Hai, Tahukah Engkau?

Tersenyumlah, Sayang

Ya, selalu begini. Engkau harus tahu yang aku mau dan aku pun mesti tahu yang engkau mau. Agar, kita sama-sama saling mengetahui. Tidak hanya aku yang mengetahui kemauanmu, sedangkan engkau tidak mengetahui kemauanku.

Maka, lagi dan lagi dalam kesempatan terbaik, hari ini, saat ini, lebih tepatnya. Ku sampaikan lagi padamu, sebuah kemauanku untukmu.

Tersenyumlah, lebih baik. Ini mauku. Kalau engkau ingin aku pun tersenyum untukmu. Sederhana, bukan?

Untuk mensenyumi diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mensenyumi orang lain. Untuk mensupportnya lebih semangat, sebelum menyemangati orang lain. Untuk menjaganya tetap bergerak, sebelum menggerakkan orang lain. Untuk membahagiakannya, sebelum kebahagiaan itu menebar pada orang yang ingin kita bahagiakan. Untuk membaiki diri sendiri, sebelum kebaikan sampai pada mereka yang ingin kita bahagiakan.

Lagi dan lagi, ini sebagai pengingat, tersenyumlah. Senyuman ringan yang menebar pada wajahmu, senyuman bersama hati yang tersenyum. Walau sekeping hatimu tidak terlihat, dan tidak akan pernah. Namun, selagi engkau mau tersenyum bersamanya, maka pancaran hatimu terlihat pada wajahmu atau sorot matamu. Sederhana.

Ya, sederhanakan kemauanmu, untukku. Maka, ku sederhanakan kemauanku padamu. Hanya ingin engkau tersenyum, dan tidak menjatuhkan lagi airmata sering-sering. Apakah di hadapanku, atau saat jauh dariku. Kalau semua itu karenaku, janganlah. Lebih baik tersenyum, dan tersenyumlah lebih baik. Ini mauku.

Walaupun senyuman itu baru ku lihat pada wajahmu, tidak mengapa. Karena engkau telah memulainya. Tidak apa-apa masih berat, tapi kalau engkau biasakan dari waktu ke waktu, engkau pun terbiasa. Tidak mengapa masih sulit, namun kalau engkau latih dari hari ke hari, semakin sering, menjadi sebuah kebutuhan. Begitu mauku, atasmu. Apakah engkau setuju, untuk masih dan mau tersenyum lagi esok? Secantik senyumanmu hari ini, saat membersamaiku tadi.

Ya, ku melihat engkau tersenyum simpul. Tidak terlalu lebar, tidak juga terpaksa. Engkau tersenyum saja, seperti mengetahui kemauanku saat kita bersama. Engkau tersenyum lagi, seperti membaca pikiranku sesaat setelah kita bersama. Engkau seperti mengetahui, kemauanku lebih awal, bahkan sebelum ku menyampaikannya padamu.

Ku raih pergelangan tanganmu yang sejak tadi berkutat dengan tugas-tugasmu. Ku sampaikan padamu untuk henti sejenak, lemaskan ia. Ku pinta padamu, untuk membiarkannya tidak melakukan apa-apa, sebentar saja, please. Lalu, mari kita mengabadikan senyuman hari ini, bersama-sama. Yap!

Sebagai sahabat yang baik, engkau selalu menurut. Ya, menuruti kemauanku. Apakah ku pinta padamu dengan memelas, atau tidak ku sampaikan langsung. Sebagai sahabat, engkau tahu yang ku mau. Yuhu, meski pun begitu, ku masih ingin menyampaikan padamu, mauku, tersenyumlah lebih baik.

Yah, tadi ku lihat engkau tersenyum pelan, menggerakkan bibir ke kiri dan kanan bersamaan pelan dan masih kaku. Berikutnya, engkau mencoba lagi. Aku perhatikan saja, dengan sudut mataku. Ku lihat lagi, engkau yang masih berlatih dan mencoba. Apakah engkau tersenyum seperti itu, untuk membahagiakanku?

Haiiii… tersenyumlah dengan kemauanmu sendiri, sayang, jangan karena aku, iyaaaah. Aku tidak selalu ada bersamamu, juga tidak selamanya di sampingmu. Maka, jika semua senyuman yang engkau paksakan atau tidak paksakan itu untukku saja, bagaimana bisa engkau membersamai orang-orang yang menemuimu selain aku? Apakah engkau akan memasang wajah cemberut, begitu?

Lalu, apa artinya senyuman yang engkau bawa?

