Are You Ready?

bersamadenganmu:
“Keutamaan dan Motivasi Membaca Alquran di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan Alquran, maka dari itu hendaknya seorang muslim memberikan porsi perhatian yang lebih terhadap Alquran di bulan ini. Mengenai keutamaan membaca... ::.Picture.::

Ramadhan segera datang. Ia sudah di depan mata. Sudah siap kita jejaki, dengan tapak-tapak terbaik. Ramadhan yang mulia, bulan bertabur kebaikan berlimpah pahala. Karena amalan-amalan yang kita lakukan di bulan ini, dilipatgandakan pahalanya.

Ramadhan, bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan. Bulan penuh cinta, untuk para pecinta. Marii, mencintainya, mencintai ibadah dan amalan-amalan di dalamnya. Mari melakukan dengan segenap rela, sepenuh ketulusan, sekuat keikhlasan. Sebab dengan begitu, kita menjadi lebih mudah menjalankan.

Mari saling mengingatkan, bila ada yang terlupa akan keagungan bulan Ramadhan.
Mari saling membangunkan, bila ada yang sempat terlelap saat rehat. Karena kelelahan oleh aktivitas seharian. Mari saling menguatkan, ketika ada yang sempat lemah. Karena harus berjibaku dengan kegiatan yang menguras energi, pikiran dan perasaan.
Mari, saling bahu membahu, untuk maju dan melangkah laju, dengan tidak meninggalkan. Namun kembali menyemangati.
Mari, kita bersinergi saling bersatu, untuk lebih teguh.
Mari, saling bersenyuman, bila dalam perjalanan kita bertemu sahabat-sahabat yang tanpa senyuman. Mungkin mereka sedang letih. Semoga sebaris senyuman yang kita bagi, membuat energinya terisi lagi, kemudian mensenyumi balik. Atau, ia membawa senyumanmu pergi, untuk ia bagikan saat meneruskan perjalanannya. Ini baik.

Ada-ada saja kebaikan yang mungkin tidak engkau sadari. Akan tetapi engkau dapat melakukannya dan merupakan kebaikan bagimu. Atau menjadi jalan bagimu untuk berbuat baik. Apakah ada yang memintamu untuk membaikinya, atau engkau melakukan atas kesadaran sendiri.
Ada-ada saja jalannya, saat engkau mau berbuat baik. Ini pun kalau engkau mau bergerak, melangkah dan meneruskan perjalananmu. Tetap melangkah, walau pun belum bertemu orang-orang yang bersedia engkau baiki. Atau, belum bersedia engkau baiki. 
Ada-ada saja ruang kosong, ketika engkau mau memasukinya. Sampaikan pada pemilik ruangan, untuk menerimamu dengan senang. Semoga kelapangan demi kelapangan melingkupimu, teman.
Ada-ada saja sinar, ketika engkau merasa kegelapan di sekitar. Sinar yang siap memperlihatkan padamu, bahwa ia ada di mana-mana. Sekalipun engkau telah buntu dan tidak mampu lagi berpikir jernih. Bukalah lagi matamu, jangan tutupi. Perhatikan lagi sekitarmu, jangan menutup mata. Karena ada cahaya yang bersedia menerangimu, jika engkau pun mau menerima penerangan.
Ada-ada saja celah dan kesempatan, untukmu. Temukanlah celah itu, kesempatan yang jelas ada. Untuk meneruskan niatmu, menepikannya dalam langkah-langkahmu.

Baca al Quran walau sebaris sehari, sekalipun engkau masih belum sudi. Walau berat masih melingkupi ruang hati. Bacalah lagi, meski belum mengerti makna dan artinya. Untuk cinta yang segera menjelang. Supaya engkau dapat mencintainya, al Quran yang turun membawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Ada banyak berita gembira di dalamnya. Sehingga meluruhlah bulir bening permata kehidupan segera. Saat menyelami ayat demi ayatnya. Sekalipun belum paham keseluruhannya, cintailah sedikit sedikit. Walaupun belum akrab, dekatilah perlahan. Buka lagi hari ke hari. Sekalipun enggan masih menggenggam jemarimu sehingga tidak dapat membuka lembaran demi lembarannya. Meskipun belum bisa menghadirkan hati saat membawanya, membuka atau membacanya. Namun niatkanlah untuk cinta, mencintai dan membersamainya. Semoga hari-harimu bersamanya, mengucur airmata lebih deras lagi, teman…
Walaupun engkau masih belum sudi membersamainya. Karena banyaknya aktivitas sehari-hari. Milikilah niat di dalam hati, untuk bisa merenungi. Terbitkan ingatan di dalam pikiran, untuk membacanya sehari-hari.

