Happy Day for You

Ketika suasana alam masih hening. Burung-burung mulai beterbangan dengan cericitnya memecah kesunyian. Begitu pula dengan mentari yang mulai menampakkan senyuman.

Perlahan, benderang memperlihatkan seluruh keindahan alam. Keadaan ini bernama pagi hari dan sangat tepat untuk memulai perjalanan. Melangkahkan lagi kaki-kaki beralaskan tanah yang basah sisa hujan semalam. Menyapa rerumputan dan embun yang menempel di ujung dedaunan. Menyaksikan aktivitas pagi yang mulai terlihat. Saat yang tepat untuk mengembangkan senyuman lagi. Memulai hari dengan sepenuh hati, sesungguh kemauan. Dengan harapan hari ini berkah dalam lindungan-Nya.
Selangkah demi selangkah, kakinya menapak di atas tanah yang basah. Sesekali ia edarkan pandangan ke sekitar, sesekali melihat ke belakang. Terlihat juga ia berhenti sejenak, menghirup udara pagi sambil mengembangkan tangan lebar-lebar. Seakan menyambut datangnya angin untuk ia peluk erat-erat. Kemudian ia hembuskan nafas perlahan, sedikit demi sedikit. Detik-detik berikutnya meneruskan perjalanan lagi sambil bersenandung kecil. Ia sangat menikmati perjalanannya. Apalagi saat ia sempatkan juga melirik-lirik mentari pagi yang mulai terlihat. Sekalipun harus menyipitkan mata agar dapat bertatap langsung dengan sinar mentari, ia lakukan juga. Karena dengan begitu, ia memperoleh tambahan energi saat melangkah.

Baginya, mentari adalah sumber energi. Ia berkaca banyak melalui mentari. Ia memperoleh teladan berlebih dari mentari. Ia pun menjadikan mentari sebagai salah satu hati inspirasi. Siapakah ia yang sedang meneruskan perjalanan?

Tersenyum dan membersamai wajah-wajah penuh senyuman merupakan kesukaannya. Walaupun baru bertemu, kalau seseorang mensenyuminya, ia pun tersenyum lebih mudah. Kemudian menyapa dan bertanya sesuatu. Untuk mengingatkannya lagi tentang kesukaannya yang lain. Yah, ia sangat suka bila ada yang bertemu dengannya kemudian mereka bersapa dan ia pun menerima pertanyaan. Apalagi dengan orang-orang yang sudah lama belum bertemu. Segera, senyuman mengembang pada wajahnya lebih dahulu. Selanjutnya mereka terlibat percakapan yang akrab, semakin dekat dan tersenyum lebih sering. Sebuah pertemuan yang membuatnya sangat senang menjalani. Karena jelas saja, ia menemukan lagi secuplik inspirasi untuk ia bagi. Tentang indahnya pertemuan, bahagianya bersama, bertukar kisah dan cerita, hingga saling membagikan ekspresi.

Sepanjang waktunya bersama-sama dengan orang-orang yang ia temui, lebih sering senyuman mengembang pada wajahnya. Karena baginya, bersama-sama dan menghabiskan waktu dengan membagi senyuman adalah perlu. Sebab apa? Dengan tersenyum, ada aura positif yang ia bagi dan atau ia terima. Sehingga, tersenyumlah ia lagi.

Tersenyum penuh arti. Tersenyum memberi arti. Tersenyum sepenuh hati. Tersenyum dari hati, untuk sekeping hati yang ia bersamai.

Mudah baginya mengetahui, apakah seseorang mensenyuminya sepenuh hati atau hanya basa basi. Yah, senyuman sepenuh hati lebih indah terlihat, senang terasa, suka membersamainya. Sedangkan senyuman basa basi, pendek saja, sebentar, bahkan hanya hitungan detik sudah pudar dan sirna.

Aha, lalu bagaimana kondisinya saat ia tersenyum? Apakah terkadang memang basa basi saja? Sedangkan dari hatinya, tidak sedikitpun tersenyum? Mungkin saja. Dan mudah juga terdeteksi oleh orang yang ia senyumi, tentunya. Yah, ia pun harus rela menerima, dan belajar lagi tentang senyuman yang baik dan semestinya.

Eits, untuk tersenyum, bisa sepenuh hati atau basa-basi, lihat situasi juga ya. Kalau ia lagi sedyyih sekali, ia tentu tidak mudah mengembangkan senyuman berenergi. Karena suasana hatinya sangat mempengaruhi senyumannya, ternyata.

Lalu, bagaimana cara mengetahui kondisi hatinya? Lihat saja bagaimana ia berekspresi. Perhatikan saat ia tersenyum. Maka, ia menampilkan melalui wajahnya. Berseri berbinar-binarkah? Atau sangat ku-sut seperti pakaian yang belum disetrika? Berkabutkah? Bermentarikah? Atau ada badai di pelupuk matanya? Semua seiring dengan suasana hatinya.

Terkadang tidak mudah baginya tersenyum. Seperti saat ini. Ia sedang manyu-n. Eh, malah senyum-senyum, karena tidak mau dibilang manyun yaa? Ingat pesan mentari, kali yaa? Untuk bilang yes for smile and no for manyun, betul?

"Betul, betul," jawabnya. Ia pun tersenyum, masih senyum.

"Sendiri?," tanyaku.

"Engga, ada engkau di sini, bukan?" jawabnya memastikan. Karena sejak tadi, kami memang bersama.

Ooiya, aku baru menyadari. Ternyata ia tidak sendiri. Namun bersamaku yang suka memantau tentangnya. Untuk kebersamaan yang indah ini, ku persembahkan catatan ini untuknya, specially. Karena dapat merangkai catatan lagi saat ini, sebab kami sedang melangkah bersama.

Ku perhatikan gerak-geriknya, ku lihat ekspresi di wajahnya. Termasuk apa saja yang ia lakukan saat melanjutkan langkah di bumi. Lalu, tentang kaki-kaki yang tidak beralas, apakah ia sengajai atau karena tidak mempunyai?

"Sengaja," bisiknya. Hanya sengaja, rupanya. Supaya ia mengerti, esok pun akan kembali bersama mereka. Jadi, untuk mengingatkan diri lagi, supaya menjadi lebih sadar dan tahu diri dari waktu ke waktu. Selagi melangkah di bumi. Sebelum masa terhenti dan tidak ada kesempatan lagi, untuk mengingatkannya tentang hal ini.

Mentari mulai meninggi, perlahan. Sinarnya sudah mulai menghangat sampai ke kulit. Ia melangkah lebih cepat lagi. Supaya tidak berlama-lama terhujani sinar mentari. Selanjutnya bisa berteduh dari teriknya yang akan lebih panas lagi sampai di kulit.

Perjalanan pagi yang ia tempuh sudah berlalu. Saat ini angka jam menunjukkan pukul dua siang lebih lima belas menit. Terlihat mentari mulai bergeser ke sisi langit Barat. Ini tandanya sore segera menjelang.

Menjelang sore, ia meneruskan aktivitas di dalam ruangan saja. Karena memang sinar mentari sungguh terik di luar sana, untuk saat ini. Jadi, mengantisipasi agar tidak bermandikan peluh, ia pun memilih merangkai sebuah cerita di sela-sela waktu beraktivitas seharian. Ini cerita yang ia rangkai. Cerita ini tentang kami. Semoga engkau suka dengan cerita perjalanan kami, yaa. Lalu, bagaimana dengan perjalananmu hari ini, teman? Perjalanan hidup yang sebentar ini.

Bagaimana tidak sebentar?
Tadi pagi, baru saja rasanya. Dan kini sudah siang menjelang sore. Kemudian sore bersiap datang, berganti malam. Semalam pun berlalu sampai datang lagi esok bernama pagi dan sinar mentari yang bersinar lagi. Di dalam pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya untuk kita renungi. Bagaimana kita membersamainya? Waktu-waktu yang akan berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.

Semangat hari ini, teman. Senyumi ia dengan senyuman terbaik, yaa. Ia pun tersenyum membersamaimu. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close