Love-and-Marriage-in-Islam-Universe-Expanding-800x500
Picture
“The dream is a goal and make it into a real life. Go ahead with Bismillah. I am still learning and will continue to learn. Yes this is the process of getting better.”  -Aurora

***

“Hai, kenalkan, aku Rora. Boleh aku duduk?” ia memperkenalkan diri dan tersenyum ceria. Lalu mendekati kursi yang sudah tersedia tidak jauh darinya.

Ya, di depanku ada sebuah kursi yang kami sediakan untuk siapapun yang datang menemuiku. Ku perhatikan wajah Aurora yang tersenyum di hadapanku. Masih pangling, belum sempat percaya. Lalu, ku persilakan ia duduk sesuai pintanya, setelah kami bersalaman dan masih bersenyuman.

“Iya, silakan duduk,” masih dengan sisa-sisa keterkaguman, ku senyumi seorang gadis manis yang duduk tidak jauh dariku. Dengan perantara meja yang membatasi, serta notebook yang ada di depanku, aku dapat melihat jelas Aurora. Begini ku ingin menitipkan catatan tentang ia, saat ini. Karena yang terpikir olehku adalah Aurora, saat ia memperkenalkan diri.

Aku masih belum ngeh dengan kehadirannya di depanku. Ia yang hadir tiba-tiba, membawa senyuman cerah dan suara bening. Wajah serta ekspresinya ku rasa tidak asing baikku. Tapi siapa dan dimana ya, ku pernah membersamai rupa seperti ini? Aku sempat pangling dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Aku sempat bertanya-tanya tentang siapa ia sesungguhnya, meski ia sudah memperkenalkan diri padaku.

Oia, aku mulai menyadari seiring sampainya ingatanku pada seseorang jauh di sana. Ingatan ku pergi jauh menyapanya, tepat setelah Aurora datang menemuiku dengan ekspresi khas yang juga ada pada beliau. Nama beliau Aini. Seorang perempuan muda energik dan sungguh ramah, yang ku kenal di tempat beraktivitas sebelum di sini. Beliau yang saat ini jauh di sana, namun, kini dekat dalam ingatan. Beliau adalah saudara perempuan yang ku kenang sangat baik.

Aku masih terpesona dengan penampilan dan ekspresinya. Aku suka gayanya. Aku senang bertemu dengannya. Suaranya yang ringan, mudah menyampaikan segala yang ingin ia sampaikan. Dengan ekspresi mata mengkerling, senyuman yang tulus.

Benar, Aurora sedang duduk di depanku. Ia masih menjaga tatapan mata tidak berpaling dariku. Sepertinya ia pun terpesona. Kami saling terterik dan berlanjutlah pembicaraan.

“Oke, Kak… Begini… begini… bla, bla, bla,” Aurora menyampaikan maksud kedatangannya menemuiku. Setelah sempat ku persilakan ia duduk dan ia ingin berbicara denganku, sehingga aku akhirnya menerima. Ku perhatikan gerak-gerik dua bola matanya, serta senyuman yang sering menebar. Ini senyuman asli, tanpa dibuat-buat. Aku suka.

Kami berbincang. Seringnya, ia menyampaikan maksud dengan suara mengalir, hingga bermenit-menit berikutnya. Aku lama-lama semakin tertarik membersamainya. Karena Aurora memang menarik. Ia menarikku pada pesonanya. Pesona yang bersemangat dan antusias.

“Aurora, panggil saja Rora,” ia memperjelas lagi. Setelah ku tanya kembali namanya dalam jeda perbincangan kami. Untuk memastikan, tadi aku tidak salah dengar. Sehingga kami dapat lebih akrab. Aku mengeja namanya untuk mengulang dan menyebut namanya di antara perbincangan kami.

“Aurora…”

Masih dengan gaya bicara yang energik, bersemangat, Aurora terus beraikan informasi demi informasi padaku. Yah, ia datang dengan sebuah misi, rupanya. Misi meluluhkan hatiku, supaya tertarik dengan penawarannya. Aku berpikir, masih berpikir, sembari berusaha menenangkan diri dan percaya, bahwa si cantik Aurora benar ada di depanku. Yes, ini bukan mimpi. Ia benar-benar ada, dan aku mesti membersamainya tersenyum.

Satu topik ke topik lain, Aurora berbagi informasi. Setelah ku bertanya, ia menjelaskan. Ketika ku bertanya lagi karena ada yang kurang ku mengerti, Aurora pun memaparkan dengan senang hati. Masih membawa senyuman, bersama ekspresi yang kembali mengingatkanku pada, my sister Aini.

“Hai, sister, di sini ada yang mirip sister, lhoo, namanya Aurora. Baru saja ia menemuiku. Gaya bicaranya, cara menatapnya, termasuk senyuman yang sering ia tebarkan pada wajah serta nada suara yang tertata dan volume suaranya hampir sama dengan sister,” ku titip sapa buat sister Aini di sana.

Mengapa ku langsung ingat dengan seorang yang mirip sekali dengan Aurora? Salah satu sebabnya adalah, warna kostum yang ia pakai. Jilbab merah mudanya mengulur panjang menghiasi penampilannya Sehingga Aurora sangat mirip dengan sister Aini, di mataku. Karena ku sering melihat sister Aini dengan penampilan serupa, dalam kebersamaan kami. Ditambah lagi dengan suara dan nada bicaranya yang bersemangat, semakin menambah keyakinanku, bahwa Aurora adalah kembaran sister Aini. Hihii. 😀

Meski ini adalah pertemuan kami untuk pertama kali, namun Aurora mudah akrab denganku. Aku pun merasa dejavu. Seakan pernah mengalami keadaan ini, tapi di mana? Ku meneruskan ingatan pada keadaan yang seakan pernah ku alami.

Yah, aku ingat. Awal bersapa dengan sister Aini pun seperti ini. Ia yang ramah, menyapaku terlebih dahulu. Tepat saat ku sedang mencari-cari siapa yang dapat ku ajak berteman, di lingkungan baru bagiku.

Tiba-tiba, seorang perempuan dengan ekspresi semangat dan wajah penuh senyuman serta kerling mata ceria, menyapaku lebih dulu. Beliau sister Aini. Pada waktu-waktu berikutnya, kami berteman. Beliau ramah sekali. Mau menyapa lebih dahulu dan meneladankanku tentang hal ini. Selanjutnya, dalam berbagai kesempatan kami bertemu, wajah ceria beliau tampakkan pada wajah, sumringah, senang mengingatkan, dan sangat suka membantu. Aku pun sering terbawa suasana jadinya. Hasilnya adalah, hari-hari penuh kebahagiaan, ditambah lagi nuansa lingkungan aktivitas kami yang super suejjukk, ngademin, dan merupakan bagian dari impianku untuk membersamainya. Huaaaaaaa… Jadi haru mengenangkannya.

She is the best sister ever. Beliau yang suka mengajakku pergi-pergi dan sering mengundangku berkunjung ke kostan beliau, lalu kami masak-masak bersama. Karena beliau juga perantau sama denganku. Atau, beliau memboncengku dengan motor ke masjid terjauh untuk itikaf bersama pada malam hari bulan Ramadhan tahun 2015 lalu. Bahkan mengajakku berpartisipasi dalam acara-acara yang beliau kelola. Bersama beliau, ku peroleh pengalaman berbeda dari biasanya.

Bagiku, dunia yang beliau tekuni sangat menyenangkan. Karena beliau adalah seorang perempuan yang berkecimpung di ranah Event Organizer serta Wedding Organizer. Bahkan pada sebuah acara pernikahan dan beliau terlibat dalam pengelolaan acaranya bersama teman-teman beliau juga, beliau mengajakku serta sebagai asisten wedding organizer untuk bantu-bantu. Ini pengalaman pertamaku bersama beliau, hohooo. Pengen ikut lagiii.   😀

Bagiku, pengalaman pertama selalu berkesan. Apalagi kami memperoleh pendapatan darinya. Aih! Ini salah satu pengalaman berkesanku bersama beliau. Seorang kakak yang kembali teringat, tepat saat Aurora menemuiku. Tidak jauh berbeda dengan Aurora, latar belakang pendidikan beliau. Aurora berkisah dalam kebersamaan kami yang hanya sebentar untuk hari ini, bahwa ia berlatar belakang bagian Accounting, sama denganku. Sama juga dengan sister Aini. Namun, Aurora sempat terjun ke bagian Marketing (untuk saat ini) di dunia kerjanya. Ahaa… Ini menariknya. Seperti sister Aini juga. yang bergelut di bidang Event Organizer dengan latar belakang pendidikan di bidang Perpajakan. Ai, mereka berdua semakin terlihat kembar, oleh pandangan pikirku.  

***

Yah. Lain masa, lain cerita, lain pula orang-orang yang kita temui, menyapa atau tersapa oleh kita. Namun, ada masa ketika kita bertemu dengan orang-orang baru yang mengingatkan kita pada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hari-hari kita juga. Ini namanya, nostalgia. Ini juga semirip kenangan.

Seperti hari ini, pertemuan pertamaku dengan Aurora, mengembalikan ingatanku pada sister Aini. Beliau teringat olehku segera, saat ku bersama dengan Aurora. Karena sepanjang kebersamaan ku dengan sister Aini, beliau menitipkan kenangan yang indah dalam hari-hariku. Baik saat pertama kali kami bertemu, sepanjang kebersamaan, bahkan di ujung kebersamaan untuk beraktivitas di lokasi sama.

Pada suatu kesempatan di antara hari-hari menjelang berjaraknya raga kami tidak lagi sebatas satu kubikel, beliau bilang begini pada teman-teman yang lain, “Ayoo, kita bahagiakan Yani, sebelum dia meninggalkan Bandung.” Setelah ku kabarkan tentang berita yang menggemuruhkan ruang hati dan membuat pikiranku berpikir lama. Aaai, so sweet, khan yaa. Bagiku kenangan sepanjang kebersamaan kami yang beliau titipkan, menjadi sungguh sangat super berkesan. Hingga hari ini, sampai nanti ku teringat lagi untuk mengenangi.

Kami pun menghabiskan kebersamaan dengan kesan dan cerita yang sulit untuk terlupa bagiku. Semoga, segala kenangan yang beliau selipkan dan berbekas di ruang hatiku, senantiasa menjadi pengingatku pada beliau semua.

Teman-teman dan sister Aini tercinta, semangat di sana, yaa. Teruskan perjuangan juga, aku di sini sama, melangkah meneruskan cita. This smile for you, too. ^_^

***

Begitulah kehidupan menitipkan kita warna-warnanya. Ada hari bertemu, ada masa berjarak raga. Ada masa menjalani kenyataan, ada kesempatan mengintip kenangan. Ada yang datang dan pergi. Ada yang kita sapa dan menyapa. Ada yang beraikan senyuman berseri, membuat kita mau tersenyum bersamanya. Ada yang masih mau meneruskan pertemuan, lalu saling berjanji untuk setia. Ada yang mengajak bertemuan lagi, kemudian menghabiskan waktu bersama. Seperti halnya Aurora.

Walaupun kebersamaan kami hari ini tidak lama, namun Aurora punya kesan tentang pertemuan kami. Setelah kami sempat bertukar cerita tentang asal mula kehadiran kami di sini. Aku pendatang, begitu pun Aurora yang juga sebagai pendatang di kota ini,. Iya, Aurora merantau jauh-jauh dari Jambi. Lalu, kami bertemu di sini. Hai, pertemuan ini tandanya jodoh. Esok dan atau lusa atau kapan-kapan lagi, kami berencana bertemu kembali.

“Mau khann, kalau kita jumpa-jumpa lagi, nanti bisa tukar-tukar pengalaman dan sharing ilmu pengetahuan. Maklumlah, sebagai perantau di kota ini, teman-temanku masih sedikit, hihiii… 😀 “ Aurora menawariku dengan bahasa penuh persahabatan.

Walaupun usia kami tidak sebaya, namun persahabatan bisa tercipta dengan siapa saja, bukan? Aku bahagia mempunyai teman baru seperti Aurora.

“Oke, hehehe, iya, aku juga. Siip, aku mau. Namun lihat-lihat dulu jumpanya di mana? Karena aku bukan orang yang suka keluar-keluar untuk pergi-pergi tanpa alasan,” ku jelaskan padanya sejak awal.

“Hehee, iya, tidak mengapa. Nanti kita susun jadual pertemuan di waktu luang untuk bersantai, yaa,” tambahnya meyakinkanku. Lalu, kami bertukar informasi lebih.

Tidak lama-lama, kami bersama hari ini. Selanjutnya, Aurora akan menjalankan misi berikutnya, menemui orang-orang baru lagi di sana. Entah siapa yang akan ia temui. Semoga perjalananmu menyenangkan, kawan. Keep spirit. Terus melangkah dan berjuanglah. Masih ada banyak senyuman menantimu di sana, untuk menyambut kehadiranmu yang penuh ceria. Semoga, hari ini sukses dan lancar yaa. Sampai bertemu lagi, Aurora. Bersama senyuman yang lebih indah, nan terjaga.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S Al-Hadid: 23).

***

Begini kisah awal pertemuanku dengan Aurora, seorang gadis ramah nan ceria. Semoga, pertemuan kami membawa hikmah untuk semua. Kelak, kami berjumpa lagi, insyaAllah, ku kisahkan padamu teman, hal-hal berkesan yang ia titipkan padaku. Supaya, pertemuan kami bukan tanpa alasan, namun untuk merajut indah ukhuwah dan menjalin erat persahabatan. Kami bertemu hari ini karena Allah yang menggerakkan hati Aurora untuk mendekati dan menyapaku. Maka, pertemuan kami karena Allah, pun meski kelak harus sudah berpisah, itu pun karena-Nya. Semoga aku tabah. Tolong do’ain juga, yah. Terima kasih, jauh-jauh hari sebelumnya, yah.

Oleh karena itu, sejak awal berjumpa, ku ingatkan diri, bahwa berjumpa dan berpisah dengan siapapun karena-Nya, membuatku tidak harus selalu terisak lagi namun mengintip makna dari sebuah perpisahan. Begitu pula dengan pertemuan, ku jadikan sebagai jalan untuk menemukan hikmah untuk ku jadikan jalan hadirkan senyuman. Seperti saat ini, pertemuanku dengan Aurora, menitipkan senyuman sebagai catatan. Agar, kelak ku kembali ingat tentang awal pertemuan kami yang berkesan. Aurora yang mengingatkanku pada my sister, Aini.

Dengan begini, pertemuanku dengan Aurora membawa kebaikan, berupa inspirasi untuk ku bagi. Semoga, Aurora dengan wajah berserinya terus berseri-seri sepanjang hari ini. Walaupun ku tahu, cuaca di kota ini lebih sering bersuhu tinggi. Tapi Aurora yang semangat tetap semangat melanjutkan perjalanannya. Ku tidak dapat membayangkan, kalau ku seperti Aurora. Semua, sudah ada dalam ketetapan-Nya. Berprofesi yang harus beraktivitas di luar ruangan, berarti Aurora mempunyai kemampuan, ia sanggup menjalani. Sedangkan aku, patut dan harus bersyukur lagi, karena duduk manis di dalam ruangan, sehingga tidak harus berpanas-panasan di bawah sinar mentari yang terik hari ini.

Dear mentari,

Tolong jaga Aurora. Jangan biarkan kulitnya tersirami sinar terikmu yang menyengat, lebih lama. Namun, ademkan ia dengan sejuk dan teduh. Semoga engkau bersedia sinarmu tidak seluruhnya sampai ke kulitnya, namun terhalangi oleh awan gemawan yang menaungi Aurora.

Dear awan putih,

Sering-seringlah memperhati ke bumi. Sesekali melihat mentari. Maka, di mana Aurora berada, lindungi ia dari terik sinar mentari. Sehingga ia merasakan keteduhan di sepanjang perjalanannya, bersamamu. Teman, demi Aurora, yaa…

Dear angin yang berhembus menyejukkan,

Bersemilirlah lebih sering di sekitar Aurora. Agar ia merasakan sejuk di antara terik mentari yang mungkin sampai padanya. Bersemilirlah, sesekali. Karena mentari bersinar sangat cerah hari ini.

Dear jalan-jalan yang membentang,

Titip Aurora yaa. Semoga ia menikmati perjalanannya yang berliku, bersimpang, dan lurus bersamamu. Senyumi ia supaya senyumannya menebar lebih sering. Senyuman yang mensenyumkan sesiapapun yang ia temui, nanti. Hingga di ujung perjalanannya, dan ia berbelok ke satu tempat, pastikan ia selamat sampai di tujuan, yaa. Sebelum engkau berpaling darinya. Sambut ia lagi, saat ia selesai dari satu urusannya, lalu membersamaimu lagi, untuk meneruskan perjalanan berikutnya. Oke, yaa, yaa.[]

🙂 🙂 🙂

Iklan

2 tanggapan untuk “Aurora’s Smile

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s