Tentang hal ini, ku sampaikan sebagai cara mengingatkan diri. Supaya ia teringat lagi, perjalanan panjang yang ia tempuh. Karena tidak mudah sampai di sini, begini dan seperti ini. Semua membutuhkan proses yang tidak sehari, dua hari atau sepekan. Akan tetapi, yang namanya rintangan tentu ada, halangan juga menyapa. Apalagi godaan dari dalam diri sendiri. Ia musuh terberat untuk engkau taklukkan. Ia musuh terhebat untuk engkau perangi. Ia pun dapat menjadi sahabat terdekat yang engkau baiki, lho… 😉

Dulu, dulu sekali. Dalam tahun-tahun yang ku lewati. Sehari-hari berkutat dengan kesibukan duniawi. Pernah sekali membuka al Quran, lalu lupa lagi. Berat rasanya, sulit mengingatkan diri. Walau begitu, aku ingatkan diri lagi, untuk miliki niat di dalam hati. Niatkan saja, niatkan dulu. Lalu, tempuh jalan-jalan yang sekiranya dapat memotivasi diri. Karena diri bisa menjadi musuuuuuuuuh terburuuuuuuuuk, atau sahabat terbaiiiiiiiiik. Menyadari ia tidak bisa sendiri, bergabunglah dengan orang-orang yang bisa memotivasi. Bertemulah dengan teman-teman yang bisa mengingatkan diri. Niatkan sungguh-sungguh. Bila tidak bertemu juga teman-teman terbaik sesuai harapan, niatkan saja, berniat di dalam hati. Niat yang akan terbawa-bawa dalam pikiran, kemudian mengikuti langkah-langkah. Menjadi bagian dari perjalanan. Ia mengingatkan diri untuk teringat niat ini, saat bertemu dengan orang-orang yang kita harapi.

Harapanku saat itu, menjadi lebih dekat dengan al Quran. Setidaknya, tidak lupa membaca al Quran dalam sehari. Tapi, masih berat. Tanpa teman, diripun enggan. Hiks banget, khaannnn???

Ada kemauan, pasti ada jalan. Hanya saja, maukah kita melangkah, ketika jalan-jalan tersebut terbentang di depan mata? Sanggupkah kita berjuang, saat rintangan menghadang di hadapan? Mampukah kita melewati halangan yang pasti saja ada? Sekali lagi, kembali lagi pada niat. Luruskan, bila posisinya masih bengkok-bengkok. Karena niat adalah urusan kita dengan-Nya. Masih berat?

Ingat, semua membutuhkan proses, teman. Berproseslah untuk menjemput harapan. Berproseslah menjangkau impian. Berproseslah dan jangan mau instan. Berproseslah, karena di dalamnya ada kebahagiaan. Berproseslah, hingga tahap mencintai, tanpa ada lagi alasan untuk tidak melakukan. Berproseslah, walaupun tidak selalu ada kemudahan. Berproseslah, dengan kemauan. Berproseslah, dengan ingat pada tujuan. Berproseslah dan bersandar sepenuhnya kepada bantuan dan pertolongan-Nya.

Miliki niat yang lebih banyak, terkait harapan demi harapan. Engkau pun bisa menuliskannya dalam diari. Kalau malu ada yang membacanya, simpan saja di dalam lemari. Akan tetapi, saat engkau mau membacanya lagi dan lagi, silakan engkau bagi. Sedapat mungkin, dekatkan ia dengan dirimu, lebih dekat lagi. Supaya mudah teringat dan sekaligus menjadi motivasi.
Begini.

Saat engkau berniat berbuat baik, dekat-dekatilah orang-orang baik. Pelajari kebaikan demi kebaikannya, jadikan sebagai motivasi diri untuk berbuat baik. Ketika engkau melihat ia tersenyum setelah berbuat baik, senyumilah ia setelah menerima kebaikannya.

Ini ku lakukan, untuk mengingatkan diri. Supaya ia ingat pada kebaikan yang ia damba. Aku ingin seperti mereka yang baik padaku. Aku ingin meneladani sikapnya yang baik, dan bersikap baik padanya. Aku ingin mempelajari caranya menempuh hidup. Saat ku ingin perubahan demi perubahan terjadi dalam hidupku juga. Aku membutuhkan lingkungan seperti di mana ia berada. Maka, aku pun meniatkan di dalam hati, untuk itu.

“Binar-binar cerah memancar pada sorot matanya, ketika ia tersenyum. Sumringah menebar pada lembaran pipinya, saat ia tertawa kecil. Sedangkan nada suaranya, sungguh-sungguh ceria terdengar olehku, tepat saat kami berkomunikasi. Ia orang baik. Ia yang ku teladani. Ia yang ku tiru, menjadi ingatan sepanjang langkah-langkahku.”

***

Kami akan berpisah lagi hari ini, tepat saat ia pamitan lebih awal. Karena ada tradisi dalam keluarganya, untuk kumpul-kumpul sebelum Ramadhan bertamu.

Menyambut Ramadhan dengan kebersamaan, mensenyuminya dengan sepenuh rindu.

Ramadhan yang hanya hadir sebulan saja dalam setahun.

Ramadhan yang menghadirkan haru saat bertemu.

Ramadhan yang menitipkan pilu saat harus berpisah.

Ramadhan yang menguraikan bulir bening permata kehidupan lebih sering sepanjang kebersamaan dengannya.

Ramadhan yang menitipkan banyak kenangan di hari-hari laluku. Apakah tentang kebersamaan atau jarak raga yang tidak lagi sedepa dengan keluarga. Dan kini, saat kami akan bertemu lagi, haru segera merebak. Rindu yang siap tumpah, meluruh melalui bulir-bulir bening permata kehidupan di pipiku.

Selamat jalan teman, untuk berkumpul dengan keluarga besar…
Selamat datang Ramadhan, untuk bersama menghiasi malam dan siang yang lebih berkesan…
Ramadhan ini, ku ingin lebih baik dan berarti, aamiin.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

One thought on “Are You Ready?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s