundur sedikit lagi, atau maju sedikit lagi. Sungguh, beliau terlihat sibuk sejak tadi. Sedangkan aku? Sejak beberapa waktu terakhir, beraktivitas di dalam ruangan dan duduk-duduk manis seperti ini. Lalu mana syukurku hari ini? 

Di sini ku berjuang menjemput rezeki. Di lokasi yang tidak pernah ku prediksi. Lokasi yang mengantarkanku pada senyuman demi senyuman di ruang hati. Lokasi yang menitipku pelajaran berlebih tentang kehidupan. Lokasi yang rela saja mempertontonkan padaku, segala kenyataan yang membuatku berpikir lagi. Bagaimana bisa seperti ini? Is it really? Ya, terkadang begini, menjalani seraya menanya lagi. Ini sungguhan, realita dan benar terjadi.

Ya, jauh-jauh hari, sudah terdata jumlah rezeki yang pantas kita miliki. Hanya saja, siapkah kita bergerak menjemputnya? Rezeki yang sudah tertakar tidak tertukar. Rezeki yang sudah ada, siap kita jemput dengan segala usaha, berdoa dan berceria ria. Supaya, kehadiran rezeki membawa bahagia. Sedangkan kebelumhadirannya tidak menitipkan luka setelah berjuang dan berusaha. Namun mengembalikan semua hasil akhir, kepada-Nya. Ini bernama tawakkal.

Lewatilah jembatan untuk menjemput rezeki dengan senang. Walau harus berterik-terik di bawah sinar mentari, atau berhujan ria. Semua ada hikmahnya, menjadi jalan kembalikan ingatan kepada-Nya. Innallaha ma’ana. Allahu Akbar. Syukuri, jalani, senyumi, dan senangi, serta sukai. InsyaAllah, ringan menjalani.

***

Maka, kembali ku saat ini, untuk menitip sekelumit suara-suara dari dalam diri atau yang hadir dari luar. Suara-suara yang terngiang-ngiang pada indera pendengaran ini, berubah menjadi ingatan, teringat-ingat. Selanjutnya ingin ku bagi hari ini. Ingatan tentang syukur menempuh hari dan tawakkal mengiringi. Bersiap menerima sinar mentari sepenuh kejujuran sejak pagi, dan menyambut cahaya rembulan di awal malam, dengan senyuman.

Ada yang berpesan, untuk melakukan sesuatu dengan hati, sepenuh hati, maka maksimal menjalani. Misalnya, meniatkan menjemput ilmu dari hati, maka tidak akan mengantuk sepanjang waktu duduk di dalam majelis ilmu. Meniatkan berangkat dengan hati, akan membawa hasil setelah kembali. Yah, intinya adalah ‘heartfully‘ itu tadi. Lakukan yang terbaik di manapun berada. Sepenuh hati. Semua untuk kebaikan diri sendiri. Apakah hasilnya terlihat segera, atau masih lama lagi. Tetap menjalani, seperti mengawali. Maka semangat tumbuh lagi, senyuman menebar lagi. Walau hanya sekeping hati.

Nasihat lainnya, untuk gemar membenah diri, sebelum ajal menemui. Mengingat-ingat dosa-dosa untuk tidak mengulangi. Mengoptimalkan kesempatan terbaik sebagai ladang amal. Sebab kita tidak tahu pasti, kapan nafas akan terhenti. Lalu, tidak ada kesempatan lagi, untuk beramal. Untuk menasihat diri, sebelum menasihati orang lain. Untuk membagi yang baik, kebaikan yang terus mengalir.

Kesempatan hidup kita di dunia ini, tidak lama, kawan. Semoga aktivitas apapun yang kita lakukan, mengantarkan kita pada hidup yang semakin berarti dan bermanfaat, aamiin.

Bukan hanya untuk diri sendiri, namun untuk lingkup yang lebih banyak lagi, lebih luas. Sehingga kedamaian senantiasa menyertai dalam meneruskan perjalanan hidup ini. Dengan adanya saling menasihati dan menyabari.

Mari saling mendoakan dalam kebaikan. Walau suaramu tidak sampai padaku dan tidak terdengar olehku. Namun yakinlah, Dia Allah Yang Maha Mendengar.


Hiks, terharu, atas segala kebaikan yang menjadi jalan kembalikan ingatan kepada yang ‘tercinta’. Walau begitu, tetap tersenyum kawan. Sebab mentari pun tersenyum.[] 

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s