Menilik Niat

Datang-datang langsung haus. Yuuuk, kita minum dulu. Minum segelas air, untuk menyegarkan tenggorokan.

“Haai, aku datang ke sini, untuk duduk-duduk? Minum segelas air putih? Senyum-senyum? Atau ngapaiin? Atau intip-intip kamu, yaaaa…? Melanjutkan langkah? Atau mengapa yaa, sebenarnya?”

Masih bisa minum air merupakan salah satu rezeki dari-Nya yang harus kita syukuri. Bersyukur masih dapat menelan segelas air putih, yang sejuk dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Menikmatinya mengalir lancar sambil tersenyum dan menghayati waktu. Sebagai jalan mengingat-Nya. Jangan lupa ya, membaca “Bismillaahirrahmaanirrahiim” sebelum minum.

Perjalanan panjang telah berlalu. Ini saatnya rehat sejenak melepas penat. Berjuntai kaki, atau selonjoran, boleh juga. Atau baring-baring tentu bisa, kalau memungkinkan. Ini hanya tentang pilihan. Supaya energi yang sempat terkuras saat menempuh perjalanan tadi, kembali terjemput lagi. Walaupun hanya beberapa jenak waktu saja. Yah. Aku akan berada di sini, lagi.

Sebentar saja. Untuk menitip senyuman penuh kelegaan. Lega, rasanya. Walau kaki-kaki ini masih gempor setelah jauh melangkah. Melangkah saja sambil memperhati keadaan. Melangkah saja, untuk menyampaikan jiwa pada tujuannya, bahagia. Hingga bahagia menemani juga, akhirnya. Hiiyaaa.

Bahagia, kini ku rasa. Bahagia, setelah meneruskan perjalanan lagi. Bahagia, saat bisa rehat sejenak pada waktu-waktu berikutnya dan duduk-duduk manis seperti ini. Bahagia, saat masih bisa menikmati semilir angin di perjalanan, tadi. Bahagia, saat ini angin masih menemani lembaran pipi. Bahagia, saat ku masih dapat berjumpa denganmu teman, walau tidak bertatap mata. Bahagia, bisa berbagi lagi, tentang keadaanku di sini. Bahagia, saat keamanan dan kenyamanan menyertai waktu demi waktu. Bahagia, dalam ketenangan berlimpah dan ketenteraman meluah. Bahagia, yang semoga sampai padamu di sana, yaa. Karena aku sedang bahagia, semoga engkau juga bahagia.

Aku di sini, kembali menyapamu. Sekaligus menitipkan barisan kalimat penanda jejak. Sebagai bukti keberadaanku saat ini. Untuk mensyukuri keadaan apapun yang ku temui dalam waktu-waktuku. Untuk menemui sekeping rindu yang terus saja merayuku. Agar aku mau menemuinya, lagi.

Iyah, di sini ada rinduku untukmu. Rindu demi rindu yang ku untai dari hari ke hari, dalam kesempatan terbaik. Rindu yang selama ini ku rekam dalam ingatan. Rindu yang dalam waktu-waktu terakhir, tidak lagi ku biarkan memenuhi ruang ingatku. Akan tetapi, ku ingin menyampaikannya padamu, supaya engkau pun tahu. I miss you, so much. Sangat, sangat.

Bersyukur, yah, datangnya aku lagi ke sini, juga untuk mengabadikan syukur. Menitip syukur melalui paragraf-paragraf sahaja, meski begini adanya. Walaupun ku datang untuk membaca sebaris kalimat yang engkau titipkan atau menitipkan kalimat yang ku pesankan. Semoga ada maknanya, yaa. Termasuk tentang rindu yang ku punya, supaya ada hikmahnya juga.

Rindu, sangat rindu. Rindu ingin menyapamu lagi seperti ini. Rindu yang tidak ku tahu, sudah sebanyak apa jumlahnya. Rindu yang tidak ku tahu, sudah setinggi apa ia menjulang. Rindu yang tidak ku tahu, sebesar apa tumpukkannya. Rindu yang tidak ku tahu, seluas apa ia membentang. Rindu yang tidak ku tahu, sedalam apa ia ku gali. Rindu yang tidak ku tahu, kepada siapa saja ku sampaikan. Rindu yang ku tebar-tebarkan saja, supaya ku tersenyum lagi. Rindu ini pun untukmu, teman. Engkau, ya, engkau. Iya, untukmu juga, di sana.