Jika hanya untukku saja, engkau tersenyum demi membahagiakanku, karena aku suka kalau engkau tersenyum, ku bilang padamu, yaa… “Tidak usah tersenyum saja, kalau begitu. Manyun-manyun saja, di depanku. Apakah aku suka atau tidak, tidak usah engkau pedulikan juga. Apakah aku akan memelototimu karena tidak mesenyumiku, tidak akan. Karena ku tahu engkau siapa, engkau bukan diriku. Namun engkau adalah dirimu yang tidak dapat ku kendalikan. Berbeda halnya, kalau yang ingin ku senyumi dan senyumkan adalah diriku. Maka, ku paksa ia tersenyum, ku bilang padanya, Aaayooo, senyum, senyum senyuuuuuuum….. 🙂  Maka ia pun tersenyum segera. Tepat saat ku lihat ia sangat serius memikirkan sesuatu, atau terlarut dengan keadaan yang membuatnya harus tidak tersenyum. Tapi, aku tidak mau ia begitu terus. Ku sampaikan padanya, untuk tersenyum dulu, kemudian lanjutkan berpikir lagi. Ih, ini tidak mudah, memang. Tapi, ku lakukan semua demi aku. Demi mencerahi hari-hari yang terkadang memang kelabu.”

Hu um, aku memang diriku, sedangkan engkau adalah dirimu. Aku tidak tahu apa maumu, seperti engkau tidak tahu apa mauku. Tapi, boleh ku bilang sekarang yaa, aku mau engkau tidak lagi menjatuhkan airmatamu, kalau semua itu karena aku. Apakah karena engkau merindukanku, lalu kita belum dapat bertemu? Lalu engkau menangis-nangis gitu, tersedu dan terisak tidak berkesudahan? Hai, ingat lagi, aku mau engkau tidak melakukan hal-hal seperti itu. Cukup doakanku dalam waktu-waktu terbaikmu, doakan kebaikan untukku. Walau aku tidak tahu, Allah Maha Tahu. Sederhana. Tersenyumlah.

Iyes, engkau memang dirimu. Bukan diriku yang sering membersamaiku menempuh waktu. Maka, kalau engkau masih menjatuhkan airmatamu karena ingat padaku, sedangkan kita sedang berjarak raga tidak lagi sedepa, tapi engkau ingin berbicara denganku untuk menyampaikan suara jiwa? Tapi tidak bisa? Lalu engkau menjatuhkan airmatamu di pangkuan. Aku tidak mau engkau melakukan itu. Jika sekali lagi, karena ku. Yah, aku mau engkau tersenyum di sana, lebih baik, menjalani waktu dengan kebaikan.

Betul, betul. Ku pikir ini hanya kemauanku. Tapi, kalau ku tidak menyampaikan padamu seperti ini, mungkin engkau tidak akan pernah mengetahuinya. Seperti halnya aku yang sering-sering mengingatkan diriku lagi tentang hal ini. Supaya ia mau tersenyum, tepat saat ku ingin ia tersenyum. Walau terpaksa, aku memaksanya tersenyum lagi, ya, seperti saat ini.

Ku senyumi ia yang semula manyun padaku. Ku tarik-tarik tangannya yang sedang melakukan aktivitas tanpa hati. Yang berakibat, ia tidak menikmati waktu dengan aktivitas tersebut. Lalu, apa artinya? Bagaimana ia akan berkesan, kalau tidak melakukannya sepenuh hati? Maka solusinya adalah, ku ajak ia tersenyum sebentar, memperhati sekitar, dan menengadahkan wajah ke langit, di atas sana.

Yah, sekali lagi, aku mau engkau tidak lagi menjatuhkan airmatamu sering-sering. Kalau semua itu engkau lakukan karena aku. Karena di sini, aku sedang tersenyum, sayang. Menikmati waktu demi waktuku, dengan sepenuh hati. Walau tidak selalu, seperti tadi.

Iya, ku lihat diriku sempat merasakan kejenuhan dengan aktivitasnya. Maka, kami pun berangkat, berjalan-jalan sebentar, menghirup udara bebas. Menikmati semilir angin, dan melihat kendaraan yang hilir mudik saling berkejaran. Memperhatikan saja, melihat saja, dan kemudian mensenyumi. Tersenyum saja, untuk mengafirmasi diri, aku sedang ikut dengan mereka. Nah, ke mana mereka pergi, yaa?

