Tujuan, Pengorbanan dan Perjuangan Di Balik Sebuah Tulisan

Menulis. Aku sangat ingin menulis saat ini. Menulis sebuah tulisan yang ingin ku baca lagi. Sebab, baru saja ku melakukan aktivitas membaca. Membaca saja, menemukan pencerahan demi pencerahan. Membaca yang ku sukai dan senangi.

Dari aktivitas membaca tersebut, terkadang membuatku tiba-tiba tersenyum, menangis, atau tanpa ekspresi (terdiam, terpukau, terpikir) bersama bacaan yang ada di depanku. Sehingga, aku pun sangat ingin menulis. Supaya, ku bisa membacanya juga. Sebuah bacaan, untuk sesiapa saja yang membacanya, juga.

Aha! Aku akan menulis apa, yaaa? Apakah aku akan suka saat membacanya lagi, yaa?

Aku ingin menulis sebuah tulisan yang terdiri dari rangkaian huruf-huruf menjadi kata. Kata-kata yang saling bersambung menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat yang bersatu padu membentuk paragraf-paragraf. Paragraf-paragraf yang merupakan bagian dari sebuah tulisan. Tulisan mensenyumkan, menyedihkan, atau malah membuatku melanjutkan berpikir tentangnya setelah ia hadir?

Saat ini, ku lanjut menuliskan kalimat-kalimat lagi. Sebagai sambungan dari kalimat-kalimat sebelumnya. Tapi, mau menulis apa lagi?

***

Hai, tahukah engkau teman? Bagaimana sebuah tulisan bisa muncul ke permukaan? Sungguh, tidak mudah, menulis sebuah tulisan. Hingga ia hadir dan bisa kita baca. Karena memerlukan tujuan, pengorbanan dan perjuangan terlebih dahulu hingga menghasilkan tulisan, rupanya.

1. Memiliki Tujuan

Menulis, adalah aktivitas yang sangat menyenangkan. Mengapa bisa menyenangkan? Bukankah lebih menyenangkan membaca sebuah tulisan saja? Karena kita tinggal membaca, membaca dan membaca. Sedangkan untuk menulis, kita perlu menemukan sesuatu yang akan kita tulis. Mencarinya dulu, jika tidak ada di dekat kita. Menjemputnya, sekiranya jauh di sana. Menggalinya terlebih dahulu, jika terpendam jauh di dalam bumi. Menjangkaunya jika ia sangat tinggi di atas sana. Lalu, setelah dekat dengan diri, baru dech bisa menuliskannya.

Maka, untuk beliau-beliau yang menulis dan aku pun membaca tulisan-tulisan yang bermakna dan mensenyumkan, aku pun tersenyum. Senyuman indah sungguh ringan. Karena akhirnya kami bisa berjumpa lagi. Untuk bercengkerama di dalam diam, tanpa suara. Ketika hening, saat sunyi. Ini sungguh kebersamaan yang berkesan.

Berikutnya, ku bawa inti-inti pesan yang beliau sampaikan, lalu menuliskannya menjadi teman saat meneruskan perjalanan. Sehingga, setiap kali tulisan tersebut ku baca, aku pun teringat pada beliau yang menulisnya. Kami masih dapat bersama dan bertemu lagi kapan saja ku ingin, dengan siapa saja yang ku abadikan menjadi tulisan. Begini salah satu tujuanku menulis.

Tulisan muncul, tentu ada sebabnya. Apakah seseorang menulis karena ingin memberitakan sesuatu, menyampaikan gagasan, ide atau hasil penelitian, bahkan bisa saja hanya mencurahkan perasaan ke dalam sebuah tulisan.

Selain itu, ada juga yang menulis untuk menemukan informasi lebih cepat dan tepat (bertanya melalui halaman google sehingga memperoleh pengetahuan). Kemudian membagikan pengetahuan yang ia miliki tersebut dengan menuliskan di dalam catatan, setelah menelaah hasil bacaan tersebut.