Aku suka kita kembali berjumpa di sini. Walau untuk menepikan sebaris catatan tentang keadaanku. Untuk bisa berbagi, melalui barisan kalimat yang ku tata sedemikian rupa. Untuk menyampaikan padamu, supaya mau tersenyum lagi. Tersenyum menjalani hari, dalam keadaan apapun yang engkau temui. Supaya tersenyum dengan sepenuh hati. Karena hidupmu sangat berharga untuk engkau tangisi terus-terusan.

Tersenyumlah kawan, karena tersenyum sungguh menyenangkan. Tersenyum untuk bersyukur, tersenyum bersama syukurmu.

Lihatlah… Dengarlah… Perhatikanlah… Masih banyak orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung dirimu. Engkau masih ingat? Bagaimana mereka harus berlarian karena ketakutan? Sebab tempat tinggal mereka dalam kondisi konflik dan penuh ketidaknyamanan?

Engkau masih ingat? Bagaimana orang-orang dilanda cemas? Karena mereka berhadapan dengan bencana? Yah, ingatkah engkau? Ketika alam yang mereka diami mendadak runtuh? Apakah engkau memperhatikan juga? Ekspresi di wajah saat keadaan tersebut ada di depan mata?

Melalui berita demi berita, kita dapat memperhati. Walau tidak bisa langsung melihat ke lokasi. Semoga tergerak sekeping hati untuk mengirimkan sayang pada mereka, melalui untai doa yang tulus dari hati. Karena kita tidak tahu, doa-doa siapa yang Allah kabulkan untuk mereka. Semoga, doamu yang terbaik menjadi jalan kembalikan senyuman mereka, yaa. Mereka yang sedang menempuh uji.

Lalu, ingatkah juga engkau, bagaimana seorang anak bisa berjibaku mengalahkan egonya? Demi membuktikan bakti pada orangtuanya? Supaya ia tidak tergolong anak yang durhaka? Sedangkan orang tua yang ia muliakan, sepatutnya juga mengetahui posisinya sebagai orang yang semestinya membantu anak-anaknya menjadi generasi shaleh shalehah.

Orang tua yang lebih banyak merasakan asam dan asinnya garam kehidupan. Orang tua yang sudah hidup lebih lama, lebih membijak seiring pertumbuhan usia. Orang tua yang mengalah dan lebih pemaaf, penyabar dan mudah memahami. Orang tua yang tidak mengompor-ngompori anak untuk berbuat salah, namun mendukung pada kebaikan. Karena apapun adanya, seorang anak yang berhasil atau gagal, berefek pada kedua orang tua juga.

Orang tua bahagia, melihat senyuman sering menebar pada wajah anak-anaknya. Karena sebagai orangtua sukses mendidik anak-anak menjadi generasi dambaan. Namun, ada juga orang tua yang sungguh berat mengembangkan senyuman, terpikir si buah hati yang belum juga berbakti. Sungguh memprihatinkan, kondisi seperti ini.

Wahaii…. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang berniat membuat kehidupan orang lain menjadi lebih buruk, karena ulahnya. Apalagi seorang anak terhadap orang tua. Atau orang tua terhadap anak-anaknya.

Maka, lebih mudahlah mengerti, belajarlah lagi, memperhati, menemukan bukti-bukti yang terserak di bumi ini.

Sungguh, semua orang mempunyai sisi baik yang perlu kita tahu. Oleh karena itu, saat kita menemukan ketidakbaikan pada seseorang. Barangkali ada masalah dengan dia dan dirinya. Sehingga kita melihatnya tidak pantas begitu dan begini.

So, jangan langsung mencap-nya sebagai seorang yang tidak beradab dan tidak tahu sopan santun. Mungkin ekspektasi kita saja yang terlalu tinggi tentang orang yang ada di depan kita. Kita sesuaikan dengan kemauan kita. Kita mau samakan dengan keadaan kita. Padahal, tidak demikian, seharusnya.

Kita mestinya merangkul, memberikan pengayoman, bukan malah menghujat dan menyalah-nyalahkan. Kalau pun kita merasa benar dan tahu kita orang baik. Hai, orang baik yang sebenarnya tidak menyalah-nyalahkan orang lain yang tidak sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, dengan kemampuan dan kemauan mereka untuk mengubah keadaan, mereka perlihatkan melalui sikap dan teladan.

