Sejuknya, Alhamdulillah

Blue

Lagi suka warna biru. Biru yang ayu, menenangkan, menyejukkan dan mendamaikan saat memandangnya. Seperti warna langit siang hari yang sering kita lihat, teman.

Saat ini tidak terlihat lagi biru yang semula mendominasi warna langit. Berhubung saat ini airmata langit sedang turun dengan ringan dan kecil-kecil. Namanya gerimis. Gerimis manis. Sehingga masih ada kesejukan meskipun langit di atas sana tidak lagi terlihat biru. Kesejukkan yang semakin terasa saat menatap tampilannya yang kini kelabu.

Nah, berhubung saat ini aku sedang menyukai warna biru. Aku pun menempelkannya pada lembar catatan hari ini. Warna biru yang mendominasi hampir seluruh latar belakang halaman. Warna biru yang membuatku tersenyum. Karena ternyata, setelah ku kulik-kulik, ada beberapa catatan yang bertemakan biru juga, lho. Hohoo.

Semoga momen ini pas untuk mengembalikan ingatanku pada hari-hari biru yang telah berlalu dan ku alami. Hari-hari biru yang menitikkan airmata di pipi lebih mudah. Hari-hari biru tentang perpisahan, juga kerinduan di dalamnya. Hari-hari biru yang tidak akan terulang lagi dengan nuansa sama persis pada waktu-waktu yang akan datang, namun bisa mirip keadaanya.

So, apakah saat ini aku suka biru karena aku sedang dalam kondisi sama seperti hari-hari biru yang sudah-sudah? Bisa jadi iya, bisa jadi juga tidak. Makanya, untuk mengetahui keadaan tersebut, ku ingin merangkai catatan lagi saat ini. Catatan terbaik, untuk mengabadikan hari ini yang ku jalani. Hari ini yang mengingatkanku pada masa-masa hari birunya. Hari-hari dengan tetesan titik-titik setelah kalimat huhuhuu. Ini artinya, aku sedang pilu, tersedu, sendu, syahdu, nan menggugu. Atau, ketika ku hanya ingin merangkai sekumpulan haru, tentang perasaan rindu. Lalu, ada iringan kata, “Huuwwwwwaaaaaa… di ujungnya.” Sebagai pertanya, aku sungguh sangat berduka dalam lara. Hahahaaa. 😀 Kisah-kisah yang menggelitik lembaran wajah untuk mensenyumi dan menertawainya. Karena semua, sungguh diluar dugaan, namun pernah ku alami. Ternyata, aku begitu menanggapi hari-hari tersebut.

Yups!

Apakah saat ini sudah tertemukan keadaanku, hingga paragraf ini, teman? Semoga belum, yaa. Makanya, ku ingin merangkai kalimat lagi, lebih banyak. Supaya aku pun mengetahui, apakah yang sedang ku bahas saat ini. Seperti hari-hari biasanya, moment-moment dan kesempatan kurang kerjaan seperti sekarang, aku mampir di sini. Untuk menitipkan secuplik kisah tentang hari yang berkesan indah dan memesankan.

Hai, pesan, kesan atau berita apakah yang siap ku bagikan lagi hari ini?

Ini tentang ingatan demi ingatan. Ini tentang kenyataan demi kenyataan. Ini tentang kasih sayang yang menebar di sekitar. Ini tentang cara menitipkan senyuman atas segala yang hadir dalam ingatan, berseliweran dalam kenyataan, atau ku perhati di sekitar. Ini tentang semua yang membuatku tersenyum, terhenti sejenak dari aktivitasku, atau bersedia melanjutkan perjalanan lagi, meski tidak sempurna langkah-langkahku. Namun, setekad ingatan pada hari yang lebih baik, mengajak kaki-kaki ini melangkah lagi. Sekalipun ia bilang tidak sanggup mengayun seperti biasa. Sekalipun ia tidak sudi ku gerakkan meski selangkah saja.

Maka, dengan sebuah semangat lagi, kita dapat bertemu kembali saat ini teman. Aku suka dan senang menyapamu. Walaupun dari balik barisan kalimat yang terangkai begini adanya. Namun ketahuilah bahwa, ada senyuman yang ku bawa saat memprosesnya menjadi ada. Tepat saat ku menyadari wajahku sedang tanpa ekspresi alias tenang dan tidak tersenyum, lalu ku susun kalimat. Kalimat-kalimat yang ingin ku senyumi saat ia ada. Atau saat kami bertemu lagi untuk kedua kali dan ke sekian kali, ia pun mensenyumiku, menyambutku dengan senyuman. Ini artinya, aku sedang membacanya lagi. Apakah bisa demikian juga yang engkau alami, teman?

Cuaca boleh hujan, hati jangan bermendung.
Kelelahan fisik boleh menerpa, jiwa perlu tetap semangat.
Sekeliling bisa saja ramai penuh keriuhan, pikiran mesti senantiasa tenang nan damai.

Semua ada untuk menemani kita melanjutkan perjalanan hidup ini. Maka, saat hujan turun dan engkau ingin melihat hari-harimu berseri, berserikanlah ia, ceriakanlah. Begitu juga dengan fisik yang mungkin saja mengalami penat setelah melakukan aktivitas seharian. Dalam kondisi demikian, engkau perlu sampaikan pada jiwamu supaya bersemangat lagi. Sedangkan kondisi sekitar yang riuh dan bahkan bising, akibatnya engkau tidak dapat berkonsentrasi dengan aktivitasmu. Maka, temukanlah ketenangan dari dalam diri dengan cara berpikir tenang dan mendamaikannya segera. Supaya, engkau tetap melanjutkan aktivitas tanpa merasa terganggu. Okee…? Kemudian menghadapi detik-detik waktu berikutnya bersama senyuman.

Tersenyum. Ya, aku kembali ke sini untuk merangkai senyuman. Senyuman yang ku latih lagi, tepat saat senyumanku sirna, pudar dan atau meluntur. Senyuman yang ku perbarui lagi, supaya hari-hari penuh senyuman menjadi bagian dari hidup ini. Hidup yang tidak ku tahu berapa lama lagi, pastinya. Hidup yang mesti berarti dan lebih baik dari kemarin. Hidup yang tidak mau begitu-begitu saja, namun bermanfaat. Hidup yang sayang, untuk ku biarkan berlalu dari hari ke hari, tanpa ada hikmah untuk ku genggam. Hidup yang begini adanya, ku jadikan bermakna. Bagaimana caranya?

Menghayati setiap keadaan, memperhati yang ada di sekitar. Menjadikannya sebagai jalan untuk menghadirkan senyuman. Baik ketika ku bertemu wajah-wajah kusam yang tidak menyenangkan, atau ketika berhadapan dengan si ceria pembawa bahagia. Iyakkk, lagi dan lagi, ini tentang mudahnya aku terbawa suasana. Kalau ku berhadapan dengan si cemberut, aku bisa saja ikut cemberut sepertinya. Begitu pun dengan si ceria yang bergembira, aku suka tersenyum dari balik jemari, jadinya.

Iya, kali ini ku bawa lagi berita tentang Aurora. Yah, Aurora yang juga pernah ku jadikan sebagai catatan tentang hari pertama pertemuan kami. Aurora yang cantik jelita, ramah orangnya dan suka tersenyum. Aurora yang mengerlingkan mata-nya dengan ringan, seiring senyuman menebar di pipi. Lalu, saat pertama kami bertemu, ia menyapaku begini, “Apakabarnya, Kak…?”

Aku bilang, “Kabar baik dan sehat, semanggggaatttt… 😀 “

Dengan punggung tegak, sambil mengangkat dua tangan sampai posisi siku sejajar bahu dan di letakkan di samping kiri dan kanan badan. Seperti orang lagi angkat-angkat stang barbel gitu, lho.”

Semangat kuat! Karena di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, serta hati yang kuat. Ini semua terjadi, bukan tanpa alasan. Akan tetapi, semua bisa menjadi bagian dari diri, saat kita mau menyejukkan pikiran, mendamaikan jiwa, dan mengajak wajah tersenyum menghadapi apa-apa saja yang hadir tidak terduga di sepanjang perjalanan hidup ini. Semua membutuhkan proses, memerlukan perjalanan, dan tentu saja dukungan dan bantuan dari sesiapa saja yang bertemu di jalan. Seperti Aurora yang menebar bahagia atas kedatangannya.

Aurora pun tersenyum semakin meriah. Membuat pertemuan kami lagi hari ini, sungguh berkesan. Tidak terlalu lama bertemuan, Aurora harus meneruskan perjalanannya lagi. Meski di bawah rintik hujan, gerimis manis. Ia tersenyum melambaikan tangan, saat pamitan dan berlalu lagi dariku.

.:: 🙂 “Selamat berjuang, Aurora. Semoga hari-harimu menyenangkan…” 🙂 ::.

***

Segini dulu, yaa untuk hari ini. Lumayan, bukan, berkunjung di sini melentur-lenturkan wajah dan pikiran. Selanjutnya, berjibaku lagi dengan kenyataan. Ayoo. 😀 []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s