Aku tidak pernah tahu, tujuan mereka. Aku tidak pernah menanya, ke mana mereka pergi. Aku pun tidak mau menghentikan laju mereka yang cepat sekali. Bahkan, aku tidak mau mengendalikan kecepatan mereka saat mengemudi. Maka, saat semua itu tidak dapat ku kendalikan, ku hanya bisa memperhati, melihat, mensenyumi, dan menjadikan mereka sebagai inspirasi.

Yaaaaak, sekarang aku kembali lagi, teman. Setelah sebelum ini berdiri sejenak di depan menghadap ke jalan raya. Lalu, ku lihat laju kendaraan, untuk menemukan secuplik inspirasi. Supaya ku bisa tersenyum lagi, setelah kembali ke rutinitasku.

Saat ini, ku bisa merangkai senyuman lagi. Senyuman yang awalnya ku paksa-paksakan. Ku lihat wajah di cermin kecil yang ada di laci, ku perhati ekspresi jiwa melalui rangkaian kalimat yang ku susun. Apakah aku sudah benar-benar tersenyum saat ini?

Aku belum dapat mengetahuinya, sebelum catatan ini selesai. Hasilnya akan ku nikmati nanti, setelah ia benar-benar kelar. Yah, selembar catatan tentang sebuah kemauan.

Mauku agar engkau tidak lagi menjatuhkan airmatamu sering-sering, kalau semua itu karenaku. Maka, agar kemauanku dapat terlaksana, ku sampaikan pada diriku sendiri untuk tersenyum terlebih dahulu, supaya engkau pun tersenyum.

Tapi, berhubung engkau tidak ada di depanku saat ini, aku pun senyum-senyum sendiri saja. Senyuman yang ku persembahkan pada diriku sendiri, saat membacanya lagi, nanti.

Kelak, dalam kesempatan engkau membacanya juga, maka senyuman ini ku dedikasikan padamu, yang akhirnya hadir di depanku. Walau mata tidak bertatap lekat, meski senyuman tidak saling kita pertukarkan dekat. Akan tetapi, ku baca senyuman dari ekspresimu, engkau yang mulai tersenyum. Senyumanmu sangat ringan, bagaimana bisa demikian?

Yah, engkau tersenyum, dengan bola matamu yang turut tersenyum juga. Senyuman yang engkau jaga benar-benar, sehingga masih membersamaimu pada menit-menit berikutnya. Senyuman yang memang tidak selalu menebar pada wajahmu, namun dari hatimu, engkau menjaga ia masih ada.

Sehingga, setiap kedipan matamu, berbinar bercahaya. Apalagi saat dua ujung bibirmu engkau tarik ke kiri dan kanan bersamaan, maka cemerlang senyumanmu menebar seketika. Engkau tersenyum berseri-seri, aku senang melihatnya. Aku suka, engkau tahu mauku.

Hai, engkau. Kelak kita berjumpa lagi, temui aku dengan ekspresi serupa, yaa. Masih dengan senyuman pada wajahmu. Iya, senyuman yang terbit dari ruang hatimu. Senyuman ringan, mudah, indah dan sederhana. Karena engkau membiasakannya menemanimu. Walau tidak ada aku di depanmu. Meskipun tidak bersamaku, engkau tetap berlatih tersenyum. Sekalipun untuk saat ini, senyuman itu tidak engkau bagikan untukku, namun untuk dirimu sendiri. Senyuman yang membersamaimu, dalam berbagai waktumu. Apakah menjalani aktivitas, menemui orang-orang terdekatmu, atau orang-orang yang ada di dekatmu saat ini.

Yah, senyuman seperti itu yang ku mau. Tidak perlu sampaikan padaku, betapa engkau sedang terluka oleh apapun. Aku tidak mau melihatmu menjatuhkan airmata sering-sering.

Kalau pun harus, sesekali saja, dan tidak lama-lama, yaa. Sebentar saja, setelah itu tersenyum lagi, yaa.

Aku mau, engkau tersenyum dengan hatimu. Seperti aku yang sungguh berjuang keras untuk bisa melakukannya. Meski terpaksa, walau tiada sesiapa. Sekalipun aku senyumi saja selembar wajah yang ada di depan cermin. Dengan begini, ku melatihnya mau mensenyumi dunia. Dunianya, yang ada aku di sana.

Haaaaai, aku lega, saat ini. Karena akhirnya bisa mengabadikan lagi senyuman ini. Senyuman yang ku pinta di dalam doa, ketika hari-hari kelam penuh duka menemaniku. “Yaa Allah, kuatkan aku dengan semua ini, dan beri ku kemampuan untuk memetik hikmahnya. Sehingga ku masih mau mengembangkan senyuman di wajah ini. Walau awalnya, dengan hati yang terluka, ku tersenyum menjawab tanya. Ketika ada yang bertanya, ketika ku menangis, “Ada apa gerangan? Maka, ku tebarkan senyuman, sambil menjawab, Hehehhee…”

Ini artinya apa? Aku sedang berusaha mengenali luka yang menembus ruang hati. Ku masih berjuang menguatkan jiwa agar menepikan luka dan kemudian mesenyuminya. Ku berusaha, supaya sebentar saja, ku rasakan luka itu. Setelah itu, aku tersenyum lagi, kannnn?

Begitulah segelintir kisahku tentang awal teringat pada senyuman. Setelah ku tenggelam dalam derai airmata. Airmata yang membuat sekeliling mataku membulat, lalu berat, dan ujung-ujungnya adalah ‘ngantuk’. Setelah terlelap dan bangun lagi, mata pun semakin bulat dan bertambah berat. Jadinya mata panda. Hahaaaaa. 😀

Makanya, ku sampaikan padamu teman, tentang hal ini. Agar keadaan yang sama tidak menimpamu juga. Sebab ku sayang kamu, engkau yang semestinya berwajah cerah dengan mata yang menyipit saat tersenyum. Mata yang engkau jaga tersenyum juga, saat wajahmu tersenyum. Mata yang engkau jaga tetap asli dan tidak menjadi mata panda, kawan.

Iya, ini semua ku pesankan, sebagai tanda cinta dan perhatianku padamu. Sebab, atas pengalaman yang ku alami langsung, menjatuhkan airmata sering-sering apalagi dalam waktu lama, membuat tatap mata pun menjadi buram, lho. Iya, ditambah lagi kepala yang memberat. Apalagi kalau mau pergi-pergi, jadinya tidak nyaman, bukan? Dengan kondisi mata yang sudah panda itu?

So, lagi dan lagi ku mau, engkau jangan jatuhkan airmatamu sering-sering ya, kalau semua itu karena aku. Karena aku akan menjadi merasa bersalah. Rasa bersalah yang membuatku juga tidak bisa tersenyum, jadinya. Rasa bersalah yang membuatku terpikir-pikir, bagaimana meredakannya. Rasa bersalah yang akan mengikutiku saat melangkah, sehingga membuat langkah-langkahku memberat. Sebab aku sungguh tidak tega, dengan kondisi yang akan menimpamu, setelahnya. Yaa, mata panda itu, lho, yang ku maksud.

Aku mau tersenyum saat ini, mengingat hari-hari yang ku jalani saat menjatuhkan airmata sering-sering. Apakah karena yang namanya rindu ingin bertemu dengan orang-orang yang ku cintai dan sayangi? Tapi aku tidak bisa ke mana-mana kecuali meluahkannya dengan menjatuhkan airmata sangat lama. Dengan begitu, aku jadi lupa ketentuan-Nya untukku jalani. Aku pun tenggelam, dalam sekali, hingga ke dasar lautan waktu. Di dasar lautan waktu itulah ku perhatikan keindahan demi keindahan, setelah semua berlalu. Ternyata, ada hikmahnya. Ku mengetahui ini, setelah membaca lembaran diari-diari lalu. Ku lihat diriku saat tenggelam dalam lautan airmata dengan wajah basah tanpa senyuman. Ia sangat menyedihkan, terlihat olehku. Hu um. Hikmahnya, aku belajar tersenyum.

Ke sini ke sini, aku menyadari diri. Ku ingat siapa dan di mana ku saat ini. Ku kenali jalan-jalan yang bisa ku tempuhi untuk tidak sering-sering menjatuhkan airmata lagi. Ku perhati wajahku saat ia tidak menjatuhkan airmata atau setelah menjatuhkan airmata lebih sering dan lama. Ku pelajari semua itu, dengan sungguh-sungguh. Sambil teruskan langkah, masih berlatih tersenyum. Latihan yang penuh perjuangan. Latihan yang bukan tidak berhenti, namun sempat istirahat kalau ku lelah. Setelah itu, tersenyum lagi, bergerak lagi, melangkah lagi. Karena mentari pun tersenyum, ku perhati. Maka aku pun tersenyum bersamanya.

Lalu engkau, ingin ku sampaikan, untuk tidak menjatuhkan airmata sering-sering kalau semua itu karena aku, yaa. Sejenis pengingat dariku, untukmu. Kalau karena yang lain, terserah padamu, karena aku mengakui hakmu untuk itu. Apalagi yang bisa ku lakukan? []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Hai, Tahukah Engkau?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s