Sehingga, luluh… runtuh… berderai… membanjir… airmata menerima perlakuan beliau yang sungguh mengesankan. Bukan membuat airmata berjatuhan karena perlakukan kasar nan menyakitkan hati. Bukan juga memperlihatkan kemarahan dengan teriakan demi teriakan yang membahana hingga memekakkan telinga. Akan tetapi, cukup dengan ekspresi, maka kita pun menjadi paham, beliau sedang marah. Dengan ekspresi, kita pun menjadi tahu, beliau sangat suka. Dengan ekspresi, kita menyadari kesalahan dan kekeliruan. Begitulah teladan terbaik. Bukan melalui bantingan emosi yang tidak semestinya.

Hai, teman, hari ini ku ingin berbagi lagi denganmu, tentang satu hal penting yang ku temui dalam perjalanan tadi. Perjalanan panjang untuk bisa sampai di sini. Dan kemudian mensenyumimu seperti ini. Ini adalah tentang liku-liku hidup yang ku perhati, dialami oleh orang-orang yang ku lihat di perjalanan.

Beliau yang tiba-tiba berderai airmata, membuat sudut hatiku turut terluka. Dalam hal ini, ku belum tahu mengapa beliau menangis sedemikian terluka. Aku pun bertanya-tanya, “Tersebab apa beliau sedemikian terlihat merana? Apakah yang terjadi di sana? Apa gerangan yang sedang beliau hadapi? Sehingga dua bola mata yang seharusnya berkelipan cantik saat ku perhati, tetiba memerah dengan airmata yang tidak henti mengalir dari sudutnya.” Ini tanya tidak ku sampaikan langsung. Namun beliau beraikan dengan nada-nada isak sebagai backsound kebersamaan kami. Mengalir, suara diantara isak tangis. Tersedu, masih mau menyampaikan suara hati, dengan terbata-bata. Beliau berbagi suara hati, atas yang terjadi.

Sungguh, masih ada ku temui di sekitarku, keadaan seperti ini. Aku tidak sanggup hanya melihat saja, atau sekadar bertanya-tanya, tanpa berbuat apa-apa. Aku tidak sanggup, kalau kesedihan sering-sering ia hadapi. Walau ku tahu, semua ia alami, karena Dia menitipnya kesanggupan menghadapi dan menjalani. Aku tahu tentang ini. Akan tetapi, ku hanya ingin berpesan di sini, mengingatkan saja. Supaya, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jangan buat seseorang berurai airmata, kalau kita tidak ingin mengurai airmata atas perlakuannya.

Mungkin saja ini masalah terberat baginya. Mungkin saja ada kesalahan yang beliau sadari, sehingga beliau menangis. Mungkin juga karena mengakui dosa-dosa yang bertambah, sedangkan pahala belumlah seberapa. Maka, beliau rela mentafakuri diri hingga menangis-nangis semakin menjadi. Bersama lirih bibir memuji dan memohon ampunan-Nya. Sambil terus mentafakuri diri, bagaimana agar  sanggup berdiri lagi, melangkah lagi, meneruskan perjalanan dalam hari ini. Perjalanan hidup yang penuh uji. Semoga hari ini saja, beliau berurai airmata. Selanjutnya, bisa dan mau memetik hikmah yang terjadi.

Beliau terlihat bersinergi dengan diri. Membuka mata lagi, mata yang semakin berat dan ku lihat sudah membengkak. Beliau mengedip-ngedipkan mata, mengusap sisa-sisa bening permata kehidupan di pipi. Beliau melangkah dan melihat ke atas. Untuk menatap mentari yang menanti dengan senyumannya sejak tadi. Beliau mulai meredakan tangisan, melanjut bercerita.

Sebagai seorang pejalan yang sempat pula menepi di sini, ku beraikan semua ini untuk menjadi ingatan. Ingatan tentang perjalanan yang ku tempuh di sini. Untuk menjadi ingatan terhadap beliau-beliau yang ku temui dalam perjalanan ini. Untuk mengembalikan ingatanku, pada keadaan yang ku temui juga.

Supaya, kalau sedang bahagia, sekadarnya saja. Karena bisa saja, ketika ku sedang berbahagia, ada banyak saudara-saudaraku di luar sana yang sedang berduka dan larut dalam kesedihannya. Bersama hati yang pedih atas perlakuan seseorang yang membuatnya pilu. Sehingga ia tidak dapat tersenyum sepertiku yang sedang berbahagia. Maka, tidak lebai-lebai lagi dengan kebahagiaan, namun mensyukuri dan sewajarnya. Tolong ingatkan ku lagi tentang hal ini, yaa… Bila aku masih lebai-lebai saja kalau lagi bahagia. Hahahaa…  😀

Begitu pula dengan kesedihan yang ku alami. Dan pasti saja, masih akan ada, aku menyadari. Selama menjalani kehidupan di dunia ini. Sepanjang nyawa masih membersamai badan. Apalagi ku masih meneruskan perjalanan. Akan ada juga kesedihan yang siap menyambut. Untuk menyikapi semua, ku tidak boleh terlalu tenggelam hingga ke dasarnya.

Lantaran apa? Karena, masih ada yang mengalami kesedihan serupa denganku. Bahkan sedih yang mereka rasa mungkin lebih tinggi tingkatnya dari padaku. Oleh karena itu, aku jangan sedih lama-lama dan larut-larut. Aku siap tersenyum lagi, meski airmata baru menetes di lembaran pipi. Hihiiii, tolong ingatkan aku juga yaa, kawan, tentang hal ini.  

Yah, kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi berbeda. Namun, cara pandang kita yang menentukan apakah kita mampu dalam menghadapinya.

Hari-hari berlangsung, terus melaju. Lalu, bagaimana dengan perubahan sikap kita terhadapnya? Usia terus berkurang, seiring dengan perubahan waktu yang terus kita jelang. Bagaimana porsi kesabaran kita dalam menghadapi rupa-rupa yang kehidupan pamerkan? Masa terus berganti, seiring dengan warna-warni hari yang kita tempuh, seperti apa kita mengaplikasikan syukur dalam keseharian?

***

Seorang yang masih muda (sebagai anak) dan seorang Bapak yang sudah lanjut usia sedang berbincang. Anak muda bertanya pada Bapak untuk memperoleh pencerahan terkait masalahnya, sedangkan aku menjadi penulis yang sedang mengabadikan perbincangan beliau berdua. Sambil tersenyum, duduk-duduk berjuntai. Supaya ku ingat lagi dengan beliau, termasuk tema penting yang beliau bahas. Agar menjadi jalan kembalikan ingatan, pada hari ini yang kami jalani. Supaya aku tahu, yang harus ku tahu. Ini ilmu dan pengalaman yang beliau bagi, untukku. Ini beliau sampaikan, terkait kenyataan yang beliau hadapi.

A. Bagaimana pendapat Bapak tentang bakti anak pada orang tua, atau orang tua memperlakukan anaknya yang sudah berumah tangga?

  • Bapak masih berpenghasilan di usia senja

Bapak sedapat mungkin jangan membebani anak. Karena Bapak masih mempunyai penghasilan, maka bapak tidak mau menerima pemberian dari anak. Karena Bapak tahu, anak Bapak mempunyai tanggungjawab dalam keluarganya. Namun kalau Bapak masih harus menerima pemberian anak dalam catatan tidak memberatkan, Bapak akan terima. Dengan kerelaan dan keikhlasan anak saat memberi pada Bapak sebagai orang tuanya.

Kalau Bapak berniat, janganlah kita membebani anak, sebagai orang tua. Karena Bapak sudah kembali dari sana, sebagai seorang anak dan menjadi orang tua dengan kesibukan mengurus anak. Maka, saat anak-anak sudah berkeluarga, Bapak sedapat mungkin tidak mau memberatkan. Saat datang ke tempat anak laki-laki, sekadar menyenangkan hatinya dengan melakukan kunjungan. Begitu juga dengan kunjungan ke tempat anak perempuan. Untuk melihat cucu-cucu yang lucu-lucu.

Saya Alhamdulillah, ini yang saya syukuri dari nikmat Allah, saya yang dirindukan oleh cucu-cucu. Dalam kunjungan ke rumah mereka, dan pamitan kembali lagi, saya sedih melihat mereka menangis karena harus berjarak dengan saya.

“Atuk kapan kembali?,” tanya mereka saat saya akan berangkat.

“Sedih rasa hati, berlinang airmata, tapi tidak bisa jatuh ke pipi, saat harus meninggalkan mereka, lagi, setelah berkunjung untuk beberapa hari,” curhat beliau tentang hal ini.

  • Bapak tidak berpenghasilan di usia senja

Bila Bapak betul-betul mengharapkan penghasilan dari anak, sementara anak pas-pasan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika tidak secara paksaan ia memberikan pada orang tuanya, maka Bapak menerima. Innamal a’malu binniyat. Berikanlah sesuai kemampuan, jangan melebihi kemampuan.  Kalau anak ikhlas memberi pada Bapak sebagai orang tuanya, dan orang tua menerima dengan rasa syukur, maka keberkahan berlipat-lipat dan semakin meningkat. Baik berkah untuk anak karena memberi pada orang tua, begitu juga dengan orang tua yang mensyukuri bagian rezeki yang ia terima melalui anak.

Balik lagi pada pengajian.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S Ibrahim : 7)

B. Anak perempuan sama anak laki-laki yang sudah berumah tangga, bagaimana bertanggung jawab pada orang tua, ya Pak?

Tanggung jawab yang mana dulu. Karena tanggung jawabnya ada dua, yaitu : Tanggung jawab kerohanian dan tanggung jawab kebendaan (materi)?

Nasib seorang ibu tidak bisa dipisahkan kasih sayangnya dengan seorang anak. Apakah anak laki-laki atau perempuan. Namun seorang ibu lebih cenderung pada anak perempuannya, pada dasarnya. Karena mereka sama-sama perempuan. Ini juga tergantung adat. Seorang ibu yang dekat dengan anak laki-laki, mungkin dengan harapan material.

  • Tanggung Jawab Kerohanian

Orang tua (ibu) mengharapkan anak perempuan sebagai penumpang hidup di hari tuanya.

  • Tanggung Jawab Kebendaan (materi)

Suka duka orang tua menumpang hidup pada ada laki-laki? Tergantung menantunya. Karena terkadang sebagai mertua, berbeda-beda memiliki menantu. Ada yang penyayang pada mertua, pun sebaliknya. Maka, orang tua pada anak laki-lakinya, mengharapkan tanggung jawab materi (memberi belanja di usia senjanya)

C. Menurut Bapak, bagaimana peran orangtua terhadap anak-anaknya dalam memberikan tanggung jawab saat anak-anak masih kecil dan pengaruhnya pada hari tua orang tua?

Nasib seorang bapak dengan anak, bisa terbatasi. Karena seorang Bapak jiwanya keras, sehingga kasih sayang pada anak bisa terbatas. Bapak yang berjiwa materialistis, melepas anaknya mengarungi hidup, supaya mempersiapkan anaknya untuk tahu tata cara jalan hidup ke depannya. Untuk mempersiapkan anaknya menjadi pribadi mandiri. Sehingga jika saja Bapak meninggal dulu, sebelum anaknya, maka anak tidak gamang menempuh hidupnya. Ini Bapak yang mempersiapkan anaknya dengan niat yang baik. Sehingga di hari tuanya mendapat balasan dari keberhasilan anak-anaknya.

Satu lagi, seorang Bapak yang lepas dari tanggung jawabnya dan mempunyai niat tidak baik. Saat kecil-kecil, anak-anak dibiarkan mencari kehidupannya sendiri, tanpa tanggung jawab lengkap. Maka, Bapak yang berniat seperti ini, setelah anak berhasil, dikembalikan ujian pada Bapak tersebut. Saat anak-anaknya sudah dewasa dan menjadi orang sukses Bapaknya bilang, “Ini anak saya yang pintar, anak saya yang sukses. Pertanyaannya, maukah anak menjadi dekat dengan Bapak tersebut? Wallahu a’lam bis shawab. Satu dari seratus, mungkin ada. Kalau anak-anak yang berpikir, “Beliau tetap dan selalu Bapak saja… Walau saat kecil menelantarkan tanpa tanggung jawab. Tapi kalau anak tidak berpikir, … apa yang terjadi? Seperti yang kita lihat di Tipi-tipi.”

Tapi nasib seorang anak dengan ibu, tidak bisa terbatasi. Ibu yang sudah berusia lanjut, menjadi kewajiban anak-anak untuk memuliakan beliau. Walau bagaimanapun…

Don’t leave them, our lovely parent, yaa.

Berterima kasih pada orang tua,

bagaimanapun caranya,

mencerahi hari-hari kita,

meringankan langkah-langkah kita,

menerbitkan senyuman pada wajah kita.

Pesan lain dari beliau tentang ini  : Dapek nan di hati, indak dapek bakandak hati []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s