Bahkan, ada juga yang menulis supaya menjadi terkenal dan dikenang. Karena baginya, ia tidak selamanya ada membersamai orang-orang yang ia sayangi dan menyayangi. Maka, menulislah ia untuk mendedikasikan diri, melalui tulisannya. Ia menulis untuk menyampaikan pada dunia, bahwa ia ada, masih dan akan selalu ada bersama mereka, meskipun kelak telah tiada. Sebab, ada tulisan yang ia tinggalkan. Siapapun dapat membacanya, menjadi ingatan lagi padanya yang menuliskan. Sehingga terobati kerinduan untuk bertemu.

Atau, seseorang menulis untuk menemukan teman yang lama tidak berjumpa? Menulis untuk menemukan teman-teman baru, selanjutnya bisa berjumpa? Yah, ia menulis surat singkat dan kemudian mempublikasikan melalui media massa, membacanya dan membuat rekaman, dan lain sebagainya.

Atau, ada juga yang menulis untuk memanfaatkan waktu terluang saja? Untuk memperoleh penghasilan dari aktivitas menulis yang ia lakukan? Akhirnya kelelahan merangkai kata berbayar materi yang melimpah? Sehingga semangat pun bertambah-tambah untuk menulis lagi. Setelah pernah mendapatkan hasil yang membahagiakan. Wah, ini sangat mengesankan.

Hal-hal di atas, termasuk ke dalam lingkup tujuan. Walau masih ada lagi tujuan-tujuan lain yang membuat seseorang menulis dan pasti ada. yyaaa… Dari tujuan-tujuan seseorang menulis, engkau yang saat ini sedang merangkai sebuah tulisan, berada pada bagian manakah, teman? Hingga detik ini masih mau menulis-menulis, menyusun kata?

2. Meluangkan Waktu

Jejak-jejak kata yang engkau baca atau engkau temukan di mana-mana, tentu atas peran seseorang yang menuliskannya. Ia yang meluangkan waktu tertentunya untuk merangkai tulisan. Tanpa mau meluangkan waktu, mungkin saja tulisan tersebut tidak dapat engkau baca. Ini namanya pengorbanan. Saat orang yang menuliskan mengalokasikan waktunya untuk menulis. Ini terjadi, saat ia memiliki tujuan.

3. Mulai Melangkah

Setelah bersedia meluangkan waktu, mulailah ia melangkah menyusun kata-kata. Ia berusaha, beraikan kata-kata yang hadir dengan lancar, seiring hasil pikiran yang berseliweran dan ingin ia lihat lagi. Setelah ia susun membentuk tulisan.

Ia menulis lagi, melanjutkan perjuangan merangkai kata, menyampaikan suara jiwa yang ia punya, melalui kekata. Ia menulis, bergerak dan melangkah. Tidak mudah berhenti, sebelum selesai sebuah tema yang ingin ia sampaikan. Tidak merasakan lelah, sebelum benar-benar tuntas sebuah tulisan. Kemudian ia baca lagi sebelum ada yang membacanya. Ia menata lagi kata-kata yang mungkin saja ada keliru penempatannya. Bisa saja terdapat kesalahan yang tidak seharusnya ada. Saat ini, perjuangan masih berlanjut. Sekalipun sebuah tulisan sudah ada, masih juga membutuhkan perjuangan untuk mempercantiknya.

Ini hal menyenangkan dari membaca tulisan sendiri. Kita masih bisa memolesnya, mengurangi atau menambahkan. Kita masih bisa mengubahnya, mendekorasi ulang, atau membuang seluruhnya ke tempat sampah. Sehingga, ia tidak harus ada. Lalu, menyusun lagi tulisan baru, yang benar-benar baru. Ini namanya memulai dari awal.

Menulis menjadi pekerjaan yang sangat menantang, jadinya. Terlepas ada atau tidak adanya hal-hal yang ingin kita sampaikan. Menulislah saja tentang ketiadaan itu. Maka , kita sudah memulai satu langkah untuk menghasilkan tulisan. Sederhana sekali. Sehingga tidak perlu berpikir rumit-rumit nan pelik tentang menulis. Cukup hadirkan yang terasa, terpikir. Kemudian olah menjadi rangkaian kalimat. Ini pun menulis, namanya. Bukankah begitu, teman? 😀